![Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]](https://asset.asean.biz.id/tiba-tiba-nikah---hiatus-.webp)
"Asar, nih. Lia udah selesai belum, ya?" monolog Airin melihat jam dinding.
"Aduh, kalau udah selesai gimana? Papa pulangnya bakalan nanti ...."
"JAKA! JEMPUT LIA DI JAYAPATI SANA!!" suruh Airin pada anak pertamanya.
"MA, AKU LAGI MAIN! NANGGUNG!" sahut Jaka dari dalam kamar. Dia sedang fokus dengan game-nya.
"Ya ampun anak itu." Airin mengusap keningnya pelan. "Apa minta tolong Lino kali ya ..." lanjut Airin, kemudian membuka ponselnya dan mencari kontak Lino.
"Oke, deh." Airin menekan tombol hijau bergambar telepon pada layar ponselnya. Tidak lama kemudian panggilan pun tersambung.
"Assalamu'alaikum. Ada apa, Tan?" sapa Lino di balik sana.
"Waalaikumsalam. Ini, Lino sekarang lagi sibuk, nggak? Tante pengen nyuruh kamu," ujar Airin berharap Lino sedang tidak sibuk.
"Enggak terlalu sih, Tan. Niatnya sekarang aku mau beli bakso di Mang Aheng. Tapi nanti malam juga bisa. Emang Tante mau nyuruh apa?" ucap Lino.
"Lia 'kan lagi MOS tuh di sekolah barunya. Nah, karena di sana tidak dibolehin bawa hape, jadinya Tante nggak tau harus jemput Lia kapan. Lino mau, nggak, jemput Lia?" jelas ibu dua anak tersebut.
"Oh, bisa kok Tante. Bisa. Lia sekolah di mana?" balas Lino semangat.
"SMA Jayapati di Jalan Alpukat. Tau 'kan?"
"Tau kok, Tan. Lino juga lulusan sana," jawab lelaki berumur 20 tersebut.
"Oh, ya? Wah kebetulan yang bagus sekali. Tolong ya, Lino. Jangan lupa sesekali liat di kiri-kanan barangkali ada Lia yang lagi jalan. Lia nggak bisa naik angkutan umum soalnya."
"Siap, Tante. Lino berangkat langsung ya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Airin mematikan sambungan telepon.
...
Di sebuah kamar, terdapat Lino yang lompat-lompat kegirangan mau jemput calon istri. Ekhem, calon istri nggak tuh ....
"Buset, Bang! Mau ke kuburan, apa gimana? Wangi bener, 'kek abis disiram mxltx," cetus pemuda Anggara yang lebih muda. Huruf vokalnya tebak sendiri, ya.
Lino yang hendak berjalan ke luar berhenti sebentar mendengar celetukan adiknya. Dia mendengus kesal.
"Sembarangan! Parfum Jx Malxnx ini, jangan main-main!" sungut Lino tidak terima sambil menepuk-nepuk bajunya bangga.
"Sombong amat. Parfum Sxxnt Lxxrxnt gue aja nggak pamer tuh!" timpal Jaya, tidak ingin kalah.
"Parfum dari Ayah, juga. Gue dong, beli sendiri, wle!" cibir Lino. Jaya hanya menatap sinis.
Sebentar. Ini kenapa jadi ribut gegara parfum sih? Kasihan Lia itu, nungguin macam orang ilang!
"Emang mau kemana sih, Bang?" tanya Jaya yang sontak membuat Lino menepuk dahinya.
"Tuh 'kan hampir lupa! Mau jemput masa depan ini. Aduh telat nih pasti. Lu sih, Jay, malah ngajak ngobrol," sembur Lino yang sempat-sempatnya menyalahkan orang lain.
"Kok gue sih, Bang?! Hayo direbut orang rasain," ucap Jaya lalu kabur menghindari amukan sang kakak.
"WOY, JAY— eh princess Lia kasian." Lino pun ngibrit ngambil motornya dan tanpa ragu langsung gas.
...
Julia melirik jam tangan kecilnya.
"Udah jam setengah empat. Jalan aja deh, siapa tau nggak nyasar."
Gadis itu melangkah meninggalkan area sekolah yang sudah sepi sedari tadi. Dengan berat dia berjalan sendirian dengan harapan tidak tersesat.
Niat ingin segera merebahkan diri di atas kasur busanya, eh malah harus jalan dahulu. Tubuh Julia sudah lemas rasanya. Beginilah jika remaja jompo keluar dari kurungannya. Udah kayak nggak ada semangat hidup, jalan macam zombie.
