
**Hai semuanya...
•
Mohon dukungannya ya 😊😊😊**
•
•
•
Bruukk!!!
Seluruh murid dan juga guru yang di dalam kelas itu menoleh ke belakang, ke arah sumber suara. Fabian pingsan. Nathan mengkedip-kedipkan matanya dengan mulut menganga, dan seketika itu pula ia paham.
“Fabian!” Pekiknya dan langsung mendekat menepuk pelan pipi Fabian.
“Ada apa?” Tanya guru yang mengisi kelas tersebut.
“Fabian pingsan Pak.” Jawab salah satu murid yang ikut mendekat.
“Pingsan? Bukankah tadi baik-baik saja? Ya sudah, kalian bawa dia ke Ruang Kesehatan.”
“Baik Pak. Loe bantuin gue.” Jawab Nathan kemudian meminta salah satu temannya untuk membantunya membawa Fabian ke Ruang Kesehatan.
~
Sesampainya di Ruang Kesehatan, “Dokternya nggak ada, gue cari dulu.” Ucap Riko, murid yang ikut mengantar Fabian.
“Nggak usah, kayaknya dia pingsan biasa. Nanti dikasih minyak angin sebentar juga sadar. Loe balik aja ke kelas, terus bilang ke guru kalo gue di sini nemenin Bian.” Jawab Nathan.
Riko memperhatikan Bian sejenak, “Loe yakin?" Tanya Riko mengernyitkan keningnya, Nathan menganguk.
"Ya sudah kalau gitu. Kalau dia nggak sadar jua, loe cari Dokternya. Biasanya di Perpustakaan.” Ucapnya dan lagi-lagi dijawab anggukan kepala oleh Nathan.
Setelah Riko keluar dari Ruang Kesehatan, kedua sudut bibir Nathan dan Bian melengkung ke atas dengan sempurna. Sebuah senyum kemenangan.
Plaakkk!!!
Mereka melakukan tos. Sesaat kemudian mereka keluar dari Ruang Kesehatan.
“Sekarang kita ke mana? Gimana kalau ke kelas Seni?” Tanya Bian merangkul Nathan.
__ADS_1
Nathan menghentikan langkahnya, menatap Bian penuh arti, seolah bertanya ‘kelas seni?’. Bian menaik turunkan alisnya dengan senyum jahilnya.
“Ayolah, Loe ngga bisa bohong sama gue. Loe lupa Mata sama telinga gue ada di mana-mana. ” Goda Bian.
Nathan hanya tersenyum. Mereka pun berjalan menuju kelas seni. Sayangnya mereka hanya bisa mengintip dari jendela. Tidak masalah , setidaknya Yasmin masih terjangkau dalam pandangan Nathan.
Yasmin begitu fokus dengan kanvas yang ada di hadapannya.
“Semester depan gue mau ambil kelas seni jadi kelas tambahan.” Ujar Nathan.
“Cih, dasar budak cinta.” Decih Bian yang mendapat tatapan tajam dari Nathan.
“Segitu cintanya sama Yasmin, sampai ikut ambil kelas seni.”
“Loe nggak bakal paham.”
“Terus itu Aulia gimana?” Tanya Bian yang disambut hembusan nafas kasar dan tatapan jengah oleh Nathan.
“Dia cantik, pintar, latar belakang keluarganya juga gini men.” Bian mengacungkan dua jempolnya.
“Loe kalo cuman mau berisik mending pergi sana. Bisa-bisa ketahuan kita.” Jengkel Nathan.
“Studio musik aja, yuk! Mumpung anak seni di kelas, jadi studio kosong.” Ajak Bian.
Nathan hanya mengibaskan tangannya, menyuruh Bian untuk pergi sendiri. Sedangkan matanya masih intens memperhatikan Yasmin.
~
Setelah menunggu beberapa saat, Yasmin keluar paling terakhir. Lagi-lagi Nathan mencegatnya.
