
Part sebelumnya :
Kedua kakiku terasa lemas dan aku hanya bisa duduk di lantai. Keadaan sekitarku kembali normal seperti sedia kala dan matahari sudah kembali bersinar dengan terang. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi barusan, tampaknya aku harus menelepon Pamanku yang sedikit mengerti mengenai hal seperti ini.
***
Matahari masih bersinar dengan terang di luar sana, hal ini ditandakan dengan sinarnya yang perlahan-lahan menembus jendela ruang kerjaku. Aku masih terduduk lesu di depan meja kerjaku, sembari mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi denganku. Aku masih mengingat semua detail yang aku lihat dan rasakan barusan.
'Apakah aku melihat hantu'batinku berbicara.
Semua yang kulihat seolah nyata. Namun akan terasa lucu, jika kujelaskan dengan orang lain yang ada di kantor ini. Tentunya aku tidak ingin menjadi bahan lelucon oleh mereka semua mengenai apa yang terjadi denganku barusan. Namun apa maksudnya semua itu? Apakah sebuah pertanda? Ancaman? Atau hanya sebagai pembuktian, bahwa makhluk itu tanpa sadar ada di sekelilingku selama ini?
Setelah sekian lama berkutat dengan pemikiran seperti itu. Tiba-tiba aku tersadar dengan terdengarnya suara ketukan dari pintu ruang kerjaku.
'Tok ... tok ....'suara itu cukup keras disusul dengan suara seorang perempuan yang kemudian perlahan membuka pintu ruang kerjaku.
"Har ... Surat Perjanjian untuk CV. Wira Bumi sudah selesai?"tanya Priska kepadaku.
Aku yang cukup terkejut dengan kedatangan Priska segera mengecek perkerjaanku sebelumnya, rasanya aku sudah menyelesaikan perkerjaanku tersebut, namun karena masih merasa binggung aku melupakan hal tersebut dan malah berkata sebaliknya.
"Hmm ... tampaknya belum selesai, Pris! Secepatnya aku selesaikan nanti detailnya aku kirim ke kamu!"ujarku dengan raut muka yang datar.
"Oh ... oke! Ngomong-ngomong kamu gpp? Wajahmu terlihat pucat, Har!"seloroh Priska dengan raut muka khawatir.
"Oh ini ... tidak apa-apa kok, Pris! Kebetulan aku hanya tidak enak badan saja!"balasku sembari mencoba menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah kalau seperti itu. Jaga kesehatan, Har! Kerjaan kita masih banyak!"pesan Priska kepadaku.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti dan Priska perlahan-lahan meninggalkan ruang kerjaku saat itu juga. Aku segera mengambil handphoneku dan mencoba untuk mengirim pesan Whatsapp kepada Jonathan.
'Jo ... Surat Perjanjian CV. Wira Bumi sudah hampir selesai, mungkin 30 menit lagi akan aku kirim semuanya ke email, tolong dicek ya kalau masih ada yang salah!'dan pesanpun terkirim.
Setelah menunggu sekitar 1 menit pesan tersebut dibalas oleh Jonathan, 'Oke har sip.'rasanya saat ini aku bersyukur memiliki rekan kerja yang santai dan humble seperti Priska dan Jonathan.
__ADS_1
Aku kembali teringat untuk membicarakan apa yang terjadi denganku barusan kepada Paman Yusuf yang tidak lain adalah seorang Ustadz yang cukup terpandang di kampungku saat ini. Rasa penasaran di otakku membuncah dan haus akan penjelasan yang kiranya dapat diterima oleh akal sehat. Aku segera mengambil kembali handphoneku dan mencari-cari nomor telepon Paman Yusuf, setelah mencari beberapa waktu aku segera menekan tombol telepon dan menunggu agar telepon itu diangkat.
Tidak lama waktu berselang, teleponku pun diangkat oleh Paman Yusuf dan terdengar suaranya yang khas dari seberang sana, "Assallamualaikum, Paman!"ujarku sopan.
