WADAL (Aku Butuh Tumbal Anak Manusia)

WADAL (Aku Butuh Tumbal Anak Manusia)
Part 4 Pesan Pak Jarwo


__ADS_3

Part sebelumnya :


Sosok hitam tinggi besar, berbulu, memiliki bola mata merah dan terakhir adalah taring yang mencuat ke atas bagaikan seekor **** rusa, hanya tersenyum penuh arti ke arah pria tersebut dan kemudian menghilang menjadi kepulan asap, hanya menyisakan tubuh OB pria yang masih pingsan di atas lantai.


***


Suara alarm berdering nyaring sebagai pertanda adzan subuh akan segera datang dari handphoneku yang tergeletak tepat di sebelahku. Aku beringust membuka mataku dan kemudian mematikan alarm tersebut, selanjutnya turun dari atas kasur dan berjalan ke kamar mandi, rasanya udara pagi ini terasa begitu dingin dan hujan gerimis tampaknya mengawali waktu subuhku.


Setelah semuanya selesai, aku duduk di tepian kasur, kembali membuka dokumen-dokumen yang telah kubaca sebelumnya, menyiapkan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk pergi ke lapangan dan juga tidak lupa meminum segelas air putih untuk menghilangkan dahagaku pagi ini. Beberapa saat kemudian handphoneku menerima pesan singkat dari Priska, ia memberitahukan aku untuk segera bersiap pada pukul 8 pagi nanti, hal ini dikarenakan Jonathan sedang bertugas ke luar kota dan hanya tersisa Priska yang akan menemaniku ke lapangan pagi nanti. Ia tidak ingin aku telat, dan memberitahkan bahwa ia cukup benci dengan orang yang suka terlambat.


Aku hanya mengaruk kepalaku, tampaknya anak ini sedikit membenciku. Namun mau bagaimana lagi, itu memang sudah kesalahanku dan harus diperbaiki. Oleh karena itu, aku segera menyiapkan keperluan yang dibutuhkan dan menunggu waktu yang telah kami sepakati bersama Priska.


Waktu dengan cepat berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Aku segera keluar dari kamar dan menuju ke ruang tunggu. Aku melihat-lihat sekitar dan duduk di salah satu sofa ruang tunggu. Pak Tono yang merupakan salah satu security di tempat ini terlihat berlalu dengan cepat tepat di depan mataku, tampaknya sedang ada masalah, terlihat dari raut wajahnya yang sedikit tegang.


Aku masih melanjutkan membaca koran yang ada di hadapanku, tanpa perlu mengusik lebih jauh mengenai menggapa salah satu security tempat ini pergi dengan tergopoh-gopoh seperti itu. Tidak lama, terdengan suara Priska dari arah belakang, "Hmm ... tumben kamu tepat waktu, Har!"ujarnya pelan dengan nada mengejek.


"Haha!Itu karena aku tidak mau membuat kamu menunggu lagi!" balasku sembari tertawa.


"Mobil sudah siap?" tanya Priska ke salah satu security yang ada di lobby, tanpa memperdulikan ucapanku yang sebenarnya.


'Sialan, wanita ini!' umpatku dalam hati ketika melihat tingkahnya yang seperti itu.


Mobil jemputan ternyata sudah ada di depan, aku dan Priska segera berjalan ke mobil tersebut dan bersiap untuk pergi, agenda kami hari ini adalah mengecek lokasi di mana terjadinya Tindak Pidana Pencurian yang dilakukan oleh beberapa warga desa dengan menggunakan mobil, tampaknya mereka dengan sengaja mengambil beberapa buah sawit dari pohon yang berada di pinggiran kebun.


Priska seperti biasa tidak terlalu memperdulikan aku. Ia sibuk dengan handphonenya saja. Aku yang merasa kalau tingkahnya itu tidak penting, juga mulai menyibukkan diriku dengan yang lain. Aku memakai headphone wirelessku dan menyalakan mp3 yang aku punya sembari menunggu sampai di tempat tujuan. Ternyata Tempat Kejadian Perkara masalah itu cukup jauh juga dari mess, sekiar 30 menit menaiki mobil barulah kami sampai di tempat yang dimaksud.


