You'Re My Mine, Andrea

You'Re My Mine, Andrea
Part 5


__ADS_3

Andrea masuk ke dalam kamar dan langsung menangis diatas ranjangnya. Dia tidak menyangka liburannya yang dia pikir akan menyenangkan, malah mendapatkan berita buruk seperti ini. Andrea masih remaja, dia masih remaja labil, bagaimana bisa akan segera dinikahkan. Untuk mengurus dirinya sendiri saja, dia masih sering dibantu Bunda atau bik Susi. Andrea berfikir nenek dan ayahnya sangat egois memaksakan kehendak mereka pada Andrea. Tapi Andrea tidak punya pilihan, dia tidak ingin melanggar wasiat kakek yang dulu sangat menyayanginya, dan juga Andrea tidak bisa membantahkan keputusan ayahnya. Andrea bingung, bagaimana masa depannya, rumah tangganya bersama orang yang tidak dia kenal sama sekali. Lalu bagaimana dengan Exel, Andrea mencintai Exel, dia tidak ingin putus dengan Exel.


Melihat anaknya menangis sendirian, Dewi pun menghampiri Andrea untuk menenangkannya dan memberi pengertian padanya.


"Sayang, kamu marah sama kami?"


Andrea hanya menatap bundanya, tanpa berkata apa-apa, dia bingung harus berkata apa.


"Maafkan kami yang sudah egois, bunda juga sedih harus ngelepas kamu di usia kamu saat ini. Tapi kami tidak punya pilihan lain selain melaksanakan wasiat dari kakekmu. Nenek juga minta terburu-buru, takut beliau tidak bisa melihatmu menikah dan tidak bisa menjalankan wasiat dari kakek."


"Andrea bingung bunda, Andrea sedih, ga tau harus berbuat apa. Andrea masih remaja yang labil, belum bisa mengurus rumah tangga sendiri, selama ini saja Andrea masih tergantungan sama bunda."


Dewi yang melihat anaknya semakin menangis, hanya bisa memeluk anaknya sambil mengelus punggungnya agar anaknya merasa lebih tenang.


"Sabar sayang, semua bisa kamu pelajari dengan berjalannya waktu. Dulu bunda juga sama kayak kamu, masih suka manja sama oma tapi pelan-pelan bunda belajar dan akhirnya bisa mengurus ayah dan anak-anak bunda."


Andrea hanya bisa mendengarkan Bundanya melanjutkan bicaranya.


"Kamu dan Bagas sudah di tunangkan kakek kalian pas umur 7 tahun, saat itu keluarga Om Hendra mau pindah ke LA, jadi kakek berinisiatif untuk mengadakan pertunangan agar bisa mengikat satu sama lain. Kamu inget Bagas dulu teman main kamu waktu di jogja sayang sebelum kita pindah Jakarta?"


Tanya bundanya mengingatkan Andrea, namun Andrea cuman menggelengkan kepala karena dia lupa dengan teman kecilnya itu.


"Sekolah Andrea gimana bun?Andrea masih pengen lanjut sekolah, lanjut kuliah dan berkarier. Andrea ga siap jadi ibu rumah tangga. protes Andrea pada bundanya."


"Siapa yang nyuruh kamu berhenti sekolah sayang?Ga ada, kamu tetap bisa sekolah seperti biasa, cuman status kamu yang menjadi istri. Semuanya tetap sama, kamu lupa sekolah kamu kan punyanya Ayah."


Andrea cuman diam dan berpikir.


"Bunda, jadi selama ini Andrea ga boleh pacaran gara-gara ini?" tanya Andrea, bunda hanya tersenyum dan menganggukan kepala.

__ADS_1


"Bunda harap kamu bisa menerima pernikahan ini demi kakek dan nenek kamu sayang. Percayalah lambat laun cinta akan hadir diantara kalian karena cinta itu pasti akan datang karena terbiasa."


Setelah mengatakan itu, bunda keluar dari kamar anaknya. Memberi ruang pada Andrea menyendiri dan berpikir.


Andrea kembali menenggelamkan kepalanya pada bantal dan kembali menangis. Tiba-tiba handphone Andrea berbunyi, menandakan ada videocall masuk. Andrea melihat siapa yang melakukan vidcall, saat dilihat nama Exel, hatinya kembali sakit. Gimana gue harus bersikap sama Exel, gue sayang sama dia, gue ga mau putus sama dia, batin Andrea dengan terus menatap layar handphone-nya yang terus menyala.


Lama Andrea menatap handphone-nya tanpa niat menjawab panggilan vidcall Exel, karena dia bingung harus bersikap gimana ke Exel. Akhirnya Andrea memutuskan untuk menjawab panggilan vidcall Exel, setelah dia menghapus airmatanya dan berusaha tersenyum.


