We Are Broken

We Are Broken
Prolog


__ADS_3

Ramainya terminal 2 keberangkatan internasional di bandar udara Soetta, tidak mampu membuat ramainya hati Kineta saat ini. Kedua orang tuanya resmi bercerai setelah pertengkaran hebat yang terjadi. Kineta tidak tahu mengapa orangtuanya yang menjadi landasan untuk selalu melihat arti cinta, kini seperti tiada artinya.


Langkahnya kini mengikuti sang ibu yang menyeret koper besar di depannya.


Tiada pilihan saat ia diminta untuk memilih, Ayah atau ibunya. Tapi pada akhirnya ia memilih ibunya yang terlihat lebih rapuh dan tak setegar ayahnya.


Hari ini ia akan pergi meninggalkan kota dan negara kelahirannya, meninggalkan teman SMA yang baru dikenalnya saat mengikuti masa orientasi sekolah. Seharusnya ini menjadi awal Kineta menjadi siswi SMA, tapi apa daya bencana perpisahan kedua orang tuanya tidak pernah bisa menyelamatkan dirinya.


"Netaaa!" Panggilan keras pada namanya membuat Kineta menoleh menatap pria muda berperawakan kurus tinggi serta kacamata berlari menghampirinya.


"Gion?"gumamnya memandang aneh Argion Samudra yang tengah terengah-engah mengatur nafasnya.


Usia mereka hanya berbeda 3 tahun, namun kedekatan dan keakraban mereka membuat Kineta enggan memanggil pria di depannya dengan embel-embel kakak.

__ADS_1


"Mama tunggu di pesawat"ucap Ranti pada Kineta yang mengangguk patuh dan menatap sekilas pada Argion.


"Kamu ngapain kesini, om Halim siapa yang jagain kalau kamu kesini?" seru Kineta langsung mempertanyakan kehadiran Argion dihadapannya saat ini. Karena seperti yang Kineta tahu ayah Argion tengah dirawat di sebuah rumah sakit.


"Aku ninggalin ayah sebentar buat kamu" Argion menatap Kineta dengan tegas. Pria yang baru saja masuk bangku perkuliahan itu kini mencoba pertaruhannya untuk menahan Kineta disampingnya. Gadis yang sangat berarti untuknya.


"Aku cinta sama kamu" Kineta menatap Argion dengan terkejut. Bukan ucapan itu yang Kineta harapkan disaat dirinya hancur seperti ini.


Keduanya memang dekat, sedekat hubungan orangtuanya yang juga berteman dekat semasa kuliah, ditambah keterikatan bisnis yang dikelola bersama dan bangunan rumah yang bersebelahan membuat kedekatan mereka tanpa sekat satu sama lain. Kineta dan Argion lebih banyak menghabiskan waktu berdua ketimbang bersama orangtua mereka yang selalu sibuk bekerja sebelum badai kehancuran datang pada keluarga mereka.


"Maaf, sebaiknya kamu gak usah ngomong hal yang gak akan pernah ku percayai lagi. Perasaan cinta itu udah gak penting lagi dihidupku"


"Itu karena mereka gak cukup setia untuk mau mempertahankan cinta mereka atau mereka tidak pernah memiliki cinta itu" Argion menyentuh kedua lengan atas Kineta untuk meyakinkan. Argion tau Kineta sangat kecewa dengan kehancuran keluarganya, tapi sebelum semakin hancur Argion ingin menyelamatkan mereka berdua.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih Gion! Sebaiknya kamu kembali ke rumah sakit dan jagain ayah kamu baik-baik. Seenggaknya cuma itu yang bisa kita lakuin buat ngelindungin orangtua kita masing-masing" Kineta menepis kedua tangan Argion.


"Kalau kamu gak milih aku untuk di samping mu saat ini, maka jangan salahkan takdir buruk yang mungkin terjadi diantara kita"


Kineta menatap Argion getir "Aku sudah berada di takdir terburuk dalam hidup ku Gion. Jangan berikan pilihan lagi, aku sudah muak dengan semua pilihan ini. Jadi Berhenti! Aku mohon berhenti, untuk membuatku memilih"ungkap Kineta dengan linangan air matanya.


"Kita harus berhenti untuk perasaan bodoh Itu!" Kineta mengusap kasar air matanya. Ia sudah terlalu banyak menangis dan itu membuat hatinya semakin sakit.


Mungkin jika Argion Samudra mengatakannya sebelum badai kehancuran keluarganya terjadi, Kineta akan menerima pernyataan cinta pria itu dengan sepenuh hati. Tapi sebelum dan sesudah selalu menjadi perbedaan. Kineta yang saat ini, sudah mematikan hatinya untuk sebuah kata yang bernama cinta.


"Pulanglah Gion, selamat tinggal!" Kineta meneruskan langkahnya tanpa berbalik kembali menatap seorang pria yang meneteskan air mata dibalik kaca matanya. Ia gagal meyakinkan Kineta.


Argion masih berdiri menatap punggung kecil itu memasuki pintu kaca otomatis hingga menghilang. Ia sudah melangkah sejauh ini untuk menghentikannya, bahkan mengungkapkan perasaan terpendamnya.

__ADS_1


Kedua tangannya kini terkepal saat bayangan dalang dari semua kehancuran ini. Ia tidak bisa mengatakannya, ia sudah terlanjur berjanji. Beban dan rasa sakit yang kini dirasakannya akan menjadi dinding yang tak tersentuh. Dan untuk gadis itu, ia akan menanggung rasa patah ini seorang diri. Mungkin Kineta selamanya tak perlu tahu, jika badai ini tercipta dari kedua keluarga mereka.


__ADS_2