
Keesokan harinya.
Pagi itu suasana Kota Batu sangat dingin, langit berawan dan udara sedikit berkabut
karena semalam hujan mengguyur begitu deras, kebanyakan siswa datang mengenakan
jaket. Namun kabut segera lenyap saat cahaya keemasan matahari terbit mulai
terlihat menembus awan.
Pukul tujuh kurang seperempat pagi bel masuk berbunyi, Sarah segera berlari ke kelas sambil
membawa gitar akustiknya.
Sarah masuk dan melihat kelas sudah penuh, namun guru masih belum datang. Sarah melihat
Hendra seperti biasanya duduk di bangku yang letaknya agak kebelakang dan posisinya
di tengah, membuatnya benar benar membaur dan sulit mendapat perhatian ekstra
dari guru.
“Hai hen..” sapa sarah duduk di atas meja di samping Hendra saat istirahat.
“Ah.. hai, kau bawa gitar lagi ya..?”
“Iya, nanti sore aku ada latihan lagi untuk persiapan acara bulan bahasa nanti. Oh iya
ngomong ngomong soal lagu kemarin..”
“Lagu..”
Hendra menoleh kearah Sarah.
“Iya, Time in a Bottle. Saat kubilang pendapatmu mirip dengan pendapat ibuku, Ternyata itu
bukan pendapat ibuku. Ibuku terkejut saat mendengar kalau aku punya teman yang
tahu lagu itu dan berpendapat sama denganya. Kata ibuku sih, itu pendapat
temanya. Hei hei kau tahu, ibuku punya cerita menarik lho tentang lagu itu dan
temanya.”
Hendra menatap sarah dengan serius saat sarah bercerita, sesekali wajah Hendra
terlihat gugup dan sedikit gelisah. “be.. benarkah? bagaimana ceritanya?”
“Dulu tahun 1977 saat ibuku masih di bangku SMA, dia punya teman namanya Sandi harianto.
Dia memperkenalkan lagu Time in a bottle pada Ibuku, ibuku sangat menyukai laki
laki itu katanya haha.” seperti biasa sarah selalu memejamkan matanya yang
sedikit sipit saat tertawa. “tapi bagian yang luar biasa bukan di situ, dulu
terjadi kebakaran di SMAnya di Kota Yogyakarta. kebakaran terjadi di kelas
lantai atas, dan saat itu Ibuku ada di laboratorium sendirian sedang
membersihkan alat alat praktek Fisika teman temanya. Saat terjadi kebakaran dia
terlambat menyadarinya.”
Hendra kehilangan raut keingintahuanya, berubah menjadi raut paling serius yang pernah
ia perlihatkan.
“semua siswa telah berlari ke luar gedung. Ibuku berteriak minta tolong dari jendela
laboratorium di lantai tiga, semua orang begitu panik karena pemadam kebakaran
belum juga datang. Dan kau tahu, si Sandi ini langsung berlari ke dalam gedung
yang terbakar hebat tersebut.” Ekspresi Sarah mulai berubah menjadi sedih.
“ibuku terkejut Sandi datang dari balik pintu dengan baju bagian atas yang
habis terbakar, namun kulitnya tidak terluka begitu parah. Sandi mendekap Ibuku
untuk melindunginya dari kobaran api dan berlari menuju lantai bawah, saat di
Lantai dua tepatnya di depan laboratorium kimia mereka berhenti karena melihat
lantai bawah sudah penuh dengan asap hitam dan kobaran api yang parah.
‘Lompatlah dari jendela! Kemungkinan cederamu dari ketinggian lantai dua akan lebih ringan
dari pada luka bakar yang akan ditimbulkan jika menerobos lantai satu dengan
kobaran api seperti itu.’ itulah katanya pada ibuku, Ibuku dengan ketakutan dan
dengan bantuan dari Sandi lompat dari lantai dua dan jatuh diatas semak semak.”
Sarah terhenti sejenak.
“Lalu..” ujar Hendra dengan raut wajahnya yang tak berubah.
“Saat Ibuku mendongak ke atas, ia melihat wajah Sandi tersenyum melalui jendela lantai dua.
__ADS_1
Namun malangnya terjadi ledakan di lantai dua karena bahan bahan kimia di lab.
Kimia tersentuh api, suara ledakan dan api menyembur dari jendela lantai dua
tersebut. Itulah terakhir kalinya Ibuku melihat Sandi.” Sarah sendiri terbawa
suasana saat menceritakan kisah ibunya tersebut.
Mereka berdua terdiam sejenak. “apakah Si Sandi tewas?” tanya Hendra ragu ragu.
“Iya, itulah yang ditulis dalam laporan korban jiwa, tapi nyatanya polisi tak pernah
menemukan adanya jasad manusia di lantai dua. Pencarian dilakukan namun tak
membuahkan hasil, hingga dipastikan Sandi meninggal dalam tragedi tersebut.
