Wanita Penuh Luka

Wanita Penuh Luka
Part 7


__ADS_3

Happy Reading Gaes..


****


Lusa kemarin Aku berjanji pada Pak Sean untuk mengambil Skripsiku.


Ia menyuruhku datang ke sebuah lapangan golf terbesar di tempatku tinggal, yang tempatnya ku tahu hanya di datangi orang berada, atau kalangan bisnis.


Setelah mengambil beberapa orderan, Aku putuskan menemui dia sesuai jam yang sudah di tentukan.


Sebelumnya aku juga mengasuh Allana, karena ibu hari ini ada jam mengajar di kampus.


Aku memasuki gedung yang menurutku sangat wah, karena ada beberapa orang yang menatap penampilanku yang menurut mereka terlalu sederhana mungkin memang aku hanya mengenakan t'shirt putih polos tak lupa tunik dan hijab yang tampak menyempurnakan penampilanku, menurutku.


Di ujung meja tampak beberapa wanita.


Aku sengaja tidak menghubungi Dosen favorite masisiswi di kampus itu, hanya bermodalkan nyali yang kuat.


Ku telusuri lorong menuju lapangan itu, ku tatap satu demi satu orang sampai mataku berhenti pada sosok laki-laki yang sedang asik duduk menikmati minuman juga sesekali menghapus peluh yang menetes di dahi.


Jika aku mahasiswi yang sangat mengidolakan dia di kampus yang setiap dia selesai jam akan mengekor di belakang-nya seperti semut pada gula.


Sudah pasti melihat peluh menetes itu, mereka berbondong-bondong mempeributkan siapa yang berhasil menghapus peluh milik dosen ganteng itu.


Sedangkan aku selalu mencoba biasa saja, bukan aku tidak tertarik .


Hanya aku sadar diri, tidak mungkin.


Lebih baik aku menikmati, Allah sudah menyiapkan yang benar-benar siap menerima semua masa laluku.


Aku tahu Pak Sean sering memperhatikan aku, tapi aku tahu dulu ia hanya penasaran dengan perut buncitku tapi status single.


Terlihat mengundang lelucon, tapi aku tidak peduli.


Aku diam menatap sosok itu dari kejauhan sampai ia merasa di perhatikan dan menoleh, aku tersenyum dan berjalan menghampirinya.


"Hai," sapanya


"Assalamualaikum, Pak. " Ku jawab dengan salam yang langsung membuatnya menggaruk kepala yang sudah ku pastikan tidak gatal.


"Alma, kesini mau ambil skripsinya."


Dia mengangguk, tanpa beranjak sosok itu menatapku aku putus dengan mengalihkan pandangan.


Dia menepuk kursi memberiku instruksi untuk duduk di sebelahnya.


"Alma, boleh saya bertanya sedikit saja?"


Aku mengangguk, mengiyakan permintaannya.


"Sebagai dosen yang ingin tahu apa yang terjadi pada kamu, sehingga kamu berstatus single tapi memiliki anak,"


Aku mencoba memahami apa yang lontarkan dosen itu, tanpa berani menatap wajahnya.


"Maaf, saya mendapat cerita itu dari segelintir mahasiswi di kampus,"


"Why mereka bilang kamu perempuan tidak baik, ia saya rasa kamu mengerti kemana maksud pembicaraan saya."


Disini kesabaranku di uji, aku menarik nafas panjang mengabaikan mata yang mulai berkaca-kaca sebelum menjelaskannya ingatanku kembali pada malaikat kecilku yang saat ini sedang lucu-lucunya. Ku hembuskan nafas perlahan.


"Dulu saya pernah pacaran, kami pacaran dari saya SMA sampai akhirnya hubungan itu kandas karena dia menikah dengan wanita lain.

__ADS_1


Saya saat itu frustasi, dan cari pelampiasan. Sampai akhirnya saya kenal laki-laki yang hanya sebulan mengenal dia saya jatuh ke pelukan dan rayuan dia. And i lost my virginity sama dia. Sampai akhirnya saya positif hamil dan dia gak mau ngakuin itu anaknya dan memilih janda saat itu yang satu kerjaan sama dia,"


Aku menghapus air mata yang mulai jatuh, sungguh aku bukan menyesalinya tapi aku kecewa tidak bisa memberi Ayah pada Allana.


