WADAL (Aku Butuh Tumbal Anak Manusia)

WADAL (Aku Butuh Tumbal Anak Manusia)
Part 8 Fase Pencarian


__ADS_3

Matahari sepenggal naik, sinarnya perlahan-lahan masuk menembus celah daun jendela. Kristanto mulai beranjak dari atas tempat tidurnya, tidak didapatinya Lasmi berada di sebelahnya. Ia dengan masih setengah mengantuk kemudian bangkit dan berjalan ke arah dapur. Lasmi tersenyum manis melihat sang suami telah bangun dari tidurnya.


"Abang mau dibuatkan kopi atau kopi susu?" tanya Lasmi dengan raut muka sumringah.


"Hmm ... kopi susu saja, Dinda!" Kristanto segera melanjutkan jalannya dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengambil sikat gigi dan menggosok giginya sembari menatap cermin. Ia sedang sibuk memperhatikan mukanya yang tampak kian menua, umur Kristanto baru 41 tahun dan memiliki satu orang anak perempuan bernama Sari, anaknya sekarang sedang liburan bersama Kakek dan Neneknya.


Setelah dirasa cukup dengan acara menggosok gigi, kemudian ia mulai untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu. Kristanto mengambil segayung air dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air berkali-kali. Acara mandi Kristanto ini sebenarnya sedang diawasi oleh seekor ular sanca yang kini tengah mengawasi gerak-gerik Kristanto.


Kristanto tak pernah sadar dengan apa yang sedang terjadi. Ia masih meneruskan mandinya dan kemudian segera mengambil handuk yang kini tergantung, alangkah terkejutnya Kristanto ketika mengangkat handuk itu dan tiba-tiba kepala ular sanca muncul mengejutkan dirinya yang masih telanjang bulat.


"Arghh!!!" Kristanto berteriak dengan kencang.


Lasmi yang mendengar ada teriakan dari dalam kamar mandi segera menyusul Kristanto. Ia khawatir terjadi hal buruk terhadap suaminya.


Kristanto terkejut dengan kedatangan ular sanca tersebut. Namun yang lebih membuat Kristanto terkejut adalah ular sanca itu berbicara kepada Kristanto, "Segera berikan apa yang diminta oleh Ratu! Atau kalian semua tau apa yang akan terjadi!" setelah mengucapkan hal tersebut ular sanca itu tiba-tiba menghilang, menguap bagai kepulan asap yang disapu oleh angin.


"Apa yang terjadi, bang? Ada apa abang teriak-teriak?" tanya Lasmi khawatir.


"Tidak apa-apa, Dinda! Aku hanya terkejut, ternyata tadi ada ular sanca utusan sang Ratu yang memperingatkan soal Wadal kepadaku!" jelas Kristanto sembari tertunduk.


"Tampaknya kita memang harus secepatnya mencarikan Wadal untuk sang Ratu."


"Iya ... itu juga yang sedang ada dipikiranku, Dinda!"


Kristanto segera meninggalkan Lasmi. Ia menyelesaikan sarapannya dan kemudian berjalan ke arah desa yang ia pimpin. Ia memutar otak mencari siapa yang akan dijadikan tumbal untuk sang Ratu. Kemudian bagaikan durian runtuh, ia melihat seorang wanita cantik turun dari mobil berwarna hitam yang kemudian mendekati dirinya.


"Bapak Kristanto?" tanya wanita ini ramah.


"Iya ... saya Kristanto, ada yang bisa dibantu?" tanya Kris sembari menjulurkan tangannya kepada wanita ini.

__ADS_1


"Saya Priska dari perkebunan, ada beberapa hal yang mau saya tanyakan kepada, bapak?"


"Ohh ... boleh saja, Nona Priska! Apapun pasti saya bantu!" balas Kristanto dengan raut muka ramah. Padahal sebenarnya otaknya tengah berpikir, kalau ia mendapatkan target buruan yang paling cocok dengan kemauan sang Ratu.


Sementara itu, Hardy tengah sibuk merokok di samping mobil. Ia meninggalkan Priska yang masih mencoba untuk bernegosiasi dengan Kepala Desa. Ia menyerahkan semuanya kepada Priska, dan baru akan membantunya setelah ini.


Priska kemudian mendekati Hardy dan berkata, "Ayo har! Aku sudah ketemu dengan Pak Kristanto selaku kepala desa disini. Kamu ikut aku ke rumahnya, resume untuk laporan ke kantor kamu yang buat tapi ya?" pesan Priska.


"Siap bu bos! Perintah diterima" balas Hardy setengah bercanda.


"Bu bos, ndasmu!"


Priska dan Hardy kemudian mengikuti Kristanto yang menuntun mereka kearah rumahnya. Hardy dan Priska diterima dengan ramah oleh Lasmi dan juga Kristanto selaku empunya rumah. Lasmi yang melihat raut muka suaminya yang tersenyum sumringah seolah mengerti, apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


"Silahkan duduk, Nona Priska dan bapak ini siapa namanya?" tanya Kristanto basa-basi sembari menjulurkan tangan kearah Hardy.


"Oh ... saya Hardy, Pak Kris! Rekannya Priska!"terang Hardy.


Priska kemudian mengeluarkan beberapa berkas penting yang tidak lain adalah beberapa surat perjanjian yang berisikan mengenai penawaran dari Perusahaan untuk membeli atau menyewa beberapa bagian hutan untuk dijadikan sebagai lahan sawit, tentunya dengan harga yang cukup menggiurkan untuk kalangan desa tersebut.


