Tidak Selamanya Sahabat

Tidak Selamanya Sahabat
kelinci percobaan 3


__ADS_3

Hari itu


adalah hari terakhir mereka bersama, karena setelah perpisahan tersebut Hendra


akan meninggalkan Indonesia untuk waktu yang lama.


“Terimakasih


ya Hen..” Ujar sarah saat di depan gerbang sekolah, seperti biasa cahaya


matahari senja menghiasi langit barat kota Batu.


“haha akulah


yang harusnya berterimakasih padamu, terimakasih telah mau berteman denganku,


setidaknya aku memiliki kenangan di sekolah ini. Sungguh menyakitkan hidup dalam


kesendirian dalam waktu yang lama.”


Sarah


berlari memeluk Hendra. “apa yang kau bicarakan, tentu saja kau tidak sendiri.


Aku tidak akan pernah melupakanmu Hen. Dan ingat, kapanpun kau butuh bantuan


jangan segan untuk menghubungiku ya..” mata Sarah sedikit berair.


“Iya,


terimakasih sarah..” Hendra tersenyum pada Sarah.


“baiklah


jaga kesehatanmu, dan hati hati di sana sangat dingin, jauh lebih dingin dari


pada kota Batu.”


“iya Bye..”


Hendra berbalik badan sambil melambaikan tangan, sementara Sarah menghapus air


matanya sambil menyeberang jalan di depan gerbang sekolah.


Mata Hendra


terbelalak melihat sebuah truk pengirim barang melesat kencang dari arah


berlawanan. Dengan refleks luar biasa Hendra menoleh ke belakang terlihat Sarah


menyeberang tanpa menyadari sebuah Truk menghampirinya dengan kecepatan tinggi.


“Saraah..!!”


semua tenaganya ia kerahkan untuk berteriak memperingatkan Sarah. Suara klakson


Truk terdengar keras. Seolah memaksa batas kemampuan otot dan sendinya, Hendra


melesat kencang ke arah Sarah dan melompat ke arahnya tepat beberapa detik


sebelum Truk tersebut akan menyentuh tubuh Sarah.


‘Bruakk.’


Suara keributan tersebut memicu perhatian banyak orang, seketika jalanan


dikerumuni orang. Sarah tergeletak di pinggir trotoar tak sadarkan diri, Hendra


berhasil mendorongnya menjauh dari Truk. Namun Hendra terpental beberapa meter


karena hantaman kendaraan tersebut.


Warga


sekitar begitu terkejut melihat Hendra bangkit dan berjalan perlahan menuju


tubuh sarah. Hendra berjalan dengan seragam yang terkoyak karena gesekan dengan


aspal jalan.


“Apa yang


kalian Lihat?! Cepat panggil ambulan..!” sentak Hendra sambil memangku tubuh


Sarah di pahanya.


Tak lama


kemudian Ambulan dan polisi datang ke TKP. Hendra menunggu Sarah di depan ruang


UGD.


Seorang


wanita berusia sekitar 40 tahun berjalan dengan langkah cepat dari koridor


rumah sakit menuju ruang UGD tersebut.


“Dokter


bagaimana keadaan putri saya?” kata wanita yang ternyata adalah Yulia


Anggraeni, Ibu Sarah.


“Syukurlah


Dia baik baik saja, putri ibu hanya mengalami gagar otak ringan, dia akan


tersadar tak lama lagi, tapi dia butuh istarahat total karena shock dan


lukanya. Yang saya herankan pemuda itu, bagaimana bisa dia tidak menderita luka


apapun setelah terhantam truk, pemuda itulah yang menyelamatkan Putri ibu. Ah


saya permisi dulu kalau begitu.” Sang dokter meninggalkan ruangan.


Ibu Sarah


berjalan pelan menghampiri pemuda dengan pakaian koyak yang duduk di depan


ruang UGD.


Wajah Ibu


sarah begitu terkejut dan tidak percaya, matanya mulai berair. “Kau..” kata

__ADS_1


katanya seakan tertahan di tenggorokanya. “Ya Tuhan, ini benar benar kau..”


