
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚 ★ ﷽❀“BITTEŘSWEET”❀﷽ ★ 💚
💚﷽GEMINTANG DIMATAMU﷽💚
💚 💚 ✮ ﷽ “GEMPITA” ﷽ ✮ 💚 💚
💚 ★﷽“ĞÊMPÎŤÂ MÂŘÎŜŜ”﷽★ 💚
💚 💚 ✮ ﷽ “BINTANG” ﷽ ✮ 💚 💚
💚💚💚 ✮ ﷽ “PAŘT44” ﷽ ✮ 💚💚💚
–––––
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
﷽“AUTHOŘ POV”﷽
“………���” Di luar hujan sudah reda, tinggal gerimis yang membuat hati Bintang semakin dingin.
“Sepertinya aku harus kesuatu tempat…��� Ucap Mas Bintang setelah selesai mengerjakan shalat maghrib berjamaahnya.
“Tap… Tap… Tap…���” Bintang naik ke balkon atas, tempatnya dulu ngobrol bersama Mas Faisal.
“………���” Tapi langkah Mas Bintang terhenti.
“Huffff…���” Bintang menghembuskan nafas khawatir.
“………���” Di sana sesosok perempuan tengah berdiri membelakangi Mas Bintang tanpa mempedulikan rintik~rintik air langit yang membasahi tubuhnya.
“Gem…���” Sapa Bintang meyakinkan.
“………���” Perempuan itu nampak mengusap air matanya dan menoleh.
“Ternyata benar Gema…���” Batin Bintang sembari heran.
“Tap… Tap… Tap…���” Tanya Bintang mendekat menghampiri Gema.
“Kamu belum pulang…���” Tanya Bintang kemudian sembari mendekat menghampiri Gema.
“………���” Gema menggeleng pelan.
“Hmm… huhhhh…��� Pakaiannya basah kuyup…��� Entah sejak kapan ia berdiri di situ…���” Batin Bintang bermonolog sedih.
“………���” Bintang mengalungkan jasnya pada Gema.
“Tidak usah, Tang…���” Ucap Gema menolak jas Mas Bintang.
“Pakailah…��� Agar kamu tidak kedinginan…��� Bukankah sedih juga butuh tubuh yang sehat dan kuat…���” Ucap Bintang kemudian.
“Tidak perlu rep…���” Ucap Gema terpotong.
“Lagi pula aku tidak ingin ada yang berpikir kita sedang melakukan hal bodoh di tempat seperti ini…���” Ucap Bintang ketus sembari memaksa membukus tubuh Gema dengan Jasnya.
“Maksudmu…���” Ucap Gema kesal.
“Iya, bajumu yang basah…��� Membuat mata sakit…���” Ucap Bintang ketus.
“Hmm…���” Ucap Gema sembari menatap pakaiannya yang menerawang.
“Lalu kenapa kamu tidak pergi dari sini…���” Ucap Gema ketus.
“………���” Bintang tersenyum mendengar jawaban Gema yang terpancing dengan celotehannya.
“Bukankah ini tempat umum…��� Kenapa bukan kamu saja yang pergi dari sini…���” Ucap Bintang ketus.
“Hmm… Aku rasa itu bukan urusanmu…��� Lagi pula, aku lebih dulu ada di sini…���” Ucap Gema kesal.
“Justru karena itu…��� Makanya kamu saja yang pergi…���” Ucap Bintang semakin memancing Gema segera beranjak.
“………���” Sejujurnya Bintang memaksa Gema pergi agar Gema tidak sakit karena kehujanan.
“Huhhhh…���” Namun lagi~lagi seorang Bintang tidak mau terlihat perhatian di depan Gema yang bukan siapa~siapanya.
“………���” Terlebih status Gema sudah menjanda saat ini, membuat Bintang ingin menjaga kehormatannya.
“Huhhhh…��� Kamu benar~benar orang yang sangat menyebalkan…���” Ucap Gema datar.
“………���” Bintang hanya tersenyum mengejek.
“Hening…���” Sesaat suasana menjadi sunyi hanya suara desiran angin di udara.
“Terima kasih jasnya…���” Ucap Gema kemudian sembari memaksakan senyum manisnya.
“Sama~sama…���” Ucap Bintang ikut tersenyum.
“Hening…���” Sesaat mereka sama~sama diam.
“Huhhhh…��� Bintang kamu tidak boleh mengganggu kenyamanan Gema…��� Kerena Gema pasti sedang mengenang Mas Faisal di tempat ini…��� Tempat yang mendekatkan mereka berdua…���” Batin Bintang bermonolog dalam rinai.
“Kamu nggak pulang…���” Tanya Gema membunuh kesunyian yang mereka ciptakan.
“………���” Bintang menggeleng.
