
Louis pun hanya menatap Rania yang berusaha ingin melepaskan tangannya dari genggaman Louis. Setelah beberapa saat akhirnya Rania berhasil melepaskan tangannya, dan berkata"dasar iblis bermata dua".Setelah itu Rania langsung lari cepat-cepat menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Silveen hanya terdiam melihat tingkah Rania yang sama sekali tidak takut pada seorang vampir, yang sangat kuat.
Setelah Rania pergi, Louis masih berdiri mematung, Killearn yang melihat Louis pun ikut berdiri dan mendekati Louis.
Ia memegang pundak Louis sambil melemparkan candaan padanya.
"Wahhh.....dia berani sekali,dia bahkan menyebutmu iblis bermata dua".
Silveen pun ikut bangkit saat mendengar ucapan Killearn.
"Hey...apa tidak cukup satu gelarmu??"
Killearn merasa heran saat mendengar ucapan Silveen dan bertanya.
"Apa maksudmu, Blacki...???"
"kau itu sudah cerewet, kompor bocor lagi."
"kompormu bocor??".Killearn bertanya dengan raut muka kebingungan.
"kau ini bodoh sekali".
"Aku tidak bodoh, aku tahu apa yang kau maksud".
"Jika kau tahu kenapa bertanya???".
"Lalu kenapa kau, mengatakan aku kompor bocor". Killearn pun kembali bertanya pada Silveen.
"???"
Killearn pun memandangi Silveen dengan penuh kecurigaan.
"Kalau aku lihat-lihat kau selalu membela Rania, apa jangan-jangan, kau diam-diam suka pada Rania??".
__ADS_1
Silveen pun hanya diam mendengar ocehan Killearn dan berkata,"semua orang yang berdebat denganmu pasti akan pergi, karena jawabanmu selalu tidak nyambung dan masuk akal".
"apa maksudmu???".kata Killearn sambil menatap Silveen dalam-dalam.
"....."
"kau mengatakan aku bodoh???".
"Baguslah jika kau sendiri mengakui,bahwa dirimu memang bodoh".
Rania yang berada di dalam kamar asik mendengarkan musik.Tanpa sadar Rania sudah tertidur lelap. Dan saat ia terbangun waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 sore, Rania pun bergegas bangkit dan langsung keluar kamar, menuruni tangga menuju ke kamar mandi. Setelah beberapa saat Rania pun keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarnya untuk ganti pakaian. Setelah selesai Rania pun keluar kamar menuju ruang keluarga, saat tiba di ruang keluarga Rania Rania melihat Louis dan Killearn yang sedang duduk di sofa, sedangkan kak Silveen, ia sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"kak Silveen.."
"Hmmm...Rania"
"Kak Silveen mau memasak apa?Biar aku bantu."
"Tidak perlu, aku sudah selesai!"
"Kak, Silveen!!"
"ya???"
"Apa mereka akan tinggal disini??"
Rania bertanya sambil melirik ke arah pria yang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Hmmm"Menjawab sambil mengangguk.
Huhhhhh
Rania mendengus pelan mendengar jawaban Silveen.
__ADS_1
"kenapa mereka tinggal disini??"
"Hmm....entahlah,"jawab Silveen.
"......"
"kita harus pasrah dengan keadaan yang ada!"
"ya, mungkin memang harus begitu."jawab Rania dengan nada pasrah.
Rania terus memperhatikan Silveen yang sedang menata makanan di meja makan.
"kak, Silveen!"
"ya?"
"kenapa kau masak makanan banyak sekali??"
"apa kau tidak lihat orang yang sedang duduk disana?"sambil menunjuk kearah Louis dan Killearn.
Rania pun mengangguk mendengar penjelasan Silveen.
"memangnya mereka makan makanan manusia?Aku pikir vampir hanya meminum darah saja, seperti dalam novel."
"ya, begitulah."
"Hmmm..."Rania mengangguk-angguk mendengar perkataan Silveen.
Silveen pun berjala ke arah Killearn dan Louis yang sedang duduk di sofa.
"Louis!"
"Hmmm??"
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan makanan, ayo makan!!"
Louis seketika langsung berdiri dan berjalan ke arah meja makan sedangkan Killearn masih duduk di sofa.