"Hai sayang, lama banget ngangkat vidcall-nya?" tanya Exel begitu panggilan dijawab.


"Maaf sayang, tadi habis makan siang dibawah, lupa ga bawa hp."


"Kamu lagi apa?bentar bentar, itu mata kamu kenapa bengkak gtu, kamu habis nangis ya?"cecar Exel saat melihat mata Andrea yang bengkak.


Andrea yang bingung, harus menjawab apa, dia hanya tersenyum menenangkan pacarnya, "Aku ga apa apa Exel, cuman tadi mataku habis kemasukan debu, jadi kayak gini deh."


"iya sayang, aku ga nangis kok. Kamu lagi apa?tumben ga kumpul sama Iko dan Farhan?"tanya Andrea mengalihkan pembicaraan.


"Ini Iko sama Farhan lagi main di rumah, ngerusuh mulu dari tadi. Kamu jadi sampai kapan di Jogja?jangan lama-lama, ntar aku kangen kamu."


Andrea yang mendengar Exel berbicara jadi berpikir, setelah ini, bisa ga ya dia masih seperti ini. Rasanya berat untuk pisah dengan Exel, dia cowok yang baik, selalu ada untuk Andrea.


Melihat Andrea yang melamun dan tidak menjawab pertanyaannya, Exel pun memanggil-manggil namanya.


"Maaf Exel, aku melamun. Belum tau kapan baliknya, aku ngikut aja sama ayah bunda. Aku juga kangen kamu Exel. Maaf untuk beberapa hari kedepan mungkin aku sibuk, ga bisa sering-sering telepon atau vidcall kamu, paling kita cuman bisa chat aja."


"Iya sayang ga apa apa, yang penting kamu jangan nakal disana. Ya udah, aku lanjut main dulu sama anak-anak ya. Have fun sayang, love you."


"Love you too, Exel."

__ADS_1


Setelah menutup panggilan vidcall-nya Andrea kembali menangis meratapi nasib dirinya dan percintaannya hingga membuat dia tertidur karena kelelahan.


Malam harinya, Andrea terbangun karena mendengar suara teriakan adiknya.


"Apaan sih Ti, ganggu orang tidur aja lu." omel Andrea karena merasa tidurnya terganggu.


"Ya ampun Kak, lu nangis berapa lama, liat mata lu bengkak banget."


"Bodo amat, gue lagi kesel, gue lagi sedih serah gue nangis berapa lama."


"Lu lupa, malam ini kan Om Hendra mau dateng sama anaknya, mata lu malah bengkak kayak gitu."


Mendengar penjelasan Tia, buru-buru Andrea ke kaca melihat keadaan matanya. Benar saja, matanya bengkak banget. Gimana nih masak keluar kamar mata bengkak gini.


Bunda yang mendengar keributan di kamar anaknya langsung menuju kesana.


"Ada apa ini Tia?kamu disuruh bangunin kakak kamu malah ribut sih."


"Tia ga ribut bunda, bunda liat deh mata kakak bengkak gitu."


Otomatis Dewi langsung melihat ke arah Andrea, dan lihat lah matanya bengkak sekali. Dewi langsung putar otak untuk mengurangi bekas bengkaknya, dia menyuruh Tia untuk mengambil air es untuk mengompres mata bengkak Andrea.


Setelah mengompres mata bengkak Andrea, Dewi menyuruh Andrea untuk bersiap-siap dan mengenakan baju yang telah Dewi siapkan karena 1 jam lagi keluarga Om Hendra akan datang.


Tak butuh waktu lama untuk Andrea bersiap-siap, kini dia sudah selesai dan duduk didepan meja rias menunggu untuk dipanggil turun ke bawah oleh bundanya. Sembari menunggu, Andrea chating dengan Exel seperti biasa. Tak lama kemudian, bunda dan Tia datang mengajak Andrea turun ke bawah.


Saat turun ke bawah, Andrea diapit oleh Bunda dan Tia. Andrea memegang tangan Tia dengan gugup. Saat sudah duduk di tempat yang di sediakan, kini ia sudah duduk berhadapan dengan calon suaminya. Andrea hanya bisa menundukkan kepalanya, menutupi mata bengkaknya. Namun bundanya menyuruhnya mengangkat kepala agar bisa melihat calon suaminya.


Dan Andrea pun mengangkat kepalanya, melihat calon suaminya. Andrea berpikir seperti pernah melihat calon suaminya dimana ya?seperti tidak asing. Lamunan Andrea pun buyar saat mendengar suara Neneknya mulai berbicara.

__ADS_1


__ADS_2