We Are Broken

We Are Broken
Bab 3


__ADS_3

Kineta menatap pintu apartemen mewah di kawasan permata hijau ini dengan sangat ragu. Setelah menyakini seorang pria yang sangat dikenalnya dulu masuk ke pintu ini, Kineta memberanikan diri mengarahkan telunjuknya untuk menekan bel.


Ia hanya ingin menyapa dan mungkin mempertanyakan ucapan pria itu dipertemuan mereka terakhir kali. Sebab pertemuan terakhir mereka 10 tahun yang lalu bukanlah termasuk perpisahan yang baik.


Kineta kembali menekan tombol bel disamping pintu untuk menandakan kedatangannya. Bayangan masa lalu mereka yang hampir selalu bersama membuat Kineta merindu. Menjadi teman akrab seperti saudara untuk saling mengandalkan dan melengkapi meskipun pria itu tiga tingkat lebih senior dibandingkan dirinya.


Tapi Kineta tahu perasaan mereka lebih dari saudara.


Orangtua Kineta dan Argion adalah sahabat dekat yang mendirikan sebuah perusahaan bank investment bersama, bahkan karena saling dekatnya kedua orangtua mereka juga mendirikan sebuah rumah yang bersebelahan hingga mudah untuk mereka bertegur sapa di setiap harinya. Kesibukan kedua orangtua mereka juga membuat mereka melengkapi kesepian satu sama lain untuk selalu bersama.


Namun Kineta hampir melupakan semuanya itu karena kesedihan yang teramat dalam saat kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, bahkan ibunya sempat membawanya ke psikiater karena dirinya yang terus mengurung diri selama di Inggris.


Pintu terbuka, seorang pria dengan rambut coklat dan kemeja putih slim fit yang sudah terbuka kancing atasnya memperlihatkan cetakan dada bidangnya. Pria itu menatap Kineta sedikit terkejut namun dengan cepat raut wajah itu berubah datar.


Kineta sedikit merasa asing dengan tatapan datar seorang Argion yang dulu begitu mudah tersenyum untuknya. Tapi kini, pria ini seperti tembok tinggi dan dingin yang sulit untuk disentuh.


"hai!" seru Kineta mengangkat sebelah tangannya dengan canggung, ia tidak tahu harus memberikan sapaan pertama seperti apa. Ia terlalu payah untuk urusan komunikasi.


"Lama tidak berjumpa, apa kamu masih mengingatku?"ujar Kineta mencoba tersenyum ceria namun terasa gagal saat tatapan Argion padanya masih belum berubah, terlalu beku dan dingin untuk mencair.


"ada keperluan apa anda datang kemari?"tanya Argion seolah gadis dihadapannya ini begitu asing dalam hidupnya.


Kineta menjadi serba salah ini tidak seperti Argion yang dikenalnya, sikapnya terlalu berbeda dari harapannya. Membuatnya bertanya-tanya apakah benar ini Argion Samudra yang dikenalnya?


"em...menyapa teman lama mungkin? Kamu tidak mengingat ku? Aku Kineta, Kineta Mahardhinka sahabatmu, dulu kita tinggal bersebelahan. Kita sering belajar, bertengkar juga bermain sama-sama. Apa sekarang kamu mengingatku?" tanya Kineta penuh harap.


"Ah! Kalau yang ini kamu pasti ingat, aku pernah jatuh dari pohon karena tantangan dari mu saat masih sd, tapi akhirnya karena merasa bersalah kamu selalu menggendong ku sampai sekolah selama seminggu" Kineta masih mencoba untuk membuat pria datar dihadapannya itu untuk mengingatnya.


Kineta menatap Argion yang berpikir sejenak dan meneliti tubuh Kineta dari atas hingga bawah bahkan memperhatikan bagian tubuh depannya dengan tidak sopan. Namun gerakan pria itu yang menggeserkan tubuhnya dan membuka pintu dengan lebar untuk Kineta membuat gadis itu tersenyum.


"masuklah"ucap Argion masih dengan tatapan yang sama menatap mata coklat indah Kineta yang seolah berkilau.


Kineta mengartikan ajakan Argion sebagai pertanda jika pria itu mengingatnya, gadis itu tersenyum senang dan melangkahkan tubuhnya kedalam apartemen pria itu.

__ADS_1


Kineta baru menyadari, jika Apartemen yang dimasukinya ini tengah melakukan sebuah pesta, entah pesta apa Kineta tidak mengerti. Dengan dentuman musik dj dan beberapa makanan serta minuman keras tersedia di sebuah tabel panjang yang berada di sisi dinding berwarna cream gelap.


Dan yang membuatnya terkejut ialah beberapa pria dan wanita yang mungkin berusia sama dengan Argion tampak sedang menari bahkan melakukan kegiatan tak senonoh yang membuat dirinya risih.


Kineta berdiri di pojokan seorang diri, menyesali keputusannya untuk masuk kedalam apartemen ini. Dan semua ini karena Argion Samudra yang kini mengabaikannya, pria itu bahkan langsung meninggalkannya tanpa melanjutkan percakapan mereka tadi.


“sepertinya aku datang di waktu yang salah, sebaiknya aku pergi saja”ujar Kineta yang hendak membalikan tubuhnya untuk pergi.


“hey, sepertinya aku baru melihatmu” seorang pria menahan dirinya. Penampilan pria itu terlihat lebih santai dengan senyum ramah yang ditampilkannya.


“maaf saya…”


“aku Ryoma Takaguci kau pasti mengenalku, bagaimana menurutmu dengan apartemenku kau mau ku ajak berkeliling?”pria itu menyebutkan namanya dengan bangga, tidak ada yang tidak mengenalnya di negara ini. Ketampanannya yang berdarah Jepang dan Indonesia menjadi daya tariknya untuk membintangi beberapa judul film terkenal, bahkan film yang terakhir dibintanginya sukses di negara asia membuatnya mendapat penghargaan sebagai aktor asing terbaik yang didapatnya di festival film busan.


“maaf sepertinya ini salah paham, saya datang kemari bukan untuk itu”


“semua yang kemari adalah untuk tujuan itu, bersenang-senang kau tahu?”


“ah i see, kau pasti salah satu korban pesona Argion. Kuberitahu satu hal, Argion sudah memiliki pawangnya dan kau akan dalam bahaya jika terus mengejarnya. Jadi ku sarankan hindari bahaya itu dan bersenang-senanglah denganku, just look at me i’m more than Argion” Kineta menatap sengit Ryoma, pria itu benar-benar menjengkelkan.


“terimakasih, tapi saya tidak tertarik” Kineta hendak pergi saat tangan kirinya ditahan oleh cekalan tangan Ryoma.


“aku suka gadis sombong yang terlihat lugu sepertimu, katakan padaku berapa hargamu dan akan ku bayar dua kali lipat…”


‘plak’


tamparan itu begitu keras hingga membuat mereka yang asyik berpesta menatap terkejut melihat sang tuan rumah yang mengundang mereka ditampar keras oleh seorang gadis.


“KAU…” geram Ryoma menatap Kineta marah. Namun mata itu seolah menantangnya, tidak ada tatapan takut dalam sinar matanya itu.


“hargaku bahkan lebih tinggi dari nyawamu, jadi lebih baik orang sepertmu mati saja ke neraka” Kineta menunjuk Ryoma yang justu terkekeh mendengar umpatan gadis yang bahkan belum diketahui namanya. Ini pertama kalinya seseorang menyuruhnya untuk pergi ke neraka bukan ke surga bersamanya seperti gadis-gadis lainnya.


“Ry, Lo baik-baik aja?” seorang wanita mendekat dan menatap Ryoma dan Kineta penasaran.

__ADS_1


“gue baik-baik aja Rhe”sahut Ryoma pada Rheana yang ia tahu jika sahabatnya itu pasti menghampirinya hanya karena pernasaran bukan untuk mengkhawatirkannya. Mana mau wanita itu mengkhawatirkannya, Rheana terlalu tahu segala keburukannya.


Merasa semakin tak nyaman, Kineta memutuskan untuk pergi saja dan melupakan tujuannya. Namun baru melangkah seseorang kembali menahan tangannya membuat Kineta marah.


Argion menahan tangannya dan tersenyum pongah. “kenapa terburu-buru? bukankah kau bilang mengenalku? kita bisa bersenang-senang bersama, termasuk bersama temanku yang baru saja kau tampar”


Bagi Argion, Kineta harus tahu jika seorang Argion dihadapannya ini bukanlah seorang Argion Biru Samudra yang dikenalnya dulu yang selalu berbaik hati untuk menghapus air mata dan menghiburnya dikala sedih. Ia yang sekarang adalah seseorang yang harus dikenal buruk oleh gadis itu.


“Ar, kamu kenal gadis itu?”Melisa menatap Kineta sinis, gadis itu kini melingkarkan tangannya pada tangan Argion yang bebas, menunjukan kepemilikannya. Dan kini Kineta mengerti, pawang yang dimaksud pria tadi.


Kineta menyesal, ia tidak seharusnya merasa penasaran hingga menahan lift dan masuk ketempat ini hanya untuk seorang pria yang sudah tidak mengingatnya lagi.


Kineta menatap Argion dengan kecewa, pria inilah tujuannya berada disini dan mengabaikannya. “kau benar aku tidak mengenalmu dan tidak seharusnya berada disini”


Melihat respon Argion yang hanya diam dan menatap datar kearahnya membuat hati Kineta semakin menyesak.


“sepertinya saya salah orang. Saya pikir anda adalah seseorang yang saya kenal, tapi sepertinya salah. Siapapun anda, saya minta Maaf mengganggu waktu berharga anda. Tapi saya tidak akan meminta maaf karena menampar wajah teman anda. ”ujar Kineta menjadi formal saat Argion melepaskan tahanan tangan padanya. “selamat malam” Kineta pergi dengan menelan kekecewaannya.


Sementara Argion menatap kepergian gadis itu dengan begitu terluka, seperti 10 tahun yang lalu saat gadis itu tak pernah berbalik lagi kearahnya. Namun melihat wajah gadis itu yang kecewa terhadapnya membuat hatinya teguh dengan pendirian yang sudah dirubahnya selama ini.


Pendirian yang begitu amat membenci seorang wanita karena bagi Argion, sosok wanita dimatanya saat ini adalah sebuah simbol rasa sakit yang harus dipermainkannya secara perlahan kemudian ia hancurkan begitu dalam. Perasaan benci yang teramat kembali muncul dalam benaknya hingga Argion menarik gadis yang ada disampingnya dan menciumnya dengan kasar dengan ******* yang penuh emosi.


"Maaf"


Argion menghentikan ciumannya dan menjauhkan tubuhnya karena ia tidak ingin siapapun melihat sorot matanya yang kini tengah dilanda frustasi.


"Maaf Rhe, gue kayanya pulang aja! Bilang ke Ryoma kalau gue cabut"


"karena gadis itukan, siapa sih dia Ar?"tanya Rheana dengan penuh tuntutan. Ia tidak ingin ada gadis lain yang berani mengacawkan hidup Argion, ia sudah bersusah payah untuk ditahap ini hanya sebagai pelampiasan seorang Argion.


Argion tersenyum sinis "Itu bukan urusan Lo Rhe, jangan ikut campur dan ingat persepakatan kita kalau Lo lupa!" Peringatan Argion membuat Rheana menutup mulutnya.


Argion malam ini mungkin akan kembali mengingat masa lalu hitam yang sudah mengantarkannya menjadi pria pendiam dan sinis.

__ADS_1


__ADS_2