
"Terima kasih ya, udah di bantuin udah ngrepotin lagi" kata Mahesa sedikit berteriak sesaat setelah Calista turun dari motor bututnya. Mahesa berniat menyindir Calista yang selama perjalan hanya diam saja.
Namanya juga Calista, dia sama sekali tidak terganggu dengan celetukan Mahesa. Dia malah langsung berlalu pergi memasuki rumahnya.
Sebenarnya Mahesa tidak terlalu kaget dengan respon Calista. Memang tetangganya satu ini sangat cuek sekali. Dia hanya akan menggubris sesuatu yang menurutnya itu sangat penting.
Mahesa sangat mengenal karakter wanita itu. Sejak Mahesa menjadi tetangganya Calista,dia jadi tahu kalau ada yang lebih dingin dari kutub utara.
Mungkin kalau bukan permintaan Kak Ira, kakak Mahesa. Mahesa gak akan mau jauh - jauh datang ke kantor polisi. Mahesa, pria 23 tahun itu sama sekali tidak tertarik dengan urusan wanita 30 tahun itu, kalau bukan karena paksaan Kak Ira.
"Gimana, udah selesai urusannya?" tanya Kak Ira sesaat setelah Mahesa memasuki pintu rumah.
"Udah, ini aku terpaksa ya ngelakuinnya" jawab Mahesa malas.
"Ya ampun jangan gitu dong, kita itu wajib membantu tetangga yang lagi kesusahan. kalau bukan karena perutku sakit. Aku pasti udah jalan sendiri" jelas Ira panjang lebar.
Kak Ira memang satu - satunya sahabat dekat Calista. Sebenarnya orang yang Calista telfon adalah Ira, tapi Ira malah melemparnya ke Mahesa. Awalnya Mahesa menolak namun dengan jurus seribu paksaan akhirnya mau gak mau Mahesa harus menurutinya.
Ira dan Calista berteman sejak SMA, rumah keduanya juga berdekatan.
Calista melemparkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya. Mengingat kejadian tadi membuat Calista merasakan sesak di dadanya. Hampir setiap hari Calista harus menahan amarah untuk bisa bertahan dengan Alex. Semua hal yang ia lakukan ke Cindy bukanlah karena kemarahannya karena telah di tipu Cindy melainkan luapan amarahnya yang selama ini ia pendam karena Alex.
Calista bukan lagi cinta kepada Alex, tapi ia terobsesi dengannya. Cinta bertahun - tahun itu menumbuhkan obsesi yang tinggi. Sehingga ia tidak peduli dengan dirinya sendiri, asal bisa bersama Alex menggenggam duri pun Calista bersedia.
Calista sebenarnya seorang wanita cerdas,tegas dan juga ambisius. Cinta buta dan obsesinya terhadap Alex membuatnya seolah terlihat sebagai perempuan jahat.
..........
Ira berdiri di depan lobi hotel sambil mondar - mandir, sambil berkali - kali matanya melirik jam di ponselnya.
Ira dapat tersenyum lega, saat melihat Mahesa berjalan mendekatinya dari kejauhan.
"Lama benget sih" omel Ira
__ADS_1
"Udah untung aku mau anterin kesini, aku bawa pulang lagi ni" gerutu Mahesa sambil menyodorkan map berwarna biru.
"Ok,makasih. Duluan ya aku buru - buru" Ira langsung kabur begitu saja.
Mahesa hanya menggeleng - gelengkan kepala melihat kelakuan kakaknya itu. Mahesa heran kakaknya masih bersikap seperti anak kecil, padahal sebentar lagi dia mau menikah.
"Alex" celetuk Mahesa saat melihat seorang pria dan wanita bergandengan tangan berada di depan resepsionis hotel. Mahesa lebih memfokuskan pandangannya ke wanita yang di gandeng Alex, benar saja wanita itu bukan Calista.
Wanita itu memiliki rambut pendek sebahu dengan penampilan sederhana jauh berbeda dengan Calista.
"Bukanya dia udah tunangan ya sama Kak Calista, wah bener - bener tu cowok" Mahesa berbicara sendiri.
Mahesa tahu hubungan Calista dan Alex, tapi dia tidak menyangka Alex menduakan Calista. Namun Mahesa tidak ingin ambil pusing hubungan Calista dan Alex. Dia memilih pergi dari lobi hotel untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda karena Ira.
