
Rania sudah berusaha memejamkan matanya namun ia tetap tidak bisa tidur. Ia pun bangkit dan mengambil ponselnya, untuk mendengarkan musik, setelah beberapa saat Rania pun akhirnya mulai merasa ngantuk, ia pun memutuskan untuk segera tidur.
Waktu berlalu 1 jam ia pun sudah tertidur pulas. Tiba-tiba Rania kaget dan terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara seseorang di dalam rumah tepatnya berasal dari ruang keluarga padahal tidak ada siapapun di rumah selain dirinya.
Rania pun bangkit dan berjalan menuju ruang keluarga sambil membawa sebuah sapu. Rania pun berjalan menuju ruang keluarga yang terletak di lantai dasar dengan mengendap-endap. sesampainya di lantai dasar ia melihat dua orang pria dengan ciri-ciri berkulit putih pucat, yang satu rambutnya berwarna merah gelap dan yang satu lagi berwarna biru cerah.
Diam-diam Rania menghampiri dua sosok pria tersebut dari belakang, tepatnya dekat tangga yang menghubungkan lantai dasar dan lantai atas dan langsung menghajar mereka dengan menggunakansapu yang ia bawa.
"Aduh....!!" Salah satu dari dari mereka langsung berteriak kesakitan, yang adalah pria berambut biru cerah.
Namun, Rania tidak peduli dan tetap memukuli mereka, kemudian pria yang berambut merah gelap tersebut mengambil sapu yang dipegang oleh Rania dan langsung mematahkannya, tak kehilangan akal Rania pun mengambil semua benda yang berada didekatnya dan melempari mereka berdua.
"Dasar pencuri.....!!"
__ADS_1
"Hei!! Kami ini bukan pencuri, dasar gadis gila!!" kata pria berambut biru.
"Apa kau bilang?! Gadis gila?! Dasar pencuri tidak tahu malu! Sudah masuk ke rumah orang sembarangan lalu berkata kalau aku gila!!" Rania berkata dengan nada marah sambil terus melempari mereka.
Sampa - sampai rumah dokter Silveen kacau balau seperti habis diterpa badai besar.
"Berhenti.....!!!" Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak menyuruh mereka untuk berhenti, mereka pun langsung terdiam dan berbalik ke arah orang tersebut.
"Kak Silveen..."Rania pun memanggil nama orang yang menyuruh mereka untuk berhenti, ternyata orang tersebut adalah dokter Silveen.
"Ma.... maaf, atas kejadian ini...."Silveen pun langsung meminta maaf pada kedua pria tersebut dan menyuruh Rania untuk pergi.
"Rania kau masuklah ke kamarmu....!"
Pria berambut biru tersebut pun berkata pada Silveen.
__ADS_1
"Apa dia gila???"
Pria berambut biru itu pun berbalik ke arah pria berambut merah yang ada disebelahnya dan berkata.
" Louis, apa kau sengaja memilih gadis gila, seperti tak ada gadis yang waras saja. Dia memang cantik, tapi apa karena dia cantik kau memilihnya dan tidak peduli kalau dia gila."
"Hei.... Kau yang berambut biru!! Kau bilang aku apa? Gila?!!"
Silveen mulai panik dengan situasi yang terjadi, ia pun menarik tangan Rania dan menuntun gadis itu ke kamarnya agar situasi tidak semakin kacau.
Rania dan Silveen pun berjalan ke arah tangga. Rania pun makin kesal mendengar ocehan pria berambut biru yang mengatakan dirinya gila. Tepat di tengah-tengah tangga Rania pun menghentikan langkahnya.
Kemudian membungkukkan badannya untuk mengambil sandal yang ia gunakan, lalu melemparkannya tepat di wajah pria berambut biru tersebut. Rania pun tertawa saat melihat sandal yang ia lempar mengenai wajah pria tersebut.
Khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Silveen pun segera menarik Rania dengan cepat dan membawanya ke kamar.
__ADS_1