Warna Untuk Pelangi

Warna Untuk Pelangi
Harapan Palsu


__ADS_3

Mahesa tersenyum menatap Calista, pandangan Mahesa menjadi berubah ketika Calista menatapnya dengan tatapan lembut, rasanya ada yang aneh menyentuh hatinya. Mahesa juga merasa kalau Calista kali ini terlihat begitu cantik, sangat cantik sampai membuat matanya enggan berkedip.


"Sangat cantik" celetuk Mahesa tanpa sadar.


"Cantik?" Calista keheranan dengan ucapan Mahesa.


Ucapan Calista membangunkan lamunan gilanya. Mahesa merasa kalau dia sudah benar - benar tidak waras bisa terpesona dengan wanita angkuh seperti Calista.


"Lukisan,lukisan itu kelihatan cantik" ucap Mahesa ngasal, sambil menunjuk lukisan di dinding.


Calista agak merasa aneh, apanya yang cantik dari lukisan hewan.


"Aku masih gak nyangka, kalau ternyata kamu seorang atlet" Calista mulai menunjukkan kekagumannya pada Mahesa


"Pasti kamu mikirnya aku cowok yang gak punya kerjaan ya"


"Emm, ya soalnya Ira juga gak pernah cerita" Calista kali ini mulai merasa nyaman berbicara dengan Mahesa.


"Kak Ira itu biasanya cuma bicara yang jelek - jeleknya doang, masak dia ngomong sama semua orang aku sukanya tidur aja"


Melihat ekspresi jengkel Mahesa, membuat Calista sedikit tersenyum.


"Pokoknya kalau kak Ira bicara lagi tentang aku yang jelek - jelek, itu semua gak bener" imbuh Mahesa.


Calista hanya mengangguk pelan.


"Kayaknya aku udah harus balik deh, soalnya ada janji sama pelatih aku" ucap Mahesa sembari melihat jam di tangannya.


"Ya kamu duluan aja soalnya aku masih ada beberapa hal yang harus aku kerjain dulu" kata Calista ramah.


Mahesa hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Mahesa lalu pergi meninggalkan Calista sendiri di ruangan itu.


Mahesa merasa seolah melihat orang berbeda, sorot mata tajam yang biasa Calista tunjukkan padanya kini tidak terlihat. Kata - katanya juga terdengar begitu ramah tidak seperti biasanya


Ruangan ini benar - benar terasa sunyi, tapi hal ini justru membuat Calista bisa lebih memfokuskan pikirannya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Ceklek" suara ganggang pintu memecahkan kesunyian di ruangan itu. Sontak saja Calista langsung mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.


Mahesa muncul dari balik pintu dengan tangan kanan membawa payung berwarna merah.


"Diluar mendung, mungkin sebentar lagi hujan. Pakai ini buat jaga - jaga" Sambil berjalan Mahesa mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Dan saat itu Calista merasa seolah hanya mampu melihat Mahesa. Dunia di sekitarnya seolah berhenti. Melihat senyum Mahesa membuatnya sadar kalau lelaki itu selalu tersenyum padanya terlepas apapun yang terjadi. Calista juga sadar kalau lelaki itu selalu memberikan hal yang selalu ia inginkan dari Alex.


Saat pintu menutup selepas Mahesa pergi, Calista baru sadar dan merasa malu dengan apa yang ia pikirkan. Hal itu juga membuat Calista menjadi salah tingkah sendiri.


Benar saja beberapa jam kemudian hujan turun dengan derasnya. Calista menatap payung merah diatas meja itu dengan senyum di bibirnya.


......................


Alex, pria itu akhirnya muncul di depan Calista setelah peristiwa malam itu. Alex mendatangi rumah Calista kali ini dengan keadaan sadar.


Tiba - tiba saja Alex sudah berdiri diambang pintu saat Calista sampai di rumahnya. Kehadiran Alex sempat membuat Calista mematung di depan rumahnya di tengah hujan deras,untung saja payung pemberian Mahesa cukup besar, sehingga tidak terlalu membuat Calista kebasahan.


"Alex, ngapain kamu disini" tanya Calista dengan heran saat Calista sudah berada di dekat Alex.


Tetapi Alex hanya diam, Calista langsung membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.


Setelah apapun yang terjadi, entah malam itu atau kata - kata yang menyakitkan dari mulut Alex, tetap saja Calista merasa senang Alex mau datang menemuinya.


Mereka duduk berdua saling berhadapan. Calista menatap Alex, sementara Alex hanya menundukkan pandangannya.


"Aku mau minta maaf atas kejadian malam itu, semua yang aku lakukan itu diluar kendali aku" Alex memulai pembicaraan, dia menatap Calista dengan tatapan teduh.


"Ya aku tahu" jawab Calista singkat.