Aku dan Priska segera turun, beberapa Polisi terlihat sedang sibuk berlalu lalang di sekitaran kebun, Police Line juga sudah terpasang dan beberapa barang bukti telah diamankan. Priska dengan cekatan mulai bertanya kepada para Polisi tersebut dan mendapatkan data yang diperlukan untuk dilaporkan kepada pihak Perusahaan, sedangkan aku hanya mengikutinya dari belakang dan mencatat beberapa hal yang perlu untuk dilaporkan, tidak lebih hari ini aku menjadi assisten Priska saja.


Sekitar 30 menit kemudian sebuah hard top milik perusahaan yang berwarna hitam sampai di lokasi. Aku sedikit melirik dan penasaran mengenai siapa yang akan turun dari mobil tersebut. Pria yang turun dari mobil hard top bersama dengan salah seorang pria berkulit hitam dengan tubuh tinggi tegap itu tersenyum kepadaku. Aku sudah mengenali beliau sebelumnya, pria berkulit putih dengan rambut cepak berusia sekitar 50 tahunan ini adalah Pak Bakrie yang tidak lain adalah bos-ku di tempat kerja sebelumnya. Ia adalah seorang Lawyer yang cukup terkenal di kota ini. Ia dikenal karena kepintarannya dalam menyelesaikan perkara serta merupakan salah satu Lawyer yang memang terbiasa mengurusi beberapa BUMN terkenal di kota ini.

__ADS_1


Beliau tersenyum kepadaku dan mengajakku bersalaman, "Oh kamu, Dy! Hari pertama terjun ke lapangan?" sapa beliau kepadaku.


Aku hanya menggangguk dan membalas salamannya tersebut dengan rasa penuh hormat, "Iya, pak! Aku dan Priska ditugaskan perusahaan untuk meninjau lokasi ini!"balasku cepat.


"Oh seperti itu, oh iya ... perkenalkan ini Pak Bahar! Ia adalah ketua pengamanan tempat ini dan merupakan orang yang telah melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Kalau memang ada yang perlu ditanyakan, silahkan kepada beliau saja!" ujar Pak Bakrie.


"Perkenalkan nama saya Hardy, Pak!"ujarku sembari menjulurkan tangan kepadanya.


"Oh iya ... saya Bahar! Senang berkenalan dengan anda, Mas Hardy!" balasnya sembari tersenyum.


"Kalau begitu, aku menemui Priska dulu ada beberapa hal perlu disampaikan kepadanya!"timpal Pak Bakrie dan kemudian berjalan ke arah Priska.


"Sudah berapa lama bergabung di perusahaan ini, mas?" tanya Pak Bahar kepadaku.


"Kurang lebih belum sampai satu minggu, Pak Bahar! Saya orang baru disini, mohon bimbingannya!" balasku sopan.


"Apa maksud bapak?" tanyaku penasaran dan dengan cepat menghadap kepadanya.


"Haha ... nanti juga kamu tau sendiri, mas!"


Aku hanya diam dan berpikir mengenai apa yang barusan dibicarakan oleh Pak Bahar.


Priska dan Pak Bakrie terlihat sedang bercakap-cakap. Pak Bakrie merupakan Lawyer perusahaan ini dan kami adalah staff hukum perusahaan yang nantinya akan berkerja sama mengenai lancarnya perkara yang tengah terjadi, hal ini sudah biasa terjadi di dalam sebuah perusahaan.


Priska kemudian berjalan ke arahku dan berkata, "Ayo kita kembali ke kantor, urusan disini sudah selesai, sisanya biar Pak Bakrie yang urus dengan pihak kepolisian!"


"Oke!"jawabku singkat dan segera masuk ke dalam mobil.


Mobil kami pun berlalu untuk segera kembali ke kantor. Aku masih termenung, memikirkan apa yang barusan dibicarakan oleh Pak Bahar. Aku mulai memutar otak, apakah ada kaitannya antara ucapan Pak Bahar dan juga adanya sesajen di ruangan kerjaku? Apakah memang hal itu harus kuanggap wajar terjadi di tempat ini? Apakah tempat ini berhantu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu benar-benar mengelayuti otakku, hingga tanpa sadar sebuah tepukan mendarat di pundakku.

