
Sebuah sinar menembus jendela kamar rania dan mengenai wajahnya. Rania pun terbangun dari tidurnya.
Huahhhhh
"Ternyata sudah pagi....." Rania pun bergegas bangun dari tempat tidur dan merapikan tempat tidurnya, setelah itu Rania mengambil handuk dan langsung menuju ke kamar mandi, tepatnya ada di lantai dasar.Setelah menuruni tangga ia pun tiba di lantai dasar, ia pun melihat jam dinding yang terpasang didinding. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Tapi kak Silveen sudah ada di dapur.
" Kak Silveen...."
"Ohh. Rania, kau sudah bangun???"
"Yahh...Kenapa kak Silveen bangunnya pagi sekali???"
"Benarkah...., aku memang selalu bangun lebih awal, bahkan biasanya aku bangun jam empat subuh."
"Wahh......Berarti aku yang selalu bangun kesiangan."
Rania pun terus memperhatikan Silveen yang sedang membalik-balikan masakannya di atas wajan layaknya koki hebat, Silveen pun berbalik ke arah Rania dan tersenyum.
" Kenapa kau berdiri disitu terus???"
"Aku hanya mau melihat kak Silveen memasak saja."
"Daripada kau terus melihatku memasak, lebih baik kau pergi mandi!"
"Iya, iya...Aku akan mandi."Rania pun berjalan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat akhirnya Rania keluar dari kamar mandi.
"Kau lama sekali mandinya?" Tanya Silveen pada Rania.
"Tidak..Tuhh.." Jawab Rania dengan santai.
Huhhhhh
Silveen pun hanya mendengus pelan mendengar jawaban Rania, dan berkata," Kau didalam kamar mandi sudah 30 menit, tau....."
"Benarkah.... aku kira cuma 5 menit saja."
__ADS_1
"Sudahlah.....Tidak perlu dibahas!"
".........."
"Aku sudah membuatkan sarapan untukmu."
Rania pun menghampiri Silveen yang sedang meletakkan makanan di atas meja makan.
Setelah selesai sarapan Silveen langsung merapikan dan mencuci piring yang kotor.
"Kak Silveen."
"Hmmmmm.....?"
"Aku ingin bertanya..!"
"Soal apa..???"
"Yang tadi malam..?"
"Ohh itu... apa kau tidak mengenalnya, bukannya kalian pernah bertemu???"
"Yang mengancam ku."
"Begitulah.."Silveen pun mengangguk-angguk mendengar perkataan Rania.
"Yang mana, apa yang mengatakan aku gila??"
"Bukan yang itu, tapi yang satunya."Silveen mengatakan seperti itu sambil tersenyum melihat ekspresi Rania yang sepertinya sangat kesal.
"Ohhh...."
"Bukannya kau sudah pernah bertemu dengannya, saat dia mengancammu."
"Waktu itu aku hanya mendengar suaranya saja, aku tidak melihatnya."
"Pantas saja..."
__ADS_1
Tiba-tiba Rania terdiam dan menatap Silveen dengan penuh pertanyaan. Silveen pun hanya bisa terdiam tanpa ekspresi sama sekali melihat tatapan Rania.
Silveen pun mencoba bertanya pada Rania.
"Ada apa.???"
Silveen berpikir Rania akan menjawab pertanyaannya, tapi ternyata tidak, tiba-tiba Rania balik bertanya pada Silveen, Silveen pun langsung terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan Rania kepadanya.
"Sebenarnya....kak Silveen siapa, dan kenapa kau bisa mengenal vampir itu???"
Silveen pun mulai berkeringat dingin, sebenarnya ia tidak ingin menjawab pertanyaan Rania karena mungkin akan sangat terkejut dengan jawaban Silveen.
Apa aku harus memberi tahu dia, siapa aku sebenarnya.
Silveen pun mulai membuka suara dan menjawab pertanyaan Rania. Rania pun tampak tegang ketika Silveen berbicara.
" Yahhh.... mungkin kau harus tau siapa aku yang sebenarnya."
"???"
"Aku dokter Silveen."
"Aku tidak tanya siapa namamu."
"Aku tahu.... Yang ingin kau tanyakan adalah....."
Rania pun makin penasaran dengan jawaban Silveen.
"Aku ini manusia atau bukan."
"????"
Huhhhhh
Silveen pun menghela napas dan menjawab pertanyaan Rania. Silveen terlihat sangat kebingungan apakah ia harus memberi tahu pada Rania yang sebenarnya atau ia harus terus berbohong.
"Sebenarnya aku bukan manusia."
__ADS_1
"????"