Hendra


memandang Ibu Sarah dengan wajah penuh penyesalan, “Maafkan aku Lia..”


panggilnya pada Yulia Anggraeni.


“Sandi..!


aku tahu kau masih hidup..! aku tahu itu.” Yulia menghampiri pemuda itu dan


memeluknya seperti kawan lama yang telah hilang puluhan tahun.


“Iya, ini


Aku. Sandi Harianto.”


“Ya tuhan,


aku.. aku tidak percaya ini..” mereka berdua duduk.


“Kau..


bagaimana Bisa? Kau hidup. setelah dua puluh tiga tahun berlalu, wajahmu tetap


sama seperti terakhir kali kita bertemu.”


“itu panjang


ceritanya..”


“aku punya


waktu lama untuk duduk di sini. Tak kan kubiarkan kau pergi tanpa sepatah kata


lagi seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.”


Hendra


terdiam sejenak, wajahnya merenung. Setelah kejadian tersebut perasaanya


bercampur aduk tampak dari gerak alis dan bibirnya yang tidak teratur.


“Tahun


1943.” ucap Hendra, “waktu itu usiaku masih 10 tahun. Di Kota lamongan, Tentara


Jepang menangkap puluhan Anak anak usia dibawah tujuh belas tahun. Mereka


menggunakan kami sebagai kelinci percobaan.”


“percobaan


apa?”


“‘Undead


Human Project’ sebuah eksperimen rekayasa genetik pada mahkuk hidup, mereka


melakukan serangkaian percobaan berbahaya pada kami untuk memaksa sel sel kami


bermutasi, dengan teknologi dan serum buatan mereka, mereka berniat menciptakan


tubuh. Jika eksperimen tersebut berhasil mereka akan menerapkanya pada tentara


mereka guna perang dunia kedua. Sebuah Tentara yang tidak bisa Mati.” Hendra


menceritakan.


“Astaga..”


“Puluhan


dari kami meninggal karena kegagalan percobaan, hingga tahun 1945 percobaan


menghasilkan keberhasilan 0%. Pada 6 Agustus 1945, Hiroshima diledakan sekutu,


Jepang mengalami kekalahan, sementara Eksperimen tersebut belum membuahkan


hasil, alhasil jepang menghentikan eksperimen tersebut dan menarik kembali dana


yang mereka berikan pada badan penelitian. Dan untuk menutupi jumlah kegagalan


jepang, mereka harus memusnahkan semua bukti keberadaan ‘Undead human Project’.


Mereka melakukan genosida terhadap kami.


Saat itu aku


sekarat, baik aku mapun mereka tidak menyadari bahwa aku satu satunya kelinci


percobaan yang berhasil bermutasi menjadi manusia dengan kemampuan regenerasi


sempurna. Aku sembuh dan sehat dalam hitungan hari. Awalnya aku bahagia bisa


lolos dari penderitaan itu, sampai sepuluh tahun kemudian, aku menyadari


tubuhku tak bisa tua, efek dari regenerasi sempurna membuat tubuhku selalu dan


akan selalu remaja.”


“Jadi itu


yang membuatmu selamat dari kebakaran di SMA kita dua puluh tiga tahun yang


lalu?”


“Iya, saat


mendapat luka, seserius apapun itu aku akan sembuh dalam waktu yang sangat


singkat, selama itu tidak berurusan dengan organ organ vitalku. Aku


menghabiskan beberapa dekade dalam hidupku dengan mengelana dan hidup dalam


kesendirian, jika aku menetap maka orang orang akan sadar aku tidak bertambah


tua, aku akan menjadi sebuah ketakutan bagi mereka.”


“Lalu tahun


1977?”


“Ya, aku

__ADS_1


memutuskan untuk memalsukan identitas dengan nama Sandi Harianto dan menjadi


siswa SMA di Yogyakarta, aku ingin mendapatkan pendidikan yang akan membekali


hidupku yang panjang ini kedepanya. Saat itulah pertama kali aku bisa bercanda


dengan seseorang setelah puluhan tahun dalam kesendirian. Dan seseorang itu


adalah kau Lia..”