Mana perut Julia juga keroncongan minta diisi. Sungguh mengkhawatirkan sekali remaja satu ini.
Tiiin
__ADS_1
Julia menghentikan langkahnya saat mendengar bunyi klakson motor. Dengan lemas dia menoleh ke arah kiri.
"Loh, Jo. Ngapain?" tanya Julia. Menatap seorang gadis tomboy duduk di atas motor matic-nya.
"Lah, kamu yang ngapain? Jalan sendiri kayak orang hilang. Habis diusir apa gimana?" ujar remaja seumuran Julia yang dipanggil Jo tersebut. Dia mematikan mesin motornya.
"Hus, sembarangan tuh mulut. Habis dari sekolah. Mau pulang tapi nggak ada yang jemput," ujar Julia kesal.
"Sekolah? MOS maksudnya?" Julia mengangguk sebagai jawaban.
"Kok bisa nggak dijemput? Terus juga kenapa nggak naik ojek?" sembur Joanne. Julia mendelik menatap sang teman.
"Tau sendiri 'kan, aku nggak bisa naik angkutan umum sendirian," balas Julia. Joanne pun akhirnya mengangguk paham.
"Yaudah. Bareng aja, yuk. Aku anter," ajak Joanne lalu menyalakan kuda besi miliknya.
"Serius?! Oh, dengan senang hati!" seru Julia lalu menaiki motor matic milik temannya itu.
Sebelum Joanne memajukan kendaraannya, terdengar suara klakson dari arah belakang yang membuat Joanne tidak jadi memajukan motornya.
Tiiin
"Lia," panggil seseorang.
Meskipun yang dipanggil hanya nama Lia, namun Joanne tetap ikut menoleh. Penasaran dengan siapa yang memanggil Lia.
Karena tumben aja, Lia 'kan "nolep" sekaligus gaptek buat remaja zaman sekarang. WhatsApp saja baru Lia miliki akhir-akhir ini, itu pun dibuatkan oleh Jaka. Ponsel yang selama ini selalu ada di tangan Julia hanya dipakai untuk menonton film dan drama. Kadang juga untuk bermain My Angela.
"Kak Lino?" sahut Julia.
Joanne mengerutkan keningnya. Ternyata orang ini benar-benar kenalan Julia. "Siapa, Jul?" tanyanya.
"Tetangga," jawab Julia. Dia pun memusatkan perhatian pada seseorang yang wanginya masyaAllah, mungkin bisa tercium hingga beberapa meter.
"Ada apa, Kak?"
"Disuruh jemput Lia sama Tante Airin," ujar Lino.
"Nggak tau."
Lino melihat dengan ragu, Julia sudah duduk di jok motor seorang perempuan yang sepertinya seumuran dengan Julia. Dengan hati-hati, Lino bertanya,
"Kamu mau bareng temen kamu aja?" Lino merasa enggak enak kalau harus menganggu mereka. Tahu sendirilah, cewek kalo sudah bareng besti-nya pasti tidak bisa diganggu.
"Eh, terus Kak Lino?" sahut Julia pelan.
"Nggak pa-pa. Aku sekalian mau beli bakso sih, jadi nggak sayang-sayang amat."
Julia bingung. Kalau dia ikut Joanne, kasihan Lino yang sudah jauh-jauh jemput, apalagi langsung disuruh mamanya. Kalau dia ikut Lino, nggak enak sama Joanne yang notabenenya ialah teman sejak dari SD.
"Ikut dia aja, Jul. Dia disuruh tante. Kalo tante Airin marah, aku yang bakalan diomelin," lontar Joanne, membantu Julia memutuskan.
"Duh, mana aku udah naik jok, lagi. Maaf, ya, Jo." Julia memutuskan untuk ikut Lino. Dia pun turun dari motor Joanne.
"Santai aja. Kapan-kapan kita hangout lah, oke? Ajak yang lain juga. Duluan, bye," pamit Joanne, kemudian motornya langsung melesat meninggalkan Julia dan Lino.
"Temenmu nggak apa-apa emang?" celetuk Lino.
"Bukan masalah. Dia paham kok."
Hayo, Joanne paham apa, ya?
"Ayo naik. Tapi kita mampir dulu di Mang Aheng, ya. Mau beli bakso. Sekalian ditraktir deh," kekeh Lino.
"Enggak usah, Kak. Aku masih ada uang kok," tolak Julia. Udah dijemput, masa ditraktir lagi ... batin Julia. Dia duduk di atas jok motor "tetangganya" tersebut.
