Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]

Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]
Chapter III : Overthinking


__ADS_3

"*Saya terima nikah dan kawinnya, Julia Putri Nugraha binti Juho Surya Nugraha, dengan mas kawin tersebut dibayar kontan!"


"Sah?"


"Saaaahhhhh!!!"


Lah* ....


.


"Astaghfirullah, mimpi apaan itu...?!"


Julia terbangun dari tidur singkatnya setelah bermimpi demikian. Keringat sebesar biji kacang hijau berjatuhan disertai rasa risau yang menyelimuti pikirannya. Selanjutnya, dia mengingat-ingat kejadian tadi yang akhirnya bisa membuatnya susah tidur.


Julia memang tidak menerima ataupun menolak tawaran menikah dengan Lino, tapi ia hanya meminta waktu agar Lino mau menunggunya sampai dia lulus SMA. Untuk saat ini, dirinya masih terlalu dini jika harus menjalin lika-likunya berumah tangga. Keputusan Julia tersebut diterima dengan senang hati oleh keluarga Anggara.


Bagaimanapun juga, menikah bukanlah hal yang bisa ditentukan secara sembarangan. Menikah bukan hanya soal pasangan yang saling mencintai kemudian melahirkan buah hati, namun tentang bagaimana kita menikmati sisa hidup bersama pasangan yang bahkan kita tidak tahu kehidupan kita nanti akan menyenangkan atau justru menyebalkan.


Semua kemungkinan-kemungkinan yang entah itu baik ataupun buruk sudah dipikirkan Julia sejak lama. Dari film dan drama yang dia tonton, cerita fiksi yang dia baca, dan melihat langsung hubungan kedua orang tuanya, membuat Julia sempat berpikiran tidak ingin menikah.


Kehidupan setelah menikah itu bukan hal yang mudah. Dan Julia tidak mau masa mudanya dihabiskan untuk mengurusi urusan rumah bersama suami. Dia masih ingin bersenang-senang.


Jam dinding dengan gambar kelinci di dalamnya menunjukkan pukul empat pagi. Urusan soal menikah dan rumah tangga membuat Julia hanya bisa terlelap selama tiga jam. Untung sekarang masih hari libur sekolah, jadi Julia bisa istirahat kembali siang nanti.


Tetes demi tetes air hujan membasahi rumah-rumah dengan atap yang serupa; genteng. Di tengah dinginnya subuh ini, Julia melempar pandangan hingga tertuju pada sang ibu yang ternyata baru bangun.


"Ma," panggil Julia.


"Hm." Airin menoleh sebentar dan berdehem.


Julia hendak menanyakan sesuatu. Namun, melihat Mamanya yang kemungkinan besar belum bisa fokus, maka ia urungkan. Julia langsung saja ke sebuah ruangan khusus untuk ibadah yang terletak tidak jauh dari kamar mandi dan tempat wudhu.


Hampir dua jam gadis itu fokus berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Mengangkat kedua tangannya berdoa, jika Lino adalah jodohnya, maka ia mohon untuk diberi tanda agar tidak mengambil keputusan yang salah. Tetapi, jika Lino bukan jodohnya, maka mau tidak mau ia harus menjauh atau menjaga jarak dengan Lino, demi menghindari hal yang tidak diinginkan.


Kalau dipikir-pikir Julia serasa perempuan dewasa yang digalaukan dengan dua pilihan, antara karir atau cinta. Tapi Julia belum bekerja sih ....


Yaa, itu hanya perumpamaan saja. Jangan dibawa serius.


"Lia!" panggil Juho. Kalau didengar lebih teliti, arah suaranya dari dapur.


Julia melepas kain yang menutup kulit dan tubuhnya lalu merapikannya kembali. Sambil menggaruk-garuk rambut, Julia ke dapur menghampiri sang Papa yang tadi memanggil.


"Kenapa, Pa?" Mata Julia berkedip-kedip melihat Juho.


"Ohh, nggak ada," balas Juho.