Baru beberapa meter Mahesa meninggalkan lobi hotel, di depannya sudah ada Calista yang berjalan dengan cepat menuju lobi hotel. Keduanya berpapasan, anehnya Calista tidak menyadari kalau ada Mahesa. Calista terlalu fokus dengan pikirannya sampai dia mengabaikan hal - hal di sekitarnya.
Dari wajahnya Mahesa bisa menebak kalau wanita itu terlihat begitu kesal. Mahesa berusaha kembali mengabaikan urusan tentang Calista. Tetapi ada sesuatu yang tiba - tiba menganggu pikirannya.
Mahesa kembali mengingat kejadian pertengkaran Calista dan Cindy. Mahesa juga tahu kalau Calista terkadang sering nekat. Mahesa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada wanita yang bersama dengan Alex kalau sampai bertemu Calista.
"Kemana sih kak Ira" gerutu Mahesa karena tidak ada jawaban dari Ira.
"Ah udalah ini bukan urusan aku" Mahesa melangkahkan kakinya pergi dari lobi hotel.
Calista berdiri tegap di depan pintu kamar hotel. Dia hanya berdiri mematung, tatapannya begitu sendu.
Rasa amarah yang ia rasakan seketika berubah menjadi ketakutan. Takut kalau apa yang ia bayangkan menjadi sebuah kenyataan.
Tangannya begitu ragu untuk mengetuk pintu itu. Calista menghela napas panjang, untuk sedikit memberikannya keberanian.
"Tok,tok,tok" Calista mengetuk pintu kamar itu.
"Room service" Calista berusaha mengecoh orang yang berada di kamar itu.
__ADS_1
Apa yang di bayangkan Calista mungkin memang benar. Pintu itu terbuka dan seorang wanita yang membukanya, wanita itu adalah Dini. Dari celah pintu Calista bisa melihat disitu ada seorang pria, yang tak lain adalah Alex.
"Calista, Kamu kok bisa ada disini" Dini yang begitu terkejut dengan kehadiran Calista.
"Dasar munafik, kamu bilang kamu akan lepasin dia. Bahkan dibelakang aku kamu lakuin hal sejauh ini" Calista tetap tegar seolah hal seperti ini tak menghancurkan hatinya.
"Anggap aja apa yang kamu lihat ini bener" Alex menimpali
"Aku sama Alex memang masih ada hubungan, kita berdua masih saling mencintai" imbuh Dini.
"Perasaan aku sama Dini masih sama seperti dulu gak akan berubah, dan gak akan pernah berubah" Lagi - lagi Alex mengatakan hal yang membuat hati Calista hancur.
"Mending kita akhiri pertunangan kita" imbuh Alex.
Calista masih terdiam, terpaku.
Tiba - tiba seseorang datang menarik tangannya, membuatnya bersembunyi di balik dinding.
Calista membelalakkan matanya dan dia juga baru menyadari kalau apa yang terjadi hanyalah bayangan buruknya. Semua yang terjadi hanyalah khayalannya.
Mahesa menarik Calista untuk menjauh dari pintu itu, ia sengaja melakukan hal itu agar Calista tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar hotel itu.
Mahesa berada tepat di depan Calista,mereka begitu dekat. Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Mahesa merasa begitu gugup saat dia menyadari dia begitu dekat dengan Calista. Mahesa langsung mundur selangkah untuk menghilangkan kegugupannya.
"Mahesa, ngapain kamu disini" tanya Calista heran
"Emmm" Mahesa sedikit bingung untuk mencari jawaban. Dia gak mungkin bilang kalau sebenarnya dia khawatir kalau - kalau Calista berbuat hal nekat. Dia juga gak mungkin bilang dia rela lari dari lobi hotel sampai ke lantai dua cuma untuk menjaga Calista.
"Emm aku cuma pengen narik kamu aja kesini" jawab Mahesa ngasal. Calista berdecak kesal. Calista kembali menengok pintu kamar hotel itu, tetapi pintu itu sudah tertutup kembali.
Calista kembali mendekati Mahesa dan menatapnya dengan tatapan tajam penuh kekesalan.
__ADS_1
To be continued...