Tidak Selamanya Sahabat

Tidak Selamanya Sahabat
Tetaplah menjadi Bulan 2


__ADS_3

Kursi-kursi kosong perlahan mulai terisi. Pelan-pelan, semakin lama, semakin banyak kepala. Lagi-lagi, Kafe Terra sesak. Lagi-lagi, Luna benci. Kali ini bukan karena hujan. Sang mentari dengan semringahnya yang menghangatkan, menghalangi hujan memporak-porandakan aktivitas manusia untuk kesekian kalinya.


Luna yang sedang mengeringkan perabotan dengan lap terkejut ketika sebuah tangan merebut paksa lap darinya. Ia mendongak untuk mendapati Surya yang lempeng, seolah dirinya tidak berbuat apa-apa, seakan-akan bukan dirinya yang baru saja hampir membuat Luna menjerit.


Luna mengernyit heran. "Bad mood banget," komentarnya.


"Nggak," sahut Surya saat irisnya dan milik Luna bertubrukkan, "kafe rame banget."


Kening Luna semakin berkerut. Harusnya, dialah yang menggerutu demikian, bukan seorang Surya si pekerja keras.


"Jam berapa acaranya?" Surya bertanya. Cowok itu memindahkan satu-satu perabotan kering ke rak. Sedangkan Luna yang menyaksikan dan membiarkan sahabatnya itu mengerjakan tugasnya, menaik-turunkan bahu. "Katanya, sih, jam tiga, tapi ini udah jam dua lima belas dan belum ada orang-orang mereka yang dateng ke sini untuk prepare. Padahal wartawan sama fans udah rame aja."


Hari ini, Kafe Terra sudah disewa selama setengah hari untuk acara launching single perdana salah seorang penyanyi cantik, yang Luna tidak ketahui namanya. Maklum, ia harus mengurusi rumah dan Surya yang akan berangkat kuliah dari pagi hingga siang, lalu ketika matahari sudah tepat di atas kepala, Luna akan bekerja di kafe hingga malam. Saat sampai di rumahnya di malam hari, Luna lebih memilih langsung tidur, jadi televisi dirumahnya dan Surya bisa dikatakan sangat tidak berguna.


--


Kepala yang tadi memenuhi kafe perlahan pergi dan berkurang. Kini, hanya sisa para karyawan dan rombongan penyanyi cantik yang Luna ketahui bernama Vanessa itu. Berbeda dengan teman-temannya yang sedang mengambil gambar bersama Vanessa, termasuk Surya, Luna memilih duduk di belakang meja kasir dengan pandangan yang tidak terlepas dari sosok perempuan tinggi semampai berpenampilan nyaris sempurna itu.


Perhatiannya tak kunjung teralihkan saat bel pintu kafe bergemerincing.


"Misi, Mbak?" Barulah ketika suara rendah itu terdengar, Luna kembali lagi dari alam khayal. "Maaf, tapi kafe kami sudah tutup," ujar Luna perlahan sembari mendongakkan kepala, berusaha bersikap sopan di tengah muaknya dia saat ini. Namun, siapa sangka jika posisi pandangannya saat ini terasa begitu menyiksa dan membahagiakan secara bersamaan? Luna yakin, seseorang telah memukul gong dalam jantungnya dengan palu godam begitu keras, dan orang itu adalah pria di depannya. Rupanya tak banyak berubah, hanya garis wajah lebih tegas dan rahang yang semakin tajam. Pastinya, tambah tampan. Netra sehitam bulu gagak itu kembali. Kembali bersama semua kenangan, semua perasaan yang sudah Luna buang jauh-jauh ke samudera tak berdasar. Namun, semua itu terseret arus kembali ke permukaan, bersamaan dengan datangnya Marco, Mars untuk Luna.


"Luna, bener?" Rupanya, pria ini masih mengenalinya. Itu saja cukup untuk membuat batin Luna bersorak. Luna mengangguk. Jika bisa, ingin sekali dirinya keluar dari bagian kasir dan memeluk tubuh yang semakin tinggi itu. Ketika pertemuan terakhir mereka, tepatnya saat kelulusan SMA, Luna masih jauh lebih tinggi dari pada Marco. Hijrah ke London ternyata merubah semua di diri Marco, termasuk aura pria itu. Entah mengapa, Luna tidak lagi bisa merasakan hangat saat Marco bersamanya, hanya kecanggunan, meski tak dapat dipungkiri debaran itu masih sama.

