
Hari itu
adalah hari terakhir mereka bersama, karena setelah perpisahan tersebut Hendra
akan meninggalkan Indonesia untuk waktu yang lama.
“Terimakasih
ya Hen..” Ujar sarah saat di depan gerbang sekolah, seperti biasa cahaya
matahari senja menghiasi langit barat kota Batu.
“haha akulah
yang harusnya berterimakasih padamu, terimakasih telah mau berteman denganku,
setidaknya aku memiliki kenangan di sekolah ini. Sungguh menyakitkan hidup dalam
kesendirian dalam waktu yang lama.”
Sarah
berlari memeluk Hendra. “apa yang kau bicarakan, tentu saja kau tidak sendiri.
Aku tidak akan pernah melupakanmu Hen. Dan ingat, kapanpun kau butuh bantuan
jangan segan untuk menghubungiku ya..” mata Sarah sedikit berair.
“Iya,
terimakasih sarah..” Hendra tersenyum pada Sarah.
“baiklah
jaga kesehatanmu, dan hati hati di sana sangat dingin, jauh lebih dingin dari
pada kota Batu.”
“iya Bye..”
Hendra berbalik badan sambil melambaikan tangan, sementara Sarah menghapus air
matanya sambil menyeberang jalan di depan gerbang sekolah.
Mata Hendra
terbelalak melihat sebuah truk pengirim barang melesat kencang dari arah
berlawanan. Dengan refleks luar biasa Hendra menoleh ke belakang terlihat Sarah
menyeberang tanpa menyadari sebuah Truk menghampirinya dengan kecepatan tinggi.
“Saraah..!!”
semua tenaganya ia kerahkan untuk berteriak memperingatkan Sarah. Suara klakson
Truk terdengar keras. Seolah memaksa batas kemampuan otot dan sendinya, Hendra
melesat kencang ke arah Sarah dan melompat ke arahnya tepat beberapa detik
sebelum Truk tersebut akan menyentuh tubuh Sarah.
‘Bruakk.’
Suara keributan tersebut memicu perhatian banyak orang, seketika jalanan
dikerumuni orang. Sarah tergeletak di pinggir trotoar tak sadarkan diri, Hendra
berhasil mendorongnya menjauh dari Truk. Namun Hendra terpental beberapa meter
karena hantaman kendaraan tersebut.
Warga
sekitar begitu terkejut melihat Hendra bangkit dan berjalan perlahan menuju
tubuh sarah. Hendra berjalan dengan seragam yang terkoyak karena gesekan dengan
aspal jalan.
“Apa yang
kalian Lihat?! Cepat panggil ambulan..!” sentak Hendra sambil memangku tubuh
Sarah di pahanya.
Tak lama
kemudian Ambulan dan polisi datang ke TKP. Hendra menunggu Sarah di depan ruang
UGD.
Seorang
wanita berusia sekitar 40 tahun berjalan dengan langkah cepat dari koridor
rumah sakit menuju ruang UGD tersebut.
“Dokter
bagaimana keadaan putri saya?” kata wanita yang ternyata adalah Yulia
Anggraeni, Ibu Sarah.
“Syukurlah
Dia baik baik saja, putri ibu hanya mengalami gagar otak ringan, dia akan
tersadar tak lama lagi, tapi dia butuh istarahat total karena shock dan
lukanya. Yang saya herankan pemuda itu, bagaimana bisa dia tidak menderita luka
apapun setelah terhantam truk, pemuda itulah yang menyelamatkan Putri ibu. Ah
saya permisi dulu kalau begitu.” Sang dokter meninggalkan ruangan.
Ibu Sarah
berjalan pelan menghampiri pemuda dengan pakaian koyak yang duduk di depan
ruang UGD.
Wajah Ibu
sarah begitu terkejut dan tidak percaya, matanya mulai berair. “Kau..” kata
__ADS_1
katanya seakan tertahan di tenggorokanya. “Ya Tuhan, ini benar benar kau..”