"Ini buat Tante. Buat kamu juga sih, haha." Lino tertawa kecil di sela-sela perjalanannya.
Julia hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
...
"Assalamu'alaikum. Lia pulang," salam Julia ketika memasuki kediaman Nugraha.
"Waalaikumsalam. Dari tadi anak Mama nungguin sendirian? Maaf, ya. Mama nggak tau jadwal pulang kamu," balas Airin datang dari ruang tamu sambil membawa gelas yang berisi air jernih dari pegunungan. (baca: air mineral).
"Iya, Ma. Tapi tadi sempet ketemu Joan, kok. Niatnya juga aku nebeng bareng dia. Tapi ternyata ada Kak Lino. Yaudah, ikut Kak Lino, deh." Julia tersenyum memamerkan gigi-giginya.
"Joan? Udah lama temen kamu nggak mampir. Lain kali ajak atuh main ke sini." Airin mendudukkan dirinya di atas sofa. "Lino, duduk dulu."
"Iya, Tan. Makasih." Lino pun duduk.
"Nanti deh, aku coba hubungi." Haus, Julia menegak air yang disuguhkan sang Mama hingga tandas.
"Kamu laper? Makanannya beli aja, soalnya Mama belum masak," kata Airin melihat Julia yang minum segelas air hingga habis dalam sekali tegak.
"Tadi aku beliin bakso, Tante. Aku beli banyak." Lino mengeluarkan isi kantong kresek yang berisi bungkusan bakso beragam toping ke atas meja.
"Kok banyak banget, Lino? Jadi ngerepotin," ungkap Airin tidak percaya melihat empat bungkus bakso terpampang di atas meja.
Lino hanya tersenyum manis, semanis stevia. Biar tidak diabetes.
"Sekali-sekali, Tante," jawab Lino. Dia bangkit dari kursi dan berpamitan.
"Aku pulang ya, Tante. Assalamu'alaikum." Lino mencium punggung tangan Airin.
"Waalaikumsalam. Makasih, loh, Lino. Hati-hati," pinta Airin.
"Iya, Tante. Baksonya jangan lupa dimakan, Lia," pesan Lino sebelum ngibrit keluar. Airin tertawa melihatnya.
"Cie yang udah deket, bentar lagi nempel nih," goda Airin pada sang anak.
"Apaan sih, Mama," rengek Julia, malu.
...
Jaya terheran-heran melihat saudara berbeda dua tahun dengannya masuk ke rumah dengan senyum bulan sabit yang sangat lebar. Ada sesuatu apa hingga kakaknya yang super duper bikin darah tinggi ini dapat berseri-seri. Hm, seketika Jaya sendiri mencurigai kakaknya.
"Hayo, senyum-senyum sus gitu ada apa? Habis nyolong mangganya Tante Airin ya? Ck, belum tobat juga ternyata," cetus laki-laki berusia delapan belas tahun tersebut.
"Enak aja! Gue beli bakso, ini, awas kalo minta," timpal Lino memamerkan keresek baksonya sambil berjalan ke dapur.
"Eh, mau dong! Jadi abang baik dikit, kek. Sama adik sendiri, juga," imbuh Jaya tergoda dengan harumnya aroma bawang goreng bercampur bau khas dari bakso sapi.
"Wani piro? Gocap dah, gue kasih," beber lelaki dengan tubuh wangi segar parfum yang bercampur dengan aroma bakso.
"Idih, mahal amat. Palingan seporsi juga ceban." Jaya mengerut kesal.
"Ceban apanya?! Sekarang aja udah 15 woy!" sanggah Lino
Tangannya dengan telaten mencampur adukkan bumbu, sesekali juga ia cicipi untuk rasa yang menurutnya pas.
"MasyaAllah banget, ini!" Mata Jaya memicing melihat Lino memakan bakso sambil sengaja menggodanya.
"Pengen tukar tambah kakak aja deh!" gerutu Jaya.
Lino memutar bola matanya malas. Dia pun menyuruh Jaya mengambil bagiannya di kantong kresek yang masih tersisa tiga. Lino benar-benar membeli banyak.
"Tuh di kresek, ambil sana!"
Jaya mendelik. "Kalau nggak ikhlas, mending nggak usah!"
"Protes mulu. Buruan ambil!"
Mau tidak mau Jaya pun mengambil sebungkus bakso. Dia juga lapar, kali. Apalagi ditambah melihat Lino yang makan dengan lahap. Perutnya pun ikut terangsang ingin diisi.
Hari ini benar-benar kenyang berkat bakso traktiran seorang Lino Anggara.
•
__ADS_1
Continued