![Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]](https://asset.asean.biz.id/tiba-tiba-nikah---hiatus-.webp)
Hari demi hari berganti. Tidak terasa waktu libur sekolah yang panjang ternyata sudah selesai juga, walaupun Julia lewati dengan pikiran yang terbayang-bayang oleh tawaran menikah dengan sosok yang berbeda lima tahun dengannya.
Hari ini merupakan masa orientasi sekolah Julia yang mulai menginjak masa SMA. Segala perlengkapan yang diperlukan sudah sejak lama ia siapkan. Setelah sarapan, Julia akan diantarkan oleh sang Papa yang sekalian berangkat kerja.
"Assalamu'alaikum." Julia mencium punggung tangan Airin.
"Semangat sekolahnya," pesan Airin yang diangguki Julia.
...
"Hati-hati. Jangan bikin masalah, ya." Julia mendengus mendengarnya.
"Yang ada aku yang kena masalah," balas Julia.
"Iya, makanya hati-hati. Papa pergi, ya," pamit Juho.
Julia menatap motor Juho yang mulai meninggalkan area sekolah barunya. Dengan langkah ringan dirinya menerobos masuk kala melihat gerbang yang hampir ditutup. Tangannya menyentuh dada setelah berhasil melewati satpam yang berjaga.
"Kalo hari pertama udah telat, bisa mampus ini," gumamnya menggeleng kepala.
Julia melanjutkan pendidikan di SMA Jayapati yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari rumah Nugraha berada. Gadis itu celingak-celinguk melihat sekitar. Karena dia tidak memiliki kenalan sama sekali di sini, mau tidak mau Julia harus berjuang sendiri selama tiga tahun ke depan (kalau dia tidak mencari teman).
Hari yang melelahkan. Julia berusaha sebaik mungkin mengikuti instruksi dari para Osis saat MOS dimulai. Tapi namanya juga manusia, tempatnya salah dan segala dosa. Julia hampir dihukum karena ulahnya yang tidak sengaja menyenggol kakak Osis yang sedang memegang semangkuk seblak kuah. Terlihat dari uap-uap yang mengepul menandakan jajanan pedas tersebut masih sangat panas.
"Sekali lagi, saya sangat mohon maaf atas ketidaksengajaan saya. Perlu saya bantu bersihkan, Kak?" Julia berkali-kali menundukkan kepala dan merapatkan telapak tangan. Penglihatannya menangkap jas almamater kebanggaan anggota Osis tersebut kini terlihat kotor karena kuah seblak. Bahkan masih ada sisa-sisa kerupuk yang sudah lunak menempel pada noda itu.
Dengan kesal orang itu berujar, "Lain kali hati-hati. Belum juga mulai sekolah, udah berulah. Tidak perlu bantu. Saya bisa sendiri." Perempuan berhijab itu berbicara ketus dengan mimik yang tidak menyenangkan.
Tiga orang yang melihat kejadian secara langsung memutuskan untuk menarik korban senggolan—yang bukan lain ialah teman mereka sendiri—meninggalkan Julia tanpa ada sepatah katapun terlontar.
Dengan helaan nafas kasar, Julia mencoba melupakan kejadian barusan. Sungguh, demi apapun dia malu dan merasa bersalah. Apalagi mendengar respon kakak Osis itu yang kurang nyaman didengarnya.
Kakinya ia bawa melangkah menuju kelas sementara dia mengikuti MOS. Sebenarnya Julia lapar, ingin ke kantin. Namun, waktu istirahatnya malah terpakai untuk bertanggung jawab karena menodai pakaian orang lain. Menodai dalam artian yang sebenarnya.
Gadis itu kemudian menelungkupkan kepala pada lengannya. Bosan sekali rasanya. Para murid di sini tidak diperkenankan membawa ponsel, smartwatch, dan gadget-gadget lainnya. Makanya siswa di sini lebih fokus untuk belajar karena tidak terganggu dengan gadget.
Siapapun yang melanggar aturan, akan dikenai sanksi dan denda yang tidak ringan. Jadi, orang yang masuk ke sekolah Jayapati ini benar-benar dituntut untuk belajar.
Penasaran berapa kriteria ketuntasan minimalnya di rapot? Jawabannya ialah 83, untuk semua mata pelajaran. Jika ada pelajaran yang nilainya di bawah KKM, meskipun hanya satu pelajaran dan nilainya beda tipis dengan nilai yang diharuskan, maka jangan berharap untuk naik kelas. Apalagi lulus.
__ADS_1
Setiap tahunnya pasti ada saja yang nilainya kurang. Berakhirlah dia tinggal kelas. Bahkan diketahui ada yang sampai tiga tahun tidak naik kelas, karena tuntutan keras dari sekolah tersebut.
Untungnya Julia sudah mengetahui informasi umum ini. Tapi dia tetap kekeh mendaftar ke sini. Lagi pula bukan hanya hasil belajar yang dinilai, tapi dari sikap dan bahasa pun tidak lepas dari pengawasan wali kelas. Ini menjadi tantangan sendiri bagi Julia. Sekali ingin, tetap ingin, walaupun sangat menantang dan sulit didapatkan.