"Alma, maafkan saya-emh saya tidak bermaksud membuat kamu menang-"


Aku menggeleng, "Sudah jelas kan pak? Saya mau pulang,"


Ku raih skripsi yang sudah ada di sebelahku, aku berdiri tapi sebuah tangan menghalangi langkahku.


"Alma, kenapa kamu tidak pernah memberi saya kesempatan?"


Aku menoleh dan tersenyum, melupakan kejadian barusan.


"Karna saya tidak mau, kecuali pada yang benar-benar siap,"


Pak Sean menyeringai, lalu terkekeh.


Sangat merdu. Walaupun aku enggan mengakui itu.


"Tapi saya belum mengatakan tidak, bukan?"


"Ya tidak mau,"


"Beri alasan yang jelas!" Ujarnya dengan nada naik satu oktaf.


"Karena saya tidak ingin membuat orang lain masuk ke dalam jurang masalah saya. Apa sampai disini cukup jelas Pak?" Lirihku, ku tatap dosen itu dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf, jika saya terlalu kasar, Alma."


"Tidak apa-apa. Oh ya, sebelum nya jika Bapak memang menaruh hati seharusnya Bapak cari tahu siapa perempuan itu sebenarnya dan apa Masalalunya. Terimakasih, Saya permisi. Assalamualaikum"


Alma berdiri dan melangkahkan kaki tanpa menunggu jawaban salam dari sang dosen.


Semua orang pasti ingin bahagia, termasuk Aku!


Alma memasangkan earphone di telinga dan mendengarkan satu lagu yang menurutku cocok untuk suasana hati yang kelabu setiap hari kelabu lebih tepatnya.


Brukkkk.....


Alma merasakan tubuhku terhempas dan bokongku menghantam tanah cukup keras setelah bertabrakan dengan sosok asing.


"Alma!!!"


Saat Alma hendak mendongak ke atas teriakan yang sudah tidak asing memasuki sistem pendengaran dan seketika membuat rusak dan langsung membuat siapa saja menutup telinga.


Suara Cherry.


"Cherry?" Ujarku seraya mencoba berdiri setelah di bantu dia, aku memperhatikan siapa yang aku tabrak barusan ternyata laki-laki.


"Ah kamu dari mana sih ma?" Tanyanya seraya mengangguk tersenyum layaknya anak kecil, Cherry yang selalu khas dengan senyum cerianya.


"Abis ngambil skripsi," jawabku tetap dengan tatapan kesal pada laki-laki yang berdiri di sebelah Cherry yang fokus pada ponsel.


"Eh iya maaf lupa, kenalin nih sepupuku. Husein," ujar Cherry tapi laki-laki itu hanya menoleh sebentar tersenyum lalu kembali menatap ponsel miliknya.


"Kak Husein, kenalin dia Alma sahabatku," Laki-laki yang Cherry panggil Husein itu mengangguk.


'Dasar cowok aneh, kalo dia gak menghindar gak mungkin kan tabrakan,


Aku tetap mengomel dalam hati, hingga aku sadar dia memiliki wajah yang tampan. Dengan nama cucu nabi Muhammad yang dia sandang membuatku berfikir tidak cocok nama itu menjadi miliknya. Dia begitu! Ah dia begitu sombong.

__ADS_1


"Kamu Anter skripsi sama pak Sean?"


"Iya, kenapa? Bye the way, aku buru-buru nih. Chat aja di grup yaa Cher," pamitku yang di balas anggukan milik Cherry.


Aku tidak sedang terburu-buru, hanya saja aku menghindari tatapan sebab aku baru saja menangis. Duduk di dalam kursi mobil, dengan pendingin yang menyala aku menunduk di stir kemudi ku pejamkan mata, mengingat 3 tahun lalu bagaimana dia, ayah dari anakku. Menolak bertanggung jawab. Dan memilih pergi bersama wanita yang sama sekali jauh dari kata cantik.


Bahkan ia menolak anak yang ku kandung, tak lupa dengan bahasa kotor mengata-ngatai aku *******,.


