
Calista masih mematung, rasanya kemarin dia baru diterbangkan oleh Alex dengan setinggi - tingginya tetapi kini Alex justru menjatuhkannya.
" Aku akan tunggu kamu sampai datang" tegas Calista.
"Maaf aku benar - benar gak bisa datang, kita batalin aja pertemuan kali ini" pinta Alex.
"Kamu gak bisa gitu aja.." belum selesai Calista menyelesaikan kalimatnya Alex sudah mematikan telfonnya.
"Alex, Alex" teriak Calista. Sekencang apapun Calista berteriak Alex tidak mungkin akan mendenggar.
Calista hanya mampu menahan segala amarah di dadanya. Bukan hanya amarah melainkan rasa sakit yang yang begitu menusuk hatinya.
Sementara itu Papa Calista sudah datang ke restoran sejak 10 menit lalu bersamaan dengan itu juga kedua orang tua Alex juga datang. Restoran itu khusus Calista sewa hanya untuk keluarga Calista dan juga keluarga Alex, jadi tidak ada orang lain di tempat itu kecuali para pelayan.
Ditempat itu juga hadir ibu tiri Calista dan juga adik tirinya. Kedua keluarga terlihat sangat akrab semua orang bercengkrama, suasana hangat menyelimuti kedua keluarga.
"Saya rasa akan ada kejutan dari Calista, saya harap mereka memutuskan segera menikah" kata Papa Calista.
"Saya juga berharap begitu, saya sudah gak sabar melihat Alex menikah" ucap Mama Alex yang tak kalah antusias.
"Kalau mereka berdua menikah hubungan keluarga kita akan semakin erat" Papa Alex juga sangat bersemangat membahas pernikahan ini.
Mungkin diantara semua orang papa Alexlah yang paling bersemangat. Jika pernikahan ini terjadi maka akan semakin besar suntikan dana yang akan Papa Calista berikan pada perusahan Alex. Bukankah ini alasan utama Papa Alex menyuruh Alex untuk mau bertunangan dengan Calista, sekalipun papa Alex tau kalau anaknya sama sekali tidak mencintai Calista.
Disaat yang lain bersemangat Irene adik tiri Calista terlihat begitu tidak nyaman diantara orang - orang ini. Irene sama sekali tidak tertarik dengan urusan kakak tirinya itu. Bisa dibilang Irene kurang suka dengan Calista, mereka bahkan selalu bersaing dengan bisnis mereka yang sama - sama bergerak di produk kecantikan.
Irene bahkan berdecak kesal ketika melihat orang - orang ini berbicara tentang rencana pernikahan.
Akhirnya orang yang mereka tunggu datang. Semua yang berada di meja itu langsung mengalihkan pandangnya pada Calista, mereka semua menyambut dengan senyuman kecuali Irene yang lebih memasang muka sebal.
Calista datang masih dengan menggunakan gaun itu, sorot matanya begitu tajam, wajahnya terlihat tegang tidak ada senyuman yang nampak dari bibirnya.
"Loh, kamu kok datang sendiri. mana Alex?" tanya mama Alex ramah.
Calista hanya diam, Calista malah langsung mendekati ayahnya yang sedang duduk menikmati secangkir kopi.
__ADS_1
"Aku kesini cuma mau bilang, Aku mau mengakhiri pertunangan aku dengan Alex" Kata Calista tegas.
Rasa lelah Calista pada cinta bertepuk sebelah tangan akhirnya mampu membuat dirinya mengambil keputusan untuk pergi dari kehidupan Alex.
Mengahiri pertunangan adalah jalan terbaik, sekalipun Calista sangat tidak rela. Hatinya juga berat untuk memutuskan semua ini. Padahal dulu apapun yang dilakukan Alex padanya, Calista selalu bertahan namun kali ini Calista benar - benar kecewa.
Kata - kata Mahesa yang selalu terngiang dalam ingatannya membuatnya menjadi lebih yakin untuk mengahiri pertunangan dengan Alex.
Semua orang begitu terkejut mendengar itu. Apalagi buat kedua orang tua Alex mereka berdua langsung terbangun dari tempat duduknya.
Papa Calista hanya menatap anak gadisnya itu, berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Jelaskan alasannya, kenapa?" tanya papa Calista dengan tenang.
