We Are Broken

We Are Broken
Bab 5


__ADS_3

Waktu masih menunjukan pukul 7 pagi saat Kineta berada di dalam taksi yang ditumpanginya. Semalam setelah menangis ia bermimpi buruk dan tidak bisa kembali tidur. Akhirnya ia hanya menghabiskan waktu tidurnya untuk termenung menunggu matahari keluar.


Hari ini adalah hari pertama ia masuk kerja, jadi menghindari ayah dan ibu tirinya terasa mudah untuk alasan keberangkatannya yang begitu pagi dan menolak untuk sarapan pagi bersama. Ia tahu ayahnya kecewa, tapi ia masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya. Ia masih tidak bisa membayangkan dirinya akan menjadi keluarga yang sesungguhnya dengan Rahayu dan Argion.


Akhirnya setelah hampir satu jam perjalanan yang terhalang macet serta jarak rumah yang lumayan jauh dari kawasan perkantoran, Kineta tiba ditempat tujuannya . Rasanya ia akan berhenti mengejek tantenya-Riana yang sering mengeluh akan kemacetan di jakarta.


Ocean Architects


Logo perusahan tempat tujuan Kineta terpampang dengan begitu artsy. Bukan sebuah gedung besar yang menjulang tinggi, hanya seperti unit gedung kecil berbentuk box empat lantai yang melebar mewah.


Teman tantenya yang dulu pernah memegang salah satu project bangunan perkantoran di biro arsitektur Amerika merekomendasikan perusahaan ini saat Kineta menceritakan jika ia akan kembali ke Indonesia.


Dan setelah melihat-lihat portofolio perusahaan ini. Kineta berpikir jika proyek-proyek perusahaan ini lumayan bagus, kebanyakan memang revitalisasi office, house stay, ataupun public space yang humble.


Kineta masuk ke dalam pintu kaca otomatis dan menghampiri sebuah meja resepsionis yang berada disebelah kanan pintu masuk, di dalam ternyata lumayan luas dan interiornya dibuat sangat cozy.


Terkesan sedikit minimalis dan modern dengan ornamen hijau dan biru, beberapa tumbuhan juga tertata pas dan manis disetiap sudut pencahayaan hingga tidak terasa kosong untuk sebuah lobi perusahaan.


"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang resepsionis perempuan dengan blouse putih berenda dan gulungan rambut yang rapih menyambut Kineta.


"Saya pegawai baru" Kineta memperkenalkan posisinya.


"Dengan ibu Kineta Mahardhika Rajendra?"sambutnya kembali dengan ramah.


"Ya"


"anda sudah ditunggu bu Melisa di ruangannya, silahkan menaiki lift sebelah kiri dan ruangan beliau ada tepat di depan lift lantai 3" Kineta mengangguk paham.


"Terimakasih" ucap Kineta sebelum melangkah mengikuti instruksi.


“Ki oh my god, so miss you”sapaan akrab Melisa yang langsung berhambur memeluk Kineta, sahabat akrab kuliahnya dulu saat di Inggris meski keduanya memilih jurusan yang berbeda. Kineta arsitek dan Melisa manajemen bisnis. Namun karena berasal dari negara yang sama keduanya menjadi cepat akrab dan nyambung saat mengobrol bersama.


“aku pikir kamu tidak akan masuk hari ini”


“tidak mungkin, seseorang sudah memaksaku untuk menandatangani kontrak untuk bekerja disini dan aku tidak cukup uang untuk membatalkannya”


“oh benarkah? jadi kamu terpaksa berada disini?”


“ah sudahlah Mel, aku tidak punya tenaga untuk rajukanmu”


“kamu belum sarapan kan?” Kineta mengangguk mengakui kelaparannya.


“ayo duduk, kebetulan hari ini aku membawa bekal sarapan yang banyak jadi kita bisa memakannya bersama seperti saat masa kuliah dulu”


“kali ini benar-benar gratiskan”


“tentu, tapi kamu harus memberikan kado pernikahan yang mahal untukku 2 bulan lagi”


Kineta memutar bola matanya atas tanggapannya terhadap ucapan Melisa. “sudah ku duga kamu akan seperti ini”

__ADS_1


“oh iya aku hampir lupa, 30 menit lagi pak william meminta ku untuk membawamu ke ruang meeting. Kamu akan diperkenalkan resmi disana, dari yang ku dengar pak William baru mendapat project hotel dari klien penting” Melisa bekerja sebagai sekertaris utama founder dari Ocean Arcitect.


“Dan sepertinya itu akan menjadi project pertamamu disini”


🍃


Setelah 30 menit berlalu melisa mengajak Kineta ke ruang meeting yang sudah di penuhi beberapa pegawai yang tengah bersiap memulai meeting tetang project terbaru yang harus mereka kerjakan.


