
"Pah, Ma! gimana kata Dokter?" tanya Ardan sesaat keluarganya sampai di ruangan Rafa
"Keadaan psikisnya parah, kata dokter kita harus membawanya terapi ke psikolog!" ujar sang Papa
"Kita harus cari tau Pah! apa yang sebenarnya di alami oleh Rafa dan Ibu Tari" ujar Ardan
"Sayang....kamu harus berjuang, disini Mama sama Papa nunggu kamu." Kata Ibu Ruri sembari mengelus Rambut Rafa
"Mas...kapan anak kita akan sadar?" tanya Ruri ke suaminya
"Sabar sayang, kita hanya bisa ber Do'a sma Allah." ujar sang suami
...****************...
Keesokan harinya di sekolah Rafa
"RUMI!!!!' Panggil Raisa dipintu kelas
"RAISA!...gue ngak Budek!" kata Rumi ketus
"Hehehe...maaf bestie ku yang kyut" ujar Raisa yang dibalas gerakan muntah oleh Rumi
"Loh kenapa sih, masih pagi2 udah heboh?" tanya Rumi kepo saat Raisa telah sampai di tempat duduk Rumi
"Loh ingat ngak si cupu yang nembak loh kemarin?" tanya Raisa
"Yang mana?" tanya Rumi bingung
"Ituloh, yang nembak di depan banyak orang!" beritahu Raisa
"Mm"
"Ih Rumi!, gue serius nih. masa balasan loh cuman Mm dong!" ujar Raisa kesal
"Truss gue harus jawab apa?" tanya Raisa lemah
"Ya...yaaa...ya terserah elloh! asal jangan Mm" beritahu Raisa
__ADS_1
"Yaudah!, gue ingat. emang nya kenapa?" tanya Rumi
"Gue dapat kabar kalau kemarin Nyokap nya meninggal, dan sekarang ngak ada yang tau kabarnya gimana!" beritahu Raisa
"Innalilahi, kok gue jadi merasa bersalah yah" beritahu Rumi
"Rasa bersalah kenapa?" tanya Raisa
"Soalnya gue ngerasa udah nambah kesedihan dia waktu itu!" ujar Rumi
"Astaga Rumi! please deh, loh ngak salah. Kita sebagai wanita harus tegas sama orang yang kita ngak suka!"
"Iyya...tapi.."
"Udeh deh, santai aja." kata Raisa menenangkan
...****************...
"Aku mau bawa anak kita ke Jakarta Mas, aku mau memberikan dia lingkungan yang lebih baik agar dia lupa dengan apa yang dia alami" ujar seorang wanita kepada suaminya
...****************...
"isssk..." suara rintihan terdengar dari seorang pemuda yang berbaring di Brangkar rumah sakit
"Rafa...loh udah sadar?" tanya Ardan melihat mata Rafa terbuka
"Mi....mmiii...num" kata Rafa lemah
Mendengar kata Rafa, Ardan pun segera memberikan Rafa air yang telah tersedia di meja samping Brangkar Rafa dan membantunya minum
"Gimana perasaan loh?" tanya Ardan
"Akh....tolong jangan sakiti saya, tolong berhenti, ini sungu sakitt....tolong. hiks...hiks...Bundaaaa...Rafa mau ikut Bunda! Rafa ngak mau di sini, semua orang jahat sama Rafa Hiks...." Teriak Rafa sembari melindungi kepalanya
"Rafa...hey!, ngak ada yang nyakitin kamu disini!" kata Ardan berusaha menenangkan sembari menekang tombol emergency di sekitar Brangkar Rafa
"Ah...tolong, Bunda...Hikss..tolong Rafaa...Bundaa, disini ada orang jahattt Hikss Hikss..." Bukannya tenang dengan kata2 Ardan, Rafa justru semakin histeris dan melempar benda yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Bahkan infus Ditangannya pun sudah terlepas
Mendengar keributan yang terjadi didalam ruangan sang anak pak Pramana dan Ibu Ruri pun segera masuk
"Ardan!
Ada apa nak?
mengapa adik kamu seperti ini Ardan!
Pah...Hikss...Rafa Pah hikss" ujar sang Mama yang langsung di dekap oleh suaminya
"Pak, Bu! silahkan mundur sedikit kami harus menangani pasien!" ujar seorang perawat
Dokter yang melihat kondisi Rafa pun, segera mendekat
"Akh....pergi, kalian pasti mau nyakitin Rafa lagi!
Pergi
Pergi" ujar Rafa sembari melempar barang2 ke sembarang arah
"Suster! pegang tangan pasien" ujar sang Dokter
Setelahnya Rafa pun diberi suntikan dan dia mulai tenang
"Pah...Hikss" sang Mama sedih melihat kondisi sang anak yang memprihatinkan
"Bagaimana Dokter?" tanya Papa Rafa
"Sebelumnya saya sudah bilang, bahwa kondisi psikis Rafa terganggu, dia sepertinya mempunyai Trauma mendalam
saran saya berikan dia lingkungan yang nyaman dan bawa dia ke psikolog" Kata sang Dokter
"Dokter! saya ingin memindahkan anak saya ke Jakarta!
Hari ini juga!" ujar sang Ayah
__ADS_1