Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]

Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]
Chapter II : Anggara & Nugraha


__ADS_3

Airin menatap jengah melihat anak perempuannya yang sibuk memakan jajanan yang ia bawa bersama sang suami. Dengan greget, Airin mengambil tisu wajah dan mengelapkannya pada sudut bibir Julia. Sontak Julia yang sedang makan dengan nikmat itu pun mendengus pelan.


"Mama, ih!" rengeknya.


"Kamu itu perempuan, kalo makan harus jaim sedikit. Gimana mau laku," ucap sang ibu diakhiri sindiran halus.


Tidak peduli, Julia menyuapkan sepotong martabak ketan-kelapa yang masyaallah manisnya sambil meledek sang ibu.


"Nyam," goda Julia.


"Hilih." Airin memutar kedua bola matanya.


Sementara sang Kepala Keluarga, Juho Surya Nugraha, hanya menatap santai pertengkaran kedua perempuan yang wajahnya tidak jauh berbeda di hadapannya.


Di tengah-tengah nikmatnya menikmati surga dunia, Julia mulai teringat pesan dari tante Juwita tadi siang yang menyuruhnya untuk menunggu kedatangan dari keluarga sang tante. Dan Julia hampir lupa memberitahukannya kepada Juho dan Airin.


"Mwa, Pwa, ywanthe Tuhwita bwakhalan keswini swama owm Jwunua," ungkap gadis yang baru menginjak umur lima belas tahun tersebut dengan suara yang tidak jelas.


Juho mengorek lubang telinganya saat merasa ucapan Julia tidak dapat ia pahami.


"Ulang lagi, Lia," pinta sang ayah.


Airin menggeleng kepala tidak menyetujui Juho. Wanita berumur yang masih berasa belasan tersebut mendekati sang anak dan memelototinya.


"Kalau makan, nggak boleh bicara!" tegasnya dan Julia pun ciut seketika.


"Iya. Maaf," balas Julia setelah menelan semua makanannya. Dia juga meneguk air mineral dari botol yang ukurannya 350 ml.


Terasa kenyang, Julia lanjut saja menonton televisi dengan khidmat. Matanya serasa tidak berkedip saat layar digital di depannya menampilkan adegan epik dari serial Transformers.


Sementara Julia yang asik menonton, lain lagi dengan kedua Tuan dan Nyonya Nugraha yang dengan sabarnya menunggu Julia untuk mengulang perkataanya tadi.


"Kenapa, Ma, Pa?" tanya Julia.


Sontak Juho dan Airin menghela nafasnya kasar menyadari bahwa Julia sepertinya tidak ada keinginan untuk mengulang perkataan.


"Liaaaaa. Mama nungguin kamu ngomong yang tadi," ujar Airin.


"Lia ngomong apa emang?" balas Julia.

__ADS_1


"Itu loh, pas kamu makan martabak. Papa Mama 'kan nggak paham kamu ngomong apa," timpal sang kepala keluarga.


Beberapa saat Julia berpikir. Lalu ia pun baru menyadari (lagi) pesan dari tantenya yang ingin membicarakan sesuatu dengan kedua orang tuanya.


"Oh. Tadi siang, tante Juwita bilang kalo tante sama om Juna bakalan ke sini jam delapan malam. Mama sama Papa harus ada karena tante Juwita pengen ngobrol. Nggak tahu mau ngobrol apa," ucap Julia yang perhatiannya kembali ke televisi.


Airin dan Juho mencerna perkataan Julia dengan seksama. Pandangan mereka menyatu satu sama lain dan tersenyum kala pikiran mereka tertuju pada satu arah.


"Oh, begitu. Baiklah. Tapi kamu juga nggak boleh kemana-mana, harus di sini," celetuk Airin.


Julia memindahkan saluran televisi kala serial Transformers-nya sudah berakhir.


"Kapan sih, Ma, aku pergi keluar malem-malem selain ada keperluan yang benar-benar mendesak," balasnya sambil memajukan bibir.


"Iya, deh. Si paling di rumah," ucap emak-emak beranak dua menatap anak perempuannya geli..


Pukul 8 malam. Kediaman Nugraha mulai mendengar suara ribut dari arah luar.


Hanya dengan beberapa ketukan santai, pintu langsung dibuka oleh si pemilik rumah. Dengan senyum ramah, Airin mempersilahkan agar tiga orang di depannya ini masuk. Ibu dua anak tersebut tersenyum dalam diam saat berharap tujuan dari tamu yang datang ke rumah sesuai dengan pikirannya sekarang.


"Malam, Tante," sapa lelaki muda dari tiga orang tadi sambil menyalami tangan Airin.


Julia yang sedang di depan televisi mendadak menoleh ke ruang tamu saat wanita yang mengandungnya tersebut menyebutkan nama seseorang.


"Kak Lino juga ikut?!" gumam Julia, tidak mengira lelaki itu akan ikut serta.


