Wanita Penuh Luka

Wanita Penuh Luka
Part 6


__ADS_3

***


Happy Reading Gaes..


****


Author POV


-Mungkin ketika kamu siap kamu akan bertemu lagi.....


Di halaman rumah tampak Almaera bermain bersama putri semata wayangnya sembari sesekali menyuapi Allana.


"Ndaaa.. main," ajak Allana seraya menarik tangan Allana menuju sekumpulan Anak-anak yang usianya tidak terpaut begitu jauh dengan Allana. Aku terdiam sesaat karena tak jauh dari posisi anak-anak itu bermain ada ibu mereka yang sedang bergosip di sebuah teras milik Bu Retno yang biasa aku sebut 'Kepala pergosipan komplek'


Aku mengiringi langkah Allana yang menuju mereka, hatiku bimbang tapi aku tidak ingin mengecewakan Allana.


Sampai di tempat mereka berkumpul, bisik-bisik halus mulai ku rasakan.


'Tuhan apakah akan baik baik saja?'


Suara hatiku juga kakiku melangkah ragu, Orangtua mereka Masih asik bergosip membuka aib satu persatu.


Dan saling menunjukkan kehebatan, tanpa menyadari kehadiranku.


"Main ya tak," ujar Allana dengan gaya bicara yang tidak terlalu lancar, Vanila anak dari rafella cucu pertama Bu Retno mengacuhkan Allana.


"Main ya tak," ulangnya Vanila berdiri tegak mendorong tubuh mungil Allana yang langsung terjungkal ke belakang tangis Allana pecah.


"Aku gak mau temenan sama Anak Haram!" Pekik Vanila, aku menggendong Allana dan ku kejar dia yang berlari ke arah ibunya yang sedang asik merumpi.


"Vanila! Minta maaf sama Allana," perintahku mencoba untuk sabar, karna aku tahu Vanila ini memiliki watak buruk.


Dia seolah tidak mendengar apa yang aku katakan, Rafella menatapku jijik.


"Lain kali ajari anakmu, aku tahu dari mana dia bisa bicara seperti itu!"


"Heh! Perempuan rusak, memang yang kau gendong itu anak haram!" Pekik Bu Retno di susul dengan tatapan menyedihkan juga bisik-bisik ibu komplek.


"Saya hanya meminta Cucu ibu meminta maaf kepada anak saya, karena mengatai anak saya anak haram."


"Tidak usah sok lembut, saya tau kau penipu. Lepas saja hijabmu itu!"


Aku mengelus dada, aku berlalu meninggalkan mereka mencoba membujuk Allana agar bisa meredam tangis.


Sungguh ada di keadaan ini benar-benar menyiksaku.


Aku tahu Allah mengujiku, tapi aku sangat terluka saat mereka mengatai Allana Anak haram.


Air mataku lirih, sembari mengusap punggung Allana.


"Ndaaa.. angan angis, App ya nda," ujar Allana yang sejak kapan sadar bahuku bergetar.


"Enggak sayang,Bunda gak nangis."


Secepat mungkin ku hapus air mata yang mengalir, percuma saja.


Ia tetap mengalir seiring terlukanya hatiku.


Aku yang membuat kesalahan, bukan Allana.


Mengapa harus dia yang di cemooh, sangat tidak adil untuknya.

__ADS_1


"Nda," panggilnya ku tatap mata hitam bening milik Allana.


Sorot mata yang mulai redum, lelah karena menangis.


Ku timang Allana, mengelilingi ruang tamu lalu ke ruang keluarga di iringi tembang Jawa yang ku pelajari dari ibu karena ibu biasa menyanyikan lagu itu saat aku ingin tidur.


Tak lelo lelo lelo ledung


Cup menenga aja pijer nangis


***


Anakku sing bagus rupane


Yen nangis ndak ilang baguse


***


Tak gadang bisa urip mulyo


Dadiyo wedok kang utomo


***


Ngluhurke asmane wong tuwa


Dadiyo pandekaring bangsa


***


Wis cup menenga anakku


Kaya butho nggegilani


***


Selesai lirik tembang kunyanyikan, Allana sudah masuk dalam tidur indahnya.


Almaera menciup pucuk kening Allana, suara derap langkah kaki di belakang Almaera membuatnya seketika menoleh di sana ada cinta pertamanya.


"Ayah, sedang apa?" Tanya Almaera


"Apa kamu baik-baik saja nak? Ibu cerita tadi kamu ribut ya sama Bu Retno?"


Almaera mengangguk, hatinya kembali hancur saat mengingat betapa bangganya mereka menyebut Allana sebagai 'Anak haram'.