Hendra
memandang Ibu Sarah dengan wajah penuh penyesalan, “Maafkan aku Lia..”
panggilnya pada Yulia Anggraeni.
“Sandi..!
aku tahu kau masih hidup..! aku tahu itu.” Yulia menghampiri pemuda itu dan
memeluknya seperti kawan lama yang telah hilang puluhan tahun.
“Iya, ini
Aku. Sandi Harianto.”
“Ya tuhan,
aku.. aku tidak percaya ini..” mereka berdua duduk.
“Kau..
bagaimana Bisa? Kau hidup. setelah dua puluh tiga tahun berlalu, wajahmu tetap
sama seperti terakhir kali kita bertemu.”
“itu panjang
ceritanya..”
“aku punya
waktu lama untuk duduk di sini. Tak kan kubiarkan kau pergi tanpa sepatah kata
lagi seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.”
Hendra
terdiam sejenak, wajahnya merenung. Setelah kejadian tersebut perasaanya
bercampur aduk tampak dari gerak alis dan bibirnya yang tidak teratur.
“Tahun
1943.” ucap Hendra, “waktu itu usiaku masih 10 tahun. Di Kota lamongan, Tentara
Jepang menangkap puluhan Anak anak usia dibawah tujuh belas tahun. Mereka
menggunakan kami sebagai kelinci percobaan.”
“percobaan
apa?”
“‘Undead
Human Project’ sebuah eksperimen rekayasa genetik pada mahkuk hidup, mereka
melakukan serangkaian percobaan berbahaya pada kami untuk memaksa sel sel kami
bermutasi, dengan teknologi dan serum buatan mereka, mereka berniat menciptakan
tubuh. Jika eksperimen tersebut berhasil mereka akan menerapkanya pada tentara
mereka guna perang dunia kedua. Sebuah Tentara yang tidak bisa Mati.” Hendra
menceritakan.
“Astaga..”
“Puluhan
dari kami meninggal karena kegagalan percobaan, hingga tahun 1945 percobaan
menghasilkan keberhasilan 0%. Pada 6 Agustus 1945, Hiroshima diledakan sekutu,
Jepang mengalami kekalahan, sementara Eksperimen tersebut belum membuahkan
hasil, alhasil jepang menghentikan eksperimen tersebut dan menarik kembali dana
yang mereka berikan pada badan penelitian. Dan untuk menutupi jumlah kegagalan
jepang, mereka harus memusnahkan semua bukti keberadaan ‘Undead human Project’.
Mereka melakukan genosida terhadap kami.
Saat itu aku
sekarat, baik aku mapun mereka tidak menyadari bahwa aku satu satunya kelinci
percobaan yang berhasil bermutasi menjadi manusia dengan kemampuan regenerasi
sempurna. Aku sembuh dan sehat dalam hitungan hari. Awalnya aku bahagia bisa
lolos dari penderitaan itu, sampai sepuluh tahun kemudian, aku menyadari
tubuhku tak bisa tua, efek dari regenerasi sempurna membuat tubuhku selalu dan
akan selalu remaja.”
“Jadi itu
yang membuatmu selamat dari kebakaran di SMA kita dua puluh tiga tahun yang
lalu?”
“Iya, saat
mendapat luka, seserius apapun itu aku akan sembuh dalam waktu yang sangat
singkat, selama itu tidak berurusan dengan organ organ vitalku. Aku
menghabiskan beberapa dekade dalam hidupku dengan mengelana dan hidup dalam
kesendirian, jika aku menetap maka orang orang akan sadar aku tidak bertambah
tua, aku akan menjadi sebuah ketakutan bagi mereka.”
“Lalu tahun
1977?”
“Ya, aku
__ADS_1
memutuskan untuk memalsukan identitas dengan nama Sandi Harianto dan menjadi
siswa SMA di Yogyakarta, aku ingin mendapatkan pendidikan yang akan membekali
hidupku yang panjang ini kedepanya. Saat itulah pertama kali aku bisa bercanda
dengan seseorang setelah puluhan tahun dalam kesendirian. Dan seseorang itu
adalah kau Lia..”
