
Happy Reading Gaes..
****
Ini adalah Kamis pagi, hari ini aku berencana bertemu sahabatku. Tak lupa membawa Allana gadis kecilku yang kini telah rapi dengan setelan blouse putih tulang tak lupa aku menguncir rambut lurus miliknya.
"Bunda,ata ancel beyi yayah di Mall," cetus Allana membuatku mengangkat alis geli aku hanya mengangguk perlahan menghibur hatinya.
Aku segera mempersiapkan diri sebelumnya aku telah menitipkan Allana pada ibu, begitu repotnya jadi seorang ibu aku akui itu.
Yang biasanya aku selalu mengulur waktu sekarang, jangankan mengulur waktu untuk pup saja aku pernah membawa Allana dalam gendonganku.
Benar adanya saat itu di rumah tidak ada siapapun. Ibu yang sedang mengajar, dan ayah sedang ke bengkel membenarkan mobil.
Jadi mau tidak mau aku mengajak Allana, kalau kalian tanya nikmat seorang ibu sudah aku rasakan.
Tapi tidak dengan nikmat menjadi seorang istri, aku belum mencobanya atau sama sekali tidak ingin.
.
.
.
Tidak butuh waktu lama aku sudah siap dengan setelan dress maroon tak lupa wedgesku. Aku berkaca sekali lagi menatap betapa anggun nya aku tidak terlihat seperti seorang ibu aku masih terlihat seperti mengapa tidak usiaku memang baru 23 tahun.
Dan semua orang tidak akan percaya jika aku berkata Allana adalah anakku. Beberapa dosen juga teman kampus tahu Allana adalah anakku karena semasa hamil aku tetap berangkat ke kampus.
"Ndaaa, lama Agi kah?" Suara kecil Allana di iringi langkah ibu membuatku menggeleng kecil.
"Come on baby, ayok kita berangkat. Salim dulu sama Oma,"
Allana meraih tangan ibu dan mengecupnya perlahan, "Bawain Oma, oleh-oleh ya?" Canda ibu tapi Allana mengangguk antusias.
Setelah berpamitan pada ibu, barulah kami
Berdua berangkat. Allana duduk di kursi sebelah kanan tak lupa sabuk pengaman telah aku pasang. Perlahan aku melajukan mobil sesekali menatap Allana yang tampak bahagia.
"Allana happy?" Tanyaku seraya mengelus kepalanya. Pertanyaanku hanya di balas anggukan juga senyuman manisnya terlihat lesung Pipi Allana yang membayang wajah laki-laki yang sangat aku benci.
Ya! Wajah Allana memiliki kemiripan. Mulai dari mata yang berwarna coklat,hidung mancung,bibir kecil,lesung pipi,dan jangan lupakan bulu alis yang lebat milik laki-laki itu semua.
Aku beruntung baby blues tidak terjadi kepadaku. Sehingga tidak ada alasan untuk menyiksa Allana karena wajah itu. Aku benar-benar menyayangi Allana tidak perduli cemooh orang sekitar yang terpenting aku bisa membesarkan Allana tanpa pernah mengenalkan sosok itu kepadanya.
Hanya butuh satu jam, aku sudah duduk di sebuah cafe langganan dekat kampus sambil menunggu Monic,Agam,dan terakhir Cherry.
Ketiganya adalah sahabatku, Monic teman SMP ku. Agam adik dari cinta pertamaku. Cherry teman kampus tapi lumayan dia mengenalku lebih dari 3 tahun.
"Haii, bayi tomats lucu seketlebeh aaahh... Cini sama aunty," lamunanku buyar dengan suara Cherry yang muncul dan langsung mengambil Allana membawanya ke dalam pelukannya.
"Apaan sih Che,lebay bat dah!" Lagi suara Monic di susuli kekehan Agam dari belakang.
"Al, kamu cantik banget!" Puji Agam
"Emang dari sananya aku cantik," jawabku jemawa.
Aku tidak suka kalau Agam mulai menggodaku, ujung-ujungnya nanti aku dipermalukan oleh dia.
.
.
__ADS_1
.
