You'Re My Mine, Andrea

You'Re My Mine, Andrea
Part 7


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Andrea Putri Raharja dengan mas kawin tersebut tunai..." Bagas melafalkan ijab kabul dengan lantang dan lancar.


Sah..sah...sah, begitu para saksi mengatakan sah, kini Bagas dan Andrea telah sah menjadi sepasang suami istri.


Kata sah terucap dari para saksi dan tamu undangan yang sebagian besar adalah tetangga nenek dan kerabat dekat dari Ayah dan Om Hendra. Terlihat wajah lega dari Bagas setelah mengucapkan ijab kabul, Andrea sendiri bisa melihat prosesi ijab kabul tersebut dari layar televisi yang dipasang di kamarnya yang sekarang sudah di sulap menjadi kamae pengantin. Andrea tidak bisa menyembunyikan lagi isak tangisnya, dia menangis entah harus senang atau sedih, dia harus menjadi seorang istri dari Bagas, laki-laki yang baru dikenalnya dan bagaimana nasib cintanya dengan Exel. Dari tadi pagi Exel sudah terus menghubunginya, tapi tak dihiraukan Andrea, dia bingung harus bersikap bagaimana dengan Exel, dia merasa bersalah dan merasa telah mengkhianati Exel.


Ceklek!


Sudah pintu terbuka dan menampilkan adiknya, Tia serta tante-nya yang akan menjemput Andrea bertemu dengan suaminya. Andrea berusaha menenangkan dirinya dan menghapus sisa air matanya. Tia memeluk Andrea untuk memberikan kakaknya itu kekuatan, Tia tau kakaknya saatnya ini pasti sangat sedih akan pernikahannya, tapi sebagai seorang anak dan cucu yang baik, Andrea tidak mempunyai pilihan untuk menentang keinginan Almarhum Kakeknya.


Andrea jalan beriringan dengan diapit oleh tante dan Tia. Andrea mengenggam erat tangan Tia, untuk menghilangkan rasa gugupnya, dia terus menunduk untuk menghindari kontak mata dengan para tamu. Sampailah Andrea di kursi sebelah Bagas tanpa menoleh sedikitpun, dan dihadapannya kini ada penghulu dan Ayahnya.


Setelah menandatangani buku nikah, penghulu menyatakan kami sah sebagai sepasang suami istri. Pembawa acara pun meminta kami untuk memasang cincin nikah, pertama Andrea diminta untuk memasangkan cincin di jari Bagas. Tanpa melihat pada Bagas, Andrea meraih tangan Bagas dan memasangkan cincin. Selanjutnya dia mencium tangan Bagas, tanpa disadarinya, ada perasaan berdesir saat dia mencium tangan Bagas, entahlah perasaan apa ini. Kemudian gantian Bagas yang memasangkan cincin di jari Andrea, dan mencium kening Andrea sesuai instruksi dari pembawa acara. Andrea merasa Bagas mencium keningnya dengan kaku. Acarapun di lanjutkan dengan makan siang bersama dan foto-foto keluarga. Untuk acara resepsinya sendiri akan diadakan pada malam harinya.


Tepat pukul 3 sore, perias yang tadi pagi merias Andrea untuk akad nikah, datang kembali untuk persiapan resepsi. Andrea yang sedang tiduran di kasur pun, mau tidak mau harus bangun dan mandi terlebih dahulu. Dia merasa lelah, meskipun tadi tidak banyak tamu, entah mengapa dia merasa lelah. Tentang keberadaan suaminya, dia tidak mau ambil pusing, Andrea masih merasa canggung untuk berdekatan dengan Bagas.


Selesai merias Andrea yang kini sudah tampil anggun dengan paes adat jogja, ya untuk resepsi malam ini, keluarga besar menggunakan tema adat jogja lengkap. Pelataran rumah neneknya di sulap menjadi tempat resepsi yang mewah, meskipun berada di desa, tapi Ayahnya tetap mengadakan acara secara besar-besaran, karena Andrea adalah anak pertama dan neneknya adalah salah satu orang terpandang di desanya. Kebanyakan tamu-tamu yang hadir adalah warga sekitar rumah neneknya dan beberapa kolega dan teman-teman dari Ayah dan Bundanya yang memang asli orang Jogja. Andrea dan Bagas tidak mengenal satupun tamu-tamuyang hadir.


Hampir 2 jam acara berlangsung, namun tamu tidak juga ada habisnya. Andrea merasa pegal kakinya karena menggunakan heels dan sanggul serta hiasan kepala yang cukup berat di kepalanya.


Akhirnya pukul 10 malam acara resepsi selesai juga. Andrea langsung pamit kepada keluarganya untuk segera ke kamar, dia tidak kuat dengan segala hiasan yang ada dikepalanya, dan baju pengantin yang membuatnya gerah.


Saat masuk ke kamar, Andrea bukan malah langsung mengganti bajunya, namun dia langsung mengambil hpnya. Sejak tadi pagi, dia tidak menghubungi Exel, perasaannya merasa bersalah karena seharian ini mengabaikan Exel. Dan benar saja banyak chat dan juga panggilan dari Exel. Tanpa berlama-lama Andrea menekan nomor Exel untuk menghubunginya, tak berapa lama panggilan pun tersambung.


"Halo sayang, kamu udah tidur?"


"Halo, kamu kemana aja sayang?aku kangen tau ga?dari tadi hubungi kamu ga bisa mulu."


Sungguh Andrea pun merasakan rindu juga terhadap Exel, tapi seharian ini dia benar-benar ga bisa pegang hp karena sibuk dengan pernikahannya hari ini.