Lia
mempercayai setiap kata Hendra seperti mempercayai laki laki di depan matanya
ini selamat dari maut dua puluh tiga tahun yang lalu.
“Tapi kenapa
setelah kejadian itu kau menghilang tanpa sepatah katapun padaku!”
“Maafkan aku
Lia, itu penyesalan terbesarku. Aku tahu untuk orang sepertiku, berteman adalah
hal yang egois, karena aku tahu cepat atau lambat aku harus menghilang dari
hidupmu. tapi kau telah menyelamatkanku dari kesepian. Namun apa yang telah
kuberikan padamu? Perpisahan yang bahkan tidak layak disebut salam perpisahan.
Setelah melihat ledakan sebesar itu, semua orang akan takut melihatku berjalan
layaknya orang sehat dan aku sadar aku tak akan bisa bersamamu selamanya.”
“Aku tahu
itu, setidaknya berikan aku kesempatan untuk mengucapkan terimakasihku.” Yulia
menangis, Hendra dengan wajah sedih berusaha menenangkan wanita yang dikenalnya
pada tahun 1977.
“Maaf Lia..”
“Aku tidak
marah atas perbuatanmu, kau telah menyelamatkan hidupku, dan kau telah
menyelamatkan hidup Putriku.”
“Putrimu
benar benar mirip denganmu, bahkan senyumanya. Dari ribuan kemungkinan aku
bertemu seseorang, aku tak menyangka akan bertemu dengan Putrimu. Setelah
puluhan tahun aku mengganti identitasku menjadi Hendra Prasetyo dan mencoba
menggali pendidikan yang telah banyak direvisi. Aku terkejut saat ada seorang
gadis menghampiriku dan menceritakan kisah Ibunya, dimana kisah itu adalah
kisahku sendiri.”
“Dan kau
melakukan hal yang sama seperti dahulu, menyelamatkan hidupnya. Aku juga
terkejut saat putriku bercerita padaku tentang teman laki lakinya yang memiliki
pendapat tentang lagu Time In a Bottle sama dengan laki laki yang kukenal saat
usiaku 17 tahun. Persaanku mengatakan bahwa itu pasti kau, tapi pikiranku masih
ragu, hingga hari ini kau dengan wajah yang sama persis dengan wajahmu tahun
1977 berdiri di depanku.”
“Iya, saat
menyadari bahwa dia adalah putrimu aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat
denganya, aku harus mulai berkelana lagi. Tapi aku tak ingin mengulangi
kesalahan yang sama, aku ingin mengucapkan kalimat perpisahan yang baik
untuknya.”
“Kau sudah
melakukanya bukan?” tanya Yulia.
“Hmm..”
Hendra mengangguk.
“Tapi kau
akan mengulangi kesalahan yang sama jika kau memutuskan pergi hari ini.” ujar
Yulia, wajah Hendra langsung menatap wanita tersebut. “kau harus memberinya
kesempatan untuk berterimakasih.”
Hari itu
adalah hari yang sangat berat bagi Hendra, Sarah dan Yulia. Hari telah larut,
Hendra memutuskan untuk pamit, dia berjanji untuk menjenguk Sarah dua hari
lagi, dia berjanji untuk berpamitan pada dua wanita yang telah mengisi
kesendirianya selama berpuluh puluh tahun.
Minggu 12
Juli 2000, Hendra menjenguk Sarah di rumah sakit. Saat dia melangkah masuk di
dalamnya terlihat Sarah duduk di atas kasur dan Ibunya yang duduk di
sampingnya. Sarah tak tahu menahu apa yang pernah terjadi antara Hendra dan
Ibunya. Tapi hari itu mereka bertiga melakukan pertemuan terakhir kalinya dan
perpisahan yang akan menjadi kenangan selamanya.
__ADS_1