Sementara di ruang tamu, keluarga Anggara yang terdiri dari Juna, Juwita, dan Lino, duduk di kursi dengan meja yang dihiasi toples-toples makanan ringan dan cangkir berisi teh hitam panas. Sebenarnya keluarga Anggara ada empat anggota, namun anak bungsu mereka tidak ikut karena sedang menginap di rumah sahabatnya.


Dengan segala kemungkinan-kemungkinan liar yang ada di pikirannya, Julia pun ikut duduk bersama yang lain di ruang tamu setelah Juho menghampirinya.


Pukul 8 lebih 15 menit, suasana mendadak tegang karena pembicaraan sebenarnya akan dimulai. Tidak ada lagi candaan dari masing-masing kepala keluarga, tidak ada lagi cipika-cipiki dari dua wanita yang sama-sama pernah melahirkan dua kali, tidak ada lagi kata-kata dan kalimat yang tidak berguna sebagai basa-basi. Hanya ada keseriusan di setiap bahasa yang dilontarkan.


"Jadi, ada perlu apa gerangan Tuan dan Nyonya hingga datang ke kediaman Hamba," lontar Juho dengan nada serius. Namun, dibalas tawa tertahan oleh yang lain.


Julia mendengus dalam hati. Pap siapa sih?! Nggak kenal! batinnya.


"Pah," tegur Airin saat menyadari bahwa suaminya berucap di luar nalar.


"Ekhem, maaf sebelumnya." Juho mengulang kembali perkataanya. "Baiklah, tanpa basa-basi, ada apa, Jun?" tanyanya menjadi informal.

__ADS_1


Ketegangan yang terjadi mendadak larut kala Juho menormalkan gaya bicaranya. Juna yang umurnya beberapa tahun di bawah Tuan Nugraha sudah berkali-kali mempersiapkan diri sebelum hari ini tiba. Bagaimanapun juga, Juho adalah kepala keluarga dan Julia adalah anak bungsu perempuannya.


Juna menghela nafas sebentar. Dengan badan yang tegak walaupun sedang duduk, pria Anggara tersebut mulai mengeluarkan suaranya yang membuat nafas Julia terekat.


"Tuan Nugraha, Nyonya Nugraha. Saya, Juna Anggara, dan istri saya, Juwita Anggara. Datang kemari untuk meminta restu kepada Tuan dan Nyonya, bahwa anak kami yang bernama Lino Anggara hendak meminang putri bungsu kalian sebagai istri. Apa kalian berkenan?"


Sontak Lino pun sama kagetnya mendengar penuturan Juna yang tidak diduga-duga. Kenapa dia tidak tahu-menahu soal ini?!


Juwita memegang pundak anak sulungnya dengan tenang saat menyadari tatapan yang diberikan Lino. Wanita tersebut hanya tersenyum lalu beralih fokus pada sang suami.


Berbeda dengan yang lain, respon Airin hanya tersenyum penuh arti menatap Lino. Seketika Julia pun tersadar, bahwa hal ini pasti tidak luput dari kelakukan Mamanya. Julia menatap sang Mama dengan lemas.


Kak Lino emang ganteng, sih. Tapi ya masa harus langsung nikah?! Mana nggak ada persetujuan lagi.


"Bagaimana, Julia? Kamu bersedia dinikahi Lino?" tanya Juna.


Lino menatap Julia dengan panik. Dia tentu sedikit mengharapkan persetujuan Julia. Bagaimanapun Lino sudah menyukainya sejak Lia di bangku SMP. Jantungnya mendadak berdetak tidak karuan, menanti ucapan sang gadis yang menundukkan kepala.


Julia menoleh ke arah kedua orang tuanya, dan sedikit melirik Lino. Tangannya meremas piyama merah muda dengan gugup. Ini, kenapa dia merasa terintimidasi, ya? Berasa lagi di pengadilan hukum.


"Lia masih sekolah."


Bukan. Itu bukan suara Julia. Melainkan Juho yang menatap sambil melipat kedua tangannya.


Tubuh Lino mendadak lemas. Apakah dia sudah mendapatkan lampu merah dari calon mertua? Tapi melihat Airin yang senyum tertahan, membuat nyali Lino kembali.


"Hahaha, iya. Kami tau. Ya kali Lino jadi kepala keluarga sedangkan dia masih sering rental ps," kekeh Juna. "Maksudnya nanti kalau Lino udah mapan, Lia udah lulus sekolah, baru nikah. Kalau sekarang mah tunangan dulu aja."


Ucapan Juna membuat Airin sweatdrop. Perjanjian yang disetujui kemarin-kemarin tidak sama dengan yang terjadi saat ini.


"Oalah. Gitu toh. Ya keputusan sih ada di Lia sendiri. Kita cuma ngedukung," sahut Juho, tidak ada beban.


Dan semuanya kembali menatap Julia.


Ya Allah, bisakah tenggelamkan aku di Palung Mariana? Semuanya terlalu mendadak untuk hambamu yang mungil ini, batin Julia hopeless.



Continued

__ADS_1


__ADS_2