#Flashback


3 Tahun yang lalu,


Sepasang kekasih sedang memadu kasih sambil sedikit di selingi tawa di sebuah kamar kos tanpa mengenakan sehelai benangpun melekat di tubuh, mereka baru saja bersetubuh memadukan erangan-demi erangan dan sampai pada surga dunia yang orang dewasa juluki.


Dia fitrah, lelaki yang Almaera puja sedang di lantai dasar ada Almaera, bertemu dengan pemilik kos yang biasa menyapa mengedarkan senyum hangat,


"Malam, Bu." Sapa Almaera yang di balas anggukan juga senyum hangat milik wanita berdarah cina itu.


"Malam Almaera, mau ke kamar fitrah ya? Tumben malem-malem gini, kalau ngga salah tadi ada temennya cewek datang juga," ujar Bu Ida.


"Oh iya, Bu. Baru balik soalnya hehe,, yaudah bu, Alma duluan nih ya," Pamitku lalu berlalu naik ke lantai Empat tempat kamar Fitrah berada ku lewati anak tangga sambil memikirkan siapa wanita itu, apa teman kerja, tidak ingin melanjutkan buruk sangka aku teruskan berjalan dan sampai di sebuah pintu bernomor 36.


Jam baru saja menunjukkan pukul 9 malam, pemilik kamar sudah pasti baru pulang. Alma mencoba mengetuk pintu.


Tokkk.Tokk..Tokk


Tidak butuh waktu lama, Pintu terbuka menampakkan sosok laki-laki dengan penampilan berantakan, dan handuk yang menempel di pinggang juga wajah terkejut.


"Sayang? Kenapa gak ngabarin," sapanya kikuk tapi Almaera seolah tak ingin menjawab dan mencoba masuk tapi di halangi oleh Fitrah.


"Siapa di dalam? Biarin aku masuk ada yang mau aku omongin,"


"Ngga ada Yang, disini aja ngomongnya,"


"Yaudah, biarin aku masuk," Almaera mendorong tubuh Fitrah lalu masuk ke dalam, menyusuri kamar dengan satu kamar mandi di dalam, baru hendak masuk ia melihat baju juga celana dalam wanita berserakan di dalam.


Ia melirik seseorang di balik pintu, amarahnya naik seketika ia Jambak wanita yang sedang berjokok tanpa baju.


"Hahahaha, sini kamu berdiri," tarik Almaera sosok wajah yang tertutupi rambut itu membuat tangan Almaera merinding seketika.


"Kamu?"


"Iya gue, kenapa cewek bodoh?" Sapanya sombong tanpa malu mengekspos kulit yang menurut Almaera sangat tidak bagus di pamerkan.


"Kamu, Mpok yang Atasan Fitrah? Sering berangkat kerja sama dia?," Ujar Almaera sedangan laki-laki itu hanya diam tidak berkutik.


"Iya kenapa, bocil?"


"Oh, bener firasatku. Kamu suka berondong wajar aja kamu udah nikah berkali-kali. Kasian Tante. Hidupmu cuma di habiskan dengan maksiat," ejek Almaera


"Gak usah nasehatin gue, Anjing!"


"Tante, bahasanya yang sopan dong. Jangan ngomong jorok. Lagi pula suara Tante kaya orang kanker tenggorokan, tapi kok Fitrah mau aja ya sama Tante. Kalian cocok banget."


"Satu lagi sayang, Aku hamil. Aku tau kamu pasti menganggap aku sedang menjebak kamu. Karena aku tau kamu bukanlah laki-laki yang sanggup di mintai pertanggung jawaban,"


"Tapi, Al. Aku masih sayang kamu, dan kenapa kamu nggak berusaha gugurkan kandungan itu,?"


Almaera menyeringai dan menjentikkan jari tepat di hadapan Fitrah "Aku pezina, tapi bukan pembunuh, aku berharap setelah berpisah denganmu. Aku bisa jadi manusia lebih baik lagi!"


Flashbackoff

__ADS_1


"Arrrrrghhhhh,,,,," teriakan Almaera di susul air mata berlinang, mengingat semuanya rasanya sangat menyakitkan jika saat itu mas Adji tidak memutuskan pergi, ia pasti tidak terjebak pada situasi merumitkan ini.


---------------


__ADS_2