Mendengar kalimat itu muncul dari mulut Alex membuat Calista terpaku. Calista membelalakkan matanya seolah masih tak percaya dengan apa yang di katakan Alex. Alex mengajaknya menikah, itu adalah hal yang paling dia inginkan sejak dulu.


Namun rasanya terasa aneh, kenapa Calista tidak merasakan sebahagia itu ketika kata - kata itu terucap dari bibir Alex. Rasanya masih hambar, Calista masih merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


"Menikah? kamu serius" Calista ingin memperjelas pernyataan Mahesa.


Sebelum Alex menjawab pertanyaan Calista, Alex menghela nafas panjang sambil meyakinkan hatinya akan jawaban yang akan ia katakan


"Ya aku serius, mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kita"


Mata Calista begitu berbinar mendengar hal itu, akhirnya hari ini tiba juga, hari dimana Alex menerimanya.


"Lalu gimana dengan wanita itu" tanya Calista yang masih ingin memastikan kalau Alex benar - benar serius dengan perkataanya.


"Hubungan kita sudah berakhir, dan dia juga akan segera menikah" ada sebuah kesedihan yang terlihat dari mata dan perkataanya terdengar berat.


"Apa kamu mau janji sama aku, kalau kamu gak akan pernah ngerubah keputusan kamu ini" tantang Calista pada Alex, untuk lebih memberikannya sebuah kepastian.

__ADS_1


"Aku janji, aku akan berusaha untuk menerima kamu sebagai calon istri aku" ucap Alex penuh keyakinan.


Calista merasakan kelegaan di dadanya, mendengar ucapan Alex yang yang penuh keseriusan membuat Calista yakin kalau pria itu memang benar - benar akan berubah.


"Gimana kalau besok malam, kita bicarakan keputusan kamu di depan papa aku" ajak Calista antusias.


"Ya, aku setuju apapun itu rencana kamu" jawab Alex pasrah.


Undangan yang Alex terima dari Dini, benar - benar membuatnya pasrah dengan kehidupannya. Tidak ada hal yang ingin Alex perjuangkan lagi karena semua seolah hancur. Hatinya yang dulu sangat menolak kehadiran Calista kini Alex memaksakan untuk membuka hati untuk Calista.


......................


Calista menatap lekat dirinya di dalam cermin, senyum yang terukir di bibir memberikan gambaran betapa bahagianya dia malam ini. Malam dimana semua harapanya mungkin akan terkabul, untuk bisa memiliki Alex seutuhnya.


Malam ini pertemuan keluarga itu akan terjadi. Lihat saja Calista sudah memakai gaun merah yang membuatnya terlihat begitu anggun. Biasanya Calista selalu terlihat memakai blazer atau pakaian kerja yang terlihat lebih casual namun kali ini dia terlihat begitu anggun.


Bahkan wajahnya yang biasanya selalu tegang dan terlihat angkuh kini terlihat sumringah, ini karena suasana hatinya saat ini sedang sangat - sangat bahagia.


Pertemuan itu akan dilakukan di sebuah restoran bintang lima yang tak jauh dari rumah Calista.


Calista sudah meminta Papanya dan juga mama tirinya untuk datang beserta kedua orang tua Alex. Pertemuan itu akan dilakukan jam 7 malam, namun Calista sudah siap sejak satu jam yang lalu.


Kali ini yang perlu Calista lakukan hanyalah berdiri di depan rumahnya menunggu Alex datang menjemputnya.


Waktu sudah menunjukkan 18:40 namun Alex masih belum juga datang untuk menjemputnya, bahkan sejak siang tadi Alex juga tidak menghubungi Calista.


Calista sejak setengah jam yang lalu sudah berdiri di depan rumahnya untuk menunggu Alex.


Sampai pukul 7 tepat Alex juga masih belum datang untuk menjemputnya, perasaan khawatir mulai menghampiri Calista. Calista masih berfikir positif kalau - kalau mungkin Alex terjebak macet.


Disaat Calista menerka - nerka dengan banyak kemungkinan di kepalanya, tiba - tiba Alex menghubunginya. Calista bernafas lega karena Alex akhirnya menghubunginya.


"Kamu dimana, aku nungguin kamu dari tadi. kamu gak kenapa - kenapa kan?" tanya Calista dengan cemas sesaat setelah mengangkat telfonya.


"Aku ada dirumah sakit" jawab Alex, dengan suara pelan.


"Rumah sakit? kamu kenapa?" Calista semakin cemas.


"Dini, dia kecelakaan"


Mendengar nama itu membuat Calista langsung terdiam. Calista merasa ada sesuatu yang dalam menusuk hatinya, terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Maaf, aku gak bisa datang" suara Alex terdengar begitu berat.


to be Continued.,........


__ADS_2