We Are Broken

We Are Broken
Bab 6


__ADS_3

Argion bersama teman-temannya duduk di kursi yang sudah menjadi spot kekuasaan mereka jika berkunjung ke cafe milik Aditya.


"Gue udah mesenin pesenan biasa kalian. Tinggal nunggu dibawa aja" Aditya bergabung bersama teman-teman kuliahnya.


Mereka bertiga dulu adalah atlet basket di kampus yang meski berbeda jurusan, mereka bisa berteman dengan begitu akrab. Sedangkan Rhaena adalah manajer basket mereka yang sudah sejak dulu menumpuk harapan cintanya kepada Argion. Pria dingin dan misterius yang menyembunyikan sesuatu yang begitu sulit ditembus.


Argion dan Aditya sama-sama memiliki jiwa pebisnis. Keduanya lebih memilih membuka lapangan pekerjaan dibanding mencari pekerjaan. Bedanya Aditya membuka usaha dibidang kuliner sedang Argion membangun usahanya di bidang Arsitek bersama kakak seniornya- William.


Bahkan perusahaan biro arsitek yang di bangun Argion dan William sejak masih berstatus mahasiswa kini bisa menempatkan beberapa teman kuliahnya yang lain untuk bergabung bersamanya. Banyak penghargaan yang diperoleh Argion dalam dunia arsitek membuat namanya cukup terkenal dalam perancangan bangunan di Indonesia.


"Ah dit dit gue emang the best, selalu ngertiin perut gue yang udah keroncongan dari semalam. Manager gue mana pengertian soal makanan yang ada gue disuruh diet mulu!"ujar Ryoma yang mengeluh dengan ketatnya managernya karena Ryoma dituntut untuk menurunkan berat badannya untuk filmnya mendatang.


Mereka memang sering berkumpul di cafe Aditya jika mereka tengah tidak sibuk dengan urusan pekerjaan. Dan Aditya sudah hapal dengan pilihan menu lunch sahabatnya. Terkadang sebelum mereka berkunjung ke cafe-nya, Rheana sebagai wanita diantara mereka akan terlebih dulu me-request pesanan yang akan dimakannya.


"Heh! itu kan pilihan lo yang mau jadi aktor sadar diri dong kalau lu tuh suka nyusahin mbak Mika"hardik Rheana yang menatap marah kearah Ryoma, karena pasalnya manager Ryoma adalah kakak sepupu Rheana.


"Ya maaf sih Rhe gak usah ngamuk kaya ibu Dendy gitu! tapi kalau Lo mau nyawer, gue sih paling depan"ujaran santai Ryoma membuat Aditya terkekeh geli. sedangkan Argion hanya menyerengit bingung dengan ucapan Ryoma.


"oh jadi selama ini kerjaan lo cuma main lambe-lambe" Rheana menuduh tajam.


" kok main Lambe sih Rhe, gue mah jagonya akting sama main cewek. Semalam gue teler dan capek olahraga ranjang! maju mundur... maju mundur. Makanya pas bangun gue kira ini masih hari Minggu" Ryoma semakin membuat Rheana naik pitam dengan alasan tak bermutu dari sahabat mesumnya itu.


Rheana meninggikan suaranya


"Hari Minggu dari Hongkong!"dengus Rheana mengingatkan betapa berengseknya temannya yang satu ini.


"Udahlah! kita makan dulu"ujar Aditya saat Elma hadir dengan nampan pesanan teman-temannya.


"Uuh El, makin hari kamu makin cantik aja. Jadi paca- Aww" godaan Ryoma terhadap Elma berubah menjadi ringisan sakit saat Aditya mengikut tulang rusuknya begitu keras.


"Kembali ke dapur, minta Rima untuk berganti tugas dengan mu" Aditya menatap datar Elma membuat gadis itu mengangguk kaku atas perintah bosnya dan segera pergi.


"Oh Tuhan! Tulang rusuk gue rasanya patah dua"pekikan sakit Ryoma menjadi pusat pengunjung sesaat.


"Thanks Dit, Lo langsung bikin mood gue membaik" Rheana menatap senang makanan dihadapannya dan lebih senang melihat Ryoma yang masih kesakitan.


"Sikap Lo berlebihan Dit" Ryoma menggerutu.


"Gue udah peringati Lo buat gak godain pegawai gue"peringatan Aditya mengundang dengusan Ryoma.


"Gue godain semua pegawai Lo, tapi sikap Lo selalu berlebihan kalau menyangkut Elma si cantik"ujar Ryoma membela harga dirinya. meskipun tak pernah ada harganya dihadapan teman-temannya.

__ADS_1


"Kalian kalau masih mau berisik mending pindah meja deh. Gue mau makan dengan tenang" jika Argion sudah buka suara maka apapun itu selalu berhasil membuat teman-temannya menutup mulut. Termasuk semut yang lewat.


"Baik yang mulia bos"desis Ryoma yang langsung menyeruput Americano coffe pesanannya saat dihadiahi tatapan kejam Argion.


"Maaf mengganggu, tapi kita harus bicara!"ucapan tegas tak terduga membuat Argion mendongkak mendapati Kineta berdiri di depan mejanya. Argion tak menyadari kehadiran Kineta semenjak tadi.


Semua mata yang duduk cukup terkejut dengan kehadiran Kineta. Mereka tidak mengenal Kineta kecuali Argion yang tetap memilih terdiam acuh meski gadis itu sudah berani mendatanginya secara langsung diluar tempat kekuasaannya.


"kamu kan gadis yang nampar aku waktu itu, mau bicara dengan ku? pasti mau minta maafkan" Ryoma selalu lemah dengan gadis cantik. Dimana pun ia melihat gadis cantik yang sesuai kriterianya, maka gombalan akan segera muncul dari bibirnya secara refleks.


"sebaiknya lo perlihatkan sopan santun lo sama senior dan pergi sekarang juga!" Rheana berdiri dan menatap marah Kineta. Entah mengapa Rheana takut dengan rekasi Argion terhadap gadis dihadapannya ini.


Ryoma dan Aditya saling bertukar pandang tak mengerti.


Kineta mengabaikan tatapan dan ucapan Rheana "Kamu akan tetap seperti ini kan Gion? Baik! kalau begitu kita bicara disini saja. Biar mereka tahu dan aku tidak perlu menjadi gila dengan semua pertanyaan di otakku ini" Kineta menatap Argion sengit dan putus asa.


"Kamu bersikap kekanakan hanya karena ayah-" Argion segera berdiri dan meraih tangan Kineta cepat.


"Dit! Gue pinjem ruang kerja Lo " tanpa melihat kembali ekspresi teman-teman nya, Argion terus menyeret tangan Kineta.


Langkahnya menggema saat menaiki tangga kayu sambil terus menarik tangan Kineta yang sedikit meronta karena sakit. Setelah menemukan pintu ruang kerja Aditya, Argion segera membuka kenop pintu berwarna coklat itu dan menutupnya dengan rapat.


"Bicaralah, tapi apapun yang kamu tanyakan. Kamu gak akan mendapatkan jawaban apapun"peringatan Argion mengundang desisan remeh Kineta.


“Kenapa kamu berubah seperti ini Gion? Kenapa takdir berubah seperti ini!" Kineta memukul dada bidang Argion yang masih bergeming. Ia tahu Argion tidak akan pernah memberikan jawaban. Pria itu akan memegang teguh ucapannya.


Kineta hanya ingin meledakan pertanyaan yang memenuhi pikirannya sejak semalam. Dan rasanya sangat sesak jika terus dipendamnya. Ditambah dengan buruknya susana hatinya saat ini.


Kineta menahan air matanya, kedua mata coklatnya menatap tegar atas sikap dingin Argion "kamu tahu Gion, tanya yang tak terjawab hanya akan menimbulkan prasangka sepihak. Dan kamu yang terjahat karena membuatku memandangmu seperti itu" Kineta mendengus melihat Argion yang hanya membatu.


"diammu saat ini adalah hal yang kekanakan. Kamu tidak bisa menerima pernikahan ayahku dan ibumu seolah pernikahan mereka adalah kejahatan. Kamu bersikap seolah kamu yang paling tersakiti, kamu memang jahat. Mereka hanya ingin bahagia, dan kita hanya perlu menerimanya"


"Dan kamu menerimanya?"tanyanya datar.


Kineta mengalihkan tatapannya sejenak. Sejujurnya ia belum menerimanya tapi itu bukan berarti ia tidak merestui pernikahan ayahnya.


"See? Ucapan dan hatimu bahkan belum sejalan. Tak perlu menghakimi sikapku, karena apapun tentang masa laluku itu tak memiliki arti apapun lagi di mataku. Kecuali ayahku, ia hal berharga yang ku miliki. Hanya ia yang akan ku ingat" Argion melangkah melewati Kineta yang masih berdiri kaku.


"bagaimana dengan aku?"Kineta ingin menyerukan pertanyaan itu, namun menelannya kembali.


"Apapun ucapanmu, itu tidak akan mengubah takdir jika kami pernah ada di masa lalu mu” Kineta berbalik untuk menatap punggung Argion yang hendak meninggalkannya.

__ADS_1


“kamu tidak bisa menghapusnya Gion. Dan saat ini kamu adalah kakak tiri ku terlepas dari aku yang belum menerimanya atau tidak. Kita kini memiliki ikatan saudara seperti keinginan ibu mu dulu. Perlukah aku memanggilmu dengan panggilan hormat seorang adik pada kakaknya" Kineta melihat tubuh Argion menegang kaku.


Dulu saat mereka masih kanak-kanak, Tante Ayu selalu memaksa dan membiasakannya untuk menambahkan kata 'kak' di depan nama Argion namun pria dihadapannya marah dan menolak untuk dipanggil kakak oleh Kineta.


"Pilihlah, panggilan seperti apa yang kamu inginkan. Abang? Mas? bukankah itu menggelikan? Atau cukup kakak seperti yang ibu mu inginkan" Argion membalikan tubuhnya dan menatap Kineta datar dan intens.


Kineta sebenarnya geli jika ia benar harus menyebut nama Argion dengan embel-embel tawarannya. Tapi melihat tangan Argion yang mengepal, ia tahu pria itu tengah melawan emosinya. Dan rasanya cukup setimpal.


"Ku rasa 'kak' cukup bukan?" Kineta adalah tipe gadis yang menyukai tantangan. Dan tantangannya kali ini adalah membuat pria itu meledak.


"Kak Gion? tidak terlalu buruk, Elma bahkan memanggimu seperti itu" ujar Kineta seolah mengejek panggilannya.


Argion melangkah mendekati tubuh Kineta dengan sorot mata kelam. "Katakan itu sekali lagi"ucapan penuh peringatan.


Kineta tersenyum miring "Kak Gion...kak Gion...kak Gion" dengan enteng Kineta melanjutkan tantangannya.


Argion menyeringai, pria itu menempatkan telunjuknya di bibir Kineta untuk menghentikan panggilan namanya "Bagiku panggilan dari mu itu terdengar sangat memabukan, seperti para kekasih yang penuh rajukan Neta. Sangat manis"


Kineta membulatkan matanya "Ap-"


Argion dengan cepat meraih wajah Kineta dan mempersatukan bibir mereka. Kineta jelas terkejut atas ledakan Argion yang seperti ini. Gadis itu berusaha untuk mendorong tapi gigitan dibibir bawahnya membuatnya terpekik hingga memberikan celah untuk Argion menemukan lidah Kineta dan menyersapnya semakin memperdalam. Rasanya ia tidak pernah berciuman sedalam ini dengan wanita, it feel like heaven and sin in line.


Mengakhiri ciumannya, Argion menjauhkan wajahnya hanya untuk melihat ekspresi pucat dan terkejut Kineta. Ada genangan air mata yang masih tertahan, dan bibir yang membengkak.


"Panggil aku seperti mau mu itu, tapi kamu harus tahu jika panggilan itu memiliki makna berbeda untukku. Dan aku tidak keberatan untuk kembali menikmati bibir manis dan indah mu ini Neta. Apakah seorang kakak tiri boleh menciummu seperti itu?" Argion menyeringai dan Kineta hendak melayangkan tamparannya namun berhasil tertahan.


Argion masih menahan tangan yang hendak menampar wajahnya dan tersenyum sinis. "Kita saat ini memang terlarang, tapi kamu harus tahu jika aku tertantang" Argion menghempaskan tangan Kineta dan segera beranjak pergi.


Kineta sudah tak memiliki kekuatan ataupun keinginan untuk kembali menahan pria itu. Rasanya seperti dilecehkan dan hatinya menyesak. Harga dirinya seakan berada dilantai dan terinjak kakinya sendiri.


"****! Kenapa bibirnya begitu adiktif!" Sepanjang Argion melangkah meninggalkan Kineta. Pria itu terus mengumpat karena bayangan bibir Kineta seolah menjadi candu untuknya.


"Ar..." Rheana menatap Argion khawatir.


"Gue cabut dulu"ujar Argion yang mengabaikan raut tanya teman-temannya.


Rheana maju menahan tangan Argion "Ar kamu gak apa-apa kan?"tanya Rheana.


"Gak"jawabnya singkat melepaskan tangan Rheana yang masih menahannya. "Kamu balik kantor sama si Ry aja" lanjutnya yang langsung berbalik pergi tanpa menoleh kembali.


"Gila! si Ar kayanya abis semi ***-*** di ruangan Lo " Rheana langsung melotot tajam kearah Ryoma.

__ADS_1


"Kayanya gue harus nyuruh pegawai buat bersihin sebelum masuk kantor" keluh Aditya ikut memanasi dan semakin membuat Rheana kesal.


__ADS_2