
Alvaro terkejut dan membeku di tempatnya.Sesuatu yang sangat tidak di harapkannya kini terjadi, perkataan Anissa bagaikan batu besar yang menghantam dadanya, di tatapannya gadis itu yang sedang menunduk.
Alvaro langsung berdiri dan memijat kepalanya yang tidak pusing hanya untuk mencari kata kata yang tepat.
Sedangkan Anissa masih terdiam, hatinya bersebar tak karuan menunggu reaksi Alvaro. Rasa takut akan penolakan Alvaro terhadap kehamilannya memenuhi kepala Anissa.
Sesekali Anissa melirik Alvaro yang nampak frustasi. Anissa mempersiapkan mentalnya apapun keputusan Alvaro, seburuk apapun itu. Anissa sudah memikirkannya semalaman dan nasehat dari dokter Fahri membuat Anissa yakin akan mempertahankan janinnya apapun yang terjadi.
Alvaro duduk kembali di kursi . Mereka saling terdiam, Anissa menunggu Alvaro membuka suara duluan.
"Anissa gue udah pernah bilang sama lo,kalu gue enggak bisa bertanggung jawab, kenapa lo tidak mencoba mencegahnya ,Alvaro berbicara pelan" . Dari nada bicaranya jelas menyalahkan Anissa. Anissa tidak menduga bahwa pertanyaan itu akan keluar dari mulut Alvaro. Alvaro bahkan mengacak rambutnya setelah mengucapkan itu.
Ini juga bukan inginku kak, janin ini bersemayang di rahim ku tanpa permisi, andaikan di permisi aku pun tidak akan membiarkannya. Aku bisa apa kak ?
Ini juga gara - gara kakak kenapa kakak melecehkan ku dengan paksa andai itu semua tidak pernah kakak lakukan, semua ini mungkin tidak akan pernah terjadi. Apakah kakak tau siapa di sini yang paling di rugi kan ?
Aku kak aku, coba kakak pikir aku sudah kehilangan first kiss ku, mahkota ku dan sekarang aku hamil dengan enaknya kak jawab tidak bisa bertanggung jawab apa kakak tidak punya hati dan pikiran , Ucap Anissa sambil berserai air mata.
Alvaro mendongak menatap wajah Anissa ,sebenarnya dia merasa sangat bersalah tapi untuk bertanggung jawab itu sangat tidak bisa dia lakukan, masa depannya masih panjang dan ada satu hal lagi alasan Alvaro tidak bisa bertanggung jawab, Alvaro sudah mencintai seseorang di hatinya , teman masa kecilnya yang sampai sekarang menghilang entah kemana, tapi Alvaro masih setia menunggu gadis itu.
Berapa usianya?
lebih dari 2 minggu ?
jadi sekarang bagimana rencana Lo?
Apa maksud Kakak ?tanya Anissa dengan suara sedikit meninggi.
"Maksud gue apakah Lo akan mempertahankan kannya atau ". .....
__ADS_1
Mempertahankan nya kak, potong Anissa cepet sebelum Alvaro menyelesaikan Ucapannya.
Pikiran yang baik Anissa , Lo masih muda dan sekolah, itu akan mengganggu lo.
" Hanya orang berhati setan yang akan menyarankan darah dagingnya di buang", kata Anissa penuh penekakan dan amarah ketika mendengar saran dari Alvaro. Saran yang mempunyai maksud tersembunyi . Walau tidak terang terangan mengatakannya , Anissa tau bahwa yang Alvaro inginkan Anissa menggugurkan kandungannya.
Asal Lo tau ! Gue tidak baisa bertanggung jawab , mungkin kalau soal materi gue bisa tanggung dan untuk yang lain itu urusan lo. Dan jangan coba -coba membocorkan masalah ini kepada siapapun, kata Alvaro dengan suara yang datar.
bagaimana jika suatu saat nanti dia bertanya tentang Ayahnya? apa kakak enggak kasihan,
keterlaluan.
Anissa memaki Alvaro dengan suara bergetar, matanya sudah berembun dan benar saja air mata itu sudah membanjiri kedua pipinya. Anissa menangis sesegukan , penolakan Alvaro akan calon anaknya hal yang paling menyakitkan bagi Anissa. Walupun awalnya dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, nyatanya dia tetap menangis.
Entah bagaimana sakit hatinya sekarang.