__ADS_1


"Apa kabar?" tanya Marco. Menyadari pertanyaannya tadi hanya formalitas belaka, ia kembali melanjutkan, "Lo… kerja di sini?" Tangan Marco menunjuk ke segala arah kafe.


Bahkan, bagaimana Marco membuatnya gugup cukup mengejutkan Luna yang sebelumnya begitu santai di hadapan sahabat lamanya ini. "Y-ya, gue dan Surya."


Mendengar nama Surya, Marco menaikkan kedua alis. "Surya? Di mana tuh anak?"


Luna tersenyum. Dirinya, Surya, dan Marco dulu begitu dekat. Keduanya adalah Matahari dan Mars yang memiliki peran masing-masing untuknya. Lantas, Luna memanggil satu lagi sahabatnya, melambaikan tangan; mengisyaratkan Surya untuk datang ke arahnya.


Surya yang langsung menoleh, berlari kecil menuju meja kasir dengan cengiran lebar yang cukup mengerikan bagi Luna. Menurutnya, cengiran itu persis seperti seringai yang sering ditunjukkan oleh para pengidap pedofilia. Ngeri.


"Ken-"


"Sup, Bro?"


"Lo nyata?" Surya mencubit dan menekan-nekan wajah Marco. Namun, ia segera berhenti ketika mendengar Marco meringis. "Ups, sorry."


--


"Lun, sepatu putih gue yang lu cuci waktu itu di mana?" Surya berteriak sambil berjalan ke sana ke mari, mengecek keberadaan sepatu kesayangannya di seluruh penjuru rumah. "Lun!"


"Sabar dikit, bisa?" Yang sedari tadi ditunggu pun muncul, Luna datang dari pintu belakang membawa sepasang sepatu putih yang sudah bersih. "Gue cuma sempet bikin roti isi telor doang," kata Luna menunjuk dapur dengan dagunya, "gue mau mandi, inget tutup pintu."


Surya tersenyum. Luna pasti terlambat bangun lagi. Hal itu terlihat dari muka bantalnya, juga kotoran mata yang masih menempel, menunjukkan Luna tidak sempat membasuh mukanya. Ia lalu mengacak rambut Luna pelan sebelum beranjak ke dapur untuk menyantap sarapan.

__ADS_1


--


"Lo sendiri kenapa ke sini? Nggak liat itu tulisan di pintu kalo kafe kita udah tutup?"


Marco mendengus geli. Ia lalu membalikkan badannya, melambaikan tangannya pada seseorang. "Vanessa!"


Yang dipanggil menoleh. Melihat asal suara tadi langsung merekahkan senyum gadis cantik nan langsing itu. Dengan langkah pasti, ia mendekat.


"Lo dan Vanessa…" Luna memiringkan kepala. Setengah berdoa ketakutannya selama Marco pergi tidak akan terjadi.


"Kami akan bertunangan dalam waktu dekat." Cukup lima kata untuk menghunuskan pisau tajam tepat di pusat kehidupan Luna. Tangannya mulai bergetar, matanya terasa panas, dan tenggorokkannya terasa sakit menahan tangis.


Dan Surya, hidup bertahun-tahun dengan Luna membuatnya mengerti keadaan ini. Jadi pria itu langsung merangkul sahabatnya, mengusap-usap bahu Luna dengan lembut.


"Kamu kapan sampenya? Kok nggak nelepon?" Dan kehadiran sang Venus menambah suasana kelam pada obrolan tiga sahabat lama ini.


Venus yang cantik, Venus yang langsing, Venus yang berbakat seni, Venus yang bersinar, Venus yang didambakan.


Sedangkan, Bulan… Bulan yang tidak sempurna, Bulan yang tidak berguna, Bulan yang tidak bersinar, Bulan yang diabaikan.


Luna dengan mengenaskan menertawakan nasibnya, melihat ke arah pantulan wajahnya di cermin. Ia lalu melihat kembali ke arah ponsel, membaca lagi pesan dari Marco yang diterimanya tepat sebelum Luna membuka pintu kamar mandi.


"Lun, butuh bantuan nih. Nanti malem abis kerja bisa temenin nggak?"

__ADS_1


__ADS_2