"Waalaikum salam, Hardy! Sudah lama kamu tidak menelpon Paman ada apa rupanya?"tanyanya kepadaku. Ia paham benar dengan keponakannya ini menggapa harus rela menelpon segala disaat seperti ini. Karena sesungguhnya aku memang lebih suka bertemu langsung dengan keluargaku daripada hanya sekedar menelepon menanyakan kabar.
"Aku mengalami banyak kejadian aneh akhir-akhir ini, Paman!"ujarku terus terang.
"Gangguan jin?"ujar Paman Yusuf seolah mengetahui apa yang sedang aku alami saat ini.
"Kira-kira seperti itu, Paman!"
"Ibadahmu bagaimana? Rajin? Atau sering kamu tinggalkan! Berhenti berbuat maksiat dan dekatkan dirimu kepada Tuhan. Jangan hanya fokus pada perkerjaan dan hal-hal duniawi saja, ada kehidupan lain setelah mati!"pesan Paman Yusuf, memang perkataanya terkesan menghakimi, namun bagaimana lagi aku sendiri cukup membenarkan apa yang ia katakan barusan. Aku terkadang lalai dengan ibadahku dan juga terlalu sibuk dengan perkerjaanku selama ini.
"Iya ... Paman! Aku mengakui hal-hal tersebut!"
"Hmm ... padahal Paman sudah sering bilang kalau Jin itu akan takut dan sungkan ketika berhadapan dengan orang yang hatinya bersih dan gemar mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun apabila kamu sudah terlalu sering berdekatan dengan hal-hal yang menjerumuskan maka Jin juga tidak akan sungkan untuk menampakkan wujudnya kepadamu. Lalu memangnya apa yang terjadi hingga membuatmu sampai meminta saran kepada Paman seperti ini?"selidik Paman Yusuf kepadaku.
"Aku disini akan memberimu saran selaku salah satu kerabatmu. Aku juga khawatir dengan Kak Endang yang tidak lain adalah Ibumu dan juga kakak kandungku jika mendengar kabar tidak baik yang diderita anaknya."
"Iya ... Paman! Aku siap mendengarkan semua nasihat, Paman!"ujarku pelan.
"Aku sebenarnya memang tidak terlalu setuju, jika kau harus berkerja di Perusahaan tempatmu berkerja sekarang ini. Selain memang aktifitas-aktifitas perdukunan masih merebak di daerah tersebut, masyarakatnya juga masih jauh dari dibilang sebagai orang-orang yang beragama. Aku harap kamu bisa lebih berhati-hati dalam setiap tindakan, jangan sembrono dan juga takabur, bersikaplah rendah diri dan rendah hati kepada siapapun tanpa harus menyakiti perasaan siapa saja. Terutama dalam kasusmu ini sebenarnya tindakanmu sudah benar, membuang sesajen itu dan menjauhkan dirimu dari hal kemudharatan, tapi seperti itulah hal itu juga menjadi dua sisi mata pedang yang harus dihadapi, tampaknya Jin yang terbiasa dengan sesajen itu merasa kegiatannya diusik olehmu dan syukurnya sampai sekarang kamu dapat membentengi dirimu dengan ayat-ayat Tuhan."
"Iya Paman. Aku selalu mengingat pesan kakek dan juga paman sampai saat ini."
"Jangan pernah lupa berdoa kemanapun kamu pergi! Ingat itu baik-baik. Jika merasa bulu kudukmu merinding ataupun merasa takut yang tiba-tiba berdzikirlah dan mengingat Tuhan. Insya allah hal buruk tidak akan terjadi."
"Baik ... terimakasih banyak paman atau petuahnya!"
"Ya sudah ... jaga dirimu baik-baik. Ingat jangan tinggalkan shalat, membaca doa, mengaji dan juga perbanyak berdzikir. Insyaallah gangguan gaib itu segera hilang! Aku juga akan membantumu lewat doa dari sini."
"Iya paman! Kalau begitu aku izin undur diri dulu, Paman!"
__ADS_1
"Ya sudah ... Assallamualaikum!"
"Waalaikum salam!"dan kemudian telepon pun mati.
