We Are Broken

We Are Broken
Bab 2


__ADS_3

"dari mana? Tante pikir kamu tidur di kamar"


Riana menatap heran Kineta yang baru masuk ke dalam apartemennya setelah tiga puluh menit yang lalu, William partner ***-nya pamit pergi.


Keponakannya itu kini menatap jengkel Riana yang duduk santai tanpa bersalah sambil menonton acara kontes masak internasional masih dengan bathrobe dan rambut basahnya.


"telinga aku ternyata cukup renta dengan ******* tante"sindir Kineta yang memilih duduk disamping tantenya.


"benarkah? tante pikir Will juga mendesah" timpal Riana yang tidak senang dengan ungkapan Kineta, seolah hanya ia yang menikmati permainan ***-nya itu sendiri.


"tan, that not point! you told me if he just your friend" protes Kineta karena saat pria bernama Will itu datang, tantenya hanya mengatakan pria yang akan datang itu sebagai teman kerjanya. Untungnya saat itu ia malas untuk keluar dari kamarnya dan tidak melihat perawakan Will. Karena bisa-bisa ia membenci pria itu.


"yeah he is my friend. My *** friend, little girl"jelas Riana membuat Kineta memutar kedua matanya dengan kesal.


"I'm not little girl anyway. And soon, I will told mom if- "


"okay, so I will call your father now. And tell him if you here and don't like to meet your step mother"potong Riana ringan namun penuh ancaman.


"you win" Riana tertawa keras Karena Kineta terlalu mudah dikalahkan dengan ancaman kecilnya. Gadis itu menghentakan kakinya kesal meninggalkan Riana yang masih dengan tawanya.


Keponakannya itu terlalu menyayangi kedua orangtuanya, Kineta memilih hidup dengan ibunya selama 10 tahun di Inggris hanya semata ia tahu jika ibunya lebih membutuhkan dirinya.


Kemudian setelah ibunya menikah kembali 5 tahun yang lalu dengan pria kebangsaan Amerika, Kineta akhirnya menyetujui ajakan ayahnya saat berkunjung ke Inggris, untuk kembali dan tinggal di Jakarta setelah menyelesaikan perkuliahan dan pekerjaannya. Hidup ibunya sudah lebih bahagia dengan suami dan putra kecilnya yang kini berusia 4 tahun. Dan Kineta merasa ia terlalu sulit untuk bergaul dengan ayah tirinya yang terlalu protectif terhadap ibu dan adik tirinya. Tapi melihat cinta diwajah ibunya Kineta ikut bahagia dan memilih untuk pergi.


Dan saat ini Kineta benci ancaman tantenya. Ia tidak ingin melihat wajah kecewa ayahnya, jika ayahnya tau ia kembali ke Indonesia lebih awal dari yang diketahui tanpa sepengetahuannya.


Kineta tidak tahu kapan ayahnya menikah lagi, yang Kineta tahu jika kini kedua orangtuaya sudah memiliki seseorang yang berbeda disamping keduanya. Dan itu masih membuatnya canggung dan tidak nyaman.


🍃


Room Coffee House café akhirnya kembali menjadi tempat tujuannya setelah pagi yang membosankan dengan tantenya. Tantenya terlalu cerewet untuk kebersihan apartemen di akhir weekend, dan itu menyebalkan untuknya. Beruntung ia sudah bertemu dengan Elma yang mau mendengar keluh kesahnya, meskipun mungkin sedikit mengganggu pekerjaannya.


Setelah memesan sebuah Iced coffee blend dan sepotong green tea cake, Kineta memilih duduk di tengah jendela yang menyuguhkan pemandangan jalan.


"bad weekend?" Elma duduk dihadapan Kineta. Hari ini ia shift siang jadi sebelum pekerjaannya dimulai ia masih memiliki waktu untuk menemani Kineta mengobrol.

__ADS_1


"yup! Itu karena tante ku yang semakin cerewet. Usia sepertinya berbanding lurus dengan kemampuan mengomel"


"tante Riana pasti orang yang menyenangkan, aku jadi ingin ketemu tante Riana"


"seleramu aneh El, kusarankan jangan mau bertemu dengannya"


"lalu apa yang mau kamu kerjakan di Jakarta? Kamu gak akan selamanya tinggal sama tantemu kan"


"senin depan aku sudah masuk kerja" Kineta meminum pelan iced coffee pesanannya.


"benarkah?"


"hm, sebulan sebelum aku kembali ke Indonesia aku mendapat tawaran di sebuah perusahan arsitek yang kupikir meskipun bukan perusahan besar. Tapi proyek-proyek mereka lumayan diakui di luar negeri. Lalu mereka menawarkan pekerjaan sebagai architect engineering."


Kineta menjelaskan lebih rinci rencana hidupnya di Jakarta, sebelum ia menyetujui ajakan ayahnya untuk kembali ke Indonesia Kineta sudah menyusun karir yang akan dijalankan, ia tahu tujuan ajakan ayahnya adalah ingin Kineta meneruskan perusahaan keluarga mereka tapi ia tahu seseorang lebih berhak untuk meneruskannya. Untuk itu memiliki alasan untuk menolak karena memiliki karir pilihannya sendiri, dan Kineta yakin ayahnya akan mengerti.


