
Part sebelumnya :
Tampaknya aku mulai bermimpi buruk di hari pertama aku tinggal di perkebunan ini. Aku kemudian berniat untuk kembali meneruskan tidur dan membaca doa agar terhindar dari mimpi buruk selanjutnya. Namun dibalik itu semua aku tidak pernah menyangka, bahwa di luar jendela kamar, kini tengah berdiri seorang perempuan yang sebelumnya telah masuk ke dalam mimpiku.
***
Aku membuka mataku tepat ketika waktu menjelang subuh, suara alarm membangunkan aku dari tidurku yang tak terlalu begitu nyenyak akibat dari mimpi semalam. Aku segera mengambil wudhu dan bergegas untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim, setelah semuanya selesai aku bersih-bersih menenggak beberapa gelas air putih dan mulai menyiapkan beberapa keperluanku sebelum berangkat kerja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 Wib yang berarti, bahwa waktu masuk kerja akan sebentar lagi tiba. Aku keluar dari kamar paviliun dan berjalan ke arah depan, dimana terlihat Pak Mukhlis dengan pakaian khas seorang security tengah membaca koran dengan ditemani secangkir kopi di meja jaganya.
"Selamat pagi, pak!" sapaku ramah.
Pak Mukhlis menurunkan korannya dan tersenyum ke arahku, "Selamat pagi juga, pak! Pak Tono kebetulan sudah ada di depan untuk mengantar bapak menuju kantor!" terang Pak Mukhlis kepadaku.
"Terima kasih atas infonya, Pak!"
Aku segera berjalan menuju ke arah mobil berjenis van warna hitam yang terparkir tepat di depan pintu masuk, seketika pintu dibuka dan terlihat Jonathan serta Priska sudah berada di dalam mobil tersebut, "Ayo masuk, Har! Kita berangkat!" ajak Jonathan sembari tersenyum.
"Kamu lama sekali, anak baru!" sungut Priska kesal.
"Maaf-maaf, Pris!" jawabku pelan.
"Sudahlah ... namanya juga Hardy masih baru disini, harusnya kita sebagai senior mengingatkannya tentang hal-hal seperti ini!" ujar Jonathan dengan gayanya yang bijak.
Aku mulai berpikir kalau Jonathan benar-benar sosok pria yang dewasa dan menambah penilaian baikku kepada dirinya, sedangkan Priska, aku merasa wanita ini tampaknya tidak terlalu menyukai aku atau memang ia merupakan tipe wanita yang memang pemarah.
Sekitar 15 menit melewati dua pos penjagaan serta pohon-pohon sawit yang menjulang tinggi, akhirnya mobil kami mulai memasuki daerah perkantoran yang ditandakan dengan gapura tinggi bertuliskan selamat datang. Kami bertiga segera turun dari mobil. Aku mengikuti Jonathan dan juga Priska dari arah belakang. Aku dikenalkan ke beberapa orang hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan kosong yang berada di arah tenggara. Jonathan mengatakan, bahwa ruangan ini adalah ruangan khusus untukku selaku legal staff, sedangkan di seberang ruanganku terdapat ruangan Priska, tampaknya mulai ke depan aku akan sering melihat wajah Priska dari meja ini.
Pekerjaanku di hari pertama masih seputar mambaca-baca dokumen, perjanjian dan juga studi kasus mengenai beberapa permasalahan yang akan menjadi urusanku ke depan, dimana terdapat beberapa warga yang melakukan tindak pidana pencurian buah sawit di sekitaran perkebunan, saat sedang asik menganalisis beberapa dokumen tiba-tiba aku mencium bau yang aneh.
__ADS_1
"Bau bunga melati?"aku tak sadar berucap seperti itu dan tiba-tiba pintu ruangan ini yang semula tertutup tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
"Hmm ... apa karena angin ya?"aku segera bangkit dari tempat dudukku dan berniat untuk menutup kembali pintu yang terbuka tersebut. Aku segera menutup pintu dan berbalik ke belakang berniat untuk kembali ke tempat dudukku, hal aneh kembali terjadi tiba-tiba pintu itu terbuka lagi dengan sendirinya seperti ada angin yang cukup kencang menabrak pintu kaca tersebut.
"Hmm ... angin ini menyebalkan juga!"aku mengambil tong sampah dan berniat untuk mengganjal pintu tersebut agar tidak terdorong oleh angin untuk sekian kalinya.
Aku berbalik dan kemudian aku tanpa sadar merasakan bulu kudukku meremang dan lampu ruangan kantorku tiba-tiba mati dengan sendirinya.
"Sial!" umpatku kesal.
"Har? Kamu di dalam?" terdengar pintu ruanganku dibuka dan suara yang menyapaku barusan adalah Jonathan.
"Oh iya ... aku disini!" balasku cepat.
