Tidak Selamanya Sahabat

Tidak Selamanya Sahabat
kelinci percobaan 1


__ADS_3

Pukul empat sore, Sarah siswi kelas 11-C SMA Swasta Tarumajaya Kota Batu sedang berjalan


menuju ruang kelasnya di lantai tiga sambil membawa Gitar. Hari itu semua kelas


sepi karena telah memasuki jam pulang. sementara beberapa siswa ramai di


lapangan belakang gedung sekolah mengikuti kegiatan Ekstrakulikuler. Begitu


pula Sarah yang habis mengikuti kegiatan klub musik di sekolahnya.


Sarah hendak mengambil bukunya yang tertinggal di laci mejanya, namun saat dia hendak


memasuki ruang kelas ada hal yang sedikit mengejutkanya.


“If I… Could make days last Forever.. If words could makes Whises come True…”. Suara seorang


laki laki menyanyikan lagu yang tak asing bagi Sarah.


Saat dia mengintip pintu kelasnya yang sedikit terbuka, terlihatlah seorang siswa


berkulit pucat berambut lurus berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulitnya


sedang menghapus papan tulis bertuliskan ‘Kamis 13 Juni 2000’ di pojok atas.


Siswa itu adalah Hendra Prasetyo, Teman sekelas Sarah yang sangat tertutup dan


pendiam, yang bahkan Sarah sendiri tidak menyadari dia sekelas denganya selama


hampir setengah semester. Siswa itu seolah memiliki hawa keberadaan yang sangat


tipis.


Sarah tidak segera memasuki kelas, dia berdiri di depan pintu sambil mendengar nyanyian


Hendra yang berdiri santai menghadap jendela kaca kelas yang menghadap kebarat,


membuat cahaya keemasan matahari sore memenuhi ruang kelas.


“Time In a Bottle oleh Jim Croce..” ujar Sarah melangkah masuk.


Hendra menoleh kebelakang dan raut wajahnya tampak terkejut melihat Sarah. “E..eh..


kau mendengarku bernyanyi ya?”


“Haha iya maaf aku tidak sengaja mendengarnya, suaramu lumayan bagus kok. Ngomong


ngomong, itu lagu tahun 1973 bukan?” tanya sarah sambil menghampiri mejanya dan


mengambil buku Matematika yang tertinggal di lacinya.


“Iya..”


jawab Hendra dengan wajah kalem.


“Hm..


seleramu unik juga ya? Berbeda dengan anak jaman sekarang, bercanda haha..”


ujar gadis periang tersebut.


“Haha iya,


lagu ini sungguh indah dan menenangkan menurutku. kau tahu lagu ini? Ku kira


sudah tak pernah diperdengarkan lagi di Radio atau di TV.”


Mereka

__ADS_1


berdua duduk dan mengobrol ringan dengan suasana kelas yang hangat terterpa


sinar senja. Dari kejauhan terlihat lapangan dipenuhi siswa yang bermain sepak


bola.


“Ibuku


sangat suka lagu itu, dia sering menyetelnya saat aku masih kecil, makanya aku


hafal sampai ke liriknya haha. Tapi walau begitu Aku tidak begitu memahami


maknanya sih karena aku tidak begitu pandai bahasa inggris, tapi sepertinya


orang orang dulu menyukainya.”


Ini adalah


pertama kalinya Sarah mendengar Hendra berbicara, awalnya sarah berpikir Hendra


adalah tipe pemalu tapi sebenarnya Hendra hanya tidak menyukai banyak


perhatian, bahkan seolah Hendra berusaha keras untuk tidak memancing perhatian


siapapun padanya.


“Iya, Time


In a Bottle..” Hendra menengok keluar jendela dan menghirup napas dalam


sejenak, raut wajahnya terlihat sangat menikmati ketenangan senja. “haha, lagu


itu menurutku menggambarkan waktu yang dilalui manusia. kadang waktu terasa


sangat singkat saat kita bersama orang orang yang kita cintai, saat saat


punya keinginan dalam hatinya untuk memperlambat atau memperpanjang waktu


sebelum kebersaman menjadi kenangan. Eh tapi itu hanya pendapatku saja hahaha.”


Hendra melihat wajah Sarah yang terdiam terpaku padanya.


“Ah maaf,


tadi.. sungguh kalimatmu benar benar mirip dengan yang diucapkan Ibuku lho


beneran..”


Hendra


sedikit terkejut, “Benarkah? a..ah mungkin tahun itu banyak orang yang menyukai


lagunya karena maknanya juga indah jadi pendapat itu mungkin sudah universal.”


“Mau


menyanyikanya lagi? Aku hapal lho liriknya aku juga membawa gitar nih..” Sarah


mengambil gitar akustik yang ia bawa sehabis mengikuti kegiatan klub musik.


“Ah..


boleh..” mereka berdua bersiap menyanyikan lagi tersebut. Namun sarah terdiam


dan kelihatan bingung. “Kenapa?” tanya Hendra.


“Anu.. aku

__ADS_1


tidak tahu chordnya hehe, maaf.”


“Hahaha


tidak apa apa, aku saja yang main gitarnya kalau boleh, aku hafal kok.” Sarah


menyerahkan gitarnya pada laki laki yang sebelumnya benar benar tidak ia kenal.


Hendra mulai


memetik senar gitarnya dan memulai intro lagu tersebut. Mereka berdua


menyanyikan lagu lawas tersebut. Sinar matahari yang semakin memerah menambah


suasana hanyut lagu tersebut.


“Wahh jago


ya kamu main gitarnya, sumpah aku tidak menyangka kau bisa main gitar haha.”


kata gadis itu tertawa. Saat dia tertawa kelopak matanya terpejam, bibirnya


terangkat namun terlihat lembut. Hal itu membuat Hendra sedikit terdiam


memandanginya seolah wajah sarah mengingatkanya akan sesuatu.


“Ah tidak


juga kok, chord gitar yang aku hapal ya itu itu saja, lagu jaman sekarang aku


tidak begitu mengikuti soalnya ha..hahaha.” Hendra mengemasi buku diatas


mejanya.


Sarah


memasukan gitar berwarna coklat kekuningan itu ke tas gitarnya. “wah tidak


terasa sudah jam setengah lima sore.”


“Kalau


begitu mari lekas pulang sebelum petugas mengunci pintu kelas ini.”


“Kau benar.


Ngomong ngomong kenapa kau belum pulang dari tadi?”


“Oh aku ada


piket hari ini. Selain itu aku suka menikmati matahari terbenam dari kelas ini,


aneh ya…”


“Ah enggak


kok, pemandangan dari kelas ini memang sungguh indah, kadang sehabis ikut


kegiatan klub musik aku mampir ke sini kalau tidak ke atap gedung untuk


menikmati udara sore dan matahari terbenam. kalau begitu sampai besok.” mereka


berdua berpisah saat di depan gerbang sekolah. sekolah sudah sangat sepi.


beberapa siswa yang tersisa juga mulai meninggalkan sekolah.


“Oh iya

__ADS_1


sampai besok..”


__ADS_2