
Pagi pun menjelang, matahari sudah merangkak naik, namun dua manusia yang ada di atas kasur masih belum minat membuka mata. Terdengar suara ketukan pintu dari luar membangunkan sepasang pengantin itu. Andrea yang mendengar suara ketukan pintu, pelan-pelan mulai bergerak, tapi tunggu kenapa ada sesuatu yang berat diperutnya?
Apa ini, tangan siapa diperut gue?perasaan semalem Tia ga tidur sama gue, batin Andrea saat merasakan tangan diatas perutnya.
Seketika Andrea balik badan dan melihat orang lain di kasurnya, masih dengan mengerjakan mata untuk memperjelas penglihatannya dan langsung berteriak saat melihat ada laki-laki yang sedang memeluknya.
"aaaaa..siapa lu, bangun ngapain lu di kamar gue!!"
"apaan sih lu berisik banget pagi-pagi, ganggu orang tidur aja"
"Lu yang apa-apaan, ngapain lu dikamar."
"Gue.."
belum sempat Bagas menjawab pertanyaan Andrea suara ketukan pintu kembali terdengar dan ada suara Bunda di luar.
"Andrea kamu kenapa nak?kenapa teriak-teriak."
"Maaf bunda, ga apa-apa tadi kecoa di kamar bunda."
"Oh ya udah cepetan bangun, sarapan dibawah udah Bunda siapin."
"Iya Bund, habis ini Andrea turun."
Setelah terdengar suara langkah bunda menjauh dari kamar, kini Andrea kembali menatap dengan tatapan penuh tanya dan kesal.
"Lu belum jawab gue"
"Ck..apaan sih, lu lupa kita kemarin udah nikah, masih mau nanya lagi kenapa gue ada di kamar ini. Lihat noh kamarnya juga masih ada hiasan kamar pengantin masih aja lupa".omel Bagas panjang lebar karena tidurnya tadi terganggu.
Andrea menatap sekeliling kamarnya, benar juga kamarnya banyak hiasan bunga-bunga khas kamar pengantin. Karena terlalu kaget ada tangan yang ada diatas perutnya jadi Andrea melupakan fakta pernikahannya.
Baru saja Andrea akan membahas tentang tangan Bagas yang berada di perutnya, suara hp-nya berbunyi, bergegas Andrea mengambil hp yang ada diatas nakas dan segera mengangkat telepon dari Exel.
"Halo pagi Exel, hmm ini baru bangun tidur". jawab Andrea sambil melirik Bagas disampingnya yang bermaksud mengusir Bagas.
__ADS_1
Bagas yang paham hanya memutar bola matanya malas dan segera ke kamar mandi. Rasa kantuknya mendadak hilang, padahal dia sangat lelah karena acara akad dan resepsi kemarin.
Keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar dan rambut yang masih sedikit basah, Bagas menatap Andrea yang masih berbicara di telepon. Merasa di tatap oleh Bagas, Andrea pun segera menutup sambungan teleponnya dengan Exel.
Udah selesai teleponnya?buruan mandi, gue laper.
Kalau laper ya turun lah, makan sana dibawah.
ya elah masak gue turun sendiri sih, gue masih belum terlalu kenal sama keluarga lu. Buruan sana mandi, cepetan!
ishh..ganggu aja, iya-iya gue mandi.
Tak butuh waktu lama untuk Andrea mandi dan kini mereka sudah ada di meja makan. Sudah ada keluarga Andrea dan juga Papa serta Mama Bagas yang belum kembali ke hotel. Mereka sudah mulai makan terlebih dahulu sebelum Andrea dan Bagas turun.
"Drea, suaminya diambilin makan dunk, masak kamu ngambil makanan buat kamu sendiri sih", tegur Bunda karena melihat anaknya hanya mengambil makan untuk dirinya sendiri.
"Ish apaan sih Bund, kan Bagas bisa ngambil makan sendiri."
"Ga gitu sayang, kamu sekarang sudah jadi istri jadi harus melayani suami."
Setelah selesai makan, semua keluarga masih ada di meja makan, untuk sekedar mengobrol ringan. Tiba-tiba papa dari Bagas mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya pada Bagas. Bagas yang menerimanya, membuka amplop tersebut.
"Ini voucher hotel buat siapa pa?
"itu hadiah dari papa sama mama, buat kalian berdua honeymoon?"
"apa?Honeymoon?"jawab Bagas dan Andrea secara bersamaan.
"iya, kan kalian pengantin baru jadi kalian butuh honeymoon sekalian untuk saling mengenal satu sama lain", kini yang menjawab mama Dela.