Melihat Anissa menangis, Alvaro tidak ada niat untuk membujuk atupun menenangkan. Peria itu masih tetep di tempat duduknya. Alvaro mengeluarkan uang di dompetnya dan meletakannya di meja.
Ini untuk kebutuhan lo, kata Alvaro sambil berdiri dari duduk nya.
"Kak kamu boleh menolakku, tapi ku mohon jangan tolak anak ini, ini adalah darah daging mu kak". Anissa berkata dan memohon berharap Alvaro mau mengubah keputusannya.
Gue enggak bisa Anissa, dari awal udah gue peringatkan, gue engak bisa tanggung jawab.
Pikiran baik - baik apa yang lo lakukan. Kata Alvaro tanpa pikir panjang, kata katanya sangat membuat Anissa sakit hati.
"Baiklah kak akan ku ingat semua, perkataan mu hari ini. Dan ingatlah. Jika suatu saat kamu menyesal, itu tidak akan berarti apa -apa bagiku.
Pergilah.! Kejarlah masa muda dan cinta mu. Aku akan membesarkan anak ini dengan baik, tentang masalah kita aku akan tutup mulut. Tapi percayalah , jika Tuhan kehendaki masalah yang kamu buat akan terbongkar walau bukan dari mulut ku.
__ADS_1
Alvaro berlalu dari hadapan Anissa, sebelum pergi Alvaro menoleh ke Anissa. Calon ibu itu masih seperti semula menatap lurus ke depan.
Setalah Alvaro benar - benar pergi , Anissa meraih uang yang di letakan Alvaro tadi dan meremas nya kuat. Apakah harga dirinya cuman sebesar materi.
Air mata yang tadi sudah kering, kini kembali membasahi pipinya. Dengan menyandarkan kepalanya di kursi taman Anissa menangis. Bukan menangis karena takdirnya melainkan takdir anaknya di masa depan. Bagaimana anaknya akan punya akte lahir, bagaimana jika bertanya tentang ayahnya. Anissa terus berfikir dan menangis, saat ini dia butuh sandaran.
Anissa mengelus perutnya yang masih rata, walupun tanpa Alvaro ,Anissa akan melahirkan anaknya. Walupun nanti kehamilannya akan terbongkar dan dia akan di usir dari pondok Anissa tetap akan mempertahankan anaknya. Tidak perduli orang akan berkata apa tentang dirinya ,yang terpenting anaknya dengan selamat.Itu janjinya dalam hati.
Anissa pun pergi ke kelas tanpa makan terlebih dahulu. Bel masuk sudah berbunyi semua siswa dan siswi masuk ke kelasnya masing masing.
Setelah pelajaran selsai semua siswa dan siswi langsung berhamburan untuk pulang begitupun dengan Anissa dan teman temannya.
Nis kamu ko tadi engak ke kantin ? iya kita nungguin kamu tapi kamu enggak dateng -dateng e-eh iya maaf ya tadi aku sakit perut makannya lama sampe enggak sempet makan, jawab Anissa kaku.
Kamu sakit Nis mau berobat ? enggak aku cuman sakit perut kebanyakan makan sambel. Makannya Nis kalau makan sambel jangan banyak - banyak, cerocos Syelin .
Anissa dan teman-temannya berjalan menuju parkiran tempat di mana Syelin dan Fina menunggu jemputan. Gengs itu ****** gue udah nyampe gue balik duluan ya, ujar Syelin dan Fina.
Iya hati -hati di jalan , ucap Anissa dan Syifa.
Nis ini kan jadwal kamu belanja bulanan bahan - bahan pondok kan, ? mau aku temenin ? Mmm enggak usah deh Syif kan kamu nanti malam ada hapalan kan , kamu fokus aja belajar aku bisa sendiri. Enggak papa Nis nanti aku bisa belajar abis ngeter kamu , enggak usah Syif aku bisa sendiri.
Yaudah kalau gitu aku pergi ke kamar ku ya dah. pamit Syifa. Dah balas Anissa.
Sebenarnya Anissa ingin di temani belanja tapi Anissa akan pergi ke rumah sakit , Anissa ingin menceritakan semuanya kepada Dokter Fahri karena hanya dokter Fahri yang tahu kehamilannya semoga Dokter Fahri mempunyai solusi tentang masa depan anaknya.
Bersambung ***********
Hai gengs
__ADS_1
penasaran enggak sama cerita Alvaro dan Anissa ? ikutin terus ya ceritanya dan juga di mohon untuk LIKE, KOMEN dan VOTE nya biar author nya semangat buat up nya.