Tidak terasa hampir 25 menit aku mengobrol dengan Paman Yusuf dan aku kemudian mulai teringat dengan janjiku kepada Jonathan untuk segera mengirimkan Surat Perjanjian yang sebelumnya ia minta. Aku segera mengirimkan file tersebut lewat email dan kemudian meminta Jonathan untuk mengecek emailnya apakah filenya sudah diterima atau belum.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore hari. Aku segera bergegas mengemasi beberapa barangku dan bersiap untuk segera pulang ke mess. Besok ternyata adalah hari libur dan kebetulan hari sabtu sudah pasti tidak ada kegiatan kantor. Aku memutuskan untuk membersihkan mess saja selama beberapa hari ke depan rasanya aku perlu menata kamar messku untuk mendapatkan suasana baru.
***
7 Januari
Terdapat sebuah gubuk tua yang berada di dalam hutan. Tempat ini cukup jauh, jika harus ditempuh dengan berjalan kaki dari desa ke hutan tersebut, di tempat ini tinggal seorang kakek tua dengan jenggot yang cukup panjang hingga menyentuh dadanya sendiri, tubuh tuanya terlihat sudah membungkuk dan dia sering kali melipat tangannya kearah belakang sembari berjalan dengan tubuh bongkoknya.
Hari ini tampaknya ia memiliki seorang tamu yang membawakan beberapa ekor ayam hitam legam yang mana seluruh tubuh dari ayam ini berwarna hitam dan sering disebut dengan ayam cemani oleh beberapa orang. Pria disekitaran umur 45 tahun itu kemudian angkat bicara dan berbicara kepada kakek tua tersebut.
"Aku sudah membawakan beberapa barang yang Ki Sogoro pesan!"ujar pria yang belum diketahui namanya ini kepada pria tua tersebut.
"Hmm ... taruh saja disana!"perintahnya sembari menunjuk ke sudut ruangan kamar yang terlihat begitu kentara aura mistisnya tersebut, bagaimana tidak ornamen-ornamen yang digunakan dalam kamar ini benar-benar mengesankan, bahwa orang yang ia temui adalah seorang dukun ilmu hitam, banyak ditemukan hiasan kepala hewan seperti kijang, macan, gajah dan bahkan ada beberapa tengkorak dan juga jenglot yang ditemani dengan sebuah mangkok curuk yang diisi dengan air kembang setaman, beberapa keris pusaka dan juga tidak lupa bau kemenyan yang menusuk hidung.
"Setelah ini aku harus melakukan apalagi, Ki?"tanya pria tersebut kepadanya.
"Tidak lama lagi malam purnama darah akan datang! Kau tentunya tahu, jika sampai saat itu kita belum menemukan apa yang diminta oleh Nyai! Para warga desamulah yang akan menerima akibatnya!"ujar Ki Sugoro dengan nada mengancam.
Pria yang bernama Krisnanto ini hanya terdiam mendengarkan Ki Sugoro berbicara seperti itu. Ki Sugoro sendiri adalah salah seorang dukun sakti yang terkenal di desanya dan sudah dipercaya secara turun temurun selama beberapa ratus tahun terakhir. Bahkan orangtua Krisnanto sendiri mengaku bahwa sudah berhubungan dengan Ki Sugoro semenjak beberapa puluh tahun terakhir. Bisa dibilang Ki Sugoro ini adalah makhluk abadi yang usianya terhenti di batas usia kakek-kakeknya seperti sekarang ini.
"Aku mengerti, Ki! Tapi ...."ujar Krisnanto dengan suara tertahan.
"Tapi apa? Kau mau hal yang lebih parah terjadi? Hanya karena takut memberi sedikit? Ingat Kris! Jangan cuma memikirkan keraguanmu saat ini saja, tapi pikirkan apa akibat yang akan terjadi kalau sampai hal itu tidak terpenuhi!"desak Ki Sugoro.
Kristanto hanya bisa diam seribu bahasa, mulutnya kaku tak bisa bicara banyak apalagi membantah apa yang sudah diperintahkan kepadanya. Dengan berat hati kakinya melangkah kembali ke Desa dengan niatan memenuhi apa yang sudah dipinta oleh Ki Sugoro dengan perasaan cemas yang melanda hatinya.
#Bersambung
__ADS_1