Wanita Penuh Luka

Wanita Penuh Luka
Part 1


__ADS_3

-Allana, Kamu tujuan Hidup Bunda-


"Bunda,apa itu ayah?"


Namaku, Almaera Razani Al-kahfi Aku seorang mahasiswi, Seorang driver gocar juga seorang ibu untuk anak Perempuanku yang sekarang menginjak usia dua tahun.


Aku berstatus Lajang, mahasiswi semester akhir Universitas Negeri Jakarta.


Allana nama anakku. Allana Razani Al-kahfi adalah anak Kandungku.


Banyak orang berkomentar buruk tentang Allana bahkan Tidak sedikit yang mencemooh Allana 'anak haram'. Memang Kenyataannya seperti itu Allana adalah anak hasil hubungan Terlarangku bersama laki-laki '********' itu. untuk menyebut Namanya aku sudah muak, karena setelah mengetahui aku Hamil dia enggan bertanggung jawab.


Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mencintai Laki-laki yang justru hanya ingin memanfaatkan ku saja.


Saat itu dia menyuruhku menggugurkan bayi ini dan melupakan semuanya. Tapi aku tidak ingin menjadi Pembunuh dan aku memilih melupakan dia karena dia menutup semua akses dan memblokir semua yang berhubungan benganku.


Percuma, air mataku tidak berarti untuknya.


Tidak! Lebih Tepatnya aku menyembunyikan keberadaan Allana dari dia.


Karena aku tau dia bukan laki-laki yang baik. Tidak pantas


Allana memanggil dia sebagai Ayah.


Bodohnya aku mau saja melakukan hal terlarang bersama Lelaki yang bukan muhrimku.


Itu karena rasa penasaranku, Aku terjebak permainanku Sendiri tapi aku tidak ingin menjadi pendosa kedua kalinya.


Dan benar,sekarang aku terluka karena Allana selalu bertanya 'Apa itu ayah?' semakin sering dia bertanya semakin robek hatiku.


Sore ini aku berjanji pulang cepat untuk Allana setelah Menyelesaikan tugasku.


Aku menitipkan Allana pada Ibu, sebelumnya aku berjanji Akan mengajaknya jalan-jalan


Aku melajukan mobilku perlahan menyusuri ruas jalan Jakarta Selatan pukul Empat sore lewat lima belas menit


Dengan semangat penuh, membayangi raut wajah anakku Berikut senyuman manisnya.

__ADS_1


Sebenarnya tidaklah kekurangan bahkan lebih dari cukup Anak bungsu dari dua bersaudara dan ibuku seorang Wirasuasta.


Ayahku juga seorang Prajurit TNI. Dan sebentar lagi Mendekati masa pensiun, Abangku Gavin Al-kahfi bekerja di Sebuah bank dan dia belum menikah. Sama sepertiku hanya saja aku sudah memiliki anak.


Sebelumnya orangtuaku sangat terpukul mengingat apa yang menimpa diriku. Tapi semakin kesini semuanya memberi support Abang Gavin juga sering menghabiskan waktu bersama Allana ketika libur. Atau ketika sedang cuti.


Mobil yang ku kendarai masuk area perumahan yang aku Tinggali. Aku menatap gadis kecilku sedang makan bersama Ibu di pelataran rumah.


Aku melangkah perlahan,seketika Allana berbalik dan Mengedarkan senyum andalan miliknya.


"Bunda, puyaaang!" Teriaknya seraya memeluk kaki kiriku. Aku Mensejajarkan tinggi dengan Allana dan mengecup Keningnya dalam.


"Allana, tadi Rewel," Suara ibu membuatku terdiam beberapa saat.


"Kenapa Bu?"


"Seperti biasa, tidak ada yang mau bermain kecuali Allana Membawa ayah."


"Ibu tahu dari mana? Dan kenapa bisa Allana keluar rumah? Kemana bibi?"


Aku tersentak saat menyadari Allana menatapku sendu, Seolah paham apa yang kami bicarakan. Aku ingin sekali Bertandang ke rumah ibu-ibu yang membicarakan tentang Allana di depan anak-anaknya sehingga mereka enggan Berteman dengan Allana.


Kalaupun dia tahu akan seperti ini jadinya mungkin dia tidak Akan pernah mau hidup aku hanya ingin menjaga psikis Anakku dan besar dengan bahagia aku tidak ingin anakku Terganggu dengan kenyataan yang terjadi biar aku saja yang Menanggung semuanya.