Lagian cuman di Yogja aja, kan Andrea dari dateng kesini belum sempet jalan-jalan, jadi anggap aja honeymoon sekalian jalan-jalan gitu. Kali ini yang menjawab Bunda mendukung rencana dari mama Dela.
Mau tak mau, disini lah mereka sekarang di hotel yang telah smdi sewa oleh mertuanha. Setelah di bujuk oleh seluruh keluarganya akhirnya pasangan pengantin baru itu menyetujui bulan madu mereka. Sebenarnya Andrea tidak keberatan sih di beri voucher menginap di hotel plus bisa jalan-jalan di Yogja, tapi kalau partner sang suami ini, Andrea sungguh malas karena sifat Bagas yang terlampau cuek dan dingin. Mana asyik punya partner jalan-jalan seperti itu.
Begitu selesai check in, mereka di antar ke kamar mereka. Hotel ini berada tepat di daerah Malioboro, Papa menyiapkan hotel yang mewah untuk mereka, di tipe presiden suite, bisa kebayang kan betapa kayanya keluarga Papa Hendra. Didalam kamar yang sudah di sulap menjadi kamar untuk pasangan bulan madu, ada taburan bunga mawar di atas ranjang dan handuk yang sengaja di bentuk seperti love. Sedangkan di balkonnya ada kolam renang pribadi yang juga di hias dengan taburan bunga mawar dengan tulisan di tengahnya "Happy Honeymoon". Membaca tulisannya membuat pipi Andrea memerah karena malu, benarkah dia sekarang benar-benar sedang bulan madu?
__ADS_1
Puas telah room tour kamarnya, Andrea kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Bagas sedang di kasur sambil memainkan ponselnya. Tak memperdulikan Bagas, Andrea menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah perjalanan tadi, lagian ini juga sudah sore. Selesai mandi, Bagas masih di posisi yang sama, masih bermain ponsel.
"Gas, buruan mandi. Gue laper, pengen cari makan di luar."
"Ck, ini masih jam berapa sih udah mau cari makan. Nanti ajalah atau makan aja di restoran hotel."
"Ga mau, gue pengen makan di angkringan. Buruan Gas." Andrea menarik tangan Bagas agar segera bangun dan mandi.
Ketika selesai mandi, Bagas melihat Andrea malah sedang asyik video call dengan seseorang yang Bagas tak tahu siapa itu. Bagas langsung berdiri di depan Andrea dengan berkacak pinggang, dan menatap Andrea dengan jengah, tadi saja nyuruh buru-buru mandi, sekarang malah teleponan mesra. Andrea yang merasa diperhatikan, andrea segera mengakhiri panggilan video call-nya.
"Telepon sama siapa sih lu, lama banget." Omel Bagas begitu video call dimatikan.
"Kepo aja lu, udah siap?"
"heh paling juga cowok lu kan?"
"nahh tuh dah tau, pake nanya lagi. Udah buruan gue udah laper nih."
"Yang bikin lama kan juga lu."
Ketika Bagas akan menuju ke mobil, Andrea malah menariknya untuk berjalan kaki saja, dengan alasan ribet kalau harus naik mobil, jalanan sore pasti macet apalagi ini sore hari dan masih hari libur pasti daerah sini akan macet. Bagas yang sudah lelah dan malas berdebat dengan Andrea menuruti saja keinginan Andrea.
15 menit mereka berjalan menuju tempat makan yang di tuju oleh Andrea. Kini mereka sudah sampai di sebuah angkringan pinggir jalan dekat tugu Jogja, mereka memilih tempat duduk di pojok setelah memesan makanannya.
"Habis ini kita jalan-jalan lagi ya?gue pengen nongkrong di cafe." Ajak Andrea pada Bagas
"Big no, gue capek. Besok aja lagi jalannya, gue pengen istirahat." tolak Bagas yang langsung dibalas dibalas cibiran Andrea.
"Capek apaan, nyetir dari rumah nenek sampek sini cuman sejam doang capek."
"Ya nyetir sejamnya emang ga capek-capek banget, tapi gara-gara acara kemarin badan gue capek, kurang tidur juga."
"ya udah gue jalan sendiri aja, gue juga udah hafal daerah sini." putus Andrea kemudian, karena dia akan merasa bosan dan canggung kalau harus berlama-lama di kamar dengan Bagas
"Ga usah macem-macem, lu sekarang tanggung jawab gue. Besok aja kita jalan lagi"
__ADS_1