“Huhhh…��� Saya mau mengenang tempat ini…��� Siapa tahu, besok saya sudah tidak punya akses kesini…���” Jawab Bintang sembari menatap jauh kegaris kota.
“Kenapa…���” Tanya Gema heran sembari menatap kerlap kerlip kota.
“Huffff…���” Mas Bintang menarik nafas dalam~dalam.
“Saya mau membatalkan proyek Gita, Gempita Marissa Agussalim…���” Ucap Mas Bintang masih fokos di garis kota yang mulai menampakkan pesaing cahaya.
“Bukannya progresnya sudah hampir 50 persen, Tang…���” Tanya Gema heran.
“Saya siap membayar ganti ruginya…���” Ucap Bintang putus asa.
“Bukan masalah itu…��� Tapi…��� Ini mimpi Gita bukan…���” Ucap Gema mengingatkan tujuan Bintang.
“Sejauh ini…��� Gita juga tidak pernah respect dengan usaha saya…���” Jawab Mas Bintang datar.
“Mungkin bukan tidak respect…��� Tapi Gita bingung harus bersikap bagaimana…���” Sahut Gema cepat.
“Kalau kamu jadi saya…��� Apa yang akan kamu lakukan, Gem…���” Ucap Mas Bintang mengarahkan tatapan pada Gema yang menerawang ke arah bangunan perkotaan.
“………���” Gema menggeleng.
__ADS_1
“Kalau saya pasti diam…��� Tapi kalau…���” Ucap Gema menggantung kata~katanya, ia teringat lagi dengan Mas Faisal.
“Mas Faisal…���” Jawab Mas Bintang menyambar cepat.
“………���” Gema mengangguk.
“Iya, dia…��� Kalau Mas Faisal pasti akan menghabiskan hari~harinya hanya untuk mendekati Gita…���” Ucap Gema semangat sembari tersenyum riang.
“………���” Mas bintang tersenyum pahit sembari mengarahkan tatapan ke arah bangunan di depannya.
“Maaf ya, Gem…���” Ucap Mas Bintang tidak enak hati.
“………���” Gema hanya tersenyum hambar.
“Selama ini…��� Kamu punya satu atau dua hari yang benar~benar full…��� Untuk berusaha bicara dengan Gita…���” Tanya Gema sungkan.
“………���” Bintang menggeleng.
“Selama ini saya hanya sibuk untuk membangun mimpinya…���” Jawab Bintang menatap kosong kearah langit.
“Setiap orang pasti punya mimpi…��� Tapi kadang seseorang harus memutuskan untuk berhenti mengejar mimpinya…��� Bukan karena dia menyerah…��� Hanya saja mimpi itu tidak pernah membuat dia bahagia…���” Tutur Gema menyemanti dirinya untuk melupakan Faisal~mantan suaminya.
“Huhhh…���” Bintang mendesaah kaget dengan kata~kata Gema.
“………���” Bintang menatap Gema dalam.
“Benar juga…��� Selama ini aku hanya fokus pada keyakinanku tanpa meminta pendapat Gita…��� Dan kata~kata yang baru saja…��� Di ucapkan Gema seolah menjawab pertanyaanku di masa lalu…��� Kenapa Gema tidak pernah memilihku…��� Meskipun Gema sudah tahu, kalau aku mencintainya…���” Batin Bintang bermonolog.
“Itu bukan kata~kata Mas Faisal 'kan, Gem…���” Tanya Bintang tersenyum getir.
“………���” Gema menggeleng
“Hmm…��� Bisa jadi Gita ingin melepas mimpinya…��� Makanya meskipun kamu realisasikan proyeknya…��� Gita tidak pernah peduli…���” Ucap Gema menjelaskan dengan menatap kosong rinai hujan tipis di hadapannya.
“……���” Bintang menatap Gema dalam lalu kembali mengarahkan tatapannya ke arah bangunan kota.
“Termasuk dulu kamu memutuskan untuk memilih Mas Faisal…��� Karena saya tidak pernah membuat kamu bahagia…���” Ucap Mas Bintang kembali menatap dalam raut wajah Gema yang menatap kosong.
“………���” Gema mengangguk.
“Hmm…��� Tapi pada akhirnya kebahagiaan memang bukan milikku…���” Ucap Gema tersenyum miris.
“Gem…��� Aku kenal Mas Faisal…��� Dia laki~laki yang baik lagi bertanggung~jawab…���” Ucap Mas Bintang meyakinkan Gema yang sedang rapuh.
“Lalu…��� Kamu bisa jelaskan kondisi ini…���” Tanya Gema datar.
“Kamu itu kekuatan Mas Faisal Gem…��� Kamu harus tetap mempercayai ada hal lain yang Mas Faisal lakukan…��� tapi kita tidak tahu…���” Ucap Mas Bintang yakin.
“………���” Gema terdiam sejenak.