"Tampaknya lampu ruanganmu konslet, Har! Haha ... sudah keluar saja dulu, sampai dibenarkan oleh petugas! Lagian kamu belum makan siang, bukan?"tanya Jonathan.
"Iya ... lagipula memang sebentar lagi waktunya makan siang!" balasku cepat.
Aku dan Jonathan beranjak keluar dari ruangan kerjaku yang lampunya mendadak mati barusan, tanpa sadar aku tampaknya tidak merasakan mengenai hal ganjil yang terjadi silih berganti dan ada sosok bayangan hitam dengan mata merah kini tengah duduk tepat di bangku kerjaku saat ini dan tiba-tiba lampu ruangan kerjaku kembali hidup seperti sedia kala dan sosok hitam dengan bola mata merah itu seolah sirna dari pandangan mata.
Kini aku dan Jonathan tengah berada di pantry. Jonathan tengah sibuk menikmati makanannya, hingga kemudian tidak lama Priska datang menghampiri kami berdua, "Hmm ... kalian sudah makan saja!"ejek Priska.
"Yoo ... Pris! Ayo makan bareng!" ajak Jonathan dengan ramah seperti biasanya.
"Oke ... tunggu sebentar!" Priska mengambil beberapa makanan dan kemudian duduk di sebelahku.
"Bagaimana hari pertamamu?" tanya Priska sembari menyodorkan sendok ke dalam mulutnya sendiri.
"Hmm ... lumayan lancar! Walau tadi tiba-tiba lampu ruangan kerjaku mati sendiri!"balasku terus terang.
__ADS_1
"Oh, mungkin konslet!"balas Priska.
"Iya ... tampaknya lampunya rusak karena lama tidak diganti! Tapi tenang, aku sudah menugaskan OB untuk mengganti lampu tersebut."sahut Jonathan yang kini tengah asik menikmati minumannya.
Sekitar 30 menit kemudian, kami bertiga segera kembali ke ruangan masing-masing. Jonathan tampaknya pergi ke luar kantor untuk mengurusi beberapa berkas di Badan Pertanahan Nasional (BPN). Priska sedang sibuk dengan menterjemahkan kontrak dua bahasa yang menjadi deadline beberapa hari ke depan dan aku kembali ke ruanganku untuk mempelajari beberapa kasus yang menjadi tugasku.
Aku membuka pintu ruanganku dan benar-benar terkejut dengan apa yang kudapati di salah satu sudut ruangan kerjaku, "Apa ini?"gumamku penasaran. Aku melihat segelas kopi hitam, rokok lisong, beberapa bunga yang ditata sedemikian rupa dan terakhir sebuah mangkok berisikan arang yang berbau aneh.
"Sial ... apa ini sesajen?"selorohku seolah tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Kenapa bisa ada sesajen di ruangan kerja seperti ini? Siapa yang berbuat seperti ini?" gumamku penasaran.
Aku tidak sadar ketika ada seseorang yang berdiri di belakangku, tangannya perlahan mengarah ke tubuhku dan memegang pundakku hingga membuat aku terkejut, "Astaga!"ujarku reflek. Aku segera menoleh ke belakang dan mendapati Priska berdiri di hadapanku saat ini.
"Kamu kenapa, Har?" tanyanya tak kalah penasaran.
"Oh ... aku penasaran kenapa ada benda seperti ini di dalam ruangan kerjaku? Sebelumnya hal ini tidak ada, apakah OB yang mengganti lampu ruangan ini yang menaruhnya?"ujarku terus terang.
"Oh ... benda-benda mirip sesajen itu memang sudah menjadi kebiasaan di tempat ini! Aku juga punya di ruanganku!" ujar Priska seolah mengatakan, bahwa hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi.
"Tapi ... ini kan sesajen? Untuk apa? Bukannya malah akan memanggil makhluk-makhluk gaib!"protesku.
"Entahlah, lagipula di setiap sudut kantor, hal ini sudah pasti ada, awalnya aku juga seperti dirimu, namun karena sudah terbiasa aku tidak mau ambil pusing cuma karena hal ini!"balas Priska sembari mengangkat bahunya.
Aku hanya terdiam mendengarkan perkataan Priska barusan dan mencoba mencerna hal-hal aneh yang terjadi saat ini.
"Baiklah kalau seperti itu, aku pikir kenapa kamu berjongkok dan mengamati sesajen itu terlalu lama. Aku hanya takut kalau kamu kesurupan!"timpal Priska sembari kemudian ngeloyor pergi meninggalkan ruangan kerjaku.
"Aneh, sesajen seperti ini dijadikan budaya di tempat seperti ini!" aku beranjak dari tempatku berdiri dan membuang satu persatu sesajen ini ke dalam tong sampah ruang kerjaku.
__ADS_1
#Bersambung