"Karena aku... hanya ingin mengahirinya saja" jawab Calista bohong.
"Apa kalian bertengkar, coba kamu pikirkan baik - baik. Mungkin ini hanya emosi sesaat" Mama Alex menimpali.
"Jika Alex berbuat salah, saya akan suruh dia minta maaf. Jadi kamu jangan buru - buru mengahiri pertunangan ini" Papa Alex mulai sedikit khawatir.
Papa Calista juga langsung berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu.
"Ayo kita pulang" ajak Papa Calista pada Mama Ine, ibu tiri Calista.
"Tunggu dulu, lalu gimana dengan rencana pernikahan. Mungkin mereka hanya bertengkar biasa lalu besok sudah baikan lagi" Papa Alex mencoba merayu papa Seno.
"Saya kenal putri saya dengan baik, dari sorot matanya saja saya sudah tau kalau saat ini dia sangat terluka. Saya ikuti kemauan putri saya" tegas papa Calista. Lalu papa Calista pergi begitu saja di ikuti Mama Ine dan Irene.
Wajah papa Alex berubah memerah dia begitu marah dengan situasi yang terjadi saat ini. Semua rencana yang akan ia bangun akan rusak jika Alex tidak menikah dengan Calista. Papa Alex bahkan beberapa kali mencoba menghubungi Alex namun tidak ada jawaban dari Alex.
......................
Alex duduk di salah satu kursi panjang yang ada dirumah sakit. Pria itu masih menggunakan setelan jas berwarna coklat.
Ada kecemasan dalam diri Alex, semua itu dapat terlihat dari raut wajahnya. Saat ini Alex memang sedang mencemaskan Dini yang masih berada di ruang rawat, sejak tadi Alex belum bisa untuk bertemu Dini.
__ADS_1
Beberapa menit sebelum Alex pergi menjemput Calista, tiba - tiba saja seseorang menelfonya dan mengabarkan kalau Dini mengalami kecelakaan. Tanpa berfikir panjang Alex langsung berlari menuju rumah sakit tempat Dini dirawat.
Dini keluar dari ruang rawat itu dengan kondisi tangan kirinya yang sudah di gips dan goresan kecil di pipinya. Melihat Dini yang keluar dari ruangan itu dengan cepat Alex langsung menghampiri Dini dan langsung memeluknya.
Alex akhirnya bisa merasakan kelegaan, kehangatan pelukan itu juga mampu meredam kekhawatiran Alex.
"Syukurlah kamu baik - baik aja"
Dini juga merasakan kehangatan saat dipeluk Alex, namun dia ragu untuk membalas pelukan itu. Dini lebih memilih untu tidak terlalu lama berada di pelukan Alex. Dini sedikit mendorong tubuh Alex dengan tangan kanannya.
Alex yang mengerti maksud Dini langsung melepaskan pelukannya.
Alex dan Dini tidak menyadari kalau dari kejauhan seorang pria memperhatikan mereka. Pria itu Nando, calon suami Dini.
Sambil terus memperhatikan keduanya Nando berjalan menghampiri Dini. Dini langsung sadar ada Nando di tempat ini saat tiba - tiba saja tangan Nando merangkul Dini.
Alex langsung menatap Nando dengan tatapan tajam saat Nando tiba - tiba saja merangkul Dini.
"Nando" ucap Dini sedikit terkejut.
"Kamu gak apa - apa kan?" tanya Nando dengan lembut. Nando mengabaikan adanya Alex.
"Enggak, aku gak apa - apa kok, cuma kecelakaan kecil" jawab Dini
"Kamu udah gak ada urusan lain lagi kan disini?" tanya Nando.
"Enggak, gak ada" Dini berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa - apa disini. Walaupun Dini menjawab dengan sedikit terbata - bata.
Melihat Dini tersenyum begitu ramah pada Nando rasanya ingin sekali Alex membawa Dini pergi dari tempat ini, namun Alex hanya bisa menahannya.
"Ayo kita pulang" ajak Nando dengan senyum di bibirnya sembari menautkan tangannya pada Dini. Dini mengikuti langkah Nando, meninggalkan Alex.
Alex hanya mampu menatap kepergian kedua orang itu tanpa mampu berbuat apa - apa. Rasanya begitu hancur melihat Dini lebih memilih pergi dengan pria lain.
To be continued.......
__ADS_1