
Part sebelumnya :
Aku hanya terdiam dan terhenyak sembari memikirkan apa yang barusan dibicarakan oleh Pak Jarwo rasanya akan sangat wajar ada banyaknya sesajen di tempat ini kalau memang hal seperti itu memang pernah terjadi dan dipercayai secara turun-temurun. Tapi ... apa yang akan terjadi, bukankah aku kemarin baru saja membuang sesajen itu ke tempat sampah?
***
Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan dari Tempat Kejadian Perkara (TKP)sebelumnya akhirnya kami sampai kembali di kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 Wib. Aku turun bersama Priska menuju ke ruangan masing-masing. Aku segera meletakkan tasku di meja kerja dan merapikan beberapa dokumen yang sebelumnya aku bawa ke tempat seharusnya, mataku melirik ke salah satu sudut ruangan dimana terpasang sesajen seperti apa yang aku lihat tempo hari.
"Hmm ... masih saja ada sesajen di ruangan ini!" keluhku sembari menghela nafas panjang.
Tidak lama waktu berselang, seorang Office Boy masuk ke ruanganku.
"Selamat siang, Pak Hardy! Saya Budi Handoko, OB baru di kantor ini menggantikan OB yang sebelumnya!" terang pria muda yang berumur sekitaran 20 tahunan ini kepadaku.
Aku dengan tersenyum membalas ucapannya barusan, "Oh iya ... salam kenal Mas Budi! Kalau ada apa-apa tolong dibantu ya!" pesanku kepadanya.
"Iya sama-sama, Pak! Kalau ada yang bisa dibantu bisa langsung ke saya!"balasnya ramah.
"Oh iya ... tolong fotocopy beberapa berkas ini satu kali saja, ya mas!" pintaku kepadanya sembari memberikan beberapa dokumen yang memang perlu dicopy.
__ADS_1
"Baik, Pak!"ujarnya cepat.
Aku kembali melanjutkan membaca beberapa dokumen yang masih ada di depan mataku, sedangkan tidak lama Priska mengetuk pintu ruangan kerjaku.
"Hey, Har! Ayo makan!"ajak Priska kepadaku.
"Oke tunggu sebentar!"aku segera merapikan dokumen yang kulihat sebelumnya dan menyepakati ajakan Priska barusan, karena sejujurnya memang aku sudah lapar dari tadi.
Kami berdua berjalan ke kantin kantor dan memesan makanan yang sudah disediakan. Aku dan Priska makan dengan lahap, tidak banyak percakapan yang kami lontarkan masing-masing, bisa diajak oleh wanita canggung, sinis nan dingin seperti Priska ini sebenarnya adalah keberuntunganku saja. Aku tahu benar, kalau Priska kesepian karena Jonathan pergi ke luar kota dan kemudian mengajakku untuk makan bareng karena tidak ada teman lain saja, padahal sebenarnya banyak sekali baik pria ataupun wanita dari Divisi lain yang tampaknya mencoba akrab kepada Priska, namun sayangnya wanita angkuh ini seolah tidak mempedulikan ajakan tersebut dan terkesan menjaga jarak.
Setelah acara makan bersama itu usai, kami berdua kembali ke ruangan masing-masing menyelesaikan beberapa Surat Perjanjian dan juga Kontrak pekerjaan yang sudah menjadi tugasku. Sejujurnya hal ini melelahkan, namun bagaimana lagi ini semua sudah menjadi tanggung jawabku dan harus diselesaikan sebagaimana mestinya.
Aku mengucek-ngucek mataku, seolah tidak percaya dengan apa yang aku lihat barusan, "Apa itu?" ujarku singkat. Aku masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Kepulan asap putih itu tiba-tiba membentuk sebuah rupa. Aku yang tidak sadar dengan apa yang aku lihat perlahan bangkit dari tempat dudukku dan mendekati kepulan asap hitam itu. Aku tidak memperhatikan sekitarku saat ini, padahal sebenarnya semua lampu telah padam dan hanya tersisa lampu ruangan kerjaku saja yang menyala dengan terang.
'Apa makhluk ini'pikirku dalam hati.
Kepulan asap putih yang membentuk sebuah rupa itu dengan cepat memadat dan menjadi sesosok bertubuh hitam, besar dan berbulu, disusul dengan bau seperti ubi yang dibakar tercium oleh hidungku yang memang sensitif akan bebauan.
__ADS_1
"Genderuwo?"ujarku pelan, batinku bergejolak setelah meliha penampakan makhluk gaib yang ada di depan mataku saat ini. Aku sadar benar kalau makhluk yang ada di depanku saat ini adalah Genderuwo. Apa yang makin membuatku yakin adalah terdapat sebuah cakar yang panjang menjuntai lurus ke tanah kira-kira sekitar 30 cm panjangnya pada saat itu dan juga sepasang bola mata wang berwarna merah bagaikan laser tengah menatap kearahku dengan tatapan yang tidak senang.
"Kau!!!"ujarnya dengan suara yang parau.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini? Pergi!!"bentakku mencoba memberanikan diri. Aku masih mengingat pesan kakek, ketika menghadapi makhluk seperti ini janganlah merasa takut, dikarenakan makhluk-makhluk seperti ini gemar dengan ketakutan yang dipancarkan oleh manusia dan itu menjadi kekuatan mereka.
"Aku tidak senang dengan ulahmu, manusia! Kau harus mendapatkan balasan yang setimpal!"ujarnya kepadaku dengan nada marah.
"Aku merasa tidak melakukan apa-apa, kepadamu?"bantahku mencoba membela diri.
"Kau sudah membuang sesajenku beberapa waktu yang lalu! OB malang itu sudah mendapatkan balasan yang setimpal dan sekarang giliranmu untuk menerima ganjaran!"balasnya sengit dan kemudian bergerak ke arahku.
Aku yang benar-benar merasa takut akan hal ini hanya bisa membaca doa di dalam hati, mulutku komat-kamit membaca semua ayat suci Al-Qur'an yang aku bisa. Tidak ada tanda-tanda makhluk ini akan menjauh dariku, namun sesaat sebelum cakar yang panjang itu bisa melukai wajahku, terdengar sebuah teriakan dari arah sang Genderuwo.
"Argh!! Panas! Awas kau manusia! Kau harus mati di tanganku!"umpat Genderuwo itu yang kemudian menghilang tanpa bekas.
Kedua kakiku terasa lemas dan aku hanya bisa duduk di lantai. Keadaan sekitarku kembali normal seperti sedia kala dan matahari sudah kembali bersinar dengan terang. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi barusan, tampaknya aku harus menelepon Pamanku yang sedikit mengerti mengenai hal seperti ini.
#Bersambung
__ADS_1