
Tatapan tajam Calista membuat ciut nyali Mahesa, tatapan sungguh menusuk seolah ingin menerkamnya.
"Aku kesini tu" Mahesa masih memikirkan alasan yang tepat agar tidak terlihat mencurigakan.
"Aku mau minta imbalan" kata Mahesa cepat setelah muncul ide di otaknya.
Calista mengerutkan keningnya tanda dia merasa bingung dengan pernyataan Mahesa.
"Kemarin aku kan udah bantu Kamu, di kantor polisi" Mahesa memperjelas maksudnya karena tahu Calista belum memahaminya.
Calista hanya diam dan menatap pria yang senyum di depannya itu. Bagi Calista adik Ira ini sangat menyebalkan. Pria sok ganteng dan sok keren, baginya dia tidak lebih dari seorang bocah kecil.
Walaupun sebenarnya memang harus diakui Mahesa adalah pria yang keren. Mahesa memiliki bentuk tubuh atletis dan juga senyum berlesung Pipit yang membuat kharismanya semakin keluar.
"Ok, nanti aku transfer" kata Calista kesal.
"Aku gak mau uang" Mahesa senyum tipis.
"Aku mau di traktir makan aja, kayaknya restoran di depan hotel ini enak"
Calista berusaha keras agar bisa menahan amarahnya untuk tidak memukul Mahesa. Kalau bukan karena dia adiknya Ira mungkin dia sudah di pukul abis oleh Calista.
"Benerkan, makanan disini tu, enak - enak" ucap Mahesa sembari melahap makanannya. Mahesa terus menikmati makanannya,walaupun dia tahu wanita di depannya sangatlah kesal.
Benar saja Calista hanya menikmati rasa kesalnya menonton Mahesa makan.
Mahesa sengaja membawa Calista ke tempat ini agar Calista tidak bertemu Alex. Walaupun wanita itu sangat angkuh tapi entah kenapa dia merasa kasihan melihat Calista, dia juga tidak ingin melihat Calista terluka.
Saat menikmati enaknya suapan terakhir, tiba - tiba setitik debu masuk ke mata Mahesa. Mahesa langsung mengedip - ngedipkan matanya.
Calista yang melihat Mahesa seperti itu merasa heran.
"Kenapa" tanya Calista ketus
"Mata aku kena debu nih, tolong dong tiupin" jawab Mahesa. Calista langsung membalasnya dengan sebuah pukulan ke bahu Mahesa.
"Kenapa sih, orang aku cuma minta tolong"
"Kamu pikir aku sama kayak cewek - cewek diluaran sana yang mudah kamu mainin"
Padahal Mahesa saat itu benar - benar merasakan perih di matanya. Mahesa kembali mengedipkan - ngedipkan matanya. Kali ini arah pandangan Mahesa menghadap seorang wanita yang berada tepat di sebelah mejanya.
Wanita itu merasa kalau Mahesa sedang berkedip padanya. Wanita itu langsung berbisik kepada pria botak bertubuh gempal yang tak lain adalah pacarnya.
Muka pria itu langsung memerah dan langsung berjalan menghampiri Mahesa
__ADS_1
"Ngapain loe godain cewek gue" bentak pria botak itu pada Mahesa.
"Bang, kayaknya Abang salah paham. Saya gak pernah ada niat godain cewek Abang" jawab Mahesa tenang.
Calista yang melihat kejadian itu langsung memanfaatkanya, dengan perlahan berdiri, berjalan pelan meninggalkan Mahesa. Bagi Calista ini adalah kesempatan besar untuk bisa lari dari Mahesa.
Pria botak itu langsung menarik kerah baju Mahesa.
"Bentar - bentar bang" Mahesa berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu, sambil matanya melirik Calista yang sudah setengah jalan meninggalkannya.
"Dia tu, yang nyuruh saya" Mahesa teriak sambil menunjuk Calista.
"ah Sialan" Calista mengumpat dalam hati.
Melihat pria botak itu lengah Mahesa langsung lari dengan cepat, menarik tangan Calista untuk mengajaknya lari bersama.
Keduanya berlari berlari bersama - sama menelusuri trotoar jalan yang ramai akan orang. Dibelakangnya pria botak itu terus mengikutinya.
"Kamu udah gila ya, ngapain kamu godain pacar orang" kata Calista dengan nada tinggi, sambil terus berlari.
