VAMPIRE : THE REAL RULER

VAMPIRE : THE REAL RULER
Jati Diri (Part 1)


__ADS_3

" aku werewolf."


Silveen mengira setelah ia mengatakan yang sebenarnya kepada Rania, Rania akan takut padanya dan menjauhinya. Tetapi malah hal sebaliknya yang terjadi, yaitu kesan Rania saat mendengar jawaban Silveen.


"Hahhhhh......wahhhh, keren sekali."


Silveen pun terkejut saat mendengar perkataan Rania, ia tidak percaya dengan jawaban Rania yang mengatakan bahwa werewolf keren.


"Apa...???"


"Kau werewolf sungguhan, kan???"


"Ya...apa kau tidak takut padaku?"


"Tidak!!! werewolf itukan keren."


"Keren apanya, werewolf itu monster. Seharusnya kau takut..."


"Tapi kak Silveen tidak berbohong kan, soalnya kau terlihat seperti manusia biasa."


"Aku tidak bohong..."


"Aku pikir vampir dan werewolf itu hanya cerita dalam novel saja."


"Semua orang mungkin mengira werewolf dan vampir itu hanyalah cerita fantasi saja. Namun, sesungguhnya itu semua nyata dan memang ada.


"Tapi...jika memang ada kenapa mereka baru muncul sekarang?"


"Karena mereka selalu hidup bersembunyi."


"Kenapa???"


"Karena kami, monster... Manusia menganggap kami musuh dan ingin menghabisi kami."


"Berarti selain kak Silveen ada werewolf yang lain?"


Silvan pun mengangguk yang artinya 'iya.'


Rania pun masih ragu dengan jawaban Silveen yang mengatakan dirinya bukanlah manusia melainkan kan werewolf. Rania lantas kembali bertanya pada Silveen, katanya "aku masih tidak percaya. kak Silveen ini sebenarnya werewolf sungguhan atau kau hanya bercanda?"


Huhhhh....

__ADS_1


Silveen mendengus pelan mendengar pertanyaan Rania yang masih tidak percaya dan menjawab kembali pertanyaan Rania.


"Aku ini werewolf sungguhan...!"


Rania pun makin tidak percaya pada perkataan Silveen, dan mengira Silveen hanya bergurau saja.


"Kak Silveen bohong kan???"


"Aku tidak bohong!"


"Kau hanya bercanda kan???"


"Astaga....kau ini. Untuk apa aku berbohong, lagipula aku bukan pembohong."


"Tapi bukan berarti kak Silveen tidak pernah berbohong kan, memangnya ada orang yang tidak berbohong seumur hidupnya."


"Ya...tentu aku pernah berbohong, tapi sekarang aku tidak sedang berbohong."


"Apa benar kak Silveen ini werewolf???"


"Kalau kau tidak percaya maka aku akan menunjukkan wujud werewolfku , agar kau percaya."


Tiba-tiba terdengar seperti retakan tulang dan Silveen pun berubah menjadi seekor serigala yang besar, ukuranya 3× lebih besar dari serigala biasa. Rania hanya terdiam sambil menatap dalam-dalam serigala tersebut.


Werewolf itu pun hanya terdiam sambil menatap Rania. Silveen yang berada di dalam tubuh werewolf tersebut berbicara pada Liownel, lebih tepatnya jiwa werewolf Silveen.


(Tundukan saja kepalamu agar dia bisa memegangmu)


(*T*idak...!kau pikir aku ini apa?!)


(sudahlah lakukan saja!!)


(Hmmm....Baiklah)


Serigala tersebut pun menundukkan kepalanya, sehingga Rania bisa memegangnya. Mata Rania pun makin berbinar-binar saat memegang serigala tersebut.


"Wah...lucu sekali."


Setelah Rania mengelusnya beberapa saat, serigala itu pun berubah ke wujud manusia.


"Apa kau percaya?" tanya Silveen.

__ADS_1


Rania pun mengangguk mendengar pertanyaan Silveen.


"Aku akan memperkenalkanmu pada wolfku."


Silveen pun bertukar tempat dengan wolfnya, kemudian mata Silveen berubah menjadi emas kecoklatan.


"Aku Liownel, wolf Silveen."


"Aku Rania." Rania terus menatap Liownel (sifatnya beda sekali dengan kak Silveen).


"Ada apa...?"


Sadar bahwa gadis di depannya terus menatapnya, ia pun bertanya.


Jawab Rania, "Tidak..."


Tanpa disadari jiwa Silveen kembali menguasai tubuhnya.


"Rania..." Silveen memanggil Rania dengan nada lembut.


"Kak Silveen."


"Kau bisa mengenaliku, ya...?"


"Maksudnya???"


"Ya, siapa tahu kau mengira aku Liownel."


"Mana mungkin.....kalian kan berbeda."


"Berbeda apanya?"


"Tentu saja sifatnya. Kak Silveen sangat lembut dan baik, tetapi Liownel cara bicaranya sangat dingin."


"Apa kau bilang...!" Mendengar perkataan Rania yang ketus, jiwa Liownel pun kembali menguasai tubuh manusia Silveen dan bertanya dengan nada marah.


Tahu bahwa yang bertanya adalah Liownel dan bukan Silveen. Rania pun segera meminta maaf padanya.


"Aku minta maaf, aku tak berniat mengatakannya...."


"Sudahlah, jangan pikirkan perkataan Liownel."

__ADS_1


Silveen pun mengambil alih tubuhnya lagi.


__ADS_2