Tidak Selamanya Sahabat

Tidak Selamanya Sahabat
Tetaplah menjadi Bulan 4


__ADS_3

Setelah mengucapkan terima kasih, Luna melompat turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah ketika mobil milik Marco sudah menghilang dari pandangan. Sejenak keningnya berkerut mendapati motor asing terparkir di halaman rumahnya dan Surya.


Pasti temennya Curut. Ngapain sih, ngajak temen ke rumah malem-malem gini, gerutu Luna dalam hati.


"Surya?" panggilnya ketika sudah berada di dalam rumah. "Woi, Curut!"


Nihil, tak ada sahutan. Semakin ke dalam, akhirnya telinga Luna mendengar sayup-sayup suara tawa, tapi jelas itu bukan Surya karena yang didengarnya adalah gelak tawa perempuan. Menyadari itu, mata Luna langsung melotot, tangannya terkepal geram. Berani-beraninya pria itu membawa perempuan ke rumah mereka. Semakin dekat, suara yang semula samar terdengar semakin jelas, datangnya tentu dari arah kamar Surya.


Luna pun mendorong kenop pintu dengan begitu keras, membuat pintu itu terbuka, memperlihatkan Surya yang berbaring ditutupi selimut setengah badan dengan seorang perempuan menemani di sisi ranjangnya. Tawa yang sebelumnya memenuhi ruangan berganti menjadi keheningan yang menggerogoti sang waktu.

__ADS_1


"Temen lo udah pulang. Gue balik, Sur." Perempuan itu berdiri dan mengusap punggung tangan Surya pelan sebelum beranjak pergi meninggalkan laki-laki itu, juga Luna yang masih mematung di ambang pintu.


"Lo kenapa? Sakit?" tanya Luna membuyarkan keheningan. Ia lalu mendekat, menempati sisi ranjang yang masih terasa hangat bekas diduduki oleh gadis tadi. "Udah makan? Minum obat? Gimana perasaan lo sekarang, masih sakit?" Bukannya menjawab, Surya justru membuang muka. "Kenapa nggak sekalian pulang pagi?" Luna hanya mendengus menaggapi perlakuan sinis dari sahabatnya itu. Ia mengangkat kedua kakinya untuk bersila, membuat Surya lagi-lagi membuang muka mendapati rok merah muda Luna tersingkap. Surya jadi merasa serba salah; dilihat dosa, nggak lihat sayang.


"Bunda kayaknya salah ngasih lo nama, deh." Surya menggelengkan kepalanya heran. "Feminin sih, iya, tapi gue bingung kenapa bisa feminin dan nggak ada anggun anggunnya sama sekali disandingkan dalam satu orang yang sama."


"Bisa-bisain aja, contohnya gue nyata!" Luna mencebik. "Eh, gue mau cerita, deh."


Luna yang semakin geram mencubit pinggang laki-laki di depannya dengan sadis, sampai-sampai jeritan Surya menggema di dalam ruangan. "Kalo gue nggak ngelakuin itu, gaji lo dipotong, ****! Nggak tau terima kasih!" Setelah itu, Luna langsung berjalan ke kamarnya dan mengunci diri.

__ADS_1


Anak Manja: Jangan ganggu gue! Jangan gedor-gedor pintu gue! Jangan bangunin gue besok pagi! Bikin sarapan sendiri! Siapin perlengkapan kuliah sendiri! Bodo amat, lu lagi sakit juga, nggak peduli!


Surya tersenyum geli sebelum mengetik balasan pesan untuk teman sebelah kamarnya itu. "Bulan perhatian banget sih sama Matahari."


Dua minggu sudah Luna habiskan untuk memikirkan banyak hal. Ia yakin rambutnya mulai rontok dan sudah ada asap mengepul di atas kepala miliknya.


Surya belum juga kembali. Laki-laki itu menghilang, tanpa kabar sama sekali. Berbagai cara Luna lakukan untuk mencari informasi, dari mendatangi kampus, sampai menghubungi teman-temannya. Semua upaya itu tetap tidak menghasilkan apa-apa. Belum lagi dirinya juga harus mengurusi Marco yang sedang patah hati. Dua pria dalam hidupnya benar-benar membuat Luna pusing saat ini.


Rumah Luna dan Surya mungkin sudah bisa disebut sebagai kandang sapi, atau tempat pembuangan limbah. Pasalnya, kesibukkan Luna membuatnya tidak sempat membersihkan tempat tinggalnya itu. Piring kotor menumpuk, sampah makanan berserakkan di mana-mana, percayalah, ini lebih buruk dari yang kalian bayangkan.

__ADS_1


Baru saja Luna mengikat rambut dan mengambil sapu, ponsel di saku celananya bergetar sekali, tanda pesan masuk. Luna yang awalnya biasa saja, mendadak menegang. Setelah mendapatkan kembali kesadarannya dan tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, Luna berlari bagaikan kilat menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.


Unknown Number: Halo, Bulan anak manja kesayangan gue! Kangen sama gue nggak? Kalau lo kangen, dateng ya ke Rumah Sakit Kota lantai 3 kamar nomor 214. Dandan yang cantik ya buat ketemu gue, anggap aja ini first date kita (gue tau lo bakal ngamuk baca yg satu ini, tp bodo amat). Gue tunggu. –Surya, mataharimu.


__ADS_2