“Bahkan seseorang pernah bilang dia terlalu sempurna…���” Bisik Gema lirih dan putus asa.
“Kalau kami sangat mempercayai Mas Faisal…��� Kamu juga harus bisa percaya itu, Gem…���” Jawab Mas Bintang tulus.
“………���” Gema hanya diam saja.
“Hening…���” Suasana kembali sepi, sunyi.
“Huhhh…��� Meskipun tidak tahu apa maksud Mas Faisal meninggalkan Gema begitu saja…��� Tapi aku selalu ingin meyakinkan Gema bahwa Faisal adalah laki~laki yang baik dan bertanggung~jawab…���” Batin Bintang bermonolog dalam kesunyian.
“Hening…���” Hanya menyisakan suara angin di udara dengan tetesan hujan rintik~rintik yang membasahi keduanya.
“Aku pulang dulu…���” Pamit Gema memecah sepi.
“Apa kamu tidak menawarkan diri mengantarku…���” Ucap Gema memprovokasi Bintang.
“………���” Bintang tersenyum dan menatap Gema sembari menggeleng pelan.
“Hahahaha…��� Aku tahu, Gem…��� Kamu pasti hanya menggodaku…��� Dan ketika aku menawarkanmu tumpangan…��� Kamu pasti akan menolak dan memilih naik taksi…���” Ucap Bintang kembali menatap jauh diantara gedung perkotaan.
“Hahaha…���” Gema tertawa kecil menyetujui apa yang di katakan bintang.
“Tap… Tap… Tap…���” Gema melangkah meninggalkan Bintang.
“………���” Tapi kemudian Gema menghentikan langkahnya.
“Tap… Tap… Tap…���” Gema kembali berlari ke arah Mas Bintang.
“………���” Bintang bembeku sembari menatap Gema yang kini berlari ke arahnya.
“Buk… Buk… Buk…���” Gema meluapkan emosi yang selama ini dia tahan, memukuli dada Bintang dengan penuh amarah, membiarkan tangisannya pecah bersama dengan kata~katanya.
“Mereka bilang… Hikz… Hikz…��� Aku harus percaya Mas Faisal…��� Tanpa diminta pun… Hikz… Hikz…��� Aku sudah berusaha… Hikz… Hikz…��� Dan selalu berusaha mempercayai… Hikz… Hikz…��� Kalau Mas Faisal adalah laki~laki yang baik dan sangat baik…��� Tapi dengan dia meninggalkan istrinya begitu saja… Hikz… Hikz…��� Bukankah berarti, aku yang tidak baik… Hikz…��� Istri macam apa… Hikz… Hikz…��� Yang di tinggalkan laki~laki… Hikz… Hikz…��� Yang di kenal orang sebagai pribadi yang sangat baik itu…��� Hikz… Hikz… Hikz…���” Ucap Gema meluapkan amarahnya.
“………���” Bintang hanya mematung, diam menerima amarah Gema.
“Ihh…���” Bintang meringis pelan, mau tidak mau dadanya juga ikut sakit, karena Gema yang terus memukulinya.
“………���” Bintang diam menerima pukulan demi pukulan yang dilayangkan Gema di tubuhnya.
“Aku sudah kehilangan segalanya… Hikz… Hikz…��� Cinta… Hikz… Hikz…��� Keyakinan… Hikz… Hikz…��� Kepercayaan… Hikz… Hikz…��� Lalu, harus dengan pemikiran seperti apa lagi… Hikz… Hikz…��� Terus meyakini kalau semua salahku… Hikz… Bikz…��� Karena tidak mungkin Mas Faisal sejahat ini… Hikz… Hikz…��� Apa boleh aku berpikir laki~laki macam apa yang tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil… Hikz… Hikz…��� Sampai dia harus keguguran… Hikz… Hikz…��� Kemudian menceraikannya melalui selembar surat… Hikz… Hikz…��� Apa boleh…���” Ucap Gema geram di sela tangisannya yang mengiris perih.
“Hikz… Hikz… Hikz…���” Gema berhenti memukuli Bintang.
“Tes…���” Bintang juga ikut menangis.
“Hikz… Hikz… Hikz…���” Kaki Gema tiba~tiba lemas.
“………���” Gemapun duduk sambil kedua tangannya memeluk kakinya.
“Hikz… Hikz… Hikz…���” Gema menuntaskan tangisannya yang tak juga berhenti.
“Tik… Tik… Tik…���” Gerimis perlahan mulai reda, malam juga makin beranjak.
“………���” Bintang dan Gema tak juga hendak pergi, keduanya sama~sama diam.
“Hm…���” Bintang memilih berdiri agak jauh membelakangi Gema.
