(Balas Dendam) Cowok Culun

(Balas Dendam) Cowok Culun
Part 4


__ADS_3

"Pindah ke Jakarta Bund?" tanya Rumi


"Iya" ujar sang Bunda


"Tapi Bund, Yah!, Rumi udah kelas 3. Sayang kalau harus pindah" ujar Rumi sedih


"Apalagi kalau di Jakarta, pasti biaya sekolahnya lebih mahal" lanjutnya


"Ngak papa dek, kan kakak disana dapat kerja yang lebih baik, jadi insyaAllah kakak bisa biayain sekolah kamu nanti di Jakarta!" ujar sang kakak sembari mengelus rambut adiknya


"Bunda, Ayah, Kak, Bisa ngak kalau Rumi ngak usah pergi?


Mmm..maksud Rumi, untuk saat ini Rumi tinggal di sini dulu. Nanti setelah lulus SMP, Rumi pasti bakalan susul kalian ke Jakarta" Ujar Rumi memberi pengertian


"Bunda sama Ayah ngak tenang, kalau kamu sendirian di sini" ujar sang Bunda


"Rumi boleh tetap di sini sampai lulus SMP!" ujar sang Ayah


"Beneran Yah?" tanya Rumi


"Iyya!" Ujar sang Ayah


"Yah!"


"Mas!"


ujar sang Kakak dan Bunda yang bersamaan saat mendengar jawaban sang kepala keluarga.


"Udah ngak papa, Rumi bisa tetap sekolah di sini sampai lulus SMP. Asalkan...." ujarnya menggantung


"Asal apa Yah?" tanya Rumi mewakili pertanyaan yang ingin diajukan oleh sang Bunda dan Kakak nya


"Asalkan kamu tinggal sama Tante Imah!" ucap sang Ayah sembari mencolek dagu Rumi


"Ih...ngak mau!" Ujar Rumi tegas


"Loh, kenapa?" tanya Sang Ayah

__ADS_1


"Rumi ngak mau tinggal sama si mulut mercon itu, tiap hari kerjaannya cuman nyinyirin Rumi Mulu!" ujar Arumi kesal


"Cuman itu syarat yang harus kamu ikuti kalau memang mau tetap tinggal dan sekolah di sini!" ujar sang Ayah


"Yah! Bund!" Ujar Arumi memelas


"Rumi, kali ini aja yah Nak" ujar sang Bunda


"Tapi Bund...."


"Pilih tetap di sini tapi bareng Tante Imah, atau Pindah sekolah ke Jakarta?" tanya Sang Ayah


"Ok Fine....Rumi tinggal sama mulut mercon" ujar Rumi dengan terpaksa


"Tante Imah sayang!" ujar sang Bunda


...****************...


Dilain Tempat, terlihat sepasang suami istri dan anak lelakinya sedang menunggu di depan UGD sebuah Rumah Sakit


"Rafa kuat sayang, kita bakalan selalu ada untuk dia!" ujar sang Suami


"Mama sama papa tenang aja, setelah ini Ardan bakalan jagain Rafa, dan anggap Rafa seperti adak kandung Ardan Sendiri." ujar Ardan menatap sang Mama dan Papa nya dengan tekad yang kuat


Krek...(bunyi sebuah pintu terbuka"


"Keluarga pasien!"


"Dokter! bagaimana kondisi anak kami Dok?" tanya Sang Mama


"Kondisi pasien sangat lemah, mungkin salah satu keluarganya bisa ikut saya keruangan" ujar sang dokter


"Baik dokter"


"Dokter, apakah saya bisa masuk melihat kondisi saudara saya?" tanya Ardan


"Iya boleh, bagi keluarga yang lain mari ikut saya" ucap sang Dokter

__ADS_1


Mama dan Papa Ardan pun mengikuti sang dokter, sedangkan Ardan sendiri masuk ke ruangan sang adik.


Didalam ruangan Rafa, Ardan duduk di kursi samping Brangkar Rafa.


"Rafa, sebenarnya apa yang terjadi sama loh?Siapa yang Setega ini nyakitin loh?


Loh tenang aja, nanti setelah loh sadar, gue bakalan jadi kakak yang terbaik buat loh dan kita bakalan balas semua perbuatan orang2 yang udah nyakitin loh!


loh tenang aja, gue bakalan jadi pelindung loh!" ujar Ardan dengan mantap


Didalam ruangan dokter


"Bagaimana kondisi putra saya Dok?" Tanya papa Rafa dan Ardan


"Baik Bapak Permana dan Ibu Ruri, Kondisi anak bapak dan ibu sangat buruk, psikisnya agak terganggu. mungkin dia terlalu syok dengan sesuatu.


Kalau boleh saya tau, sebenarnya apa yang di alami pasien sebelumnya pak, Bu?" tanya Sang Dokter


"Sebenarnya kami baru saja kehilangan Bunda Rafa Dok, mungkin dia syok dengan hal itu." ujar Permana


"Lalu bagaimana dengan luka yang ada di tubuh pasien pak?" tanya Dokter


"Soal itu, kami tidak tau Dok!" ujar Ruri


"Ada baiknya untuk hal itu bapak dan ibu selidiki lebih lanjut, Krna dari analisis saya luka itu merupakan lupa akibat pukulan dan tendangan yang baru2 saja di dapatkan oleh pasien!" ujar sang dokter


"Baik Dok, saya akan selidiki lebih lanjut tentang apa yang dialami anak saya selama ini!" ujar Permana mantap


"Satu lagi pak, Bu! kalau boleh saya sarankan ada baiknya jika Rafa segera dibawa ke psikolog, sebelum psikisnya makin parah!" ujar sang Dokter


"Baik Dokter, Terima Kasih atas sarannya.


Saya dan istri saya pamit dulu untuk keruang rawat Rafa.


Assalamualaikum" Pamit Permana kepada Dokter


"Waalaikumsalam!"

__ADS_1


__ADS_2