"itu hebat Ta! Mereka pasti melihat kemampuanmu yang luar biasa. Aku selalu iri dengan mereka yang selalu datang dengan pakaian formal terlihat cantik dan hebat. Pasti enak ya kerja di kantoran"ungkap Elma yang merasa iri karena jalan hidupnya tidak akan pernah seperti yang dicita-citakannya.


Hidupnya tidak cukup beruntung. Sudah 8 tahun ia hidup menjadi tulang punggung keluarga setelah kehilangan ayahnya. Bahkan saat masa SMA, ia harus lebih rajin mempertahankan nilainya agar beasiswanya tidak dicabut meskipun lelah dan marah terkadang menerpanya karena harus bersamaan dilakukannya dengan kerja part time.


🍃


Jam sudah menujukan tepat pukul 10 malam, dan Kineta masih enggan untuk pulang ke apartemen tantenya. Alasannya tetap sama, tantenya masih menghabiskan waktunya dengan teman tidurnya. Tadi sore ia sempat pulang namun akhirnya kembali lagi ketempat Elma bekerja saat tantenya mengabarkan jika Will akan ke apartemennya nanti malam.


"kamu masih menungguku?" Elma terkejut saat melihat Kineta yang masih duduk di beranda café tempatnya bekerja. Sahabatnya itu hampir seharian berada disekitarnya.


"sebaiknya kita pulang bersama" Kineta menggandeng tangan Elma yang baru menyelesaikan shift-nya. Memori kecilnya mengingat bagaimana ia dan Elma selalu bergandengan tangan saat pergi dan pulang sekolah. Mereka seperti saudara kembar yang selalu bersama.


"kalau semakin tidak membuatmu nyaman, saranku sebaiknya kamu temui ayahmu saja" Elma tahu Kineta selalu kesulitan untuk tinggal dengan orang baru. Mungkin inilah alasan Kineta mengulur waktu untuk tinggal dengan ibu tirinya.


"tinggal satu hari lagi hingga akhir minggu ini habis. Jadi aku masih bisa mengumpulkan keberanianku untuk menghadapi mereka"


"Ta percayalah, tidak semua ibu tiri itu jahat"


"aku tahu itu El! Aku bukan anak kecil yang bisa di bohongi oleh cerita Cinderella" Kineta berpura-pura kesal.

__ADS_1


"jika rumah sewa ku besar, mungkin aku akan mengajakmu untuk menginap sekarang"


"El, berhenti untuk merendahkan dirimu. Tidak ada yang salah dengan apapun yang kamu miliki. Lagi pula aku tidak ingin merepotkanmu"


"kalau begitu cepatlah pergi tidur, aku yakin tante Riana sudah selesai dengan temannya" Elma menepuk pelan pipi Kineta.


"enggak! Pokoknya aku mau nemenin kamu sampai bis mu datang" tolak Kineta sambil menggeleng pelan membuat rambut hitam bergaya semi long-nya bergerak.


"lagi?"


"hm"


"baiklah" Elma menyerah, pendirian Kineta selalu sulit untuk tembus.


Sudah sepuluh menit setelah bis yang membawa Elma meninggalkan halte. Kineta masih berdiri diam memperhatikan banyaknya kendaraan yang melaju, bibirnya mendatar dan pandangannya mengosong sedih. Diantara puluhan kendaraan yang dilihatnya, adakah yang tidak memiliki tempat tujuan seperti dirinya?


Anak broken home terkadang merasa sepi meski tidak sepi, merasa bahagia meski tidak bahagia. Selalu berada ditengah-tengah perasaan yang tidak memuaskan.


*


Kineta menahan pintu lift yang beberapa centi lagi akan menutup rapat. Berhasil! Pintu lift terbuka untuknya dan menampilkan sosok seorang pria yang menatap datar kearahnya. Sesaat Kineta terpaku saat kedua matanya tak bisa lepas dari wajah yang selama 10 tahun ini selalu terbayang dalam angannya. Cinta pertama yang ditolaknya.


"anda tidak masuk?"pertanyaan datar yang begitu formal membuat Kineta mengejapkan matanya.


"oh ya" Kineta merasa canggung dan bingung, apakah ia salah mengenali orang? Kenapa pria yang kini berdiri disampingnya terlihat tidak mengenalinya. Beberapa kali Kineta mencuri pandangan pantulan dirinya dan pria itu pada dinding lift, angka lantai gedung yang dituju pria itu 2 lantai dibawah apartemen tantenya. Apakah pria itu tinggal disini?


Ting! Bunyi yang menandakan lantai yang dituju telah tiba. Pintu lift terbuka dan pria itu keluar menyisakan Kineta.


"Argion, aku yakin itu Argion tapi apa ia tidak mengingatku?"gumam Kineta melihat punggung lebar yang semakin menjauh dan pintu lift yang sebentar lagi akan menutup rapat.


Kembali dengan peruntungannya sebelum lift itu menutup sempurna, Kineta menahan lift itu untuk kembali terbuka.


"dia benar Argion! mungkin dia lupa padaku" desisnya penuh dengan keyakinan. Mungkin pria itu tidak mengingatnya dan perlu diingatkan seperti saat Elma mengingatkannya. Ada sesuatu dimasa lalu yang membutuhkan sebuah kabar dari pria itu.


"Gion!" panggil Kineta cepat namun tubuh tinggi itu sudah masuk kesebuah pintu hunian apartemen yang tak jauh dari lift.

__ADS_1


__ADS_2