Setelah menyelesaikan, pembahasan barulah kami makan tak lupa Allana yang masih asik bermain bersama Agam ia Allana sangat menyukai Agam.
Berikut Agam sangat menyayangi Allana, tidak jarang Agam bersama Abangku membawa Allana jalan-jalan.
Agam adik dari mas Adji, dia cinta pertamaku seorang laki-laki bertugas di pelayaran. Mas Adji itu patah hati terhebatku karena setelah mas Adji meninggalkan aku dan aku mencari obat patah hati ku fikir dia setulus mas Adji ternyata tidak.
Mas Adji usia 27 tahun saat ini, saat berhubungan aku kelas dua SMP. Dan mas Adji sudah bekerja sampai mas Adji meninggalkan aku menikah dengan perempuan lain saat aku tengah aku memasuki jenjang Sekolah menengah atas.
Allah menghibur hatiku, setelah aku hamil Allana aku mendapat kabar mas Adji bercerai setelah 2 Minggu pernikahan. Dan aku masih berhubungan baik dengan mas Adji berikut mas Adji masih menyimpan rasa bersalah menurutnya aku tidak akan seperti ini jika dia tidak meninggalkanku. Benar adanya.
.
.
"Nda, duduk sini," dengan semangat Allana menjatuhkan bokong nya pada satu kursi panjang di taman tanpa memperdulikan Agam yang berlari mengejar Allana yang terlihat terkejut dengan tingkah Allana. Tanpa memperdulikan dua pasang pria dan wanita yang memadu kasih masih membelakangiku.
"Allana ngga sopan. Permisi dulu." Aku mencoba memperingati Allana sebelum kemudian tatapanku beralih memandang pria dengan tubuh berisi yang tampak tidak terusik dengan hadirnya Allana karena sibuk memadu kasih.
"Maaf ya, mas. Kami num---"
Seketika,seolah waktu berhenti berdetak bersama alam semesta yang berhenti bergerak. Aku terpaku kala sepasangan mataku menemukan satu wajah yang begitu lekat dengan masalaluku.
Wajah yang belum mampu ia lupakan hingga detik ini, bahkan tadi malam ia sempat menangisi segalanya. Walau waktu telah bergulir, menggerus habis kenangan kelam di masa silam.
"Abang fitrah?"
Agam menaikan alis menatapku heran, karena Agam memang tidak mengetahui laki-laki ini adalah ayah dari Allana. Aku mengabaikan wanita yang tampak tidak senang karena aku memulai obrolan dengan laki-lakinya.
Laki-laki yang aku panggil fitrah, mengerutkan alis dan mencoba mengingat sesuatu.
"Ya?" Tanyanya terheran-heran.
Dan dunia rasanya berputar begitu kencang hingga nyaris melambungkan tubuh Almaera yang terkejut pada pertanyaan pria di hadapannya.
Dia melupakan,aku? Semudah itu? Bahkan semalam aku baru saja menangisi semuanya.
Almaera tetap dengan posisi diam, shock. Itulah yang dia rasakan sekarang tidak peduli dengan Fitrah yang melebarkan senyum.
Mempersilahkan Allana duduk, tanpa memperdulikan wanita yang bersamanya.
"Benar saya Fitrah. Boleh saya tau siapa nama Mbak?"
Fitrah memulai obrolan dengan senyum sumringah. Namun berbeda dengan Almaera yang mendapat pertanyaan seperti itu merasa hatinya ada tombak yang menghantam begitu kuat dan merobek seluruh perasaannya.
Aku menunggumu... Saat itu. Hingga saat ini.
Bak cenayang yang bisa membaca ekspresi kecewa wanita di hadapannya. Fitrah segera berdehem sambil memperbaiki posisi duduk dan menggenggam tangan wanitanya.
"Eem.. maaf ya mbak. 1 tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan dan saya tidak begitu ingat apa yang terjadi. Tetapi yang jelas ketika saya membuka mata. Saya merasa bahwa saya adalah remaja berusia lima belas tahun." Jelasnya dan di akhiri kekehan berharap Almaera bisa tertawa.