"Aku juga kangen kamu Xel, Maaf ya dari tadi aku nyuekin kamu, ini acaranya baru selesai. Tadi ga sempet pegang hp lagi. Kamu udah tidur?"

__ADS_1


"Belum sayang, ini masih di kafe sama Farhan.


Hmmm..kamu jangan pulang malem-malem, ini udah jam 10."


"Iya sayang ini juga mau pulang kok."


Ceklek!


suara pintu terbuka, buru-buru Andrea akhiri panggilannya.


"Exel, aku tutup teleponnya dulu ya, aku capek mau tidur. Kamu cepet pulang ya, jangan kelayapan lagi."


"Siap bosku, aku habis ini langsung pulang. Good night sayang, love you."


"Love you too Exel." Panggilan pun berakhir.


Setelah mematikan sambungan telepon, Andrea yang saat ini sedang duduk di depan meja rias, hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Memikirkan bagaimana nasib pernikahannya kelak. Tak lama berselang suara pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Bagas yang telah segar karena baru selesai mandi. Bagas melihat Andrea yang hanya diam di depan meja rias dengan masih menggunakan baju pengantin yang lengkap. Bagas berdehem untuk membuyarkan lamunan Andrea.


Dari tadi Andrea memang belum melepas semua sanggul dan bajunya, dia tidak bisa melepas semuanya sendiri, mau minta bantuan adiknya Tia ga mungkin, karena tadi dia melihat Tia sudah lebih dulu masuk ke kamarnya sendiri.


Dengan senyum nyengir dan menahan malu, Andrea pun mau tidak mau akhirnya meminta bantuan pada "Bagas, Lu bisa bantuin gue ga?gue ga bisa lepas ini hiasan sanggul sendiri"


"Ckk nyusahin aja lu, ga tau apa gue capek," jawab Bagas dengan sedikit kesal, namun dia tetap melangkah mendekati Andrea.


"Ya maaf, gue mau minta bantuan adek gue, tapi dia udah tidur. Perias yang tadi juga udah pada pulang, mana ini hiasan kepala banyak banget lagi."


"Ribet banget jadi cewek, kenapa mesti pake riasan yang ribet kayak gini sih..ini apalagi di jidat lu, item-item gini emang bisa di bersihin?"omel Bagas sambil dia melepaskan sanggul Andrea setelah dia selesai melepas hiasan suntuk mentul yang ada diatas kepala Andrea.


"Ga tau nih, dari tadi udah gue bersihin masih ada aja item-itemnya, pake areng kayaknya periasnya sampek susah dibersihin gini."


"Udah selesai nih pala lu," Bagas pun bergegas menuju kasur menuju kasur setelah selesai membantu Andrea.

__ADS_1


Andrea pun menuju kamar mandi. Namun belum lama dia berada di dalam kamar mandi, Andrea kembali membuka pintu.


"Gas, bisa tolongin gue lagi ga?"


Bagas yang tengah bermain hp dengan bersandar pada kepala ranjang, hanya menatap Andrea tanpa minat menjawab.


"Bantuin gue lepasin kancing belakang kebaya dunk, gue ga bisa lepasinnya." Muka Andrea sudah merah padam karena malu harus meminta bantuan lagi pada Bagas untuk melepas kancing kebaya-nya, dia takut Bagas mengira Andrea sedang menggoda.


Bagas beranjak dari kasur dan segera membantu Andrea yang sedang di depan pintu kamar mandi.


Andrea menahan nafasnya saat tangan Bagas mulai membuka satu per satu kancing belakangnya. Ada perasaan geli saat kulitnya bersentuhan dengan tangan Bagas. Begitupun dengan Bagas, dia juga menahan nafasnya saat tangannya tanpa sengaja menyentuh punggung putih mulus milik Andrea. Bagas yang selama ini tidak pernah bersentuhan atau melihat punggung perempuan, menelan ludahnya saat melihat pemandangan indah didepannya. Selesai sudah kancing terakhir yang Bagas buka, keduanya pun sama-sama menghela nafas lega. Andrea buru-buru masuk ke dalam kamar mandi setelah mengucapkan kata 'Thanks' pada Bagas. Sedangkan Bagas kembali ke kasur dan bermain hp untuk menetralkan degup jantungnya.


Selesai mandi, Andrea keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. Dia menatap Bagas yang sedang asik bermain hp di atas kasurnya.


"Gas, lu ngapain disini?"


"Ya tidur lah, lu pikir ngapain gue disini?"


sungguh pertanyaan aneh yang dilontarkan Andrea barusan, begitu pikir Bagas.


"Maksud gue, ngapain lu tidur disini, dikamar gue, dikasur gue."


"Lu lupa kita sekarang udah nikah?kalau gue ga tidur disini, terus gue tidur dimana?"


Andrea memijit pangkal hidungnya, seperti berfikir. Sekarang Bagas memang suaminya, tapi dia ga pengen tidur satu ranjang dengan Bagas.


"Oke lu ga apa-apa tidur di kamar gue, tapi masak iya kita tidur satu ranjang?"


"Terus gue tidur dimana?di sofa?ogah, badan gue capek dari tadi gara-gara acara hari ini. Kalau lu mau, lu aja yang tidur di sofa."


"Dih..ini kan kamar gue, masak gue yang tidur di sofa.

__ADS_1


Setelah perdebatan yang alot mereka berdua karena tidak ada yang mau mengalah akhirnya mereka tidur di ranjang bersama dengan guling yang di letakkan di tengah-tengah dan saling memunggungi satu sama lain.


__ADS_2