Gadis berambut sebahu tersebut mendengus, "Kirain ada sesuatu," gumam Julia. "Lagian Papa sedang apa sih?" lanjutnya penasaran dengan yang dilakukan sang ayah.


"Kepo deh, Kamu. Mending bantuin Mama, gih," usir secara halus dari Juho untuk sang anak.


"Yaudah." Julia berlalu meninggalkan dapur.


Memindahkan keingintahuannya dari sang Papa ke sang Mama yang terlihat sedang beres-beres rumah. Padahal ini masih jam 6-an tapi Mamanya itu sudah rajin sekali. Sepertinya Julia lupa kalau Airin belum memasak sama sekali.


...


Bulir-bulir keringat jatuh bercucuran dari tubuh seorang gadis empat belas tahun ketika selesai memindahkan barang-barang di ruang tamu. Airin ingin suasana berbeda, entah mengapa. Sekarang, letak perabotan sudah tepat pada posisi yang diinginkan Airin. Dengan bantuan Julia, mereka baru selesai dalam waktu kurang lebih 45 menit.


Setelah kondisi rumah bersih dan rapi, Airin memutuskan untuk mandi. Namun langkahnya terhenti karena teringat sesuatu—dia belum memasak dari tadi. Aduh! Pasti anak dan suaminya itu sudah sangat lapar.


Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Kalau dia memasak sekarang, khawatir debu yang menempel pada pakaiannya akan berpindah pada makanan. Kalau dia mandi dulu, keburu masuk jam makan siang. Airin kalau mandi berasa di spa, santai tanpa memikirkan apapun dan menghabiskan waktu hingga berjam-jam.


Jalan pintasnya, ya beli online. Paling lama datang juga sekitar satu jam-an.


"Lia, tolong pesen makanan. Mama mau mandi," ucap Airin.


Julia mengangguk dan menjawab, "Pesen apa, Ma?"


"Apa aja."


"Bebas?"


"Iya."


Julia bersorak dalam hati. Setelah capek mengangkat dan membawa barang yang lumayan berat, Julia akan memesan banyak makanan sebagai pembangkit energinya yang terkuras. Soal uang mah belakangan, 'kan ada Papa tercinta.

__ADS_1


"Ayam kremes, capcay, tahu Sumedang, bakwan, martabak telor, jus tomat, sop buah ..." gumam Julia mengabsen makanan dan minuman yang hendak dipesan. Air liurnya hampir menetes kala gambar-gambar makanan tersebut terpampang.


Jari tangannya asik menggeser layar mencari menu apa lagi yang ingin ia beli. "Aduh, donat kentang enak kayaknya, apalagi ditambah toping oreo."


"Oke lah, selesai. Tinggal menunggu saja." Julia meregangkan otot-ototnya yang telah dipakai bekerja (menurutnya) dan berbaring di atas karpet. Tetapi Juho langsung menegurnya dan Julia pun ngibrit untuk membersihkan diri.


Mari doakan Juho untuk bersabar saat panganan nikmat yang Julia pesan tiba di tujuan.


...


"Bakwan, tahu, capcay, ayam, baklor, jus, sop buah, donat, dessert box," absen Julia pada makanan yang akhirnya datang setelah Julia selesai mandi dan berpakaian.


"Ya ampun, surganya," alay Julia.


Juho menggelengkan kepala. "Yakin bakal habis?" ragunya.


"Enggak sih. Aku bakal sisain," balas Julia.


"Jangan dibuang nanti, mubazir."


"Iya, Pa."


Dari arah belakang, Airin melangkah dengan tubuh yang wangi semerbak bagai kebun bunga. Dia mendekati makanan yang beraneka ragam berjejer dengan rapi.


"Banyak banget. Yang ngabisin nanti siapa?" tanya Airin sambil sedikit mencomot tahu khas kota Sumedang.


