Yasmin (Kembalinya Sang Pewaris)

Yasmin (Kembalinya Sang Pewaris)
episode 5


__ADS_3

**Mohon dukungannya teman-teman...


Happy Reading😊😊😊**





“Engga kenal deket, cuman sebatas kerja sama saja antara perusahaan mereka dengan perusahaan tempat kerja papah.” Jawab Adrian.


"Papah harap, baik kamu maupun Yasmin jangan sampai terlibat sama mereka." Lanjutnya.


“Kenapa Pah?” Tanya Damar mengernyitkan keningnya.


Adrian menghela nafas sejenak. “Kamu tahu sendirilah, bagaimana latar belakang keluarga mereka dan juga bisnis mereka. Kalau Yasmin sampai terlibat dengan salah satu dari mereka, keluarga mereka tidak akan melepaskan Yasmin begitu saja. Mereka pasti akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan Yasmin dan juga ibunya.” Jelas Adrian.


Damar nampak memikirkan penjelasan sang Ayah. Kemudian ingatannya kembali ke dua tahun silam. Awal-awal mereka masuk ke SMA Nusantara dimana Yasmin dan beberapa murid lainnya sering dibully karena mereka murid penerima beasiswa. Apalagi Varrel dan kedua temannya. Mereka selalu saja mengganggu Yasmin. Untung saja Yasmin bisa mengendalikan emosinya, hingga tak begitu mengambil hati perlakuan mereka yang selalu merendahkan dan mengganggu Yasmin.


“Selama Yasmin nggak nanggepin Varrel sama Nathan kayak biasanya, gue yakin semua bakal baik-baik aja.” Ucap Damar lirih namun masih bisa terdengar di telinga sang Ayah.


“Papah udah anggap Yasmin seperti anak Papah sendiri. Papah ngga mau kalian terlibat sama orang-orang seperti merek. Jadi, kamu harus menjaganya, ini perintah!” Ucap Adrian sungguh-sungguh.


“Iya pah.” Jawab Damar.


Masih jelas dalam ingatan Damar, awal mula ia bersahabat dengan Yasmin.


Flashback on


Saat itu mereka kelas 5, dan Yasmin merupakan murid baru di kelasnya. Damar yang saat itu memiliki perawakan gembul, sering menjadi bahan bullyan oleh teman-temannya.


Awalnya Yasmin tidak peduli, selama mereka tidak mengganggu dirinya. Tapi lama kelamaan hatinya ikut panas saat para membully itu membawa serta mendiang ibu Damar.


Saat itu masih jam pelajaran. Tapi karena semua Guru sedang mengadakan rapat dan tidak memberikan muridnya tugas, jadilah murid-murid ramai di dalam kelas. Yasmin nampak membolak-balikkan buku pelajaran yang ada di hadapannya. Sementara di sudut belakang ruang kelas tersebut, terlihat seorang murid laki-laki yang tengah dikelilingi beberapa murid lainnya.

__ADS_1


“Eh gendut, bagi duit dong!” Ucap salah seorang murid.


“Heh, kasih uangmu ke kita!” Sahut seorang lainnya dan anak yang dimintai uang itu masih saja diam tak mengeluarkan suara.


“Heh, kamu tuli ya? Kamu nggak dengar apa yang dibilang Reno? Berikan uangmu, atau kami akan menghajarmu.” Timpal lainnya dengan kesal karena anak itu tetap diam saja.


“Ternyata nggak cuman tuli, tapi dia juga bisu.” Ucap anak yang bernama Diki dengan senyum sinis.


“Sudah, sudah, nanti kalau dia menangis kasihan. Dia kan tidak punya ibu.” Ucap Reno dengan nada meledek.


“Oh, jadi dia tidak punya ibu? Pantas saja, udik!” Jawab Diki.


“Siapa juga yang mau jadi Ibunya. Lihat saja dia, sudah gendut, jelek pula. Hahahahaa...” Sahut Reno yang ditimpali tertawaan oleh teman-temannya.


Sementara Damar kecil hanya bisa menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya yang ia sembunyikan di bawah meja. Ia menatap tajam ke arah Reno dan beralih ke Diki juga murid-murid lain yang mengganggunya. Ia tak berani melawan mereka, karena ia tahu kalau ia melawannya, mereka akan semakin gencar mengganggunya.


Sementara ia hanya sendiri, karena tak ada yang mau berteman dengannya, dengan alasan Damar anak yang jelek dan gendut.


Yasmin yang mendengar gangguan anak-anak itupun hatinya ikut panas. Ia bisa merasakan apa yang Damar rasakan. Meskipun ia masih mempunyai ibu, tapi ia sudah tidak mempunyai ayah. Ia tahu bagaimana jerih payah sang Ibu membesarkan dirinya dan juga sang Kakak.


“Kalian pergilah, kalau tidak aku akan melaporkan kalian ke guru.” Lanjut Yasmin menggertak mereka.


“Cih, dasar cemen, beraninya mengadu.” Jawab Diki.


“Sudah, ayo pergi! Malas berurusan dengan anak-anak orang miskin.” Ajak Reno sambil merangkul Diki yang diangguki oleh kedua teman lainnya.


Yasmin mengembuskan nafas lega dan menoleh ke Damar. Sadar akan tatapan Yasmin, Damarpun langsung menunduk.


“Kamu kenapa diam saja saat mereka mengganggu kamu?” Tanya Yasmin sambil duduk di kursi depan Damar.


“Terimakasih.” Ucap Damar masih menunduk.


“Aku di depanmu, bukan di bawah.” Damar mengangkat wajahnya dan menatap Yasmin dengan sendu.


“Kamu itu laki-laki, kamu harus berani. Kalau kamu diam saja saat diganggu mereka, mereka justru akan terus mengganggumu.”

__ADS_1


“Mulai sekarang kita berteman, aku akan membantu kamu agar jadi laki-laki yang berani.” Lanjutnya.


“beneran? Kamu mau jadi temanku?” Tanya Damar sedikit ragu, namun juga merasa senang.


“Ehm, tentu saja. Mulai sekarang kita berteman, dan kamu harus janji kalau kamu tidak boleh lagi takut sama mereka seperti tadi.” Jawab Yasmin sambil mengacungkan jari kelingkingnya dibarengi dengan senyuman yang tulus.


“Aku janji.” Jawab Damar sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Yasmin.


"Apa kau punya Ibu?" Tanya Damar.


"Aku punya Ibu, tapi aku tidak punya Ayah." Jawab Yasmin.


"Aku punya Ayah. Kau boleh menganggap Ayahku seperti Ayahmu." Ucap Damar.


"Benarkah?" Mata Yasmin berbinar.


"Tentu saja. Ayahku tidak akan keberatan, dan tentunya pasti dengan senang hati. Ayahku sangaaaatt baik." Jawab Damar.


"Baiklah, kalau begitu kau juga boleh menganggap Ibuku sebagai Ibumu. Karena Ibuku juga sangaaaaattt baik." Sahut Yasmin tak mau kalah. merekapun saling melempar senyum bahagia.


Flashback off


Gue bakal jagain loe Yasmin. batin Damar





****Hallooo readers...


Mohon dukungannya yaaa.... bagi yang mau kasih kritik dan saran dipersilakan di kolom komentar. dan ingat, gunakan kalimat yang sopan yes.


terimakasih😊😊😊**

__ADS_1


__ADS_2