
***
Happy Reading Gaes..
****
POV Sean-
Pesan yang ku kirim siang tadi, sampai detik ini tak kunjung di balas oleh Alma.
Sebenarnya, apa Alma sudah memiliki kekasih? Atau Alma trauma pada cinta? Segala pemikiran aneh memenuhi isi kepalaku, aku mengusap wajah mencoba untuk berhusnudzon pada gadis itu.
Ku rebahkan tubuh sambil memikirkan cara agar bisa mengenal Alma lebih jauh lagi.
Apa yang ku lakukan sekarang adalah hal yang paling merendahkan, aku tidak pernah seperti ini setelah kecewa kepada Lilian mantan kekasihku yang tega beralih hati saat aku sudah berniat serius padanya.
Sedangkan di luar sana, Mahasiswiku begitu mengidolakan aku sebagai dosen tampan dan kaya.
Tapi mengapa Alma tidak tertarik padaku?
Kalimat itu menghantui fikiranku, apa usia telah merenggut beberapa persen ketampananku. entah lah aku tidak tau
Lagi pula ibu begitu menyukai Alma, padahal selama ini ibu kurang respect saat aku berhubungan dengan Liliana.
Rasa penasaran membuatku memilih menghubungi Alma,
Dering pertama
Dering kedua
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk,"
"Shiitt.... di riject," Umpatku kesal, dan melempar ponsel di sebelahku. Mencoba memejamkan mata menghentikan sejenak memikirkan wanita itu.
****
"Ayo...Aaaa..." Alma mengarahkan sendok tepat pada mulut Allana, tapi balita itu menggeleng pelan.
Akhir-akhir ini Allana sangat kurang makan, juga minum susu nya tidak sekuat kemarin.
"Nda,Yayah..." Lirih Allana, aku menghembuskan nafas kasar. Dan ku coba tersenyum di hadapan Allana,
"Ayah Gavin kan dek?" Tanyaku Allana menggeleng,
"Bukan, ya dek? Terus siapa?"
"Ayok Nda, beli Yayah" Ajaknya seraya menarik jemariku, agar mau mengikuti langkahnya.
Aku bisa memberikan semua yang ada di dunia ini untuk putri kecilku kecuali, Ayah. Karena aku tidak tahu kapan dan waktu yang tepat agar aku bisa percaya lagi pada cinta.
Tidak mungkin aku mengorbankan pernikahan hanya untuk memberi Allana ayah.
"Semoga suatu saat kamu mengerti Allana," Lirihku menatap putri kecilku yang sedang asik menonton video kartun Nusa dan Rara.
Suara pintu di buka, Aku menatap Abang Gavin yang pulang dari kantor dengan wajah lelahnya.
__ADS_1
Kemudian menghampiri Allana, mencium semua wajah Allana yang membuat Allana seketika menjerit karena merasa terganggu.
"Huaaaaaaaaaaaa.... Ndaaa," tangis Allana pecah, seiring berderingnya ponselku aku menatap nama dosenku di layar ponsel dan merijectnya memilih menggendong Allana.
"Udah bang, kasihan jangan di ganggu."
"Seru sih, Abis cengeng banget sih Al," ejek Abang Gavin seketika berlalu meninggalkanku dengan gerutuanku dan mencoba mendiamkan Allana tak berselang lama tangis itu reda berganti dengan terlelapnya Allana.
"Aduh, udah bobok aja." Suara Ayah membuatku menoleh, aku mengangguk pelan.
Bibi sudah menyiapkan makan malam, ku putuskan untuk menidurkan Allana di kamar lalu melaksanakan sholat isya sebelum makan.
Ku selimuti tubuh kecil itu, ku usap dan ku cium perlahan.
"Allana ... Kamu adalah tujuan hidup Bunda." Bisikku, tak terasa air mataku mengalir mengingat permintaan Allana tadi sebelum tidur.
Ku hapus air mataku, dan bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai menunaikan kewajiban, aku keluar dan memanggil Ayah dan Ibu juga Abang Gavin, kami terbiasa makan tanpa bersuara.
Ku nikmati ayam suir balado kentang yang di buat bibi tak lupa sayur sop juga sambal terasi buatan ibu kalau urusan sambal.
Ayah telah menyelesaikan makan malam lebih dulu, dan menatap aku hangat. Tatapan kami bertemu, ada makna tersirat disana makna cinta seorang ayah pada putrinya.
"Ayah, kenapa liatin Alma terus?" Tanyaku, selesai menghabiskan air pada gelasku, Ayah menggeleng.
"Alma, kamu gak pengen nikah?"
Aku diam mendengar kalimat ayah, hatiku berucap cukup memilukan.
"Nantilah yah, nunggu Abang." Elakku.
"Tapi Allana butuh Ayah,"
Aku menggeleng, "Abang duluan aja yah, Alma nanti aja nunggu yang terbaik dari Allah, hehe."