Mendengar penjelasan dari Fitrah entahlah, tindakan apa yang harus Almaera. Perasaa. Apa yang dia rasakan. Dan bagaimana cara menyikapi semuanya?
"Ya Allah.. bantu aku!" Lirih Almaera dalam relung hatinya.
"Nda, Puyang yok!" Suara kecil Allana membuat Almaera tersadar dan mengangguk. Dan dengan sigap Agam membawa Allana ke dalam gendongan nya dan berjalan mendahului Almaera membalikan badannya dan mulai berjalan menyusul Allana.
"Eem.. tunggu mbak."
"Iya?"
__ADS_1
"Boleh saya tahu siapa nama Mbak dan bagaimana kita mengenal du-"
"Kita hanya teman lama. Hanya teman lama," potong Almaera cepat. rintik hujan segera menghampiri mata beningnya dan dia tidak ingin menangis di saat seperti ini.
Fitrah diam menatap mata bening Almaera yang mulai berkaca-kaca.
"Yang tadi anak mbak?"
"Ya." Almaera mengangguk pelan.
"Sangat cantik, dan lucu." Pujinya
Jauh dalam relung hati Almaera menjerit, "Dia anakmu bang! Anak kamu!!"
"Anda terlihat tidak baik-baik saja, apakah-"
"Bunda, Ayok!" Almaera segera berlari meninggalkan fitrah dengan wanitanya.
Sampai di mobil,Allana dan Agam tengah asik bergurau dalam perjalanan Almaera masih asik merenung kejadian beberapa saat yang lalu.
#Skip
Di tempat lain, setelah mengantarkan. Prilly wanita yang biasa dia ajak kencan. Fitrah kembali ke apartment dan duduk di sofa tamu di genggaman nya ada sebuah gelas whisky.
Suara lembut, yang amat dia rindukan.
Tidak mungkin, dia dengan lancang ia bicara tentang rindu? Sekalipun memang benar dia tidak pantas mengucapkan itu.
Allana? Nama yang aku persiapkan dulu ketika merayu Almaera untuk melakukan hubungan terlarang itu. Nama yang sangat cantik yang sudah aku persiapkan kelak jika aku punya anak perempuan.
Tangis fitrah menjadi saksi betapa perihnya bersandiwara di hadapan wanita itu.
Tenggorokanya tercekat, saat mengingat dimana Allana ada dalam gendongan pria lain.
Benar. Dia tidak akan pantas mendampingi wanita sebaik Almaera atau mengaku sebagai ayah dari putri kecilnya. Itu hal yang sangat memalukan.
Dia benar-benar kehabisan akal hingga membuat drama pura-pura lupa.
Fitrah menelungkupkan kepala di kursi sofa di susul Isak tangisnya yang terdengar begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Aku sudah menepati janji pada diriku untuk tidak akan pernah mengganggu kalian lagi,Al. Tidak akan."
Drama yang terjadi tadi sengaja ia buat berharap Almaera menganggap pertemuan tadi bukanlah suatu kesialan.
Yang dia inginkan, Almaera terus bahagia.
****
Almaera diam seribu bahasa, asik dengan pemikiran nya. Dan mengenang beberapa tahun lalu. Laki-laki itu banyak perubahan.
Badan yang mulai berisi, dan kulit tetap berwana hitam jauh berbeda saat pertemuan terakhir atau saat dia memaksa bertemu setelah dia tau aku mempertahankan anak yang tidak dia inginkan.
"Asik banget sih, Al." Ejek Agam dengan kekehannya Allana sudah tidur di jok tengah.
"Dia melupakan kami,"
"Tatapan dia itu masih mencintai kok, kalau enggak kenapa dia mengabaikan perempuan itu demi ngajak lo ngobrol?"
"Dia tidak mengingat kami!"
"Dan Lo percaya gitu aja? Bisa aja kan itu drama dia aja?"
__ADS_1
"Aku mau pulang sekarang," lirih Almaera menghindari perdebatan yang terjadi karena hati dan logika nya tengah berperang di waktu yang sama.