“Ada apa lagi?” Tanya Yasmin datar.
“Gue antar pulang.” Ujar Nathan.
“Enggak Nathan. Kan udah gue bilang, gue mau kita jadi orang asing pas di sekolah. Please, biarin gue belajar dengan tenang di SMA ini sampai lulus.” Sergah Yasmin.
“Enggak, gue ngga mau.”
“Dan gue ngga peduli!” Tegas Yasmin langsung meninggalkan Nathan.
Yasmin terus berjalan menuju lokernya. Di perjalanannya, beberapa murid kembali melontarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas.
“Wah wah.... siapa ini? Gadis penggoda?” Celetuk Luna.
__ADS_1
“Kalau orang-orang sekarang nyebutnya pe la kor!!” Sahut Vira, teman Luna.
“Aduuuhhh... Gue ngga nyangka ya, di sekolah kita ada murid yang ngga tau malu.” Timpal Vera yang tak lain saudara kembar Vira, anggota geng Luna.
“Iya, gue juga ngga habis fikir, udah tau si cowok udah punya tunangan, tapi masih aja digodain.” Ujar Vira.
“Biasa, namanya juga gadis miskin. Pasti bakal ngelakuin apa aja biar bisa hidup enak.” Jawab Luna.
Sungguh, Yasmin benar-benar harus menulikan telinganya. Ia tak mau menanggapi ucapan Luna dan gengnya. Karena akan berakhir panjang.
Luna dan kedua teman kembarnya, di kenal sebagai murid yang sering membully teman-temannya. Apalagi murid yang mendapatkan beasiswa.
Semua murid di SMA Nusantara juga tahu, kalau ia menyukai Nathan. Melihat hubungan Nathan dan Aulia uang biasa saja, tidak mencerminkan seperti sepasang kekasih yang sudah bertunangan, ia merasa mempunyai kesempatan untuk mendekati Nathan.
Namun saat melihat Nathan menyukai Yasmin, ia mulai gerah dan sering mengganggu Yasmin.
“Loe nggak dengar apa-apa Yasmin, loe nggak dengar.” Ucap Yasmin dalam hati dan semakin mempercepat langkahnya.
“Heh! Loe tuli ya? Loe ngga dengar kita ngomong apa, hahh?” Ucap Luna dengan nada tinggi
“Aagghh!” Pekik Yasmin ketika Lumaa menjambak rambutnya.
“Luna, lepasin rambut gue.” Pinta Yasmin.
“Asal loe tau ya, Nathan itu ngga pernah suka sama loe. Dia cuman mau senang-senang doang sama loe. Ntar juga loe bakal di depak. Nathan itu nggah bodoh, yang bakal ninggalin Aulia cuman buat loe, cewek penggoda. Denger itu!” Ucap Luna dengan nada rendah namun penuh amarah.
"Gue nggak pernah deketin Nathan." Sergah Yasmin.
"Loe pikir kita bodoh? semua murid di sekolah ini juga tau kalo loe ngegodain Nathan. Dasar cewek murahan!" Jawab Luna.
Ia melepaskan tangannya dari rambut Yasmin dengan kasar dan bergegas pergi dengan Vira dan Vera.
Yasmin merapikan kembali rambutnya. Beberapa kali ia mengontrol nafasnya. Beberapa kali pula ia mengedipkan matanya, agar tak ada buliran bening yang lolos dari mata cantiknya.
“*Sabar Yasmin, loe harus kuat! Tinggal sebentar lagi loe lulus dari SMA ini. Loe harus kuat Yasmin, harus!!!” Batin Yasmin menyemangati dirinya.
•
•
•
**Hallooo readers semua...
__ADS_1
Mohon dukungannya yaaa.... dipersilahkan bagi yang mau kasih kritik dan saran dipersilakan di kolom komentar. Dan ingat, gunakan kalimat yang sopan yes**.
**terimakasih😊😊😊***