
****
Happy Reading Gaes..
-Sejak patah hati aku tidak pernah percaya lagi pada namanya cinta.
Bagiku, cinta tidak lebih dari sekedar menumpuk harapan kemudian di campakkan begitu saja.
******
Sebulan sudah setelah kejadian dimana aku bertemu Fitrah.
Dan aku memang tidak ingin tahu lagi, aku cukup atas semuanya. Memang Tuhan tidak lagi mengijinkan kami bersama lagi, meski itu masih menjadi doaku.
Juga keadaan, ayah dan ibu tidak lagi ingin Fitrah menampakkan diri di hadapan mereka, dan aku cukup menghargai keputusan mereka. Meski yang ku tahu, Mas Adji akhir-akhir ini sering berkunjung ke rumah alasan bermain dengan Allana atau di hari libur bermain catur dengan ayah.
Tapi aku mengabaikan semuanya, dan memilih mengaktifkan akun gocarku. Meski jauh dalam lubuk hatiku, aku memuji paras mas adji yang sudah berusia kepala tiga.
"Alma, ada Agam di luar," suara ibu mengagetkanku, aku segera bangkit dan segera melangkah keluar rumah di kursi teras tampak Agam sedang menatap lurus ke halaman yang di tumbuhi pokok bunga hias milik ibu.
"Hai," sapaku membuat Agam menoleh dan mengedarkan senyum sok ganteng miliknya. Aku langsung duduk tepat di sebelah Agam.
__ADS_1
"Tumben kesini, hehe. Kenapa? Bukan nya kerjaan kampus udah beres ya?" Mulaiku.
"Engga sih main aja, sekalian ada yg mau aku tanya juga Al,"
Aku termenung menunggu Agam memulai pembicaraan, menebak-nebak di hati kecilku apa yang akan dia bahas karena ekspresi nya yang terlihat berat mengatakannya.
"Alma, Lo ga pengen buka hati lagi ya?" Mulainya seraya menatapku, aku mengulum senyum, "Kenapa?"
"Abang gue masih cinta sama elo, Al." Jelasnya dengan mimik penuh harap, aku terdiam sesaat,
"Lo tau gak gam? Mas Adji itu cinta pertama gue. Dan dia ninggalin gue demi perempuan lain sampe gue cari pelarian dan ketemu laki-laki itu,"
"Apa salahnya memaafkan masalalu seseorang Al?"
"Oiya, Gam. Sampein sama Mas Adji selingkuh itu pilihan. Setelah dia memilih perempuan itu maka tidak akan pernah ada kata kembali."
Aku berbalik hatiku kembali nyeri jika mengingat semuanya, bak tombak tajam menikam jantung jika aku harus mengembalikan ingatanku pada kejadian itu.
"Dan kembali pada laki-laki yang sebulan lalu tidak sengaja bertemu dengan kita?" Ujar Agam seketika menghentikan langkah.
"Fitrah? Dua-dua nya tidak akan pernah kembali ke dalam kehidupan gue. Walaupun Allana menjadi alasannya. Gue mau istirahat sebaiknya lo pulang."
__ADS_1
Aku masuk ke dalam rumah, tanpa sadar ibu sedari tadi menguping pembicaraan kami.
Tapi aku memilih meneruskan langkah, masuk ke dalam kamar.
Aku menatap putri kecilku yang sedang terlelap dengan nyenyak tanpa memikirkan beban masalah yang sedang ku tanggung.
*****
Almaera-
Satu tahun yang lalu,
Fitrah sempat datang setelah mengetahui aku telah melahirkan buah cinta kami, entah aku tidak tahu dia dapat kabar dari mana.
Yang jelas saat itu aku sedang mengenakan piyama setelah mandi dan sebelum itu aku menitipkan Allana pada ayah dan ibu juga Abangku mereka tampak bermain di halaman depan.
Tapi tidak lama setelah mandi aku mendengar suara orang adu hantam. Aku segera keluar kamar dan berlari, disana laki-laki itu di hajar Davin juga ayah yang menyiapkan sebuah balok aku mencoba menghalangi Ayah.
"********! Kurang ajar kamu! Mau apalagi kamu datang kesini ********! Tidak puas kamu buat putri saya menderita," Suara ayah bergetar saat memaki Fitrah yang sudah terkapar di rerumputan. Dengan wajah penuh lumuran darah,
"Pak, sa-saya cuma m-mau bertemu Putri saya," Rintihnya dengan tatapan berani menatap Ab angku.
__ADS_1
"Udah Ayah!! Udah! Jangan pukul lagi," mohonku memeluk kaki Ayah.
"Kamu pulang sekarang! Atau saya hajar kamu sampai mati! Berani kamu datang kesini saya bakar kamu," kecam Ayah menarik lenganku masuk ke dalam rumah.