Wanita Penuh Luka

Wanita Penuh Luka
Part 4


__ADS_3

***


Happy Reading Gaes..


****


Sejak saat itu, Fitrah benar-benar tidak pernah muncul di hadapan aku dan juga Ayah.


Hidupku damai berlangsung beberapa tahun saja sampai di tahun ini semua masalaluku kembali lagi mengacaukan semuanya.


Dan aku mencoba bersikap biasa saja, karena setelah Agam mendatangiku kemarin. Mas adji seolah tidak ingin lagi mendekatiku, mungkin menghargai apa yang menjadi pilihanku.


Suara Adzan subuh terdengar, aku segera bangun dari tidurku berjalan ke arah box bayiku disana Allana yang masih tidur dengan lelap.


Seperti biasa aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslimah, aku sadar aku seorang pendosa tapi aku tidak akan meninggalkan Tuhan apapun alasannya.


-Jatuh 7 kali bangkit 8 kali, walaupun kamu tidak sanggup lagi. Tapi jangan tinggalkan Tuhan dalam hidupmu-


Suara tangisan Allana membuatku bergegas berlari menuju kamar, tepat setelah aku menyelesaikan pekerjaan rumah membuat sarapan dan bubur untuk Allana.


"Selamat pagi anak, Bunda." Sapaku dan membawa Allana ke dalam gendonganku.


Dan mengusap punggungnya sayang, Hari ini jadwalku aku kuliah pagi, hanya memberikan hasil tugas skripsiku agar di periksa dengan dosen pendampingku Pak Sean.


Setelah membereskan semuanya, Kami sekeluarga berkumpul seperti biasa di meja makan berikut bibi yang menjadi pembantu di rumah ini.


Ayah mengajari aku untuk tidak membatasi siapapun walaupun itu pembantu, aku menatap Abang Gavin yang terlihat murung mungkin ada masalah di kantor, karena raut wajah ayah terlihat biasa saja.


"Jadi gimana bang," suara ayah memecah lamunanku.


"Ya terserah Ayah, gimana yang terbaik sama ayah aja ya. Abang nurut." Senyum Ayah merekah mendengar jawaban Abang.


"Ada apa ini ayah?" Tanyaku penasaran sambil menyuapi nugget ayam ke mulut Allana,


"Ayah mau jodohin Abang sama anak temen ayah."


Aku mengulum senyum mengejek yang di balas mulutnya yang semakin maju lima centi.


Rasa penasaranku mengapa Abang Gavin begitu menurut saat di jodohkan sedangkan yang aku tahu dia sudah memiliki kekasih, aku mengabaikan rasa itu dan memilih menyimpannya untuk nanti aku tanyakan setelah pulang dari kampus. menghabiskan sarapanku lalu bangkit dari duduk,


"Ayah, Alma berangkat dulu." Pamitku seraya mencium seluruh tangan keluargaku.


"Titip Allana ya Bu, doain skripsi Alma di Acc biar cepet wisuda capek kuliah terus Bu," Keluhku yang membuat Ibu terkekeh geli,


"Alma, Nanti tolong selesai ngampus belanja ke pasar ya. Soalnya bibi kurang sehat sepertinya,"


Aku mengangguk, dan berjalan menuju mobilku terparkir, menyalakan lalu melajukannya perlahan letih yang mulai kurasa di tubuh aku menghibur diri dengan memutar beberapa lagu.


Ddrrrt..drttt...

__ADS_1


Notifikasi pesan dan nama yang membuatku terpaksa memberhentikan mobilku, Pak Sean.


Pak Sean: Alma, Maafkan saya. Hari ini saya tidak bisa menepati janji, Di rumah saya sedang ada masalah. Saya harap kamu bisa mengerti.


"Arrrghhhhhhhh!! Gagal lagi, kapan coba selesainya."


Ku balas pesan dari Pak Sean,


Me: Kalau saya antar kerumahnya gimana pak? Soalnya punya saya sendiri yang belum saya udah nunggu lebih dari 4 bulan. Bapak permainkan saya ya?


Geram!


Pak Sean: Baik Alma, saya share lock ya.


Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak di kenal,yang mengirimi share lock.


Itu pasti pesan dari Pak Sean, ku buka melalui GPS ku lajukan mobilku perlahan menuju alamat yang di berikan.


***


Sean-


Namaku Sean Nugraha, aku seorang dosen lulusan Universitas Indonesia.