Kristanto mencoba untuk membaca dan melihat secara langsung isi dari surat perjanjian yang dikeluarkan oleh Priska barusan. Ia berpikir, bahwa semua surat perjanjian ini tidaklah penting, hal yang paling penting baginya adalah menandai Priska sebagai Wadal yang akan diserahkan kepada Ratu. Tapi ... perasaan Kristanto seakan terusik dengan sosok pria muda yang kini berada di depan matanya, mata pria ini seolah mengetahui sesuatu, pikir Kristanto.


Lasmi kini tengah berada di dapur, ia membuatkan beberapa gelas teh manis hangat untuk disuguhkan kepada tamunya, tidak lupa ia mengambil sesuatu dari balik saku celananya, apa yang tampak pada saat ini adalah sebuah botol kecil berwarna hijau di bagian tutup botol kecil itu terukir sebuah ukiran berbentuk ular dan kemudian Lasmi mengeluarkan serbuk dari dalam botol itu, kemudian mencampurkannya ke salah satu minuman yang akan dihidangkan kepada Priska.


Botol yang dikeluarkan oleh Lasmi barusan ialah pemberian dari Ki Sugoro yang merupakan ekstrak dari ular cobra hitam yang bangkainya telah mengering dan menjadi serpihan, setelah dibacai dengan beberapa mantra barulah serbuk tersebut diberikan kepada Lasmi dan juga Kristanto dengan tujuan agar para korban yang ditandai dapat segera diincar oleh para makhluk lelembut yang menjadi anak buah sang Ratu Siluman Ular.


Setelah membuat teh hangat tersebut, Lasmi segera beranjak kembali ke ruang tamu, dimana Hardy, Priska dan suaminya tengah berbincang mengenai perizinan serta beberapa lahan yang dikehendaki oleh Perusahaan untuk dihubungkan kepada pemilik tanah agar dapat terjadinya prosesi jual beli ataupun sewa menyewa lahan yang dilakukan oleh Perusahaan lewat Tim Legal mereka yang tidak lain adalah Priska dan juga Hardy.


Lasmi dengan perlahan memberikan satu persatu gelas yang berisi teh hangat tersebut kebagiannya masing-masing. Pertama ia memberikan segelas teh tersebut kepada suaminya, Hardy dan kemudian Priska.

__ADS_1


"Silahkan dinikmati, mas dan juga mbaknya!" ujar Lasmi ramah, sembari sudut matanya memperhatikan Priska yang merupakan wanita muda enerjik dan terlihat begitu cantik. Ia berpikir, bahwa sang Ratu pasti akan senang dengan Wadal yang akan ditumbalkan kali ini untuk menjadi bagian dari salah satu pelayan sang Ratu.


"Iya terima kasih, bu!" balas Hardy pelan.


Priska masih sibuk menjelaskan kepada Tristanto mengenai apa yang terjadi, percakapan itu lumayan panjang hingga menghabiskan waktu sekitar 30 menit lamanya. Priska kemudian merasa haus, ia dengan cepat mengambil gelas teh yang ada di depannya dan kemudian meminum air teh tersebut. Kristanto yang sedari tadi sebenarnya tidak terlalu mendengarkan apa yang dibicarakan Priska dan hanya berharap bahwa air teh tersebut diminum langsung oleh Priska mendadak harus menelan kekecewaan. Priska ternyata meminum air teh yang berada di gelas Hardy, sedangkan Hardy tampaknya enggan meminum air teh tersebut.


"Oh ... maaf Mbak Priska! Itu gelas punya mbak, kasian itu air tehnya Pak Hardy!" sela Kristanto.


"Ohh ... maaf-maaf, gpp kan Har?" tanya Priska.


"Santai ... lagipula aku sudah ngopi dari pagi tadi, Pris! Kalau masih haus abisin saja itu jatahku sekalian!"ledek Hardy masa bodo.


Kristanto benar-benar kesal dengan keadaan yang ada di depan matanya. Ia berpikir kalau wanita ini ternyata mujur juga.


Setelah dirasa cukup, Priska dan Hardy kemudian undur diri dari kediaman Kristanto. Mereka segera meninggalkan rumah tersebut dengan raut muka Kristanto yang terlihat kesal karena rencana busuknya digagalkan oleh keadaan.


"Sial!" umpat Kristanto setelah mobil berwarna hitam itu meninggalkan rumahnya.


"Apanya yang sial, kang?" tanya Lasmi yang tidak paham dengan kekesalan hati suaminya.


"Wanita itu benar-benar mujur! Ia tidak meminum gelas yang sudah kau suguhkan! Sekarang kita harus mencari cara agar wanita itu dapat menjadi Wadal secepatnya sebelum bulan purnama darah tiba!" umpat Kristanto sembari menendang meja kecil yang ada di hadapan matanya.


'Brakk!'meja itu terbalik dan menabrak dinding.


"Sabar, abang! Mungkin masih ada cara lainnya atau kita cari Wadal yang lain untuk sang Ratu!" bujuk Lasmi.


"Lalu siapa? Kamu? Atau anak kita? Memangnya ada gadis di desa ini yang sesuai dengan kriteria Ratu seperti wanita tadi? Kalau ngomong suka ga dipikir dahulu, Istri bodoh!" umpat Kristanto berapi-api kepalanya benar-benar panas dan amarahnya meraung tinggi. Ia sudah tidak memikirkan perasaan istrinya lagi pada saat itu.


Namun tiba-tiba sesosok pria tua berbadan bongkok dengan pakaian serba hitam dan memegang tongkat berbentuk ular muncul di hadapan mata mereka.

__ADS_1


"Tidak usah gusar! Aku akan membantu kalian dalam memenuhi Wadal sang Ratu!" ujar Pria tua tersebut sembari tersenyum lebar.


#Bersambung


__ADS_2