"Si botak itu salah paham, kamu juga mau ninggalin aku sendirian kan"
"Ya, itu kan urusan kamu" Calista jawab tanpa rasa bersalah.
Calista menarik tangan Mahesa untuk berlari menuju deretan mobil yang terparkir. Mereka bersembunyi dengan tenang diantara mobil - mobil itu.
Pria botak itu benar - benar kehilangan jejak Calista dan Mahesa. Walaupun matanya sudah jeli melihat sekelilingnya pria itu tidak melihat keduanya. Sambil mengumpat pria itu kembali ketempat asalnya meninggalkan Calista dan Mahesa.
Keduanya mengawasi di balik mobil sedan putih. Setelah si botak benar - benar pergi Mahesa menghela napas lega.
"Gak nyangka ya, ternyata kamu sepengecut itu" cibir Calista.
"Lari adalah cara tercerdas untuk menghindari masalah" jawab Mahesa dengan bangga.
"Udah bilang aja kalau kamu takut sama si botak, padahal aku bisa kok kalau cuma lawan si botak itu, gak perlu lari"
"Abis itu masuk kantor polisi, sama tuh kayak orang paling pemberani yang masuk kantor polisi karena ngacak - ngacak rambut orang" sindir Mahesa.Calista lalu melirik Mahesa.
Calista berupaya untuk kembali berjalan, namun ia merasakan ada yang aneh dengan sepatunya, hiils sepatunya patah. Calista semakin merasa frustasi, ia melepas sepatu miliknya dan membuangnya dengan keras.
Lagi - lagi Calista menunjukkan tatapan tajam pada Mahesa. Wajahnya benar - benar terlihat kesal.
Rasa kesal dalam diri Calista membuatnya tanpa sadar berjalan dengan kaki telanjang tanpa merasakan panasnya aspal jalan.
Mahesa berlari menghampiri Calista menghadang langkah Calista.
__ADS_1
"Ada apa lagi" omel Calista
Mahesa langsung berjongkok, memberikan sepatunya, memaksakan Calista untuk memakai sepatunya.
Awalnya Calista sangat enggan, karena sepatu itu sama sekali bukan gayanya apalagi agak kebesaran untuk ukuran Calista. Melihat ketulusan Mahesa membuat Calista sedikit luluh. Calista membiarkan Mahesa memakaikan sepatu itu di kakinya.
"Tenang aja ini gak akan bau, aku baru beli sepatu ini. Aku ngelakuin ini biar kak Ira nanti gak ngomel sama aku"
Ucapan Mahesa berhasil membuat hati Calista tersentuh, keadaan ini juga sedikit membuat Calista kikuk.
................
Calista memasuki ruang kerjanya dengan perasaan kesal yang masih menumpuk di dadanya. Ia langsung melepas sepatu milik Mahesa dan langsung melemparnya.
Kejadian hari ini benar - benar membuatnya kesal. Dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak ingin berurusan dengan bocah kecil itu lagi.
"Tok..tok" suara ketukan pintu dari luar ruangan Calista
"Masuk" jawab Calista.
"Bu Calista kenapa?" tanya Yeni sekretaris Calista, yang merasa aneh dengan penampilan Calista yang sedikit berantakan dan kaki yang telanjang.
Biasanya Calista selalu berpenampilan rapi, karena Calista adalah orang yang perfeksionis dia tidak bisa membiarkan sesuatu yang menggangu penampilannya. Yeni sudah hafal betul dengan karakter Calista. Apalagi dari mimik wajah dan sorot matanya Yeni sudah tahu kalau Calista sedang dalam kondisi marah.
Calista hanya diam, itu artinya Calista tidak ingin mengatakan apapun pada Yeni.
"Besok kita ada rapat sama brand Ambassador kita yang baru, Pak Seno minta Bu Calista yang handlle semuanya" Yeni menjelaskan dengan hati - hati.
"Ok,kamu boleh keluar"
"Yeni"
"iya, Ada apa Bu Calista"
"Kamu bawa sepatu itu, kamu boleh buang aja"
Yeni lalu memungut dua sepatu yang berserakan di lantai.Baru Yeni ingin membuka pintu Calista tiba - tiba berubah pikiran.
"Jangan di buang, kamu taruh lagi sepatu itu" perintah Calista dengan sedikit ragu.
Yeni yang merasa aneh, hanya mampu menuruti kata - kata Calista.
Mengingat kembali ketulusan Mahesa membuat Calista tidak tega untuk membuang sepatu itu.
To be continued
__ADS_1