"Come on baby! Ayo kita main dan sekalian susul Uncle Gavin Kerja." Rayuku dan menggendong Allana.


"Oma, Adek pergi dulu ya?" Pamitku pada ibuku di susuli Kekehan Allana yang membuat ibu gemas di susul anggukan Barulah aku berjalan masuk ke dalam mobil.


Tak ada yang kukhianati, kecuali hatiku sendiri!


Aku sudah tidak sanggup menahan semuanya sendiri, Tangisku luruh bersamaan dengan akhiran doaku.


Aku sudah berusaha membahagiakan Anakku. Aku Mengabaikan perasaanku, mengabaikan semuanya.


Hingga hari ini aku tidak sengaja stalking Instagram ******** Itu yang kudapati foto perempuan bersama dia berikut Caption yang terlihat menjijikan.


Mengingat sebelum mendapatkanku dia memperlakukanku Seperti itu.

__ADS_1


Fitrah Ramadlan, Nama yang bagus untuk laki-laki itu tapi tidak dengan tingkah laku yang dia miliki sangat tidak terpuji.


Fitrah Ramadlan, nama yang dulu sangat lekat di hatiku. Nama Yang membuatku lupa atas perlakuan mantan kekasihku tapi Ternyata dia lebih parah dari mantan kekasihku dia meminta Sesuatu yang tidak bisa aku beri, jika bisa karena terpaksa Meminta di layani layaknya, Suami.


Hatiku,sakit. Mungkin jika bisa di lihat hatiku tidak lagi Berbentuk.


Hancur sudah. Tak ingin mengulang luka lama hanya saja Harapan kecilku ada untuk dia.


Meski orangtua dan seluruh keluargaku menolak dia.


Aku percaya Allah, pemilik kuasa di atas segalanya. Aku Adukan semua perasaan yang sangat menghancurkanku. Aku Percaya Allah selalu menemaniku. Memperhatikan setiap Pengaduanku dan tangisanku di setiap malam.


Aku tidak sanggup mendengar, pertanyaan kecil yang Menjadi andalan Allana.


Kenapa dia tidak memiliki teman,atau kenapa semua teman Nya selalu bertanya tentang ayah.


Bohong aku tidak merasakan apapun saat men-stalking Instagram laki-laki itu. Hanya aku terlalu pintar menyimpan Semuanya rapat-rapat sampai hanya aku saja dan Allah yang Mengetahuinya bahkan pesan darinya masih aku simpan Rapi, dia tau tentang keberadaan Allana bahkan sempat ingin Bertemu tapi aku menolak dengan kasar,aku tidak ingin Anakku bergantung padanya.


"Ya Allah... tolong Musnahkan rasa cintaku." lirihku di susuli Idaman tangis menyakitkan yang berusaha aku redam dengan menutup mulutku.


Tok...tok...tok...


"Ma..Alma? Sudah tidur nak?"


Pintu kamarku di terbuka perlahan di susuli langkah ayah , Aku tidak bisa berbohong lagi bukan? Mata sembab ini saksi Semuanya.


Ayah menatapku iba, waktu rasanya berputar kembali ke 15 Tahun silam saat aku menangis karena kakiku terkilir jatuh Dari pohon, tatapan Ayah sama.


"Jalani nak,syukuri. Jangan seperti ini nak,kamu berhak Bahagia."


"Alma, mau jadi kecil lagi Ayah," lirihku Dan menghambur ke Dalam pelukan ayah, menangis pilu disana melepaskan Semua beban yang sudah lama aku simpan rapi.


Memang, Ayah adalah tempat aku mengadu sedari kecil. Dan Hanya pelukan beberapa menit aku sudah cukup tenang.


"Ayah, rasanya aku tidak sanggup lagi." Lirihku


"Almaera, Allah memberi cobaan itu untuk mengetahui Seberapa ikhlas hambanya melalui." Ujar ayah seraya Mengusap air mataku.

__ADS_1


Aku menangis dalam pelukan laki-laki yang pertama kali Mengadzani aku.


Sedari kecil aku memang sangat dekat dengan Ayah, Sedangkan Abang Gavin dia lebih dekat pada Ibu.


__ADS_2