"Kalo nggak habis, disimpan aja dulu. Nanti juga ada yang makan," sahut Julia. Dengan tangan yang memegang dan mulut mengunyah donat, Julia serasa berada di surga.


"Makan nasi dulu, Liaaa."


"Nanti, Ma."


Tok tok tok


Juho dan Airin berpandangan, seperti sedang bertelepati dan saling memberi kode masing-masing. Julia tidak menghiraukan perbuatan aneh kedua orangtuanya. Kalau ada makanan, atensi Julia tidak akan beralih sedikitpun.


Tok tok tok


Ketukan pintu yang kedua kali akhirnya membuat Airin beranjak. Waktu menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh menit. Suasana pagi dengan sinar matahari yang hangat menjadi waktu yang tepat untuk sholat sunnah Dhuha. Itu seharusnya, tapi tamu yang satu ini malah berkunjung ke rumah orang lain. (Hm, padahal tuan rumahnya sendiri tidak sholat sunnah).


Lino menggeleng pelan. "Nggak usah, Tan. Cuma sebentar kok. Lia-nya ada, Tan?" balasnya.


"Hayo, ngapain nanyain Lia," goda ibu dua anak tersebut.


"Mau nyampein pesan dari Ibu. Katanya mau ngajak Lia ke mall," ungkap Lino.


Airin mengangguk lalu memanggil Lia. Dengan muka yang cemong setelah makan donat, lalu ayam kremes, Lia mencoba santai saat berhadapan dengan Lino.


"Kenapa, Kak?"


"Ibu ngajakin ke mall."


"Oke. Nanti kabarin aja. Omong-omong, mau ikut makan?" ujar Julia.


Lino menggelengkan kepala dan tersenyum. Kenapa dia dari tadi ditawarin makan mulu sih?! Apa tampangnya seperti pengemis kelaparan? Ia rasa tidak. Wajahnya tampan dan berkharisma. Wow.


"Itu aja sih. Aku duluan ya, Lia, Tante," pamit Lino.


Kedua Nugraha itu pun mengangguk. "Hati-hati," ingat Airin.


Lino berpamitan juga pada Juho, lalu melangkah meninggalkan kediaman Nugraha.


Airin menutup pintu. Tubuhnya dibawa menuju ruang makan untuk mengisi perut yang belum sepenuhnya terisi. Dengan santai, Airin menikmati sarapannya. Berbeda dengan Juho dan Julia. Ayah dan anak tersebut makan dengan ala-kadarnya tanpa memperhatikan hal lain. Yang penting puas dan kenyang. Ya sudah, biarkan saja.


Setelah kenyang walau terdapat beberapa makanan yang tersisa, Julia mendapat telfon dari Juwita yang akan mengajaknya ke mall pukul sepuluh nanti. Lumayan masih banyak waktu. Julia memutuskan untuk tidur sebentar.


Udah makan kenyang, lalu langsung tidur. Bagus sekali tabiat mc kita yang satu ini^^ (jangan ditiru).


...


"Lia, coba lihat Tante. Bagus, nggak?" Juwita sibuk mengarahkan dres-dres panjang yang hendak ia beli. Julia hanya mengangguk saja. Toh, apapun pakaian yang dipakai Tante Juwita akan selalu bagus dan cocok. Jadi Julia yakin nggak akan ada yang gagal.


"Lia, kamu ambil yang ini. Ini untuk Jaka." Juwita bak emak-emak rempong yang belanja pakaian sebelum hari raya tiba.


"Buat Jaya nggak Tante beliin?" Jaya adalah anak kedua Juwita dan Juna, sekaligus adik laki-laki Lino.

__ADS_1


"Nggak perlu. Baju dia sudah banyak. Oh iya, Lia. Kamu tetap setuju 'kan untuk nikah sama Lino?" tanya Juwita tiba-tiba.


Julia tersentak kaget dengan pertanyaan mendadak tersebut. "Setuju sih, Tante. Cuma, aku pengen diundur aja," jawabnya.


