You'Re My Mine, Andrea

You'Re My Mine, Andrea
Part 4


__ADS_3

Hari Rabu, hari keberangkatan ke Jogja pun tiba.


Andrea yang semalam videocall dengan Exel sampai larut malam, bangun paling terlambat.


Untung saja hari ini adalah hari kerja, sehingga jalanan tidak terlalu padat, dan mereka sampai di bandara 30 menit sebelum boarding pesawat. Mereka pun langsung check in dan masuk ke pesawat dengan nafas ngos-ngosan karena harus berlari agar tidak ketinggalan pesawat.


"Gara-gara kakak nih dibangunin susah, hampir aja kita ditinggalin pesawat." sungut Tia dengan meminum air putihnya hampir setengah karena kecapekan berlarian.


"Ya udah sih, yang penting kan kita ga ketinggalan pesawat. Bagi minumannya Ti," jawab Andrea acuh dan meminum minuman Tia.


"Elu sih kak, pake vidcall sampek malem banget, akhirnya kan susah dibangunin."


"hussst..jangan keras-keras ngomongnya nanti ayah sama bunda denger." panik Andrea takut kalau orang tua yang duduk di seberang mereka dengar perkataan adiknya.


"Ga bakal denger lah. Emang kakak sih bandel, udah dibilangin ga boleh pacaran masih aja pacaran juga, akhirnya backstreet kan."


"Ya gimana ya, namanya juga jatuh cinta ga bisa ditolak. Lagian nih ya, Exel itu cowok populer di sekolah, siapa juga yang ga mau pacaran sama dia." jawab Andrea yang membuat Tia memutar bola matanya malas mendengar ocehan kakaknya.


Perjalanan selama 1 jam, akhirnya mereka sampai di bandara Yogyakarta. Disana mereka dijemput oleh adek dari Ayah, Om Ikal dan tante Hana. Dari bandara ke rumah nenek sekitar 1,5 jam, rumahnya berada di pinggiran kota, ya masih termasuk pedesaan sih meskipun tidak terlalu jauh dari kota.


Sesampainya mereka di rumah nenek, Andrea dan Tia terkejut melihat banyak orang di rumah nenek mereka. Mereka tahu akan ada acara keluarga di rumah nenek, tapi menyangka akan seramai ini dan ada terop dekorasi di depan rumah nenek.


"Kak, ada acara apaan sih dirumah nenek, kok kayaknya rame banget, sampek ada terop kayak mau nikahan aja." tanya Tia saking penasarannya


"Ga tau Ti, kakak juga ga tau, coba tanyain bunda deh."


"Males aah, kakak aja yang tanya. Atau jangan-jangan ini mau nikahan kakak deh."


Ayah bunda dan om tante mereka yang sedang1 bersiap akan turunpun mendengar perkataan Tia mendadak hening dan mematung tegang.


Ngaco lu, gue masih SMA ya, masak mau dinikahin. omel Andrea pada Tia.

__ADS_1


"hihihi kan siapa tau kak, anak-anaknya nenek kan udah pada nikah semua. Terus cucu tertua nenek ya kakak aja kan," jelas Tia yang dibalas pukulan pada lengannya oleh kakaknya.


"Udah-udah kalian ini baru juga nyampek udah ribut aja, ayo turun bawa barang-barang kalian sendiri." perintah bunda pada kedua anaknya.


Mereka turun dengan membawa barang bawaan masing-masing. Dan benar saja, didalam rumah sudah banyak orang yang sebagian adalah tetangga-tetangga neneknya. Yang membuat mereka aneh, kenapa banyak tetangga yang membantu memasak dirumah, Andrea kira acara keluarga itu ya arisan keluarga biasa. Ngapain juga banyak tetangga bantuin, secara anak nenek itu cuman ada 3 orang, cucu nenek ada 6 orang kan ga mungkin juga sampek harus masak banyak makanan.


Karena rasa penasarannya, akhirnya Andrea bertanya pada Bundanya.


"Bun, mau ada acara apa sih, kok banyak tetangga yang bantuin di rumah nenek."


Bunda yang ditanya secara tiba-tiba, terlihat berfikir untuk memberi jawabannya, "Ehmm anu itu, ada hajatan nak."


"Hajatan apa bun?perasaan semua anak nenek udah nikah, bima sama satrio juga masih kecil ga mungkin kan mereka mau sunatan sekarang?" desak Andrea pada bundanya.


Ayahnya yang melihat bunda kebingungan untuk menjawab pertanyaan Andrea akhirnya ikut bicara, "Andrea Tia, bawa masuk barang dan masuk ke kamar kalian, istirahat nanti kita makan siang bersama sama nenek, biar nanti nenek yang jelasin semuanya."


Mau tak mau mereka menuruti perkataan ayahnya dengan rasa penasaran yang mereka pendam.