Hati Kineta bertalu saat salah satu pegawai yang duduk di balik meja meeting itu adalah seseorang yang sangat ingin ditemuinya, terlebih dengan fakta yang baru diketahuinya semalam. Kedua matanya bertemu dengan sepasang mata dingin dan Kineta tidak akan gentar untuk kali ini.


“before we start, seperti yang sudah saya kabarkan jika biro kita akan kedatangan arsitek baru yang menggantikan Joy. Miss Kineta, let’s introduce your self” William mempersilahkan Kineta untuk memperkenalkan dirinya.


“selamat pagi, perkenalkan saya Kineta Mahardinka arsitek baru disini, sebelumnya saya pernah bekerja disalah satu biro arsitek di Ingris dan semoga kita bisa saling berkerjasama” beberapa pegawai memberikan tepuk tangan hangat untuknya. Kineta kembali duduk dikursi yang berhadapan dengan Argion yang berusaha acuh terhadap kehadirannya.


“biro kita mendapat tawaran 2 proyek and i hope hasilnya akan memuaskan, karena proyek ini ku dapatkan dengan tidak mudah. Proyek pertama yaitu hotel Clizt singapore yang akan membuka cabang di Bali dan mereka menyetujui untuk menggunakan biro kita dalam perancangannya dan aku menyerahkan ini pada kamu Argion dan untuk proyek kedua adalah perancangan rumah sepasang suami istri Raharjo yang akan menetap dan membangun rumah di Bali juga, untuk proyek kedua ini aku ingin Rheana dan Kineta untuk bersaing membuat rancangan yang akan dipilih klien”


“bersaing? aku dan si pegawai baru ini? Will this not fair” Rheana menatap tak setuju terhadap keinginan Wiliam. Karena seharusnya Wiliam langsung saja memberikan projek itu untuknya bukan memintanya bersaing dengan anak baru yang ingusan.


“aku tidak suka si medusa ini”bisik Melisa yang duduk di samping Kineta.


“why you think like that Rhe?”tanya Wiliam serius.


“bukankah berlebihan untuk menjadikannya arsitek utama langusng di biro kita, kita bahkan tidak tahu pengalamannya seperti apa. Dan aku merasa terhina untuk bersaing denganya”


“aku memintanya bersaing dengan mu karena aku tahu background pengalamannya, aku tidak akan sembarangan memilih seseorang untuk menggantikan Joy. Rhe cobalah bersikap profesional, jika kamu merasa kemampuan rancanganmu melebihinya kamu seharusnya tidak perlu merasa cemas”


“aku tidak merasa cemas, aku akan membuktikan jika si anak baru ini adalah kesalahan yang kamu pilih”


Kineta tau Rheana sudah membencinya saat ia memperkenalkan dirinya di ruang meeting tadi, tatapan tajam gadis itu terlihat memancarkan rasa tidak suka terhadap dirinya.


***


“sudah ku bilang jangan memilihnya” Argion menatap William dengan wajah mengeras. William dan dirinya adalah partner prinsip yang membangun biro Ocean Arsitektur dari nol hingga berkembang besar seperti ini.


“Ar biro kita akan semakin berkembang dengan kehadiran Kineta, kita sama-sama tau betapa berbakatnya gadis itu dalam dunia arsitek. Gadis itu pernah mendapatkan penghargaan di Kompetisi desain internasional kita bahkan menjadi jurinya saat itu”


“aku bukan sedang ingin membicarakan kemampuannya Will, sudah ku katakan jika gadis itu tidak boleh masuk ke dalam perusahan ini”sanggah Argion menatap William dengan waspada.


“sayangnya perusahaan ini bukan hanya milikmu dan jika ini hanya karena masalah pribadimu dengan gadis itu, ku pikir tingkah mu ke kanak-kanakan Ar”


“shut up Will”gertak Argion kesal.


“Ayolah Ar, ini bukan seperti Argion yang gila kerja dan profesional. Ku pikir kamu tidak akan pernah terpengaruh oleh seorang wanita manapun, apa Kineta pengecualian?”


“tidak ada satupun, bahkan tidak dengan gadis itu”perubahan wajah Argion yang menjadi dingin membuat William terpaku dan penasaran.


“aku akan membuat gadis itu yang pergi dari perusahaan ini”ucap Argion berlalu meninggalkan William yang hanya menghembuskan nafasnya dengan lelah.


"atau mungkin kamu yang akan terperangkap dengannya"guman William menatap pintu yang ditutup dengan kencangnya oleh Argion.

__ADS_1


***


"hari yang buruk?"tanya Elma datang dengan membawa pesanan Kineta.


Kineta menggeleng pelan menjawab pertanyaan Elma. Ia seperti tak punya tenaga lagi untuk bicara setelah pertemuan dengan klien tadi Rheana terliat puas saat suami dari klien terlihat tidak suka terhadap Kineta yang sempat menanyakan tentang apakah pasangan tersebut ingin memiliki rumah yang ramah dengan anak-anak.