Ayah tersenyum, "Jadi Abang, kapan kita ketemu sama jodoh Abang?"
Uhukkk....
Ibu menyodorkan Air minum pada Abang Gavin, aku terkekeh geli.
Ternyata dia benar-benar belum siap untuk semuanya.
Anak yang baik, buktinya dia mau melalui proses bertemu dengan pilihan Ayah.
"Makan itu pelan-pelan, Abang." Nasehat ibu, yang tawaku pecah.
"Diakan anak kecil ibu, hahahaha" tawaku membuat ayah dan ibu ikut serta mengejek Abang Gavin.
******
Aku menatap langit-langit kamar, mengabaikan segala pesan WhatsApp juga telepon.
Permintaan Allana ini bukan hanya sekali tapi sering, dan kali ini aku sangat merasa bersalah telah menjauhkan Allana dengan Fitrah Ayahnya.
__ADS_1
'Benarkah Fitrah Amnesia?'
Rasa penasaranku belum terjawab, karena aku belum pernah bertemu dia lagi sejak hari itu.
Aku mencoba menutup mata, tapi ada suatu perasaan gundah dimana aku tidak mengerti sebabnya.
Ku stalking semua akun medsos yang dia miliki, disana ada foto Fitrah mengenakan Jaket berbahan Jeans dengan spot foto di sebuah ruangan gelap.
Di posting Dua minggu yang lalu.
Foto itu menarik, ketukan di pintu kamar membuatku tersentak dan mematikan ponselku.
Aku tersenyum melihat Abang Gavin masuk ke kamar, wajahnya begitu letih dan seperti terbebani masalah.
"Kenapa Abang? Tumben?" Tanyaku, Abang Gavin tidak menjawab justru memelukku dan menangis aku terkejut, karena selama ini aku tidak pernah melihatnya menangis sebesar apapun masalah yang dia hadapi.
"Abang.. saran Alma kalau Abang tidak setuju dengan pilihan Ayah, sebaiknya Abang jujur." Ujarku seraya mengusap bahu
"Tapi, Abang gak mau bikin Ayah kecewa." Lirihnya di iringi isakan.
"Orang tua itu pasti mengerti kok, apa yang anaknya mau. Abang tinggal ngomong aja kalau Abang punya pilihan biar di kenalkan. Toh, selama ini Abang gak pernah bawa perempuan selain emmh.. mbak Lilian,"
"Tapi Abang belum bisa move on, sama Lilian. Kamu tau itu kan," rengeknya membuatku tersenyum karena itu sangat bertolak belakang dengan pesona yang di miliki kakak semata wayangnya itu.
"Abang cuma mau nenangin diri aja kok, Al. Beberapa hari terakhir Abang ada masalah. Boleh ya? " Aku mengangguk mendengar kalimatnya .
Sampai akhirnya Bang Gavin memilih pamit ke kamarnya, dan tinggal aku sendiri.
Dering ponsel membuatku beralih menatap nama siapa yang menelepon jam segini.
Dosen itu lagi, ku geser layar ponselku.
Ku letakkan di telinga, "Assalamualaikum, Alma. Saya sudah baca skripsi kamu, tapi karena banyak kesalahan yang harus di benahi sebaiknya kamu bawa pulang lagi saja."
"Tapi pak, Alma udah lama ngerjain nya, apa segitunya gak bisa di Acc?"
"Bisa Alma, asal kamu mau jadi pacar saya,"
"Saya mohon pak, jangan Bebani saya masalah lagi. Apalagi tugas kampus di hubungkan dengan urusan pernikahan. Lagipula bapak akan menyesal mengenal saya, saya tidak seperti wanita lain."
Ku tutup telepon tanpa mengucap salam, ku pejamkan mata dan mencoba terlelap tidur karena besok aku akan bekerja seperti biasa.
Tapi yang kulakukan gagal, akhirnya aku kembali memikirkan semua yang terjadi kejadian, apa saja yang ku alami ini.
Rasanya Allah memang yakin aku wanita kuat yang bisa di percaya menyelesaikan setiap masalah.
Dan Allah titipkan Allana padaku karena dia percaya aku akan menjaganya.
Sekalipun Allana datang dengan cara yang salah, tidak memiliki Ayah dan aku yang menjadi bulan-bulanan tetangga.
Apalagi ini, selesai masalah dengan mas Adji ada saja yang datang.
Bahkan aku memilih tidak ingin berkumpul bersama Agam dan Chery.
Karena aku ingin tenang, bahkan jika boleh mengakui aku memejamkan mata bukan untuk istirahat tapi untuk berlari dari semua problem kehidupan dan beban masalah yang seolah tidak ingin pergi dari hidupku.
__ADS_1
Aku sudah berlari dari semua masalaluku, tapi mengapa datang lagi..