VAMPIRE : THE REAL RULER

VAMPIRE : THE REAL RULER
Jati Diri (Part 2)


__ADS_3

Sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba terdengar suara orang sedang mengetuk pintu. Tapi anehnya cara mengatur pintunya kasar sekali seperti sedang marah.


tokkkkk tokkkk tokkkk tokkk tokkk tokkk


"Sepertinya ada tamu..." kata Silveen.


"Ya..tamunya tidak sopan sekali. Dia mengetuk pintu seperti ingin mengajak berkelahi saja.


Silveen pun berdiri, berniat membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, Namun Rania segera mendahuluinya.


"Biar aku saja yang buka."


Silveen pun mengangguk dan kembali duduk.


Setelah tiba di depan pintu Rania pun segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. saat pintu terbuka tampaklah dua orang pria.Rania pun merasa pernah melihat dua pria tersebut dan dalamnya pun ingat dengan kejadian semalam.


dia yang menyebut ku gila


Salah satu dari mereka memberikan salam pada Rania sambil tersenyum hangat.


"Selamat pagi."


Rania pun hanya diam dan tidak membalas salam pria tersebut.Melihat Rania terdiam dan terus memperhatikannya pria tersebut pun berkata.


"Dari tadi kau terus memperhatikanku. Apakah aku tampan itu?"


Rania yang mendengar ucapan pria tersebut pun membuat ekspresi ingin muntah dan berkata,"Menjijikan..."

__ADS_1


Pria tersebut pun hanya mendengus pelan dan mengerutkan dahinya dengan sebal.


"Apa kau tidak mempersilahkan kami masuk??"


Pria tersebut pun bertanya kepada rakyatnya dengan ekspresi kesal.


"Masuklah..."Rania pun mempersilahkan mereka untuk masuk.


Silveen pun terkejut melihat tamu yang datang.


"Kenapa kau terkejut melihat kami, seperti melihat hantu saja."Tanya Killearn pada Silveen.


"Ahh...tidak.. silahkan duduk! kalian mau minum apa teh atau kopi??"


"Kami mau secangkir darah."


"????"


Killearn pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Silveen yang percaya pada ucapannya.


"Aku hanya bercanda."


Setelah mendengar ucapan Killearn, Silveen pun langsung merasa tenang.


Silveen pun kembali bertanya pada mereka,"kalian mau minum apa??"


Killearn merasa kesal pada Silveen yang terus menawarkan minuman pada mereka, padahal Silveen tahu bahwa Killearn dan Louis tidak suka pada teh ataupun kopi.

__ADS_1


"kami ke sini bukan untuk meminta secangkir teh..!"


"Lalu..???"


"Tanyalah pada Louis!"


Mendengar ucapan Killearn, Louis pun memasang ekspresi malas, karena ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Silveen.


Rania yang masih berada di dekat pintu utama terus memandangi ketiga pria yang sedang berbincang-bincang. Merasa bosan dengan keadaan yang terjadi, Rania memutuskan untuk pergi menuju kamarnya.


Rania pun berjalan menuju tangga untuk ke kamarnya melewati ketiga pria tersebut yang sedang duduk di sofa. Saat Rania lewat, Louis terus memperhatikannya. Tiba-tiba Louis berdiri dan menarik tangan Rania, sehingga gadis itu menghentikan langkahnya.


Rania pun berbalik ke arah Louis. Rania pun segera menarik tangannya dari cengkraman Louis. Tetapi Louis terus memegangi tangan Rania dengan erat.


"Lepaskan tanganku!"


Rania meminta agar Louis melepaskan tangannya, Namun, Louis tidak mendengarkan ucapan Rania. Silveen dan Killearn pun hanya bisa memperhatikan saja tanpa berbuat apa-apa.


Rania pun semakin kesal karena Louis tidak segera melepaskan tangannya.


"Hei..apa kau ini tuli???"


Huhhhh


Louis pun hanya menghela nafas mendengar ocehan Rania, yang membuat telinganya sakit.


"Apa kau tidak takut padaku???"

__ADS_1


Louis pun mulai berbicara, dan bertanya pada Rania dengan nada dingin. Rania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Louis.


"Kau pikir aku takut padamu???"Rania pun menjawab pertanyaan Louis dengan angkuh.


__ADS_2