Seusai pekerjaannya yang berjalan tidak baik, karena menurut Kineta ia seperti diserang musuh tanpa alasan, kebencian Rheana seperti tak berdasar untuknya.


Maka saat jam makan siang, Kineta langsung datang ke Coffee House Cafe. Ia yakin hanya tempat ini yang bisa meneduhkan hatinya yang serasa panas. Dan beruntungnya tempat ini tidak terlalu jauh dengan tempat kerjanya.


“aku sering mendengar para gadis yang bekerja di kantor mengatakan ‘i hate monday’ dan akan kembali bersemangat dihari berikutnya”Elma terus mencoba memberikan Kineta semangat.


"Jangan terlalu dipikirkan aku yakin kamu pasti akan mengatasinya dengan baik. Ada peluang dalam satu kesalahan. Kamu selalu bilang itu waktu dulu" hibur Elma yang berhasil menghasilkan seulas senyum dari Kineta.


"sepertinya akan menyenangkan jika aku kerja disini saja" usul Kineta membuat Elma terkejut.


"Eh? kamu mulai ngaco deh Ta..."


"Pasti akan menyenangkan kalau bekerja disini denganmu kan"


"Ta, dengan lulusan Ivy league sepertimu, Kamu seharusnya bekerja di gedung-gedung tinggi bukan di cafe seperti ini" Elma akan sangat menyenangkan jika Kineta menyia-nyiakan waktunya bekerja disini.


"Ivy league? Kenapa orang-orang selalu mengagungkan gelar itu. Bukankah sudah ku bilang semua pekerjaan sama saja" Kineta kesal karena pemikiran lulusan dari kampus terbaik harus bekerja ditempat terbaik juga.


"Pasti ada alasannya kan, Kineta yang percaya diri kemarin tidak mungkin goyah hanya karena buruknya bekerja hari ini" Kineta mengalihkan tatapan. Ia enggan untuk menceritakan tentang pertemuannya dengan klien yang terlihat mengacuhkannya dan lebih merespon pertanyaan dari Rheana.


"El, bolehkah aku bertanya tentang seseorang" Kineta mengalihkan pikiran pekerjaannya sejenak dari seseorang yang ingin ia ketahui kabar kehidupannya setelah kepergiannya 10 tahun yang lalu.


"Tentu!"ujar Elma yakin.


"Argion... kamu masih mengingatnya kan?" Elma mengangguk menjawab tanya sahabatnya.


Elma tidak mungkin melupakan Argion Samudra yang dulu berteman baik dengannya dan juga Kineta. Dulu kedua orangtua Elma bekerja untuk keluarga Argion, ayahnya bekerja sebagai supir pribadi ayah Argion sementara ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Argion.


"Kamu sudah bertemu dengannya?" Kineta diam. Tapi Elma tahu itu jawaban ya atas tanyanya.


"Sebenarnya ia cukup sering datang ke cafe ini, karena pemilik cafe ini adalah sahabatnya. Tapi aku sadar diri untuk tidak berteman lagi dengannya setelah..." Elma menggantung ucapannya dan menatap Kineta dengan tidak enak.


"Setelah kematian ayahnya, kak Gion memperingatkanku jika ia ingin membuang masa lalunya. Termasuk kamu dan aku"


"Dari situ aku sadar, tidak akan ada yang pantas lagi untuk berteman dengan gadis miskin sepertiku"lanjut Elma yang merasa sadar diri akan status sosial mereka yang berbeda.


"Bukan karena itu..." Gumam Kineta datar. Kineta yakin Argion bukanlah orang yang picik dalam memilih teman. Pasti ada alasan lain.


Lonceng pintu cafe terdengar menandakan pelanggan baru tiba untuk memesan. Elma sudah bersiap untuk kembali bekerja tapi tubuhnya sedikit terkejut karena orang yang baru dibicarakan baru saja tiba.


Kineta menatap Argion yang berjalan beriringan dengan wanita yang menjadi alasan suasana hatinya menjadi buruk di depan klien dan seorang pria lain yang tampak mencolok dengan kacamata hitam dan masker yang menutupi wajahnya.


"Selamat datang di coffee house cafe"sambutan Elma hanya dilirik sekilas oleh Argion dan wanita yang terus bergelayut ditangannya.

__ADS_1


Kecuali pria yang memakai kacamata hitam yang menurunkan sedikit kacamatanya untuk memberikan lirikan menggoda kepada Elma yang menunduk malu.


Kineta tidak bisa mengalihkan pandangannya kepada Argion yang tampak angkuh dan dingin. Pria itu bahkan tidak mengatakan satu kata pun untuknya saat meeting pagi tadi.


__ADS_2