"Kenapa diundur? Lebih cepat 'kan lebih baik," balas Juwita. Atensinya walaupun terbagi antara berbincang dengan Julia dan sibuk memilih sandang-sandang untuk dibeli, namun tidak menyurutkan semangat wanita yang hampir berkepala lima tersebut.


"Aku pengen tamatin sekolah dulu, Tan."


"Oh gitu."


Entah sudah berapa keliling Juwita dan Julia mencari benda yang ternyata tak kunjung ditemukan. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena waktu juga sudah menunjukkan pukul lima petang.


Juwita membawa mobil sendiri. Awalnya dia ingin mengajak Lino yang bertugas sebagai supir dan menjaga mobil, tetapi kasihan juga Lino kalau harus menunggu lama di dalam mobil. Apalagi kalau dihitung, hampir tujuh jam Juwita berjalan sana-sini untuk belanja. Wah, Julia kuat juga, ya.


"Tante cuma beliin cilor. Nggak pa-pa lah ya, makasih loh udah mau nemenin Tante." Juwita menyerahkan satu kantong kresek cilor dari abang-abang kaki lima yang diterima dengan antusias oleh Julia.


"Enggak apa-apa kok Tante. Hehe, makasih juga."


"Kalo gitu Tante pulang, ya. Assalamualaikum," pamit Juwita.


"Wa'alaikumussalam."


Julia menatap mobil Nyonya Anggara yang mulai menjauhi rumahnya. Dia pun masuk dengan wajah berseri-seri.


Hari ini adalah hari terbaik! batin Julia.


"Senyum-senyum kayak ODGJ, ih," decit lelaki berkemeja kotak-kotak bak papan catur yang sedang duduk menyender.


"Sewot sekali, Anda. Aku punya cilor Mang Imin," pamer Julia menggoyang-goyangkan kresek hingga aroma khas dari cilok dan telor menyebar keluar.


"Dibeliin siapa lo, Jil?" Jangan heran kalau Jaka memanggil adiknya tersebut dengan panggilan begitu. Karena Julia sendiri memanggil Jaka dengan sebutan Jek. Terserah mereka sajalah.


"Sama Tante Juwita dong. Dibeliin baju juga." Wajah pamer Julia bagaikan antagonis film yang manipulatif. (Bercanda).


"Gue juga mampu kali, wlee," ejek Jaka.


"Saya tidak peduli."


Biarlah mereka beradu mulut hingga Mama Airin sendiri yang memisahkan.


...


"MAMA!! AJIL PAKE BAJU HARAM!!!" adu Jaka saat melihat pakaian Julia yang dibeliin Juwita ternyata model underwear.


"ENGGAK KOK, MA! INI DIBELIIN TANTE JUWITA, TADI!" balas Julia teriak juga. "Ajek diam ih," lanjutnya.


"Ya, mikir dong, Jil. Apa respon papa kalo lihat beginian," tunjuk Jaka pada pakaian Julia seperti menunjuk ikan yang hendak dibeli.


"Lagian nggak akan aku pake sembarangan juga, ih, Jek. Sok tahu waé Ajek mah," kesal Julia.


"Oh aja sih," singkat Jaka.


Julia sudah ancang-ancang untuk menjambak rambut sang kakak. Namun nada dering telepon terdengar membuat niatnya ia urungkan.


Julia pun lantas melihat siapa yang memanggil.


"Tante Juwita?" Tombol hijau Julia tekan pada layar, telepon pun tersambung.


"Halo, Assalamualaikum?" salam Julia.


"Waalaikumsalam. Lia, Tante pengen nyampein sesuatu," balas Juwita di sebrang telepon.


"Nyampein apa, Tan?"


"Besok Tante sekeluarga bakal ke rumah kamu lagi. Kali ini Lino sendiri yang minta. Kamu mau, ya?"


"Mau apa, Tante?"


"Mau menikah segera sama Lino."


Tunggu ...


APA?!!


__ADS_1


Continued


__ADS_2