Lia


mempercayai setiap kata Hendra seperti mempercayai laki laki di depan matanya


ini selamat dari maut dua puluh tiga tahun yang lalu.


“Tapi kenapa


setelah kejadian itu kau menghilang tanpa sepatah katapun padaku!”


“Maafkan aku


Lia, itu penyesalan terbesarku. Aku tahu untuk orang sepertiku, berteman adalah


hal yang egois, karena aku tahu cepat atau lambat aku harus menghilang dari


hidupmu. tapi kau telah menyelamatkanku dari kesepian. Namun apa yang telah


kuberikan padamu? Perpisahan yang bahkan tidak layak disebut salam perpisahan.


Setelah melihat ledakan sebesar itu, semua orang akan takut melihatku berjalan


layaknya orang sehat dan aku sadar aku tak akan bisa bersamamu selamanya.”


“Aku tahu


itu, setidaknya berikan aku kesempatan untuk mengucapkan terimakasihku.” Yulia


menangis, Hendra dengan wajah sedih berusaha menenangkan wanita yang dikenalnya


pada tahun 1977.


“Maaf Lia..”


“Aku tidak


marah atas perbuatanmu, kau telah menyelamatkan hidupku, dan kau telah


menyelamatkan hidup Putriku.”


“Putrimu


benar benar mirip denganmu, bahkan senyumanya. Dari ribuan kemungkinan aku


bertemu seseorang, aku tak menyangka akan bertemu dengan Putrimu. Setelah


puluhan tahun aku mengganti identitasku menjadi Hendra Prasetyo dan mencoba


menggali pendidikan yang telah banyak direvisi. Aku terkejut saat ada seorang


gadis menghampiriku dan menceritakan kisah Ibunya, dimana kisah itu adalah


kisahku sendiri.”


“Dan kau


melakukan hal yang sama seperti dahulu, menyelamatkan hidupnya. Aku juga


terkejut saat putriku bercerita padaku tentang teman laki lakinya yang memiliki


pendapat tentang lagu Time In a Bottle sama dengan laki laki yang kukenal saat


usiaku 17 tahun. Persaanku mengatakan bahwa itu pasti kau, tapi pikiranku masih


ragu, hingga hari ini kau dengan wajah yang sama persis dengan wajahmu tahun


1977 berdiri di depanku.”


“Iya, saat


menyadari bahwa dia adalah putrimu aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat


denganya, aku harus mulai berkelana lagi. Tapi aku tak ingin mengulangi


kesalahan yang sama, aku ingin mengucapkan kalimat perpisahan yang baik


untuknya.”


“Kau sudah


melakukanya bukan?” tanya Yulia.


“Hmm..”


Hendra mengangguk.


“Tapi kau


akan mengulangi kesalahan yang sama jika kau memutuskan pergi hari ini.” ujar


Yulia, wajah Hendra langsung menatap wanita tersebut. “kau harus memberinya


kesempatan untuk berterimakasih.”


Hari itu


adalah hari yang sangat berat bagi Hendra, Sarah dan Yulia. Hari telah larut,


Hendra memutuskan untuk pamit, dia berjanji untuk menjenguk Sarah dua hari


lagi, dia berjanji untuk berpamitan pada dua wanita yang telah mengisi


kesendirianya selama berpuluh puluh tahun.


Minggu 12


Juli 2000, Hendra menjenguk Sarah di rumah sakit. Saat dia melangkah masuk di


dalamnya terlihat Sarah duduk di atas kasur dan Ibunya yang duduk di


sampingnya. Sarah tak tahu menahu apa yang pernah terjadi antara Hendra dan


Ibunya. Tapi hari itu mereka bertiga melakukan pertemuan terakhir kalinya dan


perpisahan yang akan menjadi kenangan selamanya.

__ADS_1


__ADS_2