Tapi Ibuku tak mempercayainya, entah bagaimana dia yakin bahwa Sandi tidak
meninggal dalam kejadian tersebut.” lanjut Sarah. “yah itulah kisah ibuku yang
tragis. Sampai sekarang lagu itu mengingatkanya pada laki laki misterius yang
menghilang seperti hantu tersebut.”
“Sungguh menyedihkan. kalau boleh tahu.. siapa nama Ibumu?” tanya Hendra.
“Yulia Anggraeni.” jawab Sarah. “kenapa memangnya? Kok kau terlihat begitu terkejut?”
ujar sarah melihat Ekspresi wajah Hendra yang seolah tak percaya.
“A..ah
tidak, kukira nama ibumu belakannya Firmawati sepertimu.”
“Oh
Firmawati itu nama dari ayahku, Firmansyah.” jawab sarah. “Oh iya Hen,
bagaimana kalau kamu mengajariku Chord gitar lagu Time in a Bottle tersebut?
Rencanaya akan kugunakan untuk tampil acara bulan bahasa nanti. dan akan kudiskusikan
dengan teman Klub musikku soalnya kami kekurangan lagu untuk dibawakan di acara
nanti.”
“Oh iya,
tapi aku tidak bisa janji.. entah aku punya waktu atau tidak.”
“Oh santai
“Aah baiklah
kalau begitu.” Bel masuk berbunyi, pelajaran kembali dimulai. Kali ini Wajah
Hendra berbeda dengan sebelumnya, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Dia juga
lebih sering melamun di pelajaran.
“Hendra..!
Hendra..!” panggil Gurunya berkali kali pada Hendra yang melamun.
“Eh iya
bu..”
“Melamun
saja, coba baca soal nomer tiga sampai nomor lima beserta jawabanmu!” kata
seorang guru perempuan berusia limapuluh tahunan yang mengajar Sejarah.
Hendra
menjawab semua pertanyaan sejarah tentang perjuangan kemerdekaan indonesia
dengan sangat detail bahkan dengan informasi yang tidak tertulis di buku
paketnya. Saat Hendra berhenti membaca dia tersadar semua mata tertuju padanya
dengan tatapan tidak menyangka.
Beberapa
hari kemudian Hendra berdiri di atap gedung sekolah sambil menikmati udara
sejuk sore hari. Tiba tiba dari belakang Sarah datang. “Di sini kau rupanya..”
“Eh.. iya.”
angin sore yang sejuk didataran tinggi menerpa wajah Hendra.
“Hehem..”
Sarah tertawa kecil.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Tidak, kau
terlihat seperti kakekku kalau begitu, suka memejamkan mata sambil menghirup
angin sejuk seperti sekarang ini.”
“Hahaha ada
ada saja. Oh iya, sarah..”
“Hm.. ada
apa?”
“Mungkin
beberapa hari kedepan adalah hari terakhir kita bertemu.”
“Heeeh?!
Kenapa?”
“Aku mau
pindah ke luar negeri bersama ayahku. Yaah sedih juga sih tidak bisa lulus dari
sekolah ini.”
Wajah Sarah
terlihat sangat sedih. “Yaah kenapa pindah segala sih? Kok tidak sekalian
sampai lulus di sini. Jadi ini perpisahan dong..”
“Haha jangan
sedih begitulah, mungkin kapan kapan aku kirim surat. Sepertinya aku akan
menetap bersama ayahku di Norwegia.”
“Nor..
Norwegia?! Kau Serius?”
“Iya, ayahku
seorang Teknisi kapal, dan kemarin dia direkrut oleh pabrik Norwegia untuk
kontrak yang cukup lama.” Hendra menjelaskan. “sebagai gantinya aku akan mengajarkanmu
Chord Gitar lagu Time In a Bottle.”
“Benarkah?
Terimakasih hen. Kau yang terbaik, Eh kurasa tidak jadi yang terbaik, karena
kau harus pindah.”
“Haha ayolah
jangan begitu, kan aku masih ada beberapa hari lagi.”
Mereka
berdua menghabiskan beberapa hari terakhir berlatih gitar bersama di kelas
sepulang sekolah.
“Jujur saja,
awalnya aku berpikir kalau aku akan pindah tanpa mengucapkan salam perpisahan
pada siapapun lho, soalnya memang aku tidak punya teman di sekolah ini, kecuali
kamu, aku jadi harus mengucapkan salam perpisahan.”
“Haha aku
juga senang mengenalmu Hen. Kalau hari itu kau tidak menyanyikan lagu itu
mungkin kita tidak jadi teman sekarang.”
“Haha iya
juga ya. Lagu yang bermakna bisa mengingatkan kita pada seseorang tak peduli
berapa lama waktu yang telah berlalu.”
“Kau benar,
lagu seperti pesan abadi.”
“Iya, selama
lagu dan kenangan di dalamnya diingat oleh seseorang.” Hendra tersenyum. “hm..
kurasa latihan kita sudah cukup, kau sudah menguasai chordnya dan cara jarimu
memetik gitar lebih lincah dari jari jariku hehe.”
__ADS_1