Saat makan siang semua orang berkumpul, ada nenek Asih, Ayah Bunda, dan Tia. Para Om dan tante beserta anak-anak mereka entah pergin kemana, seperti sengaja memberi waktu mereka untuk berbicara.


Sudah pada jalan-jalan sendiri mereka ke kota, katanya mumpung kesini, jadi mau jalan-jalan, jawab nenek Asih.


Andrea hanya ber 'O' ria mengetahui jawaban neneknya. Suasana makan kembali hening.


Tak berapa lama, Ayah mulai memasang wajah serius.


"Ekhem Andrea?"panggil Ayahnya sambil berdehem.


"Iya yah?"Andrea yang merasa dipanggil mendongak kan kepalanya, tidak hanya dia, semua orang yang dimeja makan pun ikut mendongak kan kepala.


"Nanti malam Om Hendra datang kesini, mau ngelamar kamu buat anaknya."

__ADS_1


Andrea yang mendengar itupun kaget dan tidak percaya, seperti tersambar petir disiang bolong. Bukan hanya Andrea yang kaget, adiknya yang duduk disampingnya pun juga terkejut, becandaannya tadi siang yang bilang kakak yang akan menikah benar- terjadi.


"Hah, apa yah?ayah ga salah ngomong kan?" tanya Andrea dan dijawab dengan anggukan ayahnya.


"Ga mungkin Yah, Ayah jangan becanda deh, Andrea masih SMA. Masak udah dilamar aja sih."


"Ayah ga lagi becanda sayang, yang dikatakan ayahmu itu benar," Bunda mulai ikut berbicara untuk membantu suaminya bicara.


"Om Hendra teman Ayah waktu kuliah dulu, dia punya anak namanya Bagas, apa kamu ingat dengan Bagas teman kecil kamu?" tanya Ayahnya yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Andrea.


Ayahnya pun melanjutkan, "Bagas sudah di tunangkan sejak kecil dengan kamu, dia seumuran sama kamu, setelah pertunangan kalian dulu Om Hendra sekeluarga pindah ke LA dan sekarang kembali untuk melamar dan menikahkan kalian. Dulu yang menjodohkan dan mengadakan pertunangan itu kakek Bagas dan kakek kamu sayang, jadi ini wasiat dari kakek kalian."


Andrea yang mendengarkan penjelasan ayahnya masih mencoba mencerna setiap kata dari ayahnya yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Apa itu tunangan saat kecil?jadi selama ini gue udah punya tunangan. sial, batin Andrea.


Andrea masih belum membuka mulut, dia masih mencoba mencari pembenaran dari neneknya, akhirnya neneknya pun menjelaskan karena merasa ditatap oleh cucunya.


Sambil mengenggam tangan Andrea neneknya berkata, "Maaf Andrea, nenek hanya menjalankan wasiat dari kakek kalian."


"Tapi kenapa Andrea nek?dan kenapa mesti lamarannya sekarang juga?jangan bilang kami akan langsung di nikahkan juga?"tanya Andrea bertubi-tubi pada neneknya.


"Maafkan nenek sayang, bukannya nenek egois, nenek hanya ingin lihat dengan mata kepala nenek sendiri, wasiat dari kakekmu benar-benar telah dilaksanakan, agar nenek kelak saat bertemu kakek bisa mempertanggungjawabkan wasiatnya." jelas nenek Asih dengan perasaan bersalah.


"Ga, Andrea ga mau, Andrea ga mau nikah, Andrea masih SMA, masih banyak yang harus Andrea raih." jelas Andrea yang sudah menangis.


"Ga ada penolakan Andrea, malam ini juga keluarga Om Hendra kesini, kamu harus terima semuanya. Jangan kira ayah ga tau kalau kamu sudah punya pacar, apa itu alasan kamu menolak pernikahan ini?:


Andrea yang mendengar itu hanya bisa mematung saja, tidak menyangka ayahnya akan mengetahui itu.


"Ayah ga mau tau, segera putuskan pacar kamu, atau ayah akan mengeluarkan dia dari sekolah," ancam ayahnya pada Andrea. Ya Ayah Andrea adalah pemilik yayasan dari SMA Bakti Luhur tempat Andrea bersekolah.


Andrea tidak bisa berkata apa-apa, dia masih syok dengan kabar pernikahannya dan fakta bahwa ayahnya mengetahui dirinya sudah memiliki pacar. Andrea hanya bisa menangis, adiknya yang duduk disebelahnya mengelus punggung kakaknya untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Andrea ke kamar dulu, Andrea akan pikirkan semuanya," pamit Andrea pada semua orang yang ada di meja makan.


Melihat ayahnya akan menghalanginya, bunda Dewi pun mencoba menenangkan suaminya dan akan mencoba membujuk Andrea sendiri dikamarnya.


__ADS_2