Duk duk
Suara ketukan meja membuat Julia mengangkat kepalanya pelan.
"Halo?" lontar seseorang.
Julia pun menegakkan tubuhnya dan duduk dengan benar kala melihat murid lain menghampirinya. Ia menatap netra orang itu sekilas.
"Ada perlu?" ungkap Julia.
Orang itu mehgangguk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Boleh berkenalan?" pintanya sambil mengulurkan tangan.
"Tentu. Julia," balas Julia menjabat tangan murid tersebut.
"Aku Aisya."
Sejenak Julia terkesiap melihat tinggi badan orang bernama Aisya itu. Sungguh, dia tinggi sekali. Kalo Julia berdiri di sampingnya mungkin akan terlihat jomplang, tinggi Aisya bisa jadi melebihi tinggi anak laki-laki.
"Aku lahir tahun 2005. Tapi karena tinggi badanku, banyak yang tidak mau percaya kalau aku baru mau masuk SMA," jelas Aisya. Wajahnya menunduk dan berekspresi sedih.
"Wah, aku tidak menyangka kita seumuran. Aku pikir kamu itu murid kelas dua belas," timpal Julia sungkan.
"Iya, wajar saja sih. Kayaknya waktu kecil aku dicekoki galah biar tulangku memanjang," canda Aisya terkekeh. Julia pun ikut tertawa kecil.
"Ada-ada aja, kamu. Hahaha."
...
"Astaga naga G-Dragon! Ini sekolah atau festival cosplay sih?! Aneh-aneh banget aturannya," gerutu remaja bersurai coklat sepinggang dengan tangan yang sibuk menahan papan nama dari kardus yang dilapisi kertas karton biru.
"Dasar emang! Nyesel tau, daftar ke sini! Belum mulai sekolah aja udah rese gini!!" sungut yang lain sama kesalnya juga.
Julia diam saja.
Dia hanya menurut dan tidak banyak protes ataupun mengeluh. Karena percuma. Dia memang berniat sekolah di sini. Jadi, jalani saja.
__ADS_1
"Julia, kamu tinggal di mana?" beber sosok tinggi dengan papan nama berwarna merah bertuliskan Aisya Evelyna.
"Di Jalan Sepatu Nomor 20, RT/RW 05," ujar Julia.
"Benarkah? Aku punya satu teman yang tinggal di area itu."
Di lapangan yang terpapar sinar sang Surya langsung, Julia dan Aisya asyik berbincang tanpa memperhatikan pidato Pak Kesiswaan. Tidak jauh-jauh, hanya sambutan dan amanat-amanat yang diungkapkan kepada calon murid SMA Jayapati. Menurut Julia itu tidak terlalu penting, jadi abaikan saja. Hm, tidak penting apanya Julia ....
...
Apel siang sudah selesai. Kini para (calon) murid Jayapati disuruh untuk melakukan ini-itu yang diatur oleh Osis. Berbagai kegiatan seru sampai nyeleneh Julia dapatkan hingga berjam-jam lamanya.
Julia sepertinya harus bersiap lagi karena MOS dilaksanakan hingga tiga hari ke depan. Setelah itu, baru hari pelantikan murid kelas sepuluh Jayapati angkatan baru.
Tepat pukul tiga sore, akhirnya sekolah membubarkan para pelaksana MOS. Julia lega rasanya. Dia ingin segera berbaring di ranjang empuknya dibarengi dengan suasana sejuk dari kipas angin yang berputar. Duh, membayangkannya saja sudah membuat Julia bahagia.
Tapi, ada masalah.
Julia harus pulang naik apa?
Juho akan pulang pukul lima nanti, bahkan mungkin waktu Isya. Ingin menelpon Jaka pun dia tidak membawa ponsel. Apa dia harus naik angkutan umum?
Tidak! Itu bukan ide yang bagus. Dia sama sekali tidak tahu nomor angkot yang harus ia tumpangi.
Ojek?
Ah, Julia tidak berani naik ojek sendirian.
Lalu, Julia harus apa supaya dirinya bisa pulang?
Surai hitamnya berantakan atas ulah tangannya. Itulah mengapa kalau hidup jangan terus berdiam di kandang. Ini 'kan jadinya.
Nikmati saja waktu berhargamu di sekolah strict itu, Julia. Siapa tahu ada pangeran berkuda yang datang bersedia menjemputmu dan mengantarkan pulang. Kalaupun ada, dan pangeran itu mau mengangkut beban sepertimu.
Kalau sudah seperti ini, rasanya Julia ingin sekolah online saja. Cukup duduk di depan laptop dan mencatat hal yang ditugaskan. Tidak perlu keluar dari kamar dan ribut di pagi hari memperebutkan kamar mandi untuk mengejar waktu.
•
Continued
__ADS_1