
Lay merasa hatinya begitu lega ketika atasan di perusahaannya mengijinkannya untuk pulang cepat. Alasannya memang cukup sederhana, namun sangat disayangkan jika ia tak mengutarakannya. Malam ini, Lay akan merayakan ulangtahun ibunya yang ke 50. Well, meskipun Lay harus terlambat merayakannya karena tuntutan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, ia masih bisa merayakan peristiwa terindah itu di malam harinya.
Lelaki berlesung pipi itu kini berdiri tegak di depan zebra cross dengan tangan kanannya yang dimasukkan ke dalam saku celana, dan tangan kirinya yang memeluk sebuah map hijau berisi beberapa file perusahaan. Senyum mengembang kini terbentuk di kedua sudut bibirnya, turut memberikan sebuah lekukan kecil di kedua pipinya yang membuatnya terlihat sangat manis. Di sana, ada banyak para pejalan kaki lainnya yang juga akan menyebrang, sama seperti lelaki itu. dan Lay berdiri pada barisan pertama.
Lampu lalulintas masih menunjukkan warna hijau, yang artinya, puluhan orang yang berdiri di zebra cross itu harus menunggu selama beberapa saat hingga lampu menunjukkan warna merah untuk menyebrang jalan.
Sambil menunggu, Lay melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, menatap banyaknya lampu sorot kendaraan dan juga lampu-lampu gedung pencakar langit yang begitu indah. dia pun kembali tersenyum kecil.
Hingga pada saat pandangannya berhenti pada seorang wanita yang tak jauh dengan jaraknya berdiri, senyuman itu perlahan menghilang. Wanita itu berdiri di antara para pejalan kaki lainnya. Ia terlihat begitu aneh. Lay memicingkan matanya untuk menatap wajah wanita itu yang tertutupi helaian rambut panjangnya. Namun anehnya, Lay sama sekali tak bisa melihat wajah itu. Terlihat kabur dan semu.
Lay terus mengamati wajah wanita itu hingga ia benar-benar melihat wajahnya dengan jelas. Tetapi nihil, apa yang dilihatnya tetaplah sama, tidak ada yang berubah.
Dan…demi apapun, Lay tidak bisa mengenali wajah, hidung, bibir, dan anggota tubuh lainnya di sekitar wajah. Hingga saat Lay tak tahan untuk mengetahui siapa wanita itu, ia bertanya pada sosok lelaki yang berdiri di sampingnya. Karena di samping rasa penasaran akan wanita itu, ia juga merasa penasaran, mengapa di antara banyaknya para penyebrang di zebra crossini tidak ada yang menyadari kehadiran sang wanita?
“Hey, kau lihat wanita itu?” Lay menyikut tangan lelaki di sampingnya, membuat lelaki itu menoleh.
Lelaki itu mengikuti arah pandang Lay, lalu kembali menatapnya. “Siapa?”
__ADS_1
Lay mendesah kecil, “Itu, wanita di sana yang mengenakan gaun panjang. Kau melihatnya? Dia terlihat aneh, apa dia sedang sakit?” katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Lelaki yang Lay ajak bicara akhirnya tertawa mengejek, “Kau…yang aneh. Aku tidak melihat wanita dengan visualisasi yang kau maksud.” Dia menjawab, lalu kembali menatap ke depan.
“Bagaimana bisa kau tidak melihatnya?” Lay terlihat cukup kesal mendengar jawaban itu. dan lelaki itu tak kembali merespon ucapan Lay. Iapun hanya bisa menghela napas panjang, dengan pandangan terarah pada sosok wanita aneh di sana.
Sekali lagi, Lay memfokuskan pandangannya pada wajah wanita itu. dan ia merasa jika jantungnya berhenti berdetak pada saat ia menyadari….
Wajah wanita itu rata.
Oh, Tuhan! Ini benar-benar kesalahan yang fatal! Lay merasa sangat bodoh karena kecerobohannya ini! Seharusnya ia tidak terus memerhatikan wanita itu. Karena saat ia semakin menatapnya, wanita itu menoleh, menampakkan wajahnya yang rata, sangat rata dan juga begitu pucat pasi.
“Bodoh! Bodoh!” Lay merutuki kesalahannya sendiri. Dia menundukkan wajahnya hingga dagunya menyentuh kerah kemeja yang ia kenakan. Dalam hati, Lay berharap semoga lampu tanda pejalan kaki berubah menjadi warna merah, agar ia bisa cepat menyebrang lalu berlari menuju rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Akhirnya, lampu merah menyala.
Lay mendesah lega sambil mengangkat wajahnya untuk menatap ke depan. Tetapi, lagi-lagi rasa penasaran itu mendorong dirinya untuk kembali menatap ke arah wanita itu.
__ADS_1
Di saat para pejalan kaki mulai melangkah untuk menyebrang, Lay melihat sosok wanita itu berjalan mendekat ke arah Lay yang mulai melangkah pergi diiringi rasa ketakutan.
Rasa penasaran itu kini menghilang. Buru-buru Lay berjalan cepat dan kembali masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang berjalan di sana. Namun, wanita menyeramkan itu juga mengikuti langkah Lay hingga ia kini berdiri tepat di sampingnya.
Lay membelalakkan matanya saat menyadari sosok itu. membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh dengan tatapan heran. Lay tak mempedulikan tatapan itu. Karena sekarang, sosok menyeramkan itu benar-benar berdiri di depannya dengan postur tubuh yang begitu tinggi dibanding Lay.
Tubuh lelaki itu seolah membeku dan mati rasa ketika terpaan angin malam menyentuh tubuhnya. Terlebih lagi ketika sosok wanita di depannya mendekatkan wajah ratanya ke arah telinga kanan Lay. Membisikkan sesuatu dengan suaranya yang begitu menyeramkan dan mampu membangkitkan ketakutan di dalam diri Lay.
“Aku tahu…kau bisa melihatku…”
Dan pada akhirnya, sebuah penyesalan datang hingga membuat Lay kembali merutuki kebodohannya sendiri.
Kemampuan indera keenam itu, Lay benar-benar melupakannya. Mungkin ini sebabnya jika ia terlalu mendahulukan sebuah kesenangan dibandingkan dengan kenyataan yang ada di hadapannya sekarang.
cerita ini diambil dari situs dibawah ini:
https://www.google.com/amp/s/exofanfictionindonesia.wordpress.com/2015/09/07/pedestrian\-crossing\-urban\-legend\-lay\-ver/amp/
__ADS_1