
Kristanto segera bergegas meninggalkan kediaman Ki Sugoro yang berada jauh di tengah hutan larangan, tempat itu dinamakan hutan larangan karena dianggap sebagai tempat yang angker serta penuh nuansa mistis.
Kristanto berjalan goyah melewati lembah bukit, beberapa pematang sawah serta aliran air sungai terpaksa ia lewati dengan langkah gontai, isi kepalanya kini hanya penuh dengan kata-kata "Wadal-Wadal dan Wadal".
Kristanto benar-benar kesal dengan amanat dan beban yang diberikan secara turun-temurun kepada dirinya saat ini. Bukan merupakan rahasia umum lagi jikalau Kristanto menjabat sebagai Kepala Desa di tempat ini dikarenakan warisan dari orangtuanya.
"*******!!! Apa yang harus aku lakukan saat ini!" umpat Kristanto dengan raut muka kesal.
Ia masih tidak menyangka jikalau pemberian sesajen saja tidak cukup untuk memuaskan hasrat dan dahaga makhluk penunggu hutan larangan itu. Makhluk-makhluk di tempat itu tampaknya tidak memberikan segala sesuatunya sebagai hal yang cuma-cuma, bahwa akan ada selalu yang akan ditawarkan sebagai upah dari sebuah pencapaian.
Desa ini semenjak dipimpin oleh Kristanto sebagai Kepala Desanya memang banyak berubah. Kristanto selalu memenuhi apa saja yang disarankan oleh Ki Sugoro, walau sebenarnya ia sama sekali belum pernah berjumpa dengan sang Ratu.
Kristanto kembali mengingat-ingat kapan terakhir kali tumbal darah ini diberikan. Hal yang ia ingat pertama kali ialah hilangnya salah satu warga desa yang sebenarnya wanita bernama Suci itu telah diculik dan dijadikan persembahan kepada sang Ratu oleh Ki Sugoro dan beberapa orang suruhan dari luar daerah yang didanai oleh Kristanto sendiri.
__ADS_1
Selayaknya Kepala Desa yang amanah dan terpercaya Kristanto memakai topeng seolah menjadi pahlawan. Ia mengerahkan seluruh pemuda kampung untuk mencari keberadaan Suci. Namun sampai saat ini sudah 3 bulan lamanya pasca kejadian tersebut mayat Suci tidak pernah ditemukan.
Kristanto adalah orang yang paling tahu dan mengerti kalau Suci sekarang ini sudah mati dan mayatnya tertanam rapi di salah satu sudut hutan larangan tempat dimana kerajaan gaib sang Ratu berada. Imbalan yang diterima oleh Kristanto dan para warga desa adalah hasil panen dari setiap warga yang melonjak drastis. Kelapa, Padi, Kopi dan juga Getah Karet benar-benar melimpah hingga membuat perekonomian di desa tersebut kembali hidup. Namun sayangnya, hanya sebagian orang yang mengetahui , bahwa selalu ada harga yang dibalas setimpal terhadap semua keinginan yang dikabulkan oleh Setan.
Kristanto akhirnya sampai di depan rumahnya. Ia segera masuk dan terduduk lesu di kursi santai yang ada di ruang tamu. Lasmi yang merupakan istrinya kemudian keluar dari dalam kamar dan bertanya kepada Kristanto.
"Akang kenapa lesu begitu? Akang sakit? atau ada masalah?" tanya Lasmi dengan raut muka khawatir.
"Ini masalah gawat, Dek!" balas Kris dengan raut muka panik.
"Ya ... lalu?" balasnya cepat.
"Ratu kembali meminta tumbal, Dek!" ujar Kris pelan.
__ADS_1
"Bukannya seharusnya masih ada 4 tahun setengah lagi barulah siklus tumbal itu harus segera dipenuhi seperti pesan mendiang ayah?" tanya Lasmi dengan raut muka terkejut.
"Ki Sugoro tidak mau menjelaskan hal tersebut kepadaku. Malah ia marah dan mengancamku kalau hal buruk akan terjadi di desa ini kalau tumbal tersebut tidak segera dipenuhi. Aku binggung, dek! Binggung!!!" ujar Kris lirih.
"Kalau begitu kita harus segera mencari tumbal darah yang diminta oleh Ratu, Akang! Aku takut kalau itu tidak dipenuhi malah nyawa kita yang akan terancam!" balas Lasmi sembari bergidik ngeri.
"Itu juga hal yang paling aku takutkan! Aku tentu tidak ingin kehilangan kau ataupun anak kita Dinda!"
"Lalu siapa yang akan kita jadikan tumbal Akang?" tanya Lasmi penasaran.
"Aku mungkin akan berkeliling desa untuk mencari orang yang pantas untuk dijadikan tumbal darah untuk sang Ratu."
"Tentu, Akang! Lebih cepat lebih baik malam bulan purnama sudah tidak lama lagi!"
__ADS_1
Kristanto pun terdiam beberapa saat sembari memutar otak memenuhi apa yang diminta oleh Ki Sugoro dan sang Ratu.
#Bersambung