__ADS_1


"Hei! Apa yang kamu lamunkan, Har?" tanya Priska dengan raut muka heran.


"Hmm ... kalau boleh aku bertanya, sudah berapa lama kamu berkerja di perusahaan ini, Pris?


"Oh, aku berkerja di perusahaan ini baru sekitar setengah tahun lamanya, memangnya kenapa?"balas Priska sembari tersenyum.


"Tidak apa-apa, sih! Cuma ... aku agak sediki aneh dengan adanya sesajen di ruang kerjaku."balasku cepat.


"Memangnya kenapa? Kamu merasa aneh dengan hal itu?"tanya Priska sekali lagi.


"Iya rasanya sangat aneh, sebuah perusahaan sebesar ini memasang sesajen di ruang kerja. Memangnya untuk apa?"


Belum sempat Priska menjawab pertanyaanku tersebut, Pak Jarwo yang merupakan supir antar jemput kami ini berkata kepadaku, "Memang bagi orang baru hal-hal seperti itu akan terasa aneh, Pak! Tapi semua itu ada alasannya!"timpalnya sembari tersenyum yang terlihat dari kaca spion.


"Alasan apa yang bapak maksud?" tanyaku kian penasaran.


"Sebenarnya saya tidak pantas untuk berbicara seperti ini kepada, bapak! Tapi menurut saya hal ini harus diberitahukan agar kiranya tidak ada hal yang buruk terjadi di kemudian hari!" ujar Pak Jarwo masih dengan bahasa yang tampaknya menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya.


"Bicara saja pak, agar kami lebih jelas mengenai tempat ini!"tambah Priska, tampaknya ia juga belum sepenuhnya mengerti mengenai perusahaan ini.


"Ya ... sebenarnya hal ini terjadi ratusan tahun yang lalu dan sudah menjadi legenda di masyarakat desa ini. Ratusan tahun yang lalu yang mana belum banyak penduduk seperti sekarang, terdapat sebuah desa yang bisa dibilang cukup makmur mulai dari hasil bumi dan juga hasil sungai, namun sebelumnya daerah di desa itu sebenarnya adalah daerah yang tandus dan sungai yang dipenuhi dengan buaya. Tapi hanya dalam jangka waktu satu tahun saja keadaan di sekitar desa itu menjadi berubah. Menurut kesaksian beberapa ketua adat di desa tersebut, sang Kepala Desa yang juga merupakan pemangku adat di desa tersebut sudah bersekutu dengan setan. Ia menyembah dua Iblis sekaligus yang menguasai tempat ini yang pertama ia menyembah Ratu Siluman Ular Hijau yang bermukim di salah satu gunung di dekat tempat ini dan yang kedua adalah ia juga menyembah Pangeran Buaya Putih yang mendiami sekitaran sungai, hal ini terbukti dengan selalu adanya sesajen dan juga pengorbanan berupa hewan ternak baik di hutan ataupun di pinggiran sungai. Oleh karena itu, sebenarnya area perkebunan tempat kita berpijak ini masih dikuasai oleh dua kekuatan gaib yang barusan saya bilang." terang Pak Jarwo panjang lebar.


"Ah ... bapak hanya membual!"oceh Priska yang seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dibicarakan oleh Pak Jarwo.


"Itu terserah, Ibu! Mau percaya ataupun tidak! Saya hanya menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Pak Hardy barusan, tidak ada niat saya untuk menakut-nakuti bapak dan ibu sekalian." balas Pak Jarwo dan kemudian terlihat ia hanya diam dan mulai fokus kembali berkendara.


Aku hanya terdiam dan terhenyak sembari memikirkan apa yang barusan dibicarakan oleh Pak Jarwo rasanya akan sangat wajar ada banyaknya sesajen di tempat ini kalau memang hal seperti itu memang pernah terjadi dan dipercayai secara turun-temurun. Tapi ... apa yang akan terjadi, bukankah aku kemarin baru saja membuang sesajen itu ke tempat sampah?


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2