"Ayah, maafkan Alma kalau selama ini membuat Ayah malu." Rintih Almaera di iringi isakan tangis, Ayah menggeleng seraya memeluk putri semata wayangnya.


"Ayah justru bangga, Almaera putri ayah mampu mengabaikan hinaan dan cacian. Dan mampu tersenyum di luar walaupun Alma terbiasa menangis di kamar, bukan begitu?" Ujar Ayah.


Almaera mengangguk menghapus air matanya, Mungkin jika tanpa Ayah sudah dari kemarin di pastikan Almaera depresi.


Setelah memeluk sang putri, Ayah pamit menuju kamar.


Almaera memang sangat dekat dengan Ayah karena Ibu sosok yang tidak bisa menahan tangis jika berbicara tentang masalah Allana atau kehidupan Almaera.


Dan Almaera tak ingin terus-terusan membuat sang ibu susah.


Drrrrtttt...drrtttt


Notifikasi pesan, dari Pak Sean membuat Almaera bergegas membukanya.

__ADS_1


Pak Sean: Alma, besok bisa kerumah saya? Skripsi kamu belum ambil.


Ia mengabaikan pesan itu, dan besok baru ia Antarkan kesana sambil membawa Allana bermain.


Ia matikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur, menarik selimut sampai ke dada.


Dan mencoba menutup mata, berharap besok jauh lebih baik.


******


”Seberapa dalam cintamu padanya maka sedalam itu pula kau akan terluka”


Aku lajukan mobil perlahan, menyusuri jalan mengikuti Arus GPS yang bertuliskan alamat dari costumerku.


Dari nama yang tertera dia seorang wanita,


Ku coba mengirimi dia sebuah pesan yang ada pada aplikasi.


Me: Dimana kak? Posisi nya saya udah di lokasi.


Ku hentikan laju mobil, tepat di rumah dengan gaya klasik dan sosok yang keluar dari pagar rumah itu seketika membuatku tidak bisa berkata.


Pilihanku hanya dua kabur atau tetap disini, ia aku memilih tetap disini.


Sampai sosok itu mengetuk kaca mobil, yang perlahan mulai aku turunkan.


Mas adji...


Sosok itu masa laluku juga cinta pertamaku, dia tampak terkejut melihatku.


"Alma?" Ujarnya masih dengan wajah terkejut, aku mencoba mengabaikan rasa lelah yang menerpa begitu saja.


"Naiklah, Mas." Hanya kalimat itu yang mampu aku lontarkan, bukan aku tak mampu selama ini aku selalu menghindar bahkan ketika Aas Adji sengaja datang bermain catur bersama Ayah aku memilih kabur.


Mas Adji membuka pintu dan duduk kemudian diam,


"Alma? Sejak kapan bawa gocar?


Ajakan memulai obrolan dari mas adji aku coba abaikan, dan fokus saja menyetir padahal faktanya jika bisa mobil yang sedang ku kendarai terbang seperti pesawat agar cepat sampai tujuan dan mengakhiri pertemuanku dengan mas Adji.


"Ekhem..Kenapa diam?" Ulangnya lagi,


"Enggak apa-apa Mas," sahutku,


"Harus ya Alma, benci sama mas? Dengan menjauh seperti ini?"


"Alma gak pernah benci Mas, hanya saja Alma gak mau memberi kesempatan lagi. Semuanya sudah selesai. Alma gak menginginkan Mas di hidup Alma lagi,"


Seketika keadaan kembali tenang, tidak ada lagi yang memulai. Dan tujuanku mengantar Mas Adji telah selesai mobilku berhenti tepat di rumah minimalis entah milik siapa.


"Maaf, mas udah sampai." Tegurku pada Mas Adji yang tampak melamun dan mendengar teguranku yang langsung membuat ia mengangguk.


"Alma, semoga kita bisa berjumpa lagi lain waktu." Pamitnya dengan menyerahkan uang seratus ribu rupiah berlalu begitu saja.


Aku tahu Mas Adji kecewa dengan apa yang aku ucapkan. Tapi aku hanya ingin membalas semua yang ia lakukan padaku.


Bukan hal mudah, sebab Kepergian mas Adji aku terjebak dalam jurang ini.


Mas adji yang membuat semua ini ada, bukan aku tidak menerima takdir tapi apakah pantas takdir memborong semuanya untukku? Aku yang selalu mengingat adanya tuhan.


Takdir yang tidak pernah berpihak Baik untukku!

__ADS_1


__ADS_2