Aku juga seorang CEO Perusahaan Cat yang dulu di kelola ayahku, kemudian di turunkan padaku. Karena beliau ingin menikmati masa muda.


Ada satu alasan dimana aku belum juga mengikrarkan janji nikah.


Karena aku takut pernikahanku gagal, aku tidak ingin menikah berulang kali.


Pernikahan itu hanya satu kali seumur hidup, menurutku jika aku gagal mempertahankan pernikahanku maka aku sudah membuang seperempat waktuku pada orang yang salah.


Aku memilki ibu yang cerewet yang selalu mengomel di setiap waktu, itulah alasanku menjadi seorang dosen agar waktuku tidak banyak di rumah dan tidak mendengar ocehan ibu.


"Makanya kamu itu nikah, Sean." Ujar ibu mendudukkan bokongnya tepat di sebelah sofa yang aku tempati.


"Ayolah bu, aku meluangkan waktu untuk ibu dan ayah agar bisa quality time. Ibu membahas perihal jodoh lagi dan lagi,"


"Sean! Ibu ingin cucu! Rumah ini lengang bak kuburan apa kamu gak ngerti?"


"Ibu perihal mencari jodoh tidak mudah kar-"


Ting...nong..Ting..nong


Suara bel memotong pembicaraan kami, aku memilih tetap duduk dan membiarkan ibu membuka pintu.


"Assalamualaikum,"


Rahma menatap wanita yang ada di hadapannya. Cantik. Dengan balutan baju syar'i dan wajah polosnya membuat siapa saja terpesona.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bu?" Ulang Alma, Rahma mengangguk, "Walaikumsalam, masuk nak. Pacarnya Sean ya? Ayo masuk." Belum sempat menjawab lengan Alma sudah di tarik masuk ke dalam rumah.


"Sean,ini pacar kamu ya?" Ujar ibu membuat Sean menoleh,


"Almaera?"


Tidak ingin membuat sang ibu kecewa Sean mengangguk mengiyakan, urusan belakang dengan Almaera dia bisa selesaikan,


Sean menatap, Alma yang terlihat ingin membantah. Tapi Sean segera berdiri menginjak kaki Almaera.


"Pak Sean, Saya cuma mau antar skripsi saya." Tegas Almaera membuat ekspresi Rahma seketika kecewa.


Almaera meletakan skripsinya di atas meja, "Tante maafkan saya, Saya pamit pulang Assalamualaikum." Pamitnya.


"Kamu benar-benar membuat ibu kecewa! Sean!" Bentak Rahma berlalu pergi masuk ke dalam kamar. Sean mengejar langkah sang ibu.


"Bu.. ayolah bu," mohon Sean tetap membuat Rahma enggan menanggapi.


"Ibu mau dia jadi menantu ibu! Titik"


Sean tersentak, mencerna semua kalimat yang di ucapkan ibunya.


"Bu dia mahasiswi Sean, tidak lebih."


"Kenapa memang? Kalau kamu tidak berhasil melamar dia bulan depan. Ibu tidak akan pernah menganggap kamu sebagai anak!"


"Bu, Sean benar-benar tidak-"


Belum selesai Sean melanjutkan pembicaraannya, Rahma sudah mengibaskan tangan menyuruh Sean pergi.


*****


Di tempat lain, setelah pulang dari rumah Sean. Almaera langsung terjun ke Pasar Raya membeli semua kebutuhan pokok selama satu bulan.


Satu jam waktu yang pas membeli semua bahan makanan, termasuk buah.


Alma segera memasukan seluruh belanjaan nya ke dalam mobil dan bersiap untuk pulang.


Meski fikirannya kusut dengan tingkah laku dosen yang di kampus sangat cool mengapa di rumah bisa seperti itu.


Alma menggeleng geli, ia berharap Skripsinya setelah ini tidak bermasalah. Rasa penat membuat Alma ingin segera sampai di rumah dan membersihkan diri, tepat jam makan siang.


Dddrttt...drttt...


[Sean: Alma, bisa kita berteman? No, maksud saya berteman sebagai ya saya harap kamu mengerti.]


Aku memilih tidak membalas pesan itu, sudahlah aku ingin fokus menjaga Allana. Lagi pula laki-laki mana yang ingin memperistri wanita yang memiliki anak hasil zina dan memiliki Masalalu suram.


Apalagi orang seperti Sean Nugraha, orang terpandang.

__ADS_1


__ADS_2