“Hikz… Hikz… Hikz…��� Padahal mungkin dulu aku menyakiti Gema…��� tapi dari kumpulan rasa sakit yang di terima Gema…��� Apa pantas Gema menerima perlakuan seperti ini…���” Batin Mas Bintang sembari menyembunyikan pedihnya.
“………���” Keduanya larut dalam emosi masing~masing.
“Mas Faisal…��� Saya sudah rela memberikan Gema…��� Karena saya yakin Gema bisa bahagia di sisi Mas Faisal…��� Tapi kalau ternyata seperti ini…��� Saya bisa mengambilnya lagi…���” Bisik Bintang dalam hatinya.
“Wusssh…���” Angin berhembus kencang seperti enggan ditinggalkan hujan, awan juga masih kelabu di tambah pekatnya malam.
“………���” Di tempat yang tidak jauh, seseorang mungkin juga merasakan dingin yang sama.
“Bremmm… Bremmm…���” Mobil yang membawanya terus melaju, tanpa mempedulikan kerinduannya pada sang kekasih.
“Huhhhh…��� Akan seperti apa takdir memainkan mereka…��� yang bisa mereka lakukan hanyalah menjalaninya…��� Dan tak ada pilihan lain…���”
📞✆︎ “………���”
__ADS_1
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
📞✆︎ “………���”
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚 ﷺ “…TO BE CONTINUED…” ﷺ 💚
💚☆ ﷽ ✮ “CEK IT OUT” ✮ ﷽ ☆💚
💚☆﷽ “TO BE CONTINUED” ﷽☆💚
💚﷽“GEMINTANG DIMATAMU”﷽💚
💚 ★ ﷽❀“BITTERSWEET”❀﷽ ★ 💚
💚﷽ “SILENT RELATIONSHIP” ﷽💚
💚✮﷽ “ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜ”﷽✮💚
💚 ❀ ✮ ﷽ ✷ “ĞÊM” ✷ ﷽ ✮ ❀ 💚
💚 ✮﷽ “BÎÑTÂŇĞ MÂHÊŜ” ﷽✮ 💚
💚 ✮ ﷽ ❀ “BÎÑTÂŇĞ” ❀ ﷽ ✮ 💚
💚💚💚 ✮﷽ “PART44” ﷽✮ 💚💚💚
–––––
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
﷽“AUTHOR POV”﷽
“………���” “………���”
☆ ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜÂ AGUSSALIM > Ğêmâ
☆ BÎŇŤÂÑĞ MÂHÊŜÂ PUTRA > Bîñtâňğ
✮ ÎRGÎ ÂTH~TÂMÂMÎ SUDIRMAN > Ğîtâ
✮ FÂÎŜÂL ARIFIN PUTRA> Fâîŝâl
★ MÂЎÂ ANGGŘENI SOFIAN > Mâўâ
★ ÂŜŤŔÎĎ SOŘÂYÂ BÂCHTIÂŘ > Âŝťŕîď
❀ JÎĤÂÑ > Jîĥâñ
❀ ŇÛŘÛL > Ňûřûl
✷ PÂK MÛKĤLÎŜ > Pâk Mûkĥlîŝ
✷ RÂDITH >
♬ BÂNG HER> Bang Herman >
♬ RÂMÂ > Rama
...ﷻﷻﷻ...
♬♪♫♫♪♬
“Âllohummâ Shâlli Wâsâllim Wâbârik Âlââ Sâyyidinââ Muhâmmâd Wâ Âlââ Âliih Wâ~Âshâbih Wâ~Âswâjih Wâ~Ummâtihi~Âjmâin…���”
“………���”
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
💚 ﷺ “…TO BÊ COŇTÎŇUÊD…” ﷺ 💚
💚💚 ﷻ “…BERSAMBUNG…” ﷻ 💚💚
💚☆ ﷽ ✮ “CÊK ÎT OUT” ✮ ﷽ ☆💚
💚☆﷽ “TO BÊ COŇTÎŇUÊD” ﷽☆💚
💚﷽“ĞÊMÎŇTÂŇĞ DÎMÂTÂMU”﷽💚
💚 ★ ﷽❀“BITTÊRSWÊÊT”❀﷽ ★ 💚
💚﷽ “SÎLÊŇT RÊLATÎOŇSHÎP” ﷽💚
💚✮﷽ “ĞÊMPÎŤÂ MÂRÎŜŜ”﷽✮💚
💚 ❀ ✮ ﷽ ✷ “ĞÊM” ✷ ﷽ ✮ ❀ 💚
💚 ✮﷽ “BÎÑTÂŇĞ MÂHÊŜ” ﷽✮ 💚
💚 ✮ ﷽ ❀ “BÎÑTÂŇĞ” ❀ ﷽ ✮ 💚
💚💚💚 ✮﷽ “PÂRT44” ﷽✮ 💚💚💚
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
“………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���” “………���”
__ADS_1