Tidak Selamanya Sahabat

Tidak Selamanya Sahabat
Tetaplah menjadi Bulan 3


__ADS_3

"Jadi, Surya tidak bisa bekerja karena proyek kuliah menumpuk?"


Luna mengangguk mengiyakan.


"Benar, Pak. Dia 'kan sebentar lagi akan disidang." Luna sedikit meringis melihat tatapan elang milik atasannya yang sangat mengintimidasi itu.


"Baiklah, katakan pada Surya gajinya saya potong karena mengambil cuti lebih dari empat hari masa efektif," sahut Pak Terra kejam. Terra memang sadis. Luna langsung melotot. Ia menggigit bibir bawahnya mencari cara. "Saya bisa kok gantiin tugas Surya, Pak," kata Luna pada akhirnya, "saya bisa bawa dua nampan sekaligus, saya bisa bekerja dua kali lipat lebih keras untuk menggantikan Surya." Pak Terra tampak menimbang-nimbang, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, tugas Surya hari ini kamu yang pegang, Luna. Tentunya, tugas kamu juga." "Siap, Pak. Saya permisi." Luna sedikit membungkuk undur diri. Namun, gerakkannya terhenti saat ia mendengar Pak Terra kembali memanggil. "Ada apa, Pak?" "Saya sudah mengatakan entah berapa kali sampai mulut saya berbusa. Jangan gunakan rok saat bekerja, Luna," desis Pak Terra yang Luna balas dengan ringisan, "kamu ini bekerja sebagai pelayan di kafe, bukan pelayan di klub malam." Kalau boleh, Luna ingin sekali merobek mulut atasannya ini. Kata-katasnya pedas! Sadis! Kejam! "Iya, Pak. Permisi."


--


Jam tangan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Luna merangkak naik, memasuki mobil Marco. Seketika penciumannya mengendus aroma maskulin menguar jelas di dalam mobil. Luna tersenyum, meminta maaf pada Marco karena dia membuat pria itu menunggu cukup lama. "Bukan masalah. Lagi pula, lo yang dibutuhkan di sini," sahut Marco santai, "jadi, disuruh nunggu sampe pagi pun rela."


"Serius?"


"Nggak lah, yang bener aja!" Marco tertawa.

__ADS_1


"Emang lo mau, nginep sampe pagi di sini? Kecuali lo adalah Surya, masih ada kemungkinan."


Luna tersenyum pahit. Marco masih ingat.


"Jadi, lo butuh bantuan apa?"


"Liat aja nanti."


--


Luna mendengus pelan, berharap Marco tidak menyadari suasana hatinya yang buruk saat ini. "Yang mau tunangan 'kan lo, kenapa mesti gue yang nentuin, sih?"


"Itulah gunanya gue ajak lo ke sini. Vanessa lagi sibuk, jadi gue mempercayakan ini pada lo," ujar Marco sambil tersenyum, "dua cincin ini udah jadi pilihan gue, jadi lo pilih yang mana pun nggak akan bikin gue kecewa." Luna mulai memainkan 'bagaimana jika' dalam otaknya. Bagaimana jika ini akan menjadi pertunangan gue? Cincin mana yang akan gue pilih? Luna melihat kembali dua cincin tersebut lalu mengangguk mantap, tangannya menunjuk cincin emas yang berbentuk seperti sulur tanaman menjalar.


Apa nasibnya masih kurang malang? Jantung Luna selalu berdetak untuk Marsnya, dan di sinilah dia, di toko perhiasan, membantu Mars memilihkan cincin pertunangannya dengan Venus. Mars dan Venus, salah satu hukum mutlak semesta.

__ADS_1


"Makan dulu, yuk?"


Luna yang sedang memerhatikan rembulan dari teras toko dikejutkan dengan tepukan di bahunya. "Eh?" "Kebiasaan," tandas Marco, "suka banget sih, ngelamun nggak jelas. Mending kita makan, gimana?"


"Boleh," sahut Luna dengan mudahnya. Tak diduga, hal itu justru mengundang tawa Marco. "Kenapa?"


"Enak ya, pergi sama lo. Kalau gue ajakin Vanessa, dia bakal ngomel-ngomel dan mulai ngomongin masalah diet, kesehatan, berat badan, dan lain sebagainya." Marco melirik arloji yang menempel di tangannya. "Ini 'kan udah hampir tengah malem."


Luna hanya terkekeh menanggapi. Venus lagi, Venus lagi.


"Lo sendiri, gimana sama Surya?"


"Maksudnya?" Kening Luna berkerut. Memangnya, ada apa antara dia dan Surya?


"Kalian tinggal berdua, 'kan?" Marco bertanya meyakinkan, "sejak kapan?" Luna memandangi langit, menerawang masa-masa itu. "Setelah lulus, Surya memutuskan keluar dari panti untuk melanjutkan hidupnya sendiri. Terus, Bunda nyuruh gue buat ikut tinggal bersama dia, biar ada yang mengawasi. Saat itu Surya protes, katanya 'yang ada malah Surya yang jagain anak manja satu ini, Bun'. Akhirnya, setelah gue ngambek berhari hari, Surya bersedia ngajak gue buat tinggal bareng dia." "Bunda." Marco menghela napas. "Gue amat menyesal karena nggak bisa menghadiri pemakaman Bunda saat itu." Luna hanya diam. Matanya masih memandangi langit tak berbintang, sama seperti langit pada malam itu, saat dirinya dan Surya berbaring di pangkuan Bunda, mengomentari nasib rembulan yang kesepian.

__ADS_1


__ADS_2