
Dini masih berdiri di depan pintu hotel, menunggu Alex keluar dari kamar hotel. Sebenarnya sejak tadi Dini hanya berada diluar kamar hotel. Hanya saja saat Calista datang Dini sedang pergi ke toilet.
Dini masih tidak percaya kalau Alex rela pergi dari rumah dan sementara tinggal di hotel. Dia masih bersabar untuk menunggu penjelasan dari pria itu.
Akhirnya pria yang ditunggu muncul juga dari balik pintu.
"Ini" Alex menyerahkan tas kecil berwarna hitam kepada Dini. Sebenarnya ini juga menjadi salah satu alasan Dini kenapa mau datang ke hotel bersama Alex.
"Terima kasih, aku pergi dulu" pamit Dini.
"Udah gitu aja, kamu gak kangen apa sama aku"
Sejak tadi Dini tidak berani menatap mata Alex, namun kali ini Dini memberanikan Diri menatap mata Alex.
"Mulai hari ini jangan pernah lagi menemui aku, diantara kita sudah gak ada hubungan apa- apa lagi" Dini mempertegas kalimat itu, walaupun sebenarnya hatinya sangat berat.
"Aku gak mau, kamu udah nyerah" tanya Alex dengan tenang.
"Iya, aku udah nyerah sama hubungan kita, aku capek untuk terus - terusan yakinin orang tua kamu" Dini mulai sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Tunangan kamu itu jauh lebih baik dari aku, mending kamu nikah sama dia" imbuh Dini dengan berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.
"Tapi aku gak cinta sama dia, aku maunya itu kamu" Alex meninggikan nada bicaranya.
"Aku sebentar lagi juga akan menikah, dia pria pilihan ayah aku" kata Dini pelan.
Kalimat itu mampu membuat Alex terdiam membisu.
"Lupain aku, lupain semua tentang kita. Anggap aja kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama" Kini Dini tidak mampu membendung air matanya lagi. Melihat Alex terluka membuatnya sakit. Dini berusaha keras menahan dirinya untuk tidak terisak di depan Alex.
Dini melangkah pergi, meninggalkan Alex yang masih begitu terpukul dengan kata - kata Dini. Alex tidak mampu menahan Dini untuk tidak pergi, kata - kata Dini sungguh menghancurkan hatinya.
Setelah benar - benar pergi jauh dari Alex, barulah Dini menangis dengan terisak. Cinta itu memang masih ada dalam hati Dini tapi Dini merasa lelah untuk terus berjuang. Selama 4 tahun ini Dini terus berjuang mempertahankan hubungannya namun pada akhirnya ia harus rela melihat Alex bertunangan dengan wanita lain. Bagi Dini ini adalah akhir dari hubungannya.
......................
Hampir pukul 10 malam,tetapi lampu - lampu di rumah Calista masih tetap menyala.Wanita itu memang tinggal sendirian di rumah sebesar itu. Art hanya datang pagi sampai sore.
Calista lebih nyaman tinggal sendiri di bandingkan harus tinggal bersama ayahnya. Sejak ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, saat itu juga Calista memutuskan untuk meninggalkan rumah. Tapi mereka masih sering bertemu karena Calista juga masih bekerja di perusahaan milik ayahnya. Selain ibu tiri Calista juga memiliki saudara tiri perempuan.
Tapi untuk malam ini Calista tidak sendiri dia ditemani sahabatnya Ira. Ira sudah terbiasa berada di rumah Calista sampai larut malam ya karena mereka tetanggaan.
__ADS_1
Ira sedang berbaring di sofa panjang dengan seluruh wajahnya di tutupi masker hitam. Sementara kedua matanya di tutupi oleh dua mentimun segar. Calista si empunya rumah sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ta kayaknya aku udah mulai ngantuk deh" ucap Ira pelan dengan mulut sedikit terbuka.
"Pokoknya gak boleh tidur disini, sana pulang udah malem tuh" usir Calista.
Calista memang terlihat agak kasar, tapi Ira sangat memahami sifat sahabatnya itu. Terakhir kali Ira nginep di rumah ini keadaan rumah sedikit berantakan dan Calista sangat tidak menyukai hal itu.
"Aku nginep sini aja ya, nanggung nih dah malem" pinta Ira, masih menikmati posisi rebahannya.
"Enggak,pokoknya enggak"
"Ta nanti kalau aku udah nikah, aku pasti udah gak bisa nginep sini lagi"
"Ya baguslah, kamu jadi gak ngrepotin aku" jawab Calista, walaupun sebenarnya ada sebuah kesedihan dalam hatinya.
"TOK,TOK,TOK,TOK" terdengar dari luar ketokan pintu begitu keras dan bertububi tubi.
Ira langsung bangun dari tidurnya.
"Siapa tuh, jangan - jangan maling" Ira sedikit ketakutan.
Calista hanya memberikan ekspresi datarnya, tidak terkejut tidak pula merasakan takut.
"Kayaknya kenal deh sama suaranya" Ira masih berfikir untuk mengenali suara itu.
Calista tanpa berfikir sudah tahu siapa pria yang teriak - teriak diluar rumah itu. Suara itu sangatlah tidak asing baginya.
Calista langsung bergegas menuju sumber suara itu, diikuti Ira di belakangnya.
Calista langsung membuka pintu, Calista memang tidak salah pria itu benar - benar Alex.
Alex terlihat begitu kacau, wajahnya sayu, matanya sedikit memerah dan jalannya pun tidak tegap sedikit sempoyongan. Calista bahkan mencium bau Alkohol. Pria itu datang dalam keadaan mabuk.
"Calista ini kan yang kamu mau. Aku datang CALISTA" Ucap Alex sambil mendekati Calista dengan jalan yang sempoyongan.
Calista hanya diam mematung. Baru kali ini Calista melihat Alex mabuk. Padahal ia tahu kalau Alex sangat anti dengan minuman beralkohol, bahkan Alex pun tidak merokok.
"Kamu adalah wanita sempurna,tapi sayangnya aku tidak menyukai itu"
"AKU SANGAT TIDAK MENYUKAI ITU" Teriak Alex.
__ADS_1
Ira yang mendengar itu langsung terbakar emosi
"Dasar cowok gila" Ira hampir menamparnya tapi Calista malah mencegahnya.
Calista berusaha untuk memapah Alex agar tidak jatuh tapi Alex malah menepisnya.
Kali ini Alex malah mencengkeram kedua lengan Calista, menatap tajam Calista, dengan tatapan penuh kebencian.
Ira melihat kejadian itu merasa sangat ketakutan ia langsung menghubungi Mahesa.
"Kamu tahu, kamu adalah orang yang paling aku benci di dunia ini" Alex terus mencerca Calista dengan kata kasarnya.
"Karena kamu aku kehilangan dia,dalam hidup ini aku berharap kamu pergi dari kehidupan aku. Biarkan aku bisa hidup dengan dia" Alex mengatakannya dengan air mata yang menetes.
Calista begitu hancur mendengar kata - kata itu, namun dia berusaha untuk menahan air matanya.
Mahesa yang datang, langsung menarik Alex untuk melepaskan cengkeramannya. Begitu mudah bagi Mahesa untuk menarik Alex, bahkan dengan sedikit dorongan Mahesa mampu merobohkan Alex. Alex terjatuh kelantai, terkapar tak sadarkan diri.
Mahesa memukul - mukul pipi Alex.
"Woy bangun" Mahesa sedikit berteriak.
"Ta, kamu gak apa - apa kan?" tanya Ira khawatir.
Calista hanya bisa diam,menatap Alex dengan mata berkaca - kaca.
"Bawa dia pergi" ucap Calista pada Mahesa.
Calista langsung masuk ke dalam rumah tanpa ingin tahu lagi keadaan Alex, kali ini dia terluka benar - benar terluka.
"Kenapa harus aku yang bawa,biarin aja dia disini. ini kan bukan urusan aku" keluh Mahesa.
"Udah deh, Sekali - kali bantuin Calista, kasihan dia" omel Ira.
Mahesa hanya bisa menghela napas panjang, dia begitu pasrah harus selalu terlibat dengan masalah Calista.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil datang untuk menjemput Alex. Mahesa memesankan Taxi online untuk Alex.
Alex masih juga belum bangun, walaupun Mahesa sudah berusaha membangunkannya berkali - kali.
Dengan terpaksa Mahesa harus memapah Alex dibantu sopir Taxi menuju mobil.
__ADS_1
To be Continued........