Tidak Selamanya Sahabat

Tidak Selamanya Sahabat
kelinci percobaan 2


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi itu suasana Kota Batu sangat dingin, langit berawan dan udara sedikit berkabut


karena semalam hujan mengguyur begitu deras, kebanyakan siswa datang mengenakan


jaket. Namun kabut segera lenyap saat cahaya keemasan matahari terbit mulai


terlihat menembus awan.


Pukul tujuh kurang seperempat pagi bel masuk berbunyi, Sarah segera berlari ke kelas sambil


membawa gitar akustiknya.


Sarah masuk dan melihat kelas sudah penuh, namun guru masih belum datang. Sarah melihat


Hendra seperti biasanya duduk di bangku yang letaknya agak kebelakang dan posisinya


di tengah, membuatnya benar benar membaur dan sulit mendapat perhatian ekstra


dari guru.


“Hai hen..” sapa sarah duduk di atas meja di samping Hendra saat istirahat.


“Ah.. hai, kau bawa gitar lagi ya..?”


“Iya, nanti sore aku ada latihan lagi untuk persiapan acara bulan bahasa nanti. Oh iya


ngomong ngomong soal lagu kemarin..”


“Lagu..”


Hendra menoleh kearah Sarah.


“Iya, Time in a Bottle. Saat kubilang pendapatmu mirip dengan pendapat ibuku, Ternyata itu


bukan pendapat ibuku. Ibuku terkejut saat mendengar kalau aku punya teman yang


tahu lagu itu dan berpendapat sama denganya. Kata ibuku sih, itu pendapat


temanya. Hei hei kau tahu, ibuku punya cerita menarik lho tentang lagu itu dan


temanya.”


Hendra menatap sarah dengan serius saat sarah bercerita, sesekali wajah Hendra


terlihat gugup dan sedikit gelisah. “be.. benarkah? bagaimana ceritanya?”


“Dulu tahun 1977 saat ibuku masih di bangku SMA, dia punya teman namanya Sandi harianto.


Dia memperkenalkan lagu Time in a bottle pada Ibuku, ibuku sangat menyukai laki


laki itu katanya haha.” seperti biasa sarah selalu memejamkan matanya yang


sedikit sipit saat tertawa. “tapi bagian yang luar biasa bukan di situ, dulu


terjadi kebakaran di SMAnya di Kota Yogyakarta. kebakaran terjadi di kelas


lantai atas, dan saat itu Ibuku ada di laboratorium sendirian sedang


membersihkan alat alat praktek Fisika teman temanya. Saat terjadi kebakaran dia


terlambat menyadarinya.”


Hendra kehilangan raut keingintahuanya, berubah menjadi raut paling serius yang pernah


ia perlihatkan.


“semua siswa telah berlari ke luar gedung. Ibuku berteriak minta tolong dari jendela


laboratorium di lantai tiga, semua orang begitu panik karena pemadam kebakaran


belum juga datang. Dan kau tahu, si Sandi ini langsung berlari ke dalam gedung


yang terbakar hebat tersebut.” Ekspresi Sarah mulai berubah menjadi sedih.


“ibuku terkejut Sandi datang dari balik pintu dengan baju bagian atas yang


habis terbakar, namun kulitnya tidak terluka begitu parah. Sandi mendekap Ibuku


untuk melindunginya dari kobaran api dan berlari menuju lantai bawah, saat di


Lantai dua tepatnya di depan laboratorium kimia mereka berhenti karena melihat


lantai bawah sudah penuh dengan asap hitam dan kobaran api yang parah.


‘Lompatlah dari jendela! Kemungkinan cederamu dari ketinggian lantai dua akan lebih ringan


dari pada luka bakar yang akan ditimbulkan jika menerobos lantai satu dengan


kobaran api seperti itu.’ itulah katanya pada ibuku, Ibuku dengan ketakutan dan


dengan bantuan dari Sandi lompat dari lantai dua dan jatuh diatas semak semak.”


Sarah terhenti sejenak.


“Lalu..” ujar Hendra dengan raut wajahnya yang tak berubah.


“Saat Ibuku mendongak ke atas, ia melihat wajah Sandi tersenyum melalui jendela lantai dua.

__ADS_1


Namun malangnya terjadi ledakan di lantai dua karena bahan bahan kimia di lab.


Kimia tersentuh api, suara ledakan dan api menyembur dari jendela lantai dua


tersebut. Itulah terakhir kalinya Ibuku melihat Sandi.” Sarah sendiri terbawa


suasana saat menceritakan kisah ibunya tersebut.


Mereka berdua terdiam sejenak. “apakah Si Sandi tewas?” tanya Hendra ragu ragu.


“Iya, itulah yang ditulis dalam laporan korban jiwa, tapi nyatanya polisi tak pernah


menemukan adanya jasad manusia di lantai dua. Pencarian dilakukan namun tak


membuahkan hasil, hingga dipastikan Sandi meninggal dalam tragedi tersebut.


Tapi Ibuku tak mempercayainya, entah bagaimana dia yakin bahwa Sandi tidak


meninggal dalam kejadian tersebut.” lanjut Sarah. “yah itulah kisah ibuku yang


tragis. Sampai sekarang lagu itu mengingatkanya pada laki laki misterius yang


menghilang seperti hantu tersebut.”


“Sungguh menyedihkan. kalau boleh tahu.. siapa nama Ibumu?” tanya Hendra.


“Yulia Anggraeni.” jawab Sarah. “kenapa memangnya? Kok kau terlihat begitu terkejut?”


ujar sarah melihat Ekspresi wajah Hendra yang seolah tak percaya.


“A..ah


tidak, kukira nama ibumu belakannya Firmawati sepertimu.”


“Oh


Firmawati itu nama dari ayahku, Firmansyah.” jawab sarah. “Oh iya Hen,


bagaimana kalau kamu mengajariku Chord gitar lagu Time in a Bottle tersebut?


Rencanaya akan kugunakan untuk tampil acara bulan bahasa nanti. dan akan kudiskusikan


dengan teman Klub musikku soalnya kami kekurangan lagu untuk dibawakan di acara


nanti.”


“Oh iya,


tapi aku tidak bisa janji.. entah aku punya waktu atau tidak.”


“Oh santai


“Aah baiklah


kalau begitu.” Bel masuk berbunyi, pelajaran kembali dimulai. Kali ini Wajah


Hendra berbeda dengan sebelumnya, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Dia juga


lebih sering melamun di pelajaran.


“Hendra..!


Hendra..!” panggil Gurunya berkali kali pada Hendra yang melamun.


“Eh iya


bu..”


“Melamun


saja, coba baca soal nomer tiga sampai nomor lima beserta jawabanmu!” kata


seorang guru perempuan berusia limapuluh tahunan yang mengajar Sejarah.


Hendra


menjawab semua pertanyaan sejarah tentang perjuangan kemerdekaan indonesia


dengan sangat detail bahkan dengan informasi yang tidak tertulis di buku


paketnya. Saat Hendra berhenti membaca dia tersadar semua mata tertuju padanya


dengan tatapan tidak menyangka.


Beberapa


hari kemudian Hendra berdiri di atap gedung sekolah sambil menikmati udara


sejuk sore hari. Tiba tiba dari belakang Sarah datang. “Di sini kau rupanya..”


“Eh.. iya.”


angin sore yang sejuk didataran tinggi menerpa wajah Hendra.


“Hehem..”


Sarah tertawa kecil.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Tidak, kau


terlihat seperti kakekku kalau begitu, suka memejamkan mata sambil menghirup


angin sejuk seperti sekarang ini.”


“Hahaha ada


ada saja. Oh iya, sarah..”


“Hm.. ada


apa?”


“Mungkin


beberapa hari kedepan adalah hari terakhir kita bertemu.”


“Heeeh?!


Kenapa?”


“Aku mau


pindah ke luar negeri bersama ayahku. Yaah sedih juga sih tidak bisa lulus dari


sekolah ini.”


Wajah Sarah


terlihat sangat sedih. “Yaah kenapa pindah segala sih? Kok tidak sekalian


sampai lulus di sini. Jadi ini perpisahan dong..”


“Haha jangan


sedih begitulah, mungkin kapan kapan aku kirim surat. Sepertinya aku akan


menetap bersama ayahku di Norwegia.”


“Nor..


Norwegia?! Kau Serius?”


“Iya, ayahku


seorang Teknisi kapal, dan kemarin dia direkrut oleh pabrik Norwegia untuk


kontrak yang cukup lama.” Hendra menjelaskan. “sebagai gantinya aku akan mengajarkanmu


Chord Gitar lagu Time In a Bottle.”


“Benarkah?


Terimakasih hen. Kau yang terbaik, Eh kurasa tidak jadi yang terbaik, karena


kau harus pindah.”


“Haha ayolah


jangan begitu, kan aku masih ada beberapa hari lagi.”


Mereka


berdua menghabiskan beberapa hari terakhir berlatih gitar bersama di kelas


sepulang sekolah.


“Jujur saja,


awalnya aku berpikir kalau aku akan pindah tanpa mengucapkan salam perpisahan


pada siapapun lho, soalnya memang aku tidak punya teman di sekolah ini, kecuali


kamu, aku jadi harus mengucapkan salam perpisahan.”


“Haha aku


juga senang mengenalmu Hen. Kalau hari itu kau tidak menyanyikan lagu itu


mungkin kita tidak jadi teman sekarang.”


“Haha iya


juga ya. Lagu yang bermakna bisa mengingatkan kita pada seseorang tak peduli


berapa lama waktu yang telah berlalu.”


“Kau benar,


lagu seperti pesan abadi.”


“Iya, selama


lagu dan kenangan di dalamnya diingat oleh seseorang.” Hendra tersenyum. “hm..


kurasa latihan kita sudah cukup, kau sudah menguasai chordnya dan cara jarimu


memetik gitar lebih lincah dari jari jariku hehe.”

__ADS_1


__ADS_2