
Setelah 10 tahun meninggalkan kota kelahirannya, Kineta pikir akan sulit membuatnya kembali beradaptasi dengan kota yang penuh polusi, panas, macet dan selalu banjir saat musim hujan.
Namun saat kembali dan merasakan udara yang berbeda dari yang dihirupnya selama di Amerika membuatnya menyadari satu hal, ia merindukan tempat kelahirannya ini. Ia merindukan orang-orang yang satu ras dengannya dan menampilkan senyum ramahnya.
"tante harap kamu gak ngalamin culture shock setelah pulang ke Jakarta" Kineta menolehkan pandangannya dari jendela dan menatap tante muda yang tengah mengendarai mobil honda civic kesayangannya.
"itu gak akan terjadi, justru Neta kangen banget sama kota ini" Kineta menampiknya dengan senyum tulus.
"tunggu beberapa hari ke depan dan kamu akan mengeluh dan merengek tentang kota ini" Riana menatap sekilas keponakannya yang hanya berbeda 10 tahun dengannya.
"itu cuma akan terjadi sama tante" goda Kineta kepada Riana.
Kineta ingat 7 tahun yang lalu setelah tantenya menyelesaikan perkuliahan dan pekerjaannya di Inggris, ia kemudian kembali lagi ke kota ini sendiri dan seminggu setelahnya tantenya selalu mengeluh dan menangis ingin kembali karena hampir menyerah menghadapi masalah sosial di Jakarta.
"gak usah ungkit masa lalu" Kineta terkikik mendengar kekesalan tantenya yang masih melajang di usia 35 tahun, namun juga masih terlihat cantik dan muda.
"yee kita kan lagi gak bahas mantan tan" Kineta tertawa renyah dan Riana lega mendengar tawa keponakannya setelah perpisahan kedua orangtuanya 10 tahun yang lalu. Waktu memang obat terbaik untuk sembuh dari rasa sakit.
"tante senang kamu udah kembali jadi Neta yang dulu lagi"
Riana ingat setelah satu tahun kepindahannya ke Inggris, kakak perempuan satu-satunya itu bercerai dengan suaminya dan membawa Kineta bersamanya ke Inggris. Dan tentu melihat kondisi psikis Kineta saat itu sungguh membuatnya cemas karena ia juga pernah merasakan hal itu.
Orangtuanya juga dulu bercerai dan melihat kembali bagaimana kakaknya juga mengalami nasib yang sama, Riana selalu melihat Kineta seperti dirinya yang menjadi korban perceraian orangtua. Riana yakin gadis yang dulu berusia 15 tahun itu sangat mencintai kedua orangtuanya dan perpisahan keduanya menjadi kehancuran rasa cintanya.
"mungkin benar, waktu adalah obat dari rasa sakit" Kineta merenung.
Di usianya yang kini sudah menginjak 25 tahun, membuat Kineta semakin sadar dan dewasa untuk menyikapi perpisahan orangtuanya. Ia tidak bisa memperbaiki takdir yang hancur untuk lebih baik, jadi yang bisa dilakukannya adalah menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri.
10 tahun bukan waktu yang singkat saat ia terpaksa mengikuti ibunya ke Inggris setelah bercerai dengan ayahnya. Tidak ada pilihan saat itu, karena nyatanya dalam hati yang terdalam ia masih menginginkan kedua orangtuanya untuk kembali bersama.
"apa rencana mu kali ini? Ayah mu tahu kalau kamu pulang hari ini?"tanya Riana saat menghentikan mobilnya karena lampu merah.
"ayah gak tau aku kembali lebih awal"aku kineta.
"masih belum siap ketemu mama tiri?"Tanya Riana khawatir namun terdengar seperti ejekan.
"bukan kok!"sangkal Kineta terlalu cepat. Dan senyum puas Riana membuat Kineta kesal.
"aku cuma mau menghindari suasana canggung, rasanya akan aneh kan jika aku ketemu ibu tiri pertama kali tanpa ayah"
__ADS_1
Kineta memutuskan untuk kembali lebih awal dari apa yang ia kabarkan kepada ayahnya jika ia akan kembali ke Jakarta minggu depan. Dan berhubung Ayahnya saat ini tengah berada di luar kota untuk keperluan bisnis selama seminggu kedepan, Kineta memutuskan untuk tinggal dengan tantenya yang lajang ketimbang ibu tiri yang belum pernah ditemuinya.
"aku tidak tahu, aku tidak pernah punya ibu tiri"timpal Riana merasa iba. "baiklah semuanya terserah kamu, Kamu bisa tinggal di apartemen tante kapanpun kamu mau" Riana kembali melajukan mobilnya setelah lampu merah berubah warna. "tapi-"
"tapi?" Kineta membeo.
"jangan protes dengan gaya hidup tante. Dan jangan jadi detective dadakan dengan laporan aneh apapun pada mamamu!"
Kineta hanya menyerengit bingung dengan peringatan tantenya. Mamanya yang cerewet tentu akan bertanya tentang kondisi adiknya selama hidup mandiri di Jakarta, karena sebenarnya mamanya itu sudah terlalu mengkhawatirkan tantenya yang masih belum mau menikah hingga saat ini. Jadi jika ia tidak boleh melaporkan apapun tentang tantenya lalu apa yang harus ia diceritakan pada mamanya nanti.
***
"emmhhh Will...uuhh Will just slowly okay? Ada ponakanku emmh...di kamar ahh sebelah" ******* terputus Riana saat partner ***-nya tengah menciumi kedua buah dadanya dengan rakus.
Sudah dua hari Kineta tinggal dengan tantenya. Dan kini ia paham dengan maksud jangan protes dengan gaya hidup tantenya itu.
Tantenya terlalu bebas dan liar, bagaimana mungkin tantenya bisa having *** dengan teman prianya yang hanya berstatus 'teman'. Kineta bukannya terlalu polos, hidup di luar negeri dengan paham liberalisme kuat membuat ia melihat gaya hidup yang bebas disekitarnya.
Di Inggris, ia bahkan pernah memeregoki sepasang kekasih yang bercinta di tangga darurat atau bahkan lift apartemennya. Tapi jika melihat dan mendengar tantenya sendiri yang tengah melakukan having *** membuat pikiran dan tubuh Kineta merinding tak nyaman.
Sepertinya lebih baik ia pergi menjauh sementara dibandingkan mendengar ******* yang tidak bisa hilang meski Kineta sudah menutup kedua telinganya dengan earphone. Sejujurnya Kineta kurang menyukai mendengar musik dengan earphone, telinganya terlalu sensitif dengan bunyi yang terlalu dekat.
Membaca nama Cafe yang pernah tantenya rekomendasikan karena letaknya yang bersebrangan dengan apartemen tantenya kini menjadi tujuan Kineta saat ini. Seperti yang ia jelaskan, saat ini ia tidak bisa tinggal di kamar apartemen tantenya dengan ******* yang membuatnya semakin tak nyaman.
"selamat datang di Room Coffee House" sapaan seorang pelayan wanita saat Kineta memasuki pintu Café bergaya eropa classic dengan bunyi lonceng kecil diatasnya.
Waktu menunjukkan tepat jam 9 malam dan suasana cafe disini terlihat cukup ramai dengan iringan musik barat acoustic sebagai latarnya.
Kineta tersenyum tipis dan menganggukan kepala sebagai balasannya. Ia berjalan ke conter pemesanan dan memilih menu coffe yang tertera di atas conter. Menunya cukup variatif dengan beberapa cake dan makanan lain yang dikombinasikan dengan bahan Coffee.
"Ice mocca blue dan Velvet coffee" Kineta menyebutkan pesanannya dan menatap seorang gadis yang berdiri dibalik conter.
Gadis pelayan itu masih berdiri diam dan tak merespon pesanan menu Kineta.
"saya pesan Ice mocca blue dan Velvet Coffee" ulang Kineta menyebutkan pesanannya kembali namun gadis dibalik conter itu masih terdiam menatap Kineta.
"Neta?" kini giliran Kineta yang terdiam. Namun kemudian kedua matanya membulat saat mengenali gadis pelayan dihadapannya ini.
"Elma?" gadis pelayan itu bernafas lega setelah Kineta mengingat namanya.
__ADS_1
Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, Elma akhirnya bisa menghampiri Kineta dan memeluk sahabatnya itu dengan erat. Shift kerjanya sudah selesai hingga ia bisa mengobrol nyaman dengan sahabat dekatnya ini. Kineta adalah gadis kaya rendah hati yang mau berteman dengan gadis seorang supir dan pembantu seperti dirinya, itulah mengapa Elma kini begitu merindukan sahabatnya itu saat ini.
"hey! aku hampir gak bernafas"tegur Kineta merasa pelukan sahabatnya itu terlalu erat.
"maaf, aku kira gak akan pernah ketemu kamu lagi" cengiran khas Elma membuat Kineta merindukan masa remaja tanggung mereka dulu.
"tapi akhirnya kita ketemu lagi kan"timpal Kineta riang.
"kamu bahkan gak ngenalin aku kalau aku gak menyapa kamu duluan"sindir Elma yang kini mendudukan dirinya disamping Kineta.
"hey! itu karena kamu berubah terlalu banyak "
"benarkah?"Tanya Elma penasaran.
"dulu pipi ini tidak pernah setirus ini, dan kamu bahkan gak pernah mau memotong pendek rambut panjangmu" Kineta mengusap pelan pipi tirus sahabat dekatnya yang dulu memiliki pipi dan tubuh sedikit cubby.
"aku semakin jelek yah"
"El, kamu selalu cantik. Bahkan terlalu cantik hingga aku tidak mengenalimu"
"Elma yang saat ini berada didepanmu, dan Elma yang dulu sudah berbeda Ta. Sangat berbeda. Aku pasti semakin kumal saat ini" Elma sadar, ia yang kini hanya seorang pelayan pasti selalu dipandang rendah untuk tampilan tubuhnya.
"El, kamu tahu aku benci orang yang selalu merendahkan dirinya sendiri" peringatan Kineta tegas.
Elma tersenyum. "apalagi merendahkan orang lain" tambah Elma saat mengingat sifat Kineta yang paling disukainya.
"bagaimana kabar tante Mitha dan Elmi? Mereka baik?" Tanya Kineta mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar ibu dan adik perempuan Elma yang dulu begitu dekat dengannya.
"mereka baik, mama juga semakin baik setelah operasi jantungnya"
"maaf, aku gak sama kamu saat tente di operasi " sesal Kineta.
"ah sudahlah, itu udah dua tahun yang lalu. Yang paling penting bagiku sekarang adalah kondisi mama yang membaik. Dan kamu juga yang semakin membaik"
"aku bangga sama kamu" ungkapan ini adalah award yang sering mereka katakan jika salah satu dari mereka berhasil melewati permasalahan yang berat. Dan kini Kineta bangga pada Elma yang sudah dengan kuat melewati cobaan hidupnya.
"dan aku juga bangga sama kamu" balas Elma tulus.
Dan Kineta tahu jika keputusannya untuk kembali ke Indonesia adalah hal baik. Dan Elma salah satunya, sahabatnya itu tentu bangga dengan dirinya yang bisa bangkit kembali dari kehancuran hubungan kedua orang tuanya. Tanpa penjelasan dan kata-kata yang lebih